Tuesday, September 27, 2022
Home Esai Catatan Pendek tentang Dependensi Ontologis dan Realisme Struktural Ontik

Catatan Pendek tentang Dependensi Ontologis dan Realisme Struktural Ontik

Realisme struktural ontik membutuhkan konsep relasi prioritas metafisik yang mampu menjelaskan relasi struktur pada tingkat fundamental dan objek yang non-fundamental.

Berikut adalah tulisan untuk diskusi tertutup tentang dependensi ontologis bersama teman-teman dari Ze-No Centre for Logic and Metaphysics.


Dalam tulisan singkat ini saya akan memaparkan dependensi ontologis sejauh berkaitan dengan realisme struktural ontik (RSO) karena tesis yang hendak saya susun berkaitan dengan fundamentalitas dalam RSO dan fundamentalitas mau tidak mau harus mengikutsertakan konsep dependensi ontologis (misalnya antara struktur dan objek atau antara tingkat realitas tertentu dengan tingkat realitas lainnya (tingkat fisika dan kimia, misalnya)). Yang menonjol dari klaim RSO adalah mengenai status prioritas struktur. Struktur adalah sesuatu yang fundamental dibanding objek. Namun bagaimana prioritas tersebut dipahami masih diperdebatkan, apakah supervenience, dependensi otologis, ataukah ada alternatif lainnya. Dalam bukunya yang berjudul “Every Thing Must Go” James Ladyman dan Don Ross memahami relasi ontologis antara struktur dan objek sebagai supervenience. Sedangkan Steven French dan Kerry McKenzie memahaminya sebagai dependensi ontologis. Jadi relasi ontologis antara struktur dan objek berarti bahwa objek dependen secara ontologis pada struktur dan dengan demikian objek dapat direkonseptualisasi hanya sebagai simpul (nodes) dalam struktur yang relevan. Dalam pemahaman ini relasi ontologis memiliki peran eksplanatoris.

Dalam pemahaman saya analisis Fine atas dependendsi ontologis mencakup pembahasan secara umum, termasuk (di antaranya) dependensi antara objek, properti, bilangan, himpunan, diri, dan keadaan sesuatu pada waktu tertentu. Namun dalam pembahasannya Fine menggunakan terminologi ‘objek’ yang mengacu pada relata dari relasi dependensi dibanding ‘entitas’. Teorinya Fine dapat diaplikasikan pada entitas (yang mungkin) dari kategori apapun dan tidak terbatas pada kategori objek. Dalam pemahaman RSO acuan pada objek dapat dipahami sebagai mengacu pada entitas dalam kategori objek dan karena itu berbeda dengan kategori struktur.

Intuisi pertama yang saya dapat tentang dependensi ontologis adalah sebagai berikut: entitas x dependen secara ontologis pada entitas y hanya jika x eksis jika dan hanya jika y eksis. Dalam pemahaman tersebut keniscayaan metafisik harus diikutsertakan (karena terdapat sebuah dunia di mana x eksis dapat eksis tanpa y kita dapat mempresumsikan penarikan bahwa x dependen pada y). Untuk membahasakannya secara lain kita dapat mengatakan bahwa entitas x dependen secara ontologis pada entitas y hanya jika, secara niscaya, x eksis hanya jika y eksis, di mana kekuatan keniscayaan adalah dalam pengertian metafisik.

Keniscayaan kondisional ‘x eksis hanya jika y eksis’ terikat pada natur x yang dependen, di mana kondisi tersebut ‘tidak sesederhana niscaya’ tapi perlu ditambahkan ‘terikat’ dalam pengertian tertentu pada natur relatanya. Natur ini dapat diasosiasikan pada apa yang secara tradisional dipahami sebagai esensi, bahkan analisis Fine secara eksplisit dapat dikatakan esensialis. Menurut Steven French esensialisme ini secara tipikal dipandang sebagai sesuatu yang tidak favourable dalam konteks fisika modern seperti dalam keadaan quantum entanglement. Maka dari itu menurut para strukturalisme analisis Fine ini tidak dapat diakomodasi oleh ontologi kontemporer yang berkesinambungan dengan sains, terutama sains kealaman kontemporer. Strukturalisme lebih berfokus pada persoalan identitas ketimbang esensi. Pada titik ini saya juga tidak tahu apa bedanya identitas dengan esensi. Apakah identitas tidak meniscayakan esensi atau bagaimana. Mungkin problem ini yang saya harapkan dapat didiskusikan pada pertemuan kita nanti. Namun menurut saya wajar saja kalo fisika kontemporer tidak membicarakan atau bahkan menghendaki esensi sama sekali karena selama ini esensi hanya merupakan persoalan metafisik.

Saya menemukan artikel yang judulnya sama dengan artikelnya Fine, yaitu yang ditulis oleh Fabrice Correia. Dalam pendekatan kontemporernya terhadap dependensi ontologis Correia memahami bahwa konsepsi esensinya Fine merupakan sebuah konsepsi tradisional karena apa yang esensial pada sebuah objek adalah menyangkut apa itu objek, atau mendefinisikan objeknya (paling tidak dalam bagian tertentu). Jadi menurut Correia menyangkut apa itu objek sebagai sesuatu yang berlawanan dengan apa yang bukan merupakan objek tersebut dan karena itu mengikutsertakan individuasi dan properti yang membuat suatu objek berbeda satu sama lain atau dengan kata lain yang membuat individualitasnya. Namun karena definisi tidak membutuhkan individuasi maka tidak sama dengan mendefinisikan suatu objek. Bahkan dalam fisika partikel biasanya untuk mendefinisikan sebuah objek hanya dengan mendaftar determinatnya, yaitu apakah fundamental atau tidak, properti yang-dependen-pada-keadaan tertentu yang dapat kita temukan dalam pembagian jenis partikel, yang semuanya tidak dapat dibedakan seturut pada propertinya. Inilah yang dipahami sebagai properti intrinsik yang ditolak oeh para RSOis.  

Karangwuni,

12 Maret 2021.

Previous articleMcKenzie Wark dan Antroposen
Next articleMisantroposen!
Moh. Gema
Saat ini sedang tertarik untuk mempelajari metafisika dan filsafat sains
RELATED ARTICLES

Semiotika dan Ilmu Sosial

Ada gejala yang tidak sehat pada beberapa ilmuwan sosial di Indonesia, yaitu kecenderungan menggunakan analisis semiotik secara tidak proporsional. Gejala tersebut tampak,...

Saul Aaron Kripke (1940-2022)

Suatu waktu seorang mahasiswa filsafat bertanya dalam dirinya, “Apa yang membuat diriku menjadi diriku, dan bukan yang lainnya?”. Pertanyaan ini mendorongnya menelusuri...

Gambar James Webb Dibuat Supaya Terlihat Indah

Berikut ini adalah terjemahan dari salah satu artikelnya Milena Ivanova yang berjudul “James Webb Images were Made to Look Beautiful” yang dimuat...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Semiotika dan Ilmu Sosial

Ada gejala yang tidak sehat pada beberapa ilmuwan sosial di Indonesia, yaitu kecenderungan menggunakan analisis semiotik secara tidak proporsional. Gejala tersebut tampak,...

Saul Aaron Kripke (1940-2022)

Suatu waktu seorang mahasiswa filsafat bertanya dalam dirinya, “Apa yang membuat diriku menjadi diriku, dan bukan yang lainnya?”. Pertanyaan ini mendorongnya menelusuri...

Gambar James Webb Dibuat Supaya Terlihat Indah

Berikut ini adalah terjemahan dari salah satu artikelnya Milena Ivanova yang berjudul “James Webb Images were Made to Look Beautiful” yang dimuat...

Nama-diri, Fiksi, dan Eksistensi

Pada Suatu Sore Pepohonan rindang, angin sepoi-sepoi, bau lumut dan apek gedung tua, batu-batu semen kotak, dan bahu selasar...

Paperbook

Recent Comments

Rizki Hidayatulloh on Teori Kemunculan Islam dan Kristen
Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia