Disputasi tentang realisme saintifik dalam filsafat ilmu merupakan salah satu disputasi yang berapi-api dan bertahan cukup lama. Di satu sisi terdapat realisme saintifik dan di sisi lain, yang mengkritisinya, terdapat anti-realisme. Di kedua sisi tersebut terdapat beberapa varian bentuk pemahaman misalnya realisme entitas, di sisi realisme. Di sisi anti-realisme terdapat positivisme logis dan empirisme konstruktif. Salah satu inti dari disputasi tersebut adalah mengenai eksistensi objek atau entitas takteramati seperti ether dan medan elektromagnetik. Disputasi tersebut dapat dikatakan secara singkat, adalah problem ontologi objek: apakah teori saintifik tertentu benar-benar merujuk pada objek takteramati yang menempati dunia yang mandiri dari pikiran? Realisme standar mengatakan โyaโ dan anti-realisme mengatakan โtidakโ.
Salah satu tantangan berat bagi realisme saintifik atau realisme standar adalah meta-induksi pesimistik (MIP). MIP merupakan argumen yang berbasis pada sejarah sains atau lebih tepatnya pergantian teori. Seperti argumen dan klaim filsafat lainnya, dalam memahami MIP juga terdapat disputasi. Namun secara pragmatis kita dapat merekonstruksi rumusannya sebagai berikut:
Premis 1: Entitas a, diusulkan sebagai fakta dalam periode historis p1, kemudian disepakati tidak eksis.
Premis 2: Entitas b, diusulkan sebagai fakta dalam periode historis p2, kemudian disepakati tidak eksis.
Premis 3: Entitas c, diusulkan sebagai fakta dalam periode historis p3, kemudian disepakati tidak eksis.
Premis 4: Entitas i, diusulkan sebagai fakta dalam periode historis pn, kemudian disepakati tidak eksis.
Konklusi (induktif): Entitas yang diusulkan sebagai fakta pada saat ini kemudian akan ditunjukkan tidak eksis
Karena rumusan MIP di atas didasarkan pada sejarah sains maka anti-realis sering menunjukkan data beberapa teori saintifik yang pada periode historis tertentu dianggap benar dan merujuk pada objek tertentu di luar sana, namun kemudian teori tersebut terbukti salah dan tidak benar-benar merujuk pada entitas takteramati. Contohnya seperti teori ether, teori kelembaban sirkular, teori gaya vital fisiologi, teori getaran panas, teori phlogiston kimia, geologi โkatastrofeโ, teori efluvial elektrisitas statis, teori humoral kedokteran, dan bidang kristal kuno serta astronomi abad pertengahan.
Ilustrasi pergantian teori yang sering didiskusikan dalam literatur filsafat ilmu adalah sekuensi teori cahaya pada abad ke-18, ke-19, dan abad ke-20. Newton dan para pengikutnya mengajukan hipotesis bahwa cahaya terdiri dari partikel. Hipotesis ini memiliki beberapa kesuksesan dan maka dari itu diterima. Kemudian muncullah teori gelombang cahaya, yang menggambarkan cahaya sebagai gelombang dalam suatu entitas yang disebut ether, sebuah substansi yang meliputi apapun. Teori ini memberikan eksplanasi tentang banyak fenomena yang sudah diketahui dan bahkan memprediksi fenomena baru. Meskipun demikian, konsep ether kemudian ditolak dan gelombang cahaya diterima sebagai sesuatu yang tidak membutuhkan pengangkut. Kemudian Einstein mengintrodusir kembali partikel dan akhirnya โgelombang probabilitasโ dalam mekanika kuantum muncul. Sekuensi teori ini tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang gradual dan lebih dekat pada kebenaran karena menyertakan perubahan ontologis.
Respon standar untuk MIP adalah dengan argumen yang berbasis pada studi kasus yang mendetil. Dengan argumen ini, misalnya, entitas yang kemudian ditentukan tidak eksis sesungguhnya dirujuk oleh term dalam teori yang relevan yang dapat dianggap โtidak bekerjaโ, dalam pengertian bahwa teori-teori tersebut tidak bertanggungjawab untuk kesuksesan empiris dari teori-teori tersebut.[1] Problem ini dapat disebut sebagai problem rujukan (reference). Psillos berargumen bahwa:
- Realis seharusnya hanya merujuk pada term-term yang memainkan peran yang tepat dalam menjelaskan keberhasilan teori yang terberi;
- Teori rujukan yang tepat dalam kasus seperti itu adalah bentuk pendekatan deskriptif-kausal, yang menurutnya rujukan ditetapkan melalui ‘deskripsi kausal inti’ dari sifat-sifat yang mendukung peran kausal entitas yang diduga berkaitan dengan fenomena yang dipertanyakan.[2]
- Selain itu, term-term yang dimaksud pada nomor 1 adalah rujukan yang merujuk pada objek individu dan sifatnya, dan dengan demikian, Psillos menegaskan, โdunia tempat kita hidup (dan sains peduli akan hal ini) terbuat dari individu, sifat, dan relasi di antara merekaโ.[3]
Artikulasi Psillos pada nomor 3 menyatakan secara eksplisit komitmennya terhadap sebuah metafisika objek. Karena itu komitmen demikian merupakan bentuk realisme โstandarโ dan dapat disebut sebagai realisme berorientasi-objek (ROO). ROO ini tidak dapat merespon secara adekuat terhadap MIP.
Mari kita lihat pada sebuah kasus historis dalam sejarah sains. Kasus tersebut adalah ether optikal dan ether bercahaya, yang terbilang sebagai teori yang sukses tentang cahaya dan elektromagnetisme.[4] Bagaimana kemudian ROO merespon fakta bahwa teori-teori saintifik terbaru tidak mengandung term-term tadi. Opsi pertama adalah menegaskan bahwa term tersebut merujuk pada satu โhalโ yang sama seperti term tertentu yang terkandung dalam teori saintifik terbaru, di mana โkesamaanโ di sini mungkin dapat dimengerti sebagai pemenuhan peran kausal yang sama. Dengan kata lain, ether bercahaya memainkan peran kausal yang sama seperti medan elektromagnetik dan maka dari itu secara aktual term tersebut tidak ditinggalkan begitu saja. Namun ini merupakan langkah yang problematik, paling tidak karena teori rujukan yang mendasarinya terlalu โliberalโ karena untuk setiap entitas yang sekarang ditinggalkan, dapat dikatakan bahwa entitas tersebut memenuhi peran kausal yang sama seperti entitas tertentu saat ini.[5] Lebih jauh lagi, dengan mendasarkannya pada peran kausal entitas, strategi ini secara efektif melepaskan rujukan term pada aspek realitas yang relevan dari konteks teoretisnya dan dengan demikian, menurut Laudan, kita dapat mempertahankan apa yang teori rujuk secara independen dari setiap analisis mendetil terhadap apa yang teori nyatakan.[6]
Psillos menyediakan alternatif lain, yaitu sejenis pendekatan hibrida atas rujukan. Pendekatan ini mengikutsertakan elemen deskriptif yang ditarik dari konteks teoretis dan juga peran kausal.[7] Dalam pendekatan tersebut rujukan menjadi terfiksasi melalui sebuah โdeskripsi kausal intiโ dari sifat (property) yang melandasi peran kausal entitas yang diduga berkaitan dengan fenomena yang dimaksud. Secara keseluruhan himpunan sifat tersebut terbuka pada perkembangan lebih jauh, sifat-sifat baru dapat ditambahkan pada intinya seturut dengan kemajuan sains. Tentu saja di sisi lain jika mengikuti perkembangan sains, beberapa sifat mungkin saja disingkirkan, tapi sejauh terdapat tumpang tindih yang signifikan melalui himpunan inti, kontinuitas rujukan sepanjang pergantian teori saintifik dapat dipertahankan.
Dalam pendekatan hibrida tadi kita dapat mengatakan bahwa term โether bercahayaโ merujuk pada medan elektromagnetik. Dalam kasus ini deskripsi kausal inti disediakan oleh dua himpunan sifat. Yang satu adalah kinematika, yang mendasari kecepatan terbatas cahaya, dan satunya lagi adalah dinamika, yang memastikan peran ether sebagai sebuah repositori energi potensial dan energi kinetik. Dengan ini deskripsi kausal inti diambil alih oleh medan elektromagnetik dan kita dapat mengatakan bahwa denotasi dari term โetherโ dan โmedanโ merupakan entitas yang memiliki sifat fundamental yang sama berdasarkan peran kausal yang dianggap sebagai penyebab. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa term tersebut merujuk pada entitas yang sama, dan kita dapat mengklaim bahwa dengan ini ROO dapat menghindari problem yang diasosiasikan dengan MIP. Namun demikian bukan hanya entitas lama, apapun itu, juga yang dapat memenuhi peran kausal yang sama sebagaimana entitas saat ini karena harus ada kesamaan sifat sebagaimana yang direpresentasikan oleh deskripsi kausal inti. Selain itu, pendekatan ini hanya dapat bekerja sejauh kita meneliti secara mendetil sebuah teori yang memiliki sifat-sifat yang relevan dan maka dari itu rujukan tidak terlepas dari konteks teoretis.
Tentu saja ROO masih memiliki problem lain. Dalam artian apa kita masih bisa mengatakan bahwa ilmuan saat ini ketika membicarakan medan elektromagnetik merujuk pada ether sebagai sebuah entitas? Sebagai peran kerangka absolut rujukan, ether juga memiliki sifat lain, yaitu sifat posisional tertentu. Jika sifat ini termasuk di dalam inti, maka tidak terdapat kesamaan rujukan dengan medan elektromagnetik. Dan jika tidak temasuk di dalam inti maka perspektif dalam pergantian teori yang disediakan oleh pendektan deskripsi kausal inti terhadap rujukan dapat dilihat sebagai sesuatu yang terlalu konservatif. Poin utamanya adalah bahwa ether secara konseptual merupakan sebuah substansi tertentu yang memiliki kualitas mekanis dan berperilaku sebagai sebuah kerangka rujukan absolut, sedangkan medan elektromagnetik tidak. Jika demikian maka status metafisik ether dan medan elektromagnetik, sebagai entitas, sangat berbeda dan kita juga dapat mengklaim bahwa tidak ada kesamaan rujukan dari kedua term tersebut. Lalu, sebagai penutup, ada pertanyaan lagi untuk ROO, apa yang dimaksud dengan mengacu pada โsesuatuโ qua entitas?
[1] Lih., contohnya, Stathis Psillos, 1999, Scientific Realism: How Science Tracks Truth, London: Routledge.
[2] Lih. ibid., hal. 295.
[3] Lih. Stathis Psillos, 2001, โIs Structural Realism Possible?โ dalam Philosophy of Science, Vol. 68, hal. S23.
[4] Contoh kasus ini diambil dari Newton C. A. da Costa dan Steven French, 2003, Science and Partial Truth. New York: Oxford University Press, hal. 170-174.
[5] Maka dari itu, sebagai contoh, โtempat alamiahโ-nya Aristoteles dapat dikatakan memenuhi peran kausal yang sama seperti โgravitasiโ-nya Newton dan โruang-waktu melengkungnyaโ-nya Einstein.
[6] Lih. Laudan, 1984, โDiscussion: Realism Without the Realโ, Philosophy of Science, Vol. 51, hal. 161.
[7] Lih. Stathis Psillos, 1999, Loc.Cit., hal. 293-300.

