Friday, September 17, 2021
Home Essai Lisa Grunwald: Ketakutanku Jika Pandemi ini Berakhir

Lisa Grunwald: Ketakutanku Jika Pandemi ini Berakhir

Lisa Grunwald merupakan seorang novelis. Karya terbarunya adalah Time After Time, kisah seorang wanita yang terkurung, karena alasan misterius, di Grand Central Terminal.

“Pokoknya kita harus lakukan ini,” kata salah seorang teman baikku beberapa minggu lalu. “Setelah aman untuk bepergian, kita harus memanjakan diri kita dan pergi menyusuri sungai dengan perahu di Prancis”.

Ya, kita harus melakukannya, pikirku. Tentu mengasyikkan. Seperti halnya jutaan orang yang lain, kecuali bahwa aku memiliki penyakit kronis, tampaknya kehidupanku “pascapandemi” akan sama persis dengan “sebelum pandemi”, dan sebelum pandemi aku tidak pernah menyusuri sungai dengan perahu di Prancis. Aku rasa kebahagiaan temanku pascavaksinasi sedikit membuatnya terlupa. Aku mengidap varian sklerosis ganda yang membuat sulit seimbang dan rasa lelah yang terus menerjang seperti kumbang setiap sore hari. Kamu tentu tidak ingin satu perahu denganku.

Aku masih bisa berjalan. Aku tidak menggunakan kursi roda, dan aku jarang memakai tongkat bantu. Namun saat aku pergi ke luar, aku tidak bisa jauh, dan aku tidak bisa tahan lama. Sungguh aneh, memang, bisa mendapat kebahagiaan dari isolasi pandemi. Dan itu sama anehnya dengan merasa takut kebahagiaan itu akan segera berakhir.

Di kota New York, tempat aku tinggal, penutupan total akibat pandemi diberlakukan sejak awal musim semi, dan seiring dengan itu krisis melonjak tajam, bersamaan dengan kekurangan tisu toilet, Purell (merek disinfektan—pen.), dan Clorox (merk pemutih—pen.). Orang-orang sangat bergantung pada kebersihan serta keamanan. Namun saat ragi roti juga menjadi sulit dibeli oleh cinta maupun uang, aku merasa orang-orang tidak sebegitu bergantung pada roti. Mereka hanya haus untuk diperhatikan, sebuah kebanggaan dalam hal-hal kecil, dan sebuah kenyamanan yang hanya datang dengan mengikuti pola perilaku tertentu. Saat itu aku merasa orang-orang sehat mulai masuk ke dalam dunia penyakit kronis.

“Seluruh hidupku sudah dikarantina,” ungkap salah satu pasien dokter ahli syarafku sewaktu sang dokter menanyakan bagaimana cara pasien tersebut mengatasinya. Harus kuakui sewaktu aku mendengar orang-orang mengeluh tentang kebebasannya yang kini terenggut, awal-awal, dengan jujur, reaksiku adalah “Nah sekarang kalian mengerti rasanya”.

Kini mereka mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan sewaktu liburan makan, perayaan kelulusan, perayaan pernikahan; juga melewati kesempatan untuk ke bioskop, museum, acara olah raga, resto, dan lebih dari itu, mengunjungi rumah sahabat dengan mudah. Mereka baru tahu bagaimana rasanya bangun setiap pagi dengan takjub bahwa tidak ada yang berubah, lalu kembali tidur lagi sembari memikirkan semua hal yang mungkin dilakukan seandainya mereka bisa. Mereka bahkan tahu untuk tidak terlalu banyak mengeluhkannya, karena dengan banyaknya orang masuk rumah sakit dan lonjakan kematian yang terus meningkat, mereka memahami betul bahwa masih banyak orang yang merasakan hal yang lebih buruk dari yang mereka rasakan saat itu.

Setelah beberapa minggu melihat tayangan Instagram mengenai baguettes, boules, dan challahs buatan sendiri, aku berpikir apakah penyakitku juga mengajarkanku suatu hal yang dapat kubagikan, yang mungkin bisa membantu sahabat-sahabatku berjuang menerima keterbatasan barunya itu. Aku mengajari mereka tentang pentingnya menerapkan jadwal rutin sehingga waktu kerja dan istirahat serta isi kulkas tidak di luar kendali. Aku menggambarkan kebahagiaan merapikan lemari sehingga susunannya tidak berantakan, seberapa pun kecil bendanya. Aku menjelaskan bahwa saat kalian menghabiskan setiap hari kalian di tempat yang sama, jendela mana pun yang menunjukkan pergerakan—meski hanya bus atau pun sepeda tukang pos—adalah tanda kehidupan. Dan aku juga mengingatkan mereka tentang kehangatan mendengarkan musik, kenyamanan membaca buku-buku ternama, dan kebajikan mengingat bahwa tidak ada seorang pun yang tahu tentang hari esok. Untuk pertama kalinya dan—aku cukup yakin—sekali dalam hidupku, aku merasa seperti Audrey Hepburn, yang dalam film thriller klasik Wait Until Dark, berperan sebagai gadis buta yang menggunakan keterbatasannya sebagai kekuatan. Terjebak oleh seorang pembunuh, dia memilih memecahkan bola lampu di apartemennya, mengetahui pengindraannya lebih peka ketimbang sang pembunuh meski dalam gelap.

Saat orang-orang memulai menggunakan Zoom untuk berkumpul bersama, duniaku seketika berubah menjadi semacam keseimbangan yang belum pernah kurasakan sejak pertama kali didiagnosis terjangkit penyakit sialan ini. Kita semua hadir dengan cara yang sama, melakukan dan tidak melakukan hal yang sama. Kesempatan untuk bisa pergi ke sebuah “pesta” tanpa perlu menggunakan semua tenagaku untuk ke sana (sampai saat ini) merupakan sebuah keajaiban. Aku tidak perlu menjaga kondisi tetap seimbang untuk dapat minum bersama sahabat-sahabatku meski aku tengah berada di ruang tamu. Aku tidak perlu bersusah payah datang ke pesta karena ia tidak mengharuskanku memakai pakaian khusus, atau bersolek, atau berkendara, atau berdiri lama, atau seharian beristirahat memulihkan diri setelahnya. Layar dua dimensi, lapisan kaca yang oleh orang-orang sehat dianggap membuat hubungan antar manusia menjadi statis dan terisolasi, justru membebaskan diriku. Pada akhirnya aku bisa bebas dari rasa takut ketinggalan (FOMO) karena semua orang semua merasa ketinggalan.

Aku merasa terbebas dari rasa bersalah, yang mungkin merupakan kebebasan termanis dibandingkan kebebasan lainnya. Dengan mengidap penyakit kronis, bagi kebanyakan dari kami yang mengidapnya, adalah kesalahan kronis, merasa terombang-ambing mengetahui batasan dalam diri sekaligus membayangkan keajaiban untuk sembuh dengan memelihara keinginan yang kuat. “Bisa” dan “harus” terjalin secara rumit: Aku mungkin pergi bila aku mampu akan terkait dengan aku harus berusaha pergi. Kami berpikir seperti ini: Aku harus berusaha lebih keras. Mampukah aku berusaha lebih keras? Aku harus. Selama pandemi, satu-satunya harus yang mengikat hanyalah berdiam diri, menjaga jarak, dan memakai masker. Coba cari orang yang mengidap penyakit kronis yang pada titik tertentu belum harus di rumah saja, menghindari acara kerumunan, dan, dengan satu atau lain cara, memakai masker.

Kini sahabat-sahabatku mulai kembali memasuki dunianya, rencana-rencana mereka mulai bermekaran. “Bukankah lebih baik bila semuanya kembali normal?” Aku sering mendapat pertanyaan semacam itu. Namun jangan salah: bila kau adalah sahabatku, tolong jangan berhenti untuk memintaku melakukan sesuatu. Aku akan selalu menyempatkan hari di mana aku dapat bergabung bersamamu. Namun ketika pandemi ini usai, mereka yang mengidap penyakit kronis tampak seperti kelompok terasingkan, yang sudah pasti akan ditinggalkan. Perasaan menyedihkan—Tunggu aku! Aku tertinggal!—pasti akan kembali. Dan empati dari para sahabat, yang merupakan hadiah terbaik dari isolasi, dapat dipastikan kembali menjadi simpati (atau pengabaian). Baik simpati maupun empati sama-sama merupakan wujud cinta, namun yang pertama memisahkan; sedangkan yang kedua menyatukan. Hal yang kuingin selalu diingat oleh orang-orang yang sehat, yang mulai kembali pada dunia tiga dimensinya, adalah bagaimana rasanya hidup dalam dua dimensi. Bila menjadi “hibrida” mampu membuatmu bekerja lama dengan nyaman, maka biarkan hubungan pertemanan juga semacam itu. Jangan berhenti menulis, dan menelepon, dan—terlebih—menyalakan Zoom. Bila aku tidak mampu bertemu denganmu di sana, aku masih tetap di sini, di layar kecil ini, dan selalu menanti bertemu dengan kalian.

*Diterjemahkan dari “I Worry I’ll Be Left Behind When the Pandemic Ends” oleh Lisa Grunwald. Terbit pertamakali di The Atlantic, 9 April 2021.

Fajar N.
Pembaca Darwin dan bioetika
RELATED ARTICLES

Mempertimbangkan Kembali Kemungkinan Monisme

            Dewasa ini monisme terkesan buruk karena dianggap meniadakan fakta lain selain satu fakta tertentu yang dianggap ada. Dalam filsafat akal budi...

Biosekuriti dan Politik

Apa yang mencolok dari reaksi terhadap kebijakan aparatus kedaruratan (the apparatuses of exception) yang telah diberlakukan di negara kita (dan tidak hanya...

Agamben: Requiem untuk Mahasiswa

Seperti yang sudah kita perkirakan, mereka memutuskan kuliah universitas akan digelar online mulai tahun depan. Apa yang jelas bagi pengamat, yakni apa...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Mempertimbangkan Kembali Kemungkinan Monisme

            Dewasa ini monisme terkesan buruk karena dianggap meniadakan fakta lain selain satu fakta tertentu yang dianggap ada. Dalam filsafat akal budi...

Biosekuriti dan Politik

Apa yang mencolok dari reaksi terhadap kebijakan aparatus kedaruratan (the apparatuses of exception) yang telah diberlakukan di negara kita (dan tidak hanya...

Agamben: Requiem untuk Mahasiswa

Seperti yang sudah kita perkirakan, mereka memutuskan kuliah universitas akan digelar online mulai tahun depan. Apa yang jelas bagi pengamat, yakni apa...

Giorgio Agamben: Invensi Epidemi

Dihadapkan pada tindakan darurat yang buru-buru, irasional, dan sama sekali tidak berdasar terhadap dugaan epidemi virus corona, kita harus mulai dari deklarasi...

Paperbook

Recent Comments