Tuesday, September 27, 2022
Home Filsafat David Chalmers: “Realitas Virtual itu Realitas Sejati”

David Chalmers: “Realitas Virtual itu Realitas Sejati”

Ralitas virtual itu realitas sejati: artinya, di dalam hipotesis simulasi dan juga di dalam realitas virtual biasa, dunia virtual itu senyata realitas fisikal yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini adalah terjemahan wawancara Paul Doolan dengan David Chalmers yang terbit di Philosophy Now edisi 148 Februari/Maret 2022. Teks wawancara ini diterjemahkan dan diterbitkan di situs Antinomi Institute untuk keperluan diseminasi pengetahuan dan atas izin dari pihak Philosophy Now sendiri.


Dalam buku terbarunya, Reality+, David Chalmers meninggalkan topik kesadaran manusia dan masuk ke topik baru, membawa pembacanya pada petualangan teknofilosofis tentang dunia simulasi komputer dan realitas virtual. Dia telah menulis sebuah buku filsafat yang sangat menyenangkan, yang membahas banyak khazanah pemikiran mulai dari Aristoteles hingga Zhuangzi, dari Goa Plato hingga Mesin Pengalaman Robert Nozick, sembari bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan besar tentang pengetahuan, realitas, dan pikiran. Pembahasan tentang epistemologi dan metafisika sering memuat rujukan pada drama Netflix Black Mirror sebagaimana pada ide-ide Daniel Dennett. The Matrix mendapat perhatian yang lebih banyak daripada karya-karya Kant. Fiksi ilmiah klasik seperti Snow Crash dan Speak Player One bahu-membahu dengan Meditations on First Philosophy-nya Descartes dan History, Truth and Reason-nya Putnam. Sejumlah ilustrasi filosofis yang jenaka yang digambar oleh Tim Peacock membantu memperjelas argumennya. Chalmers menyatakan bahwa kita semestinya mempertimbangkan secara serius kemungkinan bahwa kita adalah makhluk simulasi yang hidup di dalam sebuah semesta simulasi. Pencipta kita bisa jadi adalah seorang peretas berusia belasan tahun yang ada di satu semesta di atas semesta kita, meski tampaknya lebih mungkin bentuk tertentu AI yang telah menciptakan semesta simulasi kita. Fakta bahwa kita adalah makhluk sadar tidak menegasikan ide bahwa kita adalah sims[1], karena kesadaran adalah substrat yang independen, yang muncul dari penyusunan sebuah sistem kompleks, entah berbasis biologis atau silikon. Chalmers mengaku dirinya sebagai seorang realis virtual, yang berpandangan bahwa ‘entitas-entitas di dalam realitas virtual itu nyata’ (hlm. 105)—entitas itu adalah objek digital, yang terbuat dari informasi atau bit-bit. Dia menyimpulkan bahwa kita seharusnya tidak khawatir untuk bermigrasi ke dalam dunia digital, karena di sana kita dapat menjalani hidup yang sejati dan memuaskan. Pada Oktober 2021, saya bertemu dengannya untuk berbincang-bincang (yang tentu saja) secara virtual.

Anda telah banyak menulis tentang kesadaran. Ini tampak seperti titik petualangan baru. Apakah ini merupakan perkembangan alamiah atau Anda telah mengambil langkah yang sepenuhnya baru dalam buku ini?

Sampai pada batas tertentu ini adalah topik baru. Tentu ini konsisten dengan apa yang telah saya katakan selama bertahun-tahun tentang kesadaran. Tetapi saya juga suka menganggap buku ini terbuka untuk orang-orang yang sangat tidak setuju dengan saya terkait kesadaran—orang-orang yang lebih cenderung berpandangan reduksionis atau fungsionalis tentang kesadaran. Mereka mungkin dengan senang hati menerima karya baru ini. Justru saya menemukan beberapa orang yang simpatik dengan saya dalam soal kesadaran menjadi kurang simpatik dalam soal topik buku ini.

Tentu ada beberapa garis kesinambungan. Salah satu bagian utama dari karya saya tentang kesadaran telah menegaskan bahwa mesin dapat sadar. Pikiran artifisial berpotensi menjadi pikiran sejati, dan itu sangat penting dalam memikirkan realitas simulasi. Pandangan lain dalam memikirkan kesadaran adalah sejenis strukturalisme dalam dunia fisikal; bahwa bisa jadi fisika tidak dapat memberikan penjelasan yang lengkap tentang kesadaran karena fisika kebanyakan berkaitan dengan sejenis struktur kausal yang abstrak sementara kesadaran jauh melampaui itu. Mungkin pandangan tersebut berkesinambungan dengan apa yang ada dalam buku ini, dengan strukturalismenya tentang dunia fisikal. Ia adalah cara memikirkan realitas fisikal sementara realitas virtual dan realitas fisikal itu tidak jauh berbeda.

Di dalam Pengantar untuk buku ini Anda menguraikan beberapa cara berbeda untuk membaca buku ini, dengan beragam tingkat kesulitan, seperti tingkat kompetensi di dalam permainan komputer. Apakah arsitektur buku ini sengaja dibuat merefleksikan realitas virtual/permainan (VR/gaming)?

Saya tidak memikirkan itu! Saya kira seseorang bisa memiliki pengaturan “pemain baru” untuk membaca buku ini, dan pengaturan “pemain ahli”. Saya lebih cenderung berpikir bahwa orang mungkin memiliki banyak minat yang beragam yang dapat membawa mereka pada buku ini—teknologi, sains, fiksi, dan banyak topik berbeda dalam filsafat—dan itu dapat membantu memberi mereka beberapa petunjuk.

Apakah berikut ini merupakan rangkuman yang tepat atas buku baru Anda itu? Kemungkinan besar kita hidup di dalam simulasi komputer tetapi itu semestinya tidak membuat kita khawatir karena segala sesuatunya masih riil. Realitas virtual dibangun dari objek-objek digital yang rill (yang terbuat dari bit-bit) sehingga realitas virtual pun sebenarnya juga riil. Saat kita sudah menghabiskan lebih banyak hidup kita di dalam realitas virtual, maka itu akan baik-baik saja.

Saya tidak mengatakan ‘kemungkinan besar’ kita ada dalam simulasi, saya hanya mengatakan bahwa kita mungkin saja ada di dalam simulasi dan kita tidak dapat menyingkirkan kemungkinan itu. Di dalam buku ini saya berspekulasi bahwa setidaknya ada 25% peluang kita ada di dalam simulasi. Akan tetapi, yang lebih penting adalah ide bahwa realitas virtual itu realitas sejati: artinya, di dalam hipotesis simulasi dan juga di dalam realitas virtual biasa, dunia virtual itu senyata realitas fisikal yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Realitas virtual semakin menjadi bagian sentral dari hidup kita, dan saya pikir hidup di dalam realitas virtual bisa benar-benar bermakna.

Bagi saya tampaknya bagian hipotesis simulasi dan realitas virtual dari buku ini merupakan dua argumen yang berbeda. Apa hubungan di antara keduanya?

Ya, itu pertanyaan menarik. Belakangan ini saya sedang memberikan kuliah umum berjudul “Dari the Matrix ke Metaverse”. Saya pikir itu juga merupakan struktur buku ini. Mulai dengan sesuatu yang ekstrem—film the Matrix—yang kebanyakan berisi fiksi ilmiah tetapi secara filosofis sangat kaya dan menarik, dan kemudian berusaha untuk memberikan analisis tentangnya. Lalu menerapkan beberapa ide dari analisis itu pada apa yang saya sebut ‘realitas virtual nyata’ dan pada teknologi yang segera muncul yang disebut Metaverse. [Metaverse adalah dunia simulasi 3 atau 2 dimensi tempat orang-orang berinteraksi, terkadang dengan bantuan headset realitas virtual. Editor]. Di dalam filsafat atau sains seringkali menarik untuk memulai dengan sesuatu yang ekstrem, sehingga saya memulai dengan kasus ekstrem hipotesis simulasi. Saya mencoba mempertahankan ide ‘it from bit[2], bahwa bahkan jika kita ada di dalam sebuah simulasi, objek yang kita temui itu nyata, berdasarkan definisi yang baik tentang ‘nyata’. Objek-objek itu tentu merupakan objek-objek digital, tetapi ia ada dalam dunia yang nyata dari pengalaman yang nyata. Kemudian saya menerapkan ide itu pada kasus yang kurang ekstrem. Di dalam realitas virtual biasa, kita berinteraksi dengan objek digital yang nyata, yang memiliki daya kausal dan eksis tanpa bergantung pada pikiran kita. Saya pikir itu memiliki beberapa konsekuensi yang menarik. Misalnya, penggunaan praktis realitas virtual bukan sebuah ilusi atau fiksi. Mungkin tidak ada penghalang bagi kita untuk menjalani hidup yang bermakna dalam realitas virtual. Bagian dari apa yang terjadi di sini dimulai dengan kasus yang sangat ekstrem, dan kemudian lanjut pada versi praktis dari kasus itu.

Dapatkah Anda menjelaskan begaimana realitas virtual membantu memperjelas problem Descartes tentang bagaimana kita bisa tahu apa pun tentang realitas eksternal?

Baik. Descartes mempertimbangkan ide bahwa saat ini kita sedang dibodohi oleh iblis jahat, sehingga segala sesuatu yang kita pikir nyata itu sebenarnya ilusi belaka. Anda dapat menganggap dunia iblis jahat itu sejenis realitas virtual. Contoh yang saat ini dapat dengan mudah dipahami oleh para mahasiswa adalah ‘Saat ini kamu mungkin ada di dalam the Matrix’, atau ‘Saat ini kamu mungkin ada di dalam sebuah simulasi’. Saya menggunakan realitas virtual untuk mengajukan pertanyaan Cartesian, tetapi itu hanya di level ilustrasi. Tidak yang secara khusus mengubah pertanyaan tersebut. Akan tetapi, jika kamu mengombinasikan ini dengan analisis tentang realitas virtual, dan jika kamu berpandangan bahwa realitas virtual itu juga benar-benar nyata, sebagaimana halnya saya—maka itu memiliki konsekuensi bagi penggunaan realitas virtual dan juga bagi argumen skeptis tentang realitas eksternal. Argumen Descartes secara mendasar mengasumsikan bahwa realitas virtual itu bukan realitas sejati: jika kita ada di dalam salah satu skenario simulasi ini, maka tidak ada yang nyata di sekeliling kita. Selain itu, dia menggunakan asumsi itu untuk berargumen bahwa kita tidak dapat tahu apakah di sekeliling kita itu ada yang nyata. Saya pikir itu adalah asumsi besar di balik argumen Descartes—bahwa realitas virtual bukan realitas sejati. Akan tetapi, jika kamu menerima bahwa realitas virtual adalah realitas sejati, maka jenis argumen skeptis seperti yang dikemukakan Descartes agak lebih sulit untuk mendapat pijakan. Dunia menjadi kurang berjarak dari kita daripada jika ia seperti yang digambarkan oleh konsepsi murni Cartesian. Itu tidak berarti bahwa ini melibatkan semua problem skeptisisme. Akan tetapi, memikirkan realitas virtual dengan cara ini akan memperjelas banyak persoalan yang dikemukakan oleh Descartes.

Para filsuf menggunakan metafora yang menggambarkan zamannya. Ketika pembuatan jam merupakan teknologi mutakhir, para filsuf Deis seperti Voltaire percaya bahwa Tuhan seperti pembuat jam—Tuhan menciptakan semesta agar bisa bekerja secara mekanis. Sekarang teknologi komputer sering digunakan sebagai metafora untuk otak manusia, atau bahkan untuk semua realitas. Mungkinkah konsep semesta simulasi komputer hanyalah contoh penggantian yang nyata oleh metafora?

Ya, itu poin bagus. Pemikiran filsafat cenderung untuk merefleksikan teknologi pada masanya. Pemikiran filsafat kita juga dapat merefleksikan informasi mutakhir tentang dunia kita. Perkembangan sains seringkali membawa kita pada filsafat yang bagus, dan demikian juga perkembangan teknologi. Ini dapat memiliki kelebihan dan kekurangan. Tentu kamu benar; kita tidak ingin melangkah terlalu jauh. Kita tidak menginginkan antusiasme spontan seperti jargon-jargon ‘teori dawai adalah kunci untuk memahami semesta’ atau ‘realitas virtual adalah kunci untuk memahami semesta’. Akan tetapi, saya juga berpikir kita harus melihat kasus per kasus

Saya sudah mengkritik beberapa orang yang mengatakan kita dapat menggunakan neurosains mutakhir, atau AI mutakhir, untuk menjelaskan kesadaran. Tetapi setidaknya di dalam soal memikirkan realitas, saya telah menemukan beberapa ide yang berguna dari merenungkan realitas virtual. Namun, saya tidak akan mengatakan ‘Itulah teknologi mutakhir dan seperti itulah dunia bekerja’. Bagi saya, memikirkan realitas virtual, teknologi, dan ide simulasi memberikan cara untuk menemukan ide-ide yang lebih luas tentang realitas dalam kerangka struktural dan matematisnya yang paling luas. Bagi saya teknologi adalah pendorong yang sangat berguna untuk membuat kita sampai ke sana. Tetapi tentu juga wajar untuk bertanya, bukankah analogi ini terlalu jauh? Cukup banyak hal yang kamu terima itu adalah spekulasi: ‘Tuhan adalah seorang peretas yang berada di semesta di atas kita’, misalnya. Itu tentu tak lebih dari sekadar kemungkinan spekulatif. Tetapi bahkan jika teknologi membuka kemungkinan-kemungkinan spekulatif, itu sangat menarik.

Berbicara tentang Tuhan sebagai seorang peretas, bukankah janji Realitas+, dengan kemungkinan untuk bisa mengunggah diri kita sendiri ke beberapa tempat digital yang menyenangkan, adalah mengganti eskatologi Kristen dengan sebuah dunia pasca-Kristen?

Saya pikir kemungkinan untuk bisa mengunggah diri kita itu tidak terikat dengan agama, tetapi jelas ia memiliki sesuatu yang sama dengan ide-ide agama tentang kehidupan setelah mati. Barangkali Anda bisa menyebutnya eskatologi sekuler jika Anda mau!

Apakah menghabiskan waktu lebih banyak di dalam realitas virtual akan membantu menyelesaikan masalah seperti perubahan iklim dan kepunahan keenam?

Saya pikir kita perlu memikirkan semua masalah ini saat kita memikirkan masa depan—perubahan iklim, keadilan sosial, kecerdasan buatan, dunia virtual, dan masih banyak lagi. Saya tidak menganggap dunia virtual dapat menyelesaikan masalah perubahan iklim, ataupun sebaliknya. Dunia virtual mungkin memberikan satu cara untuk mengatasi masalah tersebut jika kita tidak menyelesaikannya: yaitu, hiduplah di dunia virtual yang belum terdegradasi seperti dunia non-virtual. Meski sebenarnya akan jauh lebih baik jika kita dapat menghindari degradasi di dunia non-virtual terlebih dahulu.

Tetapi bukankah skenario kepunahan massal lebih mungkin daripada ide bahwa berabad-abad dari sekarang nenek moyang kita akan menciptakan sebuah simulasi sempurna, dan hal yang seperti simulasi itulah yang sekarang kita alami?

Ada kemungkinan masa depan jangka panjang dengan kepunahan massal dan kemungkinan masa depan jangka panjang dengan simulasi. Saya tidak tahu probabilitasnya, tetapi sangat spekulatif jika mengatakan bahwa kepunahan massal itu lebih mungkin.

Ada banyak sekali bahaya dan ancaman. Saya ingat saat masih kecil saya membaca buku Isaac Asimov yang berjudul A Choice of Catastrophes (1979). Kemungkinan yang paling saya khawatirkan terkait kepunahan adalah kecerdasan buatan, karena begitu kamu berhasil menciptakan kecerdasan super buatan (artificial superintelligence), itu akan jadi sangat takterprediksi, Ia mungkin memiliki daya untuk melakukan sesuatu dalam skala yang sangat besar. Ia juga berpotensi menyebabkan kepunahan. Saya tidak menyatakan secara tegas bahwa kita akan melampaui perkembangan itu. Di sisi lain, saya juga tidak menyatakan secara tegas bahwa kita akan punah… Sikap yang masuk akal dalam menghadapi semua ini adalah khawatir, berhati-hati, dan berpikir keras tentang bagaimana menangani semua ancaman di masa depan itu. Secara umum saya cenderung optimis. Tapi mungkin itu sebuah bias cacat karakter.

Anda menggunakan alegori tawanan di dalam goa Plato. Menurut Anda saat ini siapa sipirnya?

Saya akan mengatakan tergantung pada goanya, atau pada simulasinya. Di dalam the Matrix, sipirnya adalah mesin. Jika kita ada di dalam simulasi, siapa yang tahu? Barangkali sipir kita adalah seorang peretas di semesta di atas semesta kita. Terkait realitas virtual jangka pendek: di dalam banyak dunia virtual saat ini, orang-orang yang menjalankan simulasi adalah orang-orang perusahaan. Di dalam ilustrasi Tim Peacock di buku saya yang menggambarkan realitas virtual sebagai versi abad ke-21 dari goa Plato, Mark Zuckerberg adalah orang yang menjalankan simulasi. Tetapi sebenarnya tidak ada yang dipenjara di dalam realitas virtual, persisnya—setidaknya belum ada!

Bukankah ini masalah: Realitas+ tidak akan menjadi ciptaan para filsuf (mungkin itu berkah!) tetapi akan berkembang di dalam konteks kapitalisme korporasi atau komunisme China, yang tujuan utamanya adalah keuntungan atau kontrol, sehingga menjadikan distopia teknologis lebih mungkin untuk terjadi daripada utopia?

Menurut saya realitas virtual itu memiliki potensi utopian dan juga distopian. Saya tidak dapat memprediksi yang mana yang akan menang. Jika ia didominasi oleh korporasi, maka kemungkinan banyak hal akan jadi masalah. Tetapi hanya karena dunia virtual didominasi oleh korporasi dalam jangka pendek, tidak berarti bahwa ia juga akan didominasi oleh korporasi dalam jangka panjang. Mungkin akan ada bentuk-bentuk pemerintahan yang akan muncul yang belum pernah kita ketahui sebelumnya.

Ada pandangan tentang Facebook yang mengubah namanya menjadi Meta, dan tentang semua pengembangan metaverse dan headset realitas virtual yang diumumkan oleh Meta dan oleh Apple?

Metaverse itu rumit. Zuckerberg tampaknya menggunakan istilah itu sebagai jumlah keseluruhan dari semua dunia virtual. Akan ada semesta dunia virtual—mungkin metaverse mencakup semua Realitas Virtual. Ini memunculkan beberapa pertanyaan menarik. Apakah akan ada satu metaverse dengan standar terbuka yang saling terhubung, dan tidak dijalankan oleh siapa pun, yang mungkin mirip seperti internet? Internet tidak dijalankan oleh siapa pun tetapi tentu memiliki banyak bagian yang dijalankan oleh beragam kelompok, termasuk Facebook. Atau apakah ia akan jadi metaverse yang sama sejak awal—yang didominasi oleh satu korporasi? Itulah ide di balik Apple dan Facebook yang berlomba-lomba untuk membuat metaverse. Pada saat ini, kita tidak tahu jalan mana yang akan ditempuh. Dalam jangka pendek mungkin ia akan didominasi oleh korporasi, tetapi dalam jangka panjang kamu dapat melihat ini menjadi bagian mendasar dari infrastruktur kehidupan kita, menjadi bagian dari utilitas publik kurang lebih seperti internet.

Ketika orang-orang akan menjalani setengah hidup mereka di dunia virtual, sulit untuk membayangkan bahwa mereka akan menyerahkan kendalinya kepada perusahaan. Saya optimis bahwa mereka mungkin menciptakan bentuk pemerintahan dan peraturan baru, dan tidak hanya dijalankan oleh perusahaan. Saya tentu setuju bahwa jika itu akhirnya dijalankan oleh perusahaan, maka ia memiliki potensi distopia besar. Siapapun yang memiliki dunia virtual ini pada dasarnya akan menjadi seperti para dewa. Mereka akan mahatahu dan mahakuasa sehubungan dengan dunia itu, dan kita tidak benar-benar ingin menempatkan kekuatan itu di tangan perusahaan. Tapi dalam jangka panjang saya pikir itu akan berkembang dengan cara yang bahkan tidak bisa kita bayangkan.

*Paul Doolan mengajar filsafat di Zurich International School dan penulis Collective Memory and the Dutch East Indies: Unremembering Decolonization (Amsterdam Univ. Press, 2021).

**David Chalmers adalah Profesor Filsafat dan Neurosains di New York University. Dia pertama kali dikenal luas oleh publik berkat bukunya The Conscious Mind yang terbit 1996.


[1] “Sim” adalah kata yang digunakan Chalmers dalam Reality+ untuk merujuk pada orang yang berada di dalam simulasi. [Penerjemah]

[2] ‘It from bit’ adalah slogan yang dipopulerkan oleh fisikawan Amerika John Archibald Wheeler untuk merepresentasikan sebuah ide bahwa “setiap sesuatu (it)—setiap partikel, setiap medan gaya, bahkan kontinum ruang-waktu itu sendiri—memperoleh fungsinya, maknanya, eksistensinya secara penuh […] dari jawaban atas pertanyaan iya atau tidak, yang berupa pilihan-pilihan biner, yaitu bit-bit (bits)”. [Penerjemah]

Taufiqurrahmanhttp://antinomi.org
Head of Metaphysics and Mind at ZENO Centre for Logic and Metaphysics.
RELATED ARTICLES

Semiotika dan Ilmu Sosial

Ada gejala yang tidak sehat pada beberapa ilmuwan sosial di Indonesia, yaitu kecenderungan menggunakan analisis semiotik secara tidak proporsional. Gejala tersebut tampak,...

Saul Aaron Kripke (1940-2022)

Suatu waktu seorang mahasiswa filsafat bertanya dalam dirinya, “Apa yang membuat diriku menjadi diriku, dan bukan yang lainnya?”. Pertanyaan ini mendorongnya menelusuri...

Gambar James Webb Dibuat Supaya Terlihat Indah

Berikut ini adalah terjemahan dari salah satu artikelnya Milena Ivanova yang berjudul “James Webb Images were Made to Look Beautiful” yang dimuat...

1 Comment

  1. Saya selalu suka dengan terjemahannya Mas Taufik, juga tulisan-tulisannya. Terima kasih antinomi untuk tulisan-tulisannya.

    Terjemahan wawancara ini cukup memperkaya bacaan saya untuk sedikit menjawab pertanyaan saya selama ini, “apakah realitas sinema/imaji itu nyata dan merdeka dari realitas sipembuatnya?” – dalam kasus yang lain -“kenapa sinema lebih ditakuti oleh penonton daripada realitas sehari-hari” (dalam konteks banyak penolakan terhadap film-film tertentu untuk ditayangkan).

    Jadi, kemungkinan sinema adalah realitas sejati yang berdiri dalam dunia mungkinnya adalah iya.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Semiotika dan Ilmu Sosial

Ada gejala yang tidak sehat pada beberapa ilmuwan sosial di Indonesia, yaitu kecenderungan menggunakan analisis semiotik secara tidak proporsional. Gejala tersebut tampak,...

Saul Aaron Kripke (1940-2022)

Suatu waktu seorang mahasiswa filsafat bertanya dalam dirinya, “Apa yang membuat diriku menjadi diriku, dan bukan yang lainnya?”. Pertanyaan ini mendorongnya menelusuri...

Gambar James Webb Dibuat Supaya Terlihat Indah

Berikut ini adalah terjemahan dari salah satu artikelnya Milena Ivanova yang berjudul “James Webb Images were Made to Look Beautiful” yang dimuat...

Nama-diri, Fiksi, dan Eksistensi

Pada Suatu Sore Pepohonan rindang, angin sepoi-sepoi, bau lumut dan apek gedung tua, batu-batu semen kotak, dan bahu selasar...

Paperbook

Recent Comments

Rizki Hidayatulloh on Teori Kemunculan Islam dan Kristen
Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia