Seni untuk Semua: Eksplorasi Filosofis Kekuatan dan Tujuan Seni Massa

Seni massa, ketika diproduksi dengan tujuan untuk memberi informasi, mendidik, dan menginspirasi, memiliki kekuatan untuk mengekspos ketidakadilan yang tersembunyi.

Antonius Harya Febru Widodo
Antonius Harya Febru Widodo
Kader Gerindra Masa Depan Angkatan 15 dan Magister Ilmu Filsafat dengan fokus studi filsafat musik, budaya populer, serta pegiat budaya massa yang aktif mengkritisi dinamika sosial dan estetika dalam budaya kontemporer.

Diskusi kontemporer tentang seni dan fungsinya dalam masyarakat memiliki persinggungan yang cukup intens antara seni massa dan potensinya untuk memberikan dampak sosial. Meskipun seni telah lama dikenal sebagai sarana untuk berekspresi, banyak yang berpendapat bahwa kekuatan seni yang sebenarnya terletak pada kemampuannya untuk memancing pemikiran kritis dan mempengaruhi perubahan sosial. Namun, potensi ini menjadi rumit ketika mempertimbangkan komersialisasi dan konsumsi massal seni. Artikel ekploratif ini menggali kompleksitas seputar gagasan seni massa, hubungannya dengan sistem sosial, dan kekuatan transformatifnya.

Seni Massa dan Potensinya sebagai Kritik Sosial

Ketegangan antara potensi seni massa untuk menyatukan masyarakat dan kemampuannya untuk menantang status quo merupakan poin penting dalam wacana kontemporer tentang peran seni dalam masyarakat. Seni massa, dalam arti luas, mengacu pada bentuk ekspresi artistik yang dirancang untuk menjangkau khalayak ramai, baik melalui media populer, produksi massal, atau format yang dapat diakses. Bentuk seni ini sering kali membawa janji persatuan budaya, menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang melalui pengalaman bersama. Daya tarik seni massa terletak pada aksesibilitasnya yang luas, baik melalui bioskop, televisi, musik, atau platform yang digerakkan oleh konsumen lainnya, yang dapat menciptakan rasa identitas kolektif dan menumbuhkan empati di berbagai segmen masyarakat.

Potensi pemersatu yang dimiliki oleh seni masa sering kali dapat berkurang karena danya komresialisasi yang terus membentuk produksi seni tersebut. Ketika seni mentutamakan produksinya untuk hiburan dan keuntungan, perannya bergeser dari media untuk komentar sosial menjadi alat untuk konsumsi. Pergeseran ini mengarah pada kecenderungan seni massa untuk mempromosikan pelarian, menawarkan narasi yang disederhanakan dan penggambaran yang dangkal yang menghindari keterlibatan dengan isu-isu sosial, politik, atau budaya yang kompleks. Dalam lingkungan seperti ini, seni yang dihasilkan sering kali merupakan cerminan dari permintaan pasar dan bukan respons terhadap keprihatinan masyarakat yang mendesak. Tekanan untuk menarik audiens seluas mungkin, sering kali melalui formula yang memprioritaskan nilai hiburan daripada keterlibatan kritis, membuat seni lebih mudah melanggengkan ideologi arus utama dan memperkuat struktur kekuasaan yang ada.

Kritik terhadap konsumerisme dalam konteks di atas menyoroti bagaimana komersialisasi seni dapat mengubahnya menjadi komoditas, melucuti kekuatan transformatifnya. Seperti yang dikatakan oleh Ruitenberg (2014), ketika seni dibentuk oleh kekuatan pasar dan bukan oleh keinginan untuk melakukan kritik sosial yang bermakna, maka seni akan berisiko menjadi cerminan dari nilai-nilai konsumen dan bukan menjadi alat untuk melakukan perubahan sosial. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa seni massa yang digerakkan oleh konsumen cenderung memperkuat daripada menantang norma-norma masyarakat. Oleh karena itu, komodifikasi budaya membatasi potensi seni untuk berfungsi sebagai bentuk perlawanan atau sebagai lensa kritis untuk melihat dunia.

Lebih jauh lagi, seperti yang dicatat oleh Tratnik (2021), komersialisasi seni mengarah pada pengutamaan keuntungan daripada kedalaman. Dengan meningkatnya ketergantungan pada konsumsi massal, kedalaman penyelidikan artistik sering dikorbankan demi menciptakan konten yang menjamin kesuksesan finansial. Hal ini menghasilkan siklus di mana seni, alih-alih berfungsi sebagai platform untuk inovasi, kritik, atau eksplorasi, menjadi mudah ditebak dan dirumuskan. Sifat dasar dari seni yang digerakkan oleh konsumen adalah sedemikian sering diarahkan untuk memuaskan keinginan pasar, bukan untuk mendorong batas-batas wacana sosial atau budaya.

Tantangan utamanya, seperti yang dikatakan oleh Larsen dan Kerrigan (2018), terletak pada ketegangan yang melekat antara menciptakan karya seni yang beresonansi dengan audiens yang luas dan mempertahankan kapasitasnya untuk memprovokasi pemikiran dan menginspirasi perubahan. Seni yang bertujuan untuk berbicara kepada semua orang berisiko menjadi encer, menghilangkan kapasitasnya untuk menghadapi kebenaran yang tidak nyaman atau mendorong refleksi kritis. Akibatnya, seni massa dapat kehilangan kekuatannya untuk menantang audiensnya dan memancing pemikiran yang lebih mendalam tentang dunia tempat mereka tinggal. Alih-alih menantang paradigma yang dominan, seni yang diproduksi untuk daya tarik massa seringkali malah memperkuatnya, menjadi bagian dari mesin yang melanggengkan status quo.

Meskipun seni massa memiliki potensi untuk menyatukan audiens yang beragam dan memupuk hubungan budaya, komersialisasi sering kali mengarah pada pelemahan daya kritisnya. Ketika seni menjadi semakin didorong oleh kekuatan pasar, perannya sebagai alat untuk kritik sosial dirusak dengan seni yang sering kali memperkuat daripada mempertahankan ideologi yang berlaku di masyarakat konsumen. Tantangan bagi para seniman dan produser budaya adalah menemukan cara untuk menciptakan karya yang mempertahankan potensi untuk memprovokasi pemikiran kritis sambil tetap menjangkau khalayak luas.

Seni sebagai Alat untuk Transformasi Kolektif

Ketika terbebas dari batasan komersialisasi, seni massa memiliki potensi untuk mengubah masyarakat dengan cara yang mendalam. Dalam lanskap di mana seni tidak lagi dibentuk oleh motif yang digerakkan oleh keuntungan dari industri hiburan atau perusahaan besar, seni dapat melayani fungsi yang jauh lebih radikal dan revolusioner. Tanpa harus memenuhi selera penonton yang membayar atau mengikuti ekspektasi komersial, seni dapat menjadi alat yang ampuh untuk pemberdayaan kolektif, memungkinkan suara-suara yang terpinggirkan untuk didengar dan diakui.

Seni massa dapat melampaui peran tradisionalnya sebagai hiburan semata dan berevolusi menjadi sebuah platform untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu sosial yang mendesak. Para seniman yang bebas dari tekanan komersial dapat berfokus pada penanganan ketidakadilan sosial seperti ketidaksetaraan, penindasan sistemik, dan pelanggaran hak asasi manusia. Melalui karya-karya mereka, mereka dapat menantang status quo, memprovokasi refleksi dan tindakan dari publik. Dengan demikian, seni massa dapat bertindak sebagai katalisator perubahan sosial, menyatukan orang-orang melalui pengalaman perjuangan dan perlawanan bersama. Dengan menyoroti ketidakadilan kolektif dan pengalaman kaum tertindas, seni dapat berfungsi sebagai seruan solidaritas dan ajakan untuk bertindak, mendorong pemirsa untuk melawan sistem yang tidak adil dan mendorong transformasi yang berarti (Visconti et al., 2010).

Potensi seni untuk memainkan peran revolusioner ini digunakan dalam karya-karya seniman kontemporer yang terlibat langsung dengan isu-isu sosial, mereka tidak hanya menggunakan platform untuk menghibur tetapi juga untuk mengadvokasi keadilan dan kesetaraan. Seniman-seniman ini menggunakan media massa untuk menyampaikan pesan-pesan penting dan memberikan kritik terhadap sistem yang melanggengkan ketidaksetaraan dan penindasan. Karya mereka dapat menginspirasi dan memobilisasi audiens untuk berpikir kritis tentang struktur masyarakat dan peran mereka di dalamnya, sehingga menciptakan rasa urgensi untuk melakukan tindakan kolektif (He, 2022).

Pada akhirnya, ketika seni massa tidak dibatasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan keuntungan finansial, seni massa dapat dibebaskan untuk melayani kebutuhan masyarakat daripada memperkuat kepentingan elit yang berkuasa. Dengan cara ini, seni massa dapat menumbuhkan rasa yang lebih mendalam tentang tujuan bersama dan komunitas, dan membantu individu untuk memahami bahwa perjuangan mereka saling berhubungan. Ketika dibuat dengan tujuan untuk mendidik, menginspirasi, dan memprovokasi perubahan sosial, seni massa memiliki kekuatan untuk meningkatkan kesadaran publik, menggembleng masyarakat untuk bekerja sama demi tujuan bersama, yaitu keadilan dan kesetaraan. Seni massa tidak hanya menjadi cerminan dari masyarakat, tetapi juga menjadi kekuatan aktif di dalamnya, yang mampu membentuk arah gerakan sosial dan membawa perubahan yang nyata (Visconti et al., 2010).

Perjuangan Antara Aksesibilitas dan Kedalaman Seni

Salah satu tantangan utama dalam menciptakan seni massa yang berdampak adalah menyeimbangkan antara aksesibilitas dan kedalaman. Di satu sisi, seni yang terlalu intelektual atau bersifat khusus berisiko mengasingkan sebagian besar masyarakat, karena menjadi sulit untuk terlibat dengan mereka yang tidak berpengalaman dalam konteks budaya atau akademis tertentu. Eksklusivitas ini dapat membatasi jangkauannya dan mengurangi potensi pengaruhnya (Ruitenberg, 2014). Di sisi lain, seni yang memprioritaskan daya tarik massa, yang bertujuan untuk dapat dinikmati oleh khalayak luas, sering kali mengorbankan kompleksitas atau kedalaman dalam prosesnya. Seni semacam itu dapat kehilangan kemampuannya untuk menantang, memprovokasi, atau menawarkan perspektif yang berbeda, sehingga mengurangi potensinya untuk memicu percakapan yang bermakna atau mendorong batas-batas (Ruitenberg, 2014). Ketegangan antara kedalaman intelektual dan aksesibilitas populer ini mencerminkan perdebatan filosofis yang lebih luas mengenai tujuan seni itu sendiri.

Pertanyaannya adalah: haruskah seni melayani para elit intelektual, memicu kontemplasi dan refleksi yang mendalam, namun berpotensi mengesampingkan audiens yang lebih luas? Atau haruskah seni dirancang untuk beresonansi dengan massa, bahkan dengan menyederhanakan isu-isu yang kompleks atau mengorbankan kekayaan intelektualnya? Dengan kata lain, haruskah seni berfungsi sebagai media untuk refleksi pribadi atau filosofis, atau haruskah seni menjadi alat untuk pelibatan publik dan komentar sosial (Ruitenberg, 2014)?

Persoalannya menjadi semakin rumit ketika seni massa dilihat semata-mata sebagai alat untuk hiburan atau kenyamanan. Dalam konteks ini, kekuatan seni untuk terlibat dengan pertanyaan-pertanyaan sulit atau memberikan wawasan kritis dapat dilemahkan, dan potensi transformatifnya melemah (Larsen & Kerrigan, 2018). Seni yang murni menghibur mungkin gagal menghadapi tantangan sosial atau mempertanyakan norma-norma yang berlaku, sehingga kehilangan potensinya untuk memprovokasi perubahan sosial. Tetapi ketika seni dibuat dengan cara yang menghubungkan orang-orang pada tingkat emosional yang mendalam, sekaligus meningkatkan kesadaran akan isu-isu sosial atau politik, seni dapat melampaui dari sekadar menjadi hiburan dan menjadi kekuatan yang kuat untuk perubahan. Kemampuan untuk menghubungkan, menantang, dan menginspirasi tindakan inilah yang menjadi inti dari apa yang membuat seni memiliki dampak (Tratnik, 2021).

Pada akhirnya, tantangan bagi para pencipta seni massa adalah menemukan keseimbangan antara aksesibilitas dan kedalaman, memastikan bahwa karya mereka beresonansi dengan audiens yang luas tanpa mengorbankan kapasitasnya untuk memprovokasi pemikiran, menantang asumsi, dan menginspirasi tindakan. Seni yang paling berdampak tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki kekuatan untuk memicu perubahan, mendorong orang untuk mempertanyakan dunia di sekitar mereka dan mempertimbangkan perspektif baru. Keseimbangan ini adalah kunci dari potensi transformatif seni di dunia modern.

Komersialisasi dan Dampaknya terhadap Integritas Artistik

Komersialisasi seni merupakan penghalang yang signifikan terhadap kemampuannya untuk mewujudkan potensinya secara penuh, terutama dalam masyarakat kapitalis. Seni, yang secara tradisional dipandang sebagai bentuk ekspresi personal dan kritik sosial, sering kali direduksi menjadi komoditas dalam sistem ini. Seperti yang dicatat oleh Larsen dan Kerrigan (2018), dalam kerangka kapitalis, seni sering kali diperlakukan seperti produk lainnya, diproduksi untuk konsumsi dan tunduk pada dinamika pasar. Komodifikasi ini mengorbankan kemampuan seni untuk memenuhi fungsi sosialnya, karena ia terikat oleh tuntutan pasar, yang mendikte konten dan bentuknya.

Implikasi dari komodifikasi ini sangat besar. Ketika seni diciptakan dengan keuntungan sebagai motivasi utamanya, seni tidak lagi menjadi kekuatan radikal untuk kritik sosial. Sebaliknya, seni justru berisiko menjadi alat yang mendukung dan menopang struktur kekuasaan yang ada. Ruitenberg (2014) berpendapat bahwa dalam situasi seperti itu, seni dimanfaatkan untuk melayani kepentingan kelas penguasa, memperkuat status quo dan bukannya menantangnya. Seni yang diproduksi terutama untuk keuntungan komersial sering kali memenuhi selera populer, yang dibentuk oleh kekuatan ekonomi dan budaya yang dominan, sehingga mempersempit kapasitasnya untuk mengatasi masalah sosial yang mendesak.

Meskipun demikian, komersialisasi seni tidak serta merta membuat seni massa tidak memiliki potensi transformatif. Seperti yang dikatakan oleh Visconti dkk. (2010), konteks di mana seni diproduksi memainkan peran penting dalam menentukan dampaknya. Dalam masyarakat yang memprioritaskan kesejahteraan manusia di atas keuntungan, seni dapat dibebaskan dari batasan-batasan komersial, sehingga memungkinkannya untuk mendapatkan kembali kemampuannya untuk menantang ketidaksetaraan sosial. Tanpa tekanan untuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi pasar, seni dapat berkembang menjadi alat untuk perubahan sosial, menginspirasi individu dan masyarakat untuk berpikir kritis tentang dinamika kekuasaan dan ketidaksetaraan. Dalam konteks seperti ini, seni dapat mengambil peran yang lebih bermakna, tidak hanya merefleksikan masyarakat, tetapi juga secara aktif bekerja untuk mengubahnya.

Singkatnya, meskipun komersialisasi membatasi potensi seni dalam masyarakat kapitalis, kekuatan transformatif seni masih dapat direalisasikan dalam lingkungan sosial yang mendukung otonominya dan memprioritaskan kebutuhan masyarakat di atas keuntungan. Dengan demikian, isu komersialisasi bukanlah cacat yang melekat pada seni itu sendiri, melainkan produk dari sistem ekonomi dan politik yang membentuknya.

Peran Seni dalam Revolusi dan Perubahan Sosial

Seni massa telah lama menjadi alat penting dalam gudang gerakan sosial, bertindak sebagai cermin dan katalisator untuk perubahan sosial. Pada saat terjadi kerusuhan atau transformasi sosial, seni berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai kolektif, pengalaman, dan harapan masyarakat, yang memungkinkan individu untuk terhubung dengan tujuan yang lebih luas. Kekuatan seni massa terletak pada kemampuannya untuk mengekspresikan sentimen bersama melalui media yang mudah diakses, seperti poster, mural, musik, film, dan bentuk-bentuk budaya visual lainnya. Bentuk-bentuk artistik ini memiliki kapasitas untuk menjangkau audiens yang luas, menerobos hambatan literasi, bahasa, dan pendidikan, sehingga memungkinkan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat untuk terlibat dengan pesan-pesan gerakan (He, 2022).

Secara khusus, seni massa menjadi instrumen penting ketika diselaraskan dengan nilai-nilai kelas pekerja dan masyarakat yang terpinggirkan dan sering menghadapi penindasan serta pengucilan sistemik dari wacana politik arus utama. Seni yang diciptakan dalam konteks ini dapat berfungsi sebagai bentuk perlawanan, menantang struktur yang menindas dan menawarkan visi alternatif tentang masyarakat yang lebih adil dan setara. Penggunaan seni untuk mengatasi ketidakadilan sosialโ€”baik itu rasial, ekonomi, gender, atau politikโ€”membantu menerangi perjuangan kelompok-kelompok yang dirampas haknya, memperkuat suara mereka, dan memupuk solidaritas. Dengan menyediakan platform bagi komunitas yang terpinggirkan untuk menceritakan kisah mereka, seni massa memastikan bahwa komunitas-komunitas ini dilihat, didengar, dan dihargai (Ruitenberg, 2014).

Ketika seni massa digunakan secara strategis dalam gerakan sosial, seni massa memiliki kapasitas untuk menyatukan individu-individu dari berbagai latar belakang yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama. Penyatuan ini tidak hanya bersifat simbolis; namun juga berfungsi sebagai ajakan untuk bertindak. Seni itu sendiri, dengan kemampuannya untuk memancing emosi yang kuat dan memicu dialog, dapat mendorong orang untuk menghadapi kebenaran yang tidak nyaman, yang mengarah pada peningkatan kesadaran akan ketidaksetaraan dan ketidakadilan sosial. Dengan demikian, seni massa tidak hanya merefleksikan masyarakat, tetapi juga secara aktif bekerja untuk mengubahnya. Kekuatan revolusioner yang sebenarnya muncul ketika seni menjadi alat untuk meningkatkan kesadaran kolektif. Seni menjadi sebuah mekanisme untuk menumbuhkan empati dan pemahaman, yang memungkinkan orang untuk melihat melampaui keadaan individu mereka dan mengenali keterkaitan perjuangan mereka.

Selain itu, seni massa berfungsi sebagai sarana untuk mengekspos akar penyebab masalah sosial, apakah itu eksploitasi ekonomi kelas pekerja, marjinalisasi ras dan etnis minoritas, atau pencabutan hak politik seluruh masyarakat. Seni dapat mengungkap cara kerja kekuasaan yang tersembunyi, menyoroti mekanisme penindasan yang mungkin tidak terlihat atau diabaikan. Seni dapat mengekspos pengalaman hidup individu yang menderita di bawah sistem ini, memberikan representasi visual dan emosional dari perjuangan mereka. Dengan demikian, seni ini mengajak orang lain untuk menjadi saksi, mempertanyakan status quo, dan mengambil tindakan (Visconti dkk., 2010).

Pentingnya seni massa dalam konteks ini tidak dapat dilebih-lebihkanโ€”seni massa sering kali menjadi elemen kunci dalam memobilisasi gerakan berskala besar. Ketika diproduksi dengan tujuan untuk mendidik, memberi informasi, dan menginspirasi, seni massa melampaui statusnya sebagai hiburan belaka dan menjadi sarana transformasi sosial. Tidak seperti bentuk seni tradisional yang mungkin bertujuan untuk menghibur atau merefleksikan keindahan, seni massa menantang audiensnya untuk terlibat secara kritis dengan dunia di sekitar mereka, mendorong mereka untuk mempertimbangkan kembali nilai-nilai, kepercayaan, dan tindakan mereka. Hal ini dilakukan dengan menampilkan gambar-gambar ketidakadilan atau ketidaksetaraan yang mencolok, mendorong penonton untuk bertanya pada diri mereka sendiri tentang peran mereka dalam melanggengkan atau menentang sistem-sistem ini.

Dalam kasus-kasus yang paling mendalam, seni massa telah berfungsi sebagai bentuk pemberdayaan kolektif. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk merebut kembali agensi di ruang-ruang di mana mereka mungkin merasa tidak berdaya. Baik melalui gambar poster revolusioner, lagu-lagu protes, atau mural yang menghiasi tembok-tembok kota, seni massa memberikan masyarakat alat untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka, merayakan kemenangan mereka, dan mengartikulasikan aspirasi mereka. Seni massa menciptakan sebuah catatan visual tentang perjalanan sebuah gerakan yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi, yang berfungsi sebagai dokumen sejarah dan seruan untuk aksi di masa depan.

Singkatnya, potensi revolusioner dari seni massa tidak hanya terletak pada kemampuannya untuk menghibur atau berkomunikasi, tetapi juga pada kemampuannya untuk menyatukan, menginspirasi, dan memobilisasi. Seni massa menyediakan sarana perlawanan yang kuat, alat untuk ekspresi kolektif, dan mekanisme untuk meningkatkan kesadaran tentang ketidakadilan sosial. Seni massa, ketika diciptakan dengan sengaja dan digunakan secara strategis, dapat melampaui perannya dari sekadar ekspresi estetika, menjadi kekuatan untuk transformasi sosial dan landasan bagi gerakan sosial yang sukses. Hal ini mengingatkan kita bahwa seni tidak hanya merupakan cerminan dari dunia apa adanya, tetapi juga cetak biru untuk dunia yang seharusnya.

Mencapai Keseimbangan Antara Seni dan Masyarakat

Hubungan antara seni massa dan perubahan sosial adalah seperti proyek sekolah seni yang paling rumit: kompleks, berlapis-lapis, dan terlalu ambisius untuk kepentingannya sendiri. Meskipun seni telah lama dikenal sebagai sarana ekspresi yang kuat, kapasitasnya untuk memprovokasi perubahan sosial sering kali dikotori oleh pengaruh komersialisasi. Bagian yang sulit adalah, tentu saja, bahwa di dunia saat ini, seni sering kali diproduksi untuk dijual, bukan untuk menginspirasi revolusi. Namun, apakah itu berarti seni akan selamanya menjadi produk konsumerisme? Belum tentu. Jika kita menanggalkan komersialisasi, seni massa tetap memiliki potensi sebagai kekuatan revolusioner yang mampu mengubah masyarakat, satu lagu protes atau mural jalanan pada satu waktu.

Ketika seni massa diselaraskan dengan tujuan kolektif dan dibebaskan dari batasan motif yang digerakkan oleh keuntungan, seni massa dapat bangkit seperti burung phoenix dari abu hiburan yang dangkal. Dalam kondisi terbaiknya, seni massa dapat menjadi sebuah platform untuk pemberdayaan kolektif dan sarana untuk meningkatkan kesadaran akan ketidakadilan sosial. Jangan lupa juga bahwa seni telah menjadi soundtrack untuk beberapa gerakan paling penting dalam sejarah: dari lagu-lagu protes yang menantang rezim politik hingga lukisan yang mengungkapkan kerugian akibat perang. Seni massa, ketika dimanfaatkan dengan tujuan yang lebih dari sekadar pelarian, dapat memicu kesadaran kolektif, membangkitkan pikiran yang tertidur, dan menginspirasi tindakan. Ini seperti momen dalam sebuah film dimana sang protagonis menyadari panggilan mereka yang sebenarnyaโ€”tetapi alih-alih mengenakan jubah dan memerangi kejahatan, mereka justru memegang kuas atau menggubah lagu yang menyerukan revolusi.

Tantangan yang sebenarnya terletak pada menemukan titik temu antara aksesibilitas dan kedalaman. Seni yang terlalu intelektual berisiko mengisolasi massa yang ingin dilibatkanโ€”lagipula, tidak ada orang yang suka diberitahu bahwa lagu pop favorit mereka diam-diam merupakan metafora keputusasaan eksistensial. Di sisi lain, seni yang mengorbankan kedalaman demi daya tarik massa berisiko menjadi gula-gula yang manis dan menyenangkan tanpa nilai gizi. Ini seperti film blockbuster yang Anda tonton sekali dan segera Anda lupakan: menghibur, tentu saja, tetapi apakah itu mengubah hidup Anda? Mungkin tidak. Kuncinya adalah menyeimbangkan antara kebutuhan untuk menjangkau khalayak luas dengan keinginan untuk memancing pemikiran dan mempertanyakan status quo. Seni tidak boleh hanya sekadar basa-basi tanpa substansi, dan juga tidak boleh terlalu memabukkan sehingga hanya diperuntukkan bagi kalangan elit intelektual. Seni harus berbicara kepada hati dan pikiran masyarakat tanpa merendahkan mereka.

Meskipun demikian, komersialisasi tetap menjadi salah satu hambatan terbesar dalam mewujudkan potensi seni yang sebenarnya sebagai kekuatan untuk perubahan. Seni yang didikte oleh kekuatan pasar sering kali kehilangan sisi kritisnya dan berubah menjadi alat konsumerisme. Ketika seniman ditekan untuk membuat karya mereka โ€œlaku di pasaranโ€, maka karya mereka tidak lagi menjadi tentang menantang norma-norma masyarakat dan lebih kepada menjual gaya hidup. Citra seniman yang kelaparan tidak lagi seromantis duluโ€”sekarang  lebih tentang mengikuti tren terbaru di Instagram sambil mempertahankan identitas merek Anda. Namun, agar adil, sulit untuk menyalahkan seniman sepenuhnya ketika mata pencaharian mereka bergantung pada daya tarik pasar yang sering mereka kritik. Meski begitu, seni massa yang diproduksi dalam konteks sosial yang berbedaโ€”di mana kebutuhan masyarakat lebih diutamakan daripada keuntunganโ€”memiliki kekuatan untuk menyatukan komunitas, menginspirasi aksi, dan menantang sistem yang menindas. Dalam visi utopis ini, seni tidak lagi menjadi komoditas, melainkan senjata transformasi sosial. Dunia seperti itulah yang ingin saya tinggali.

Mengutip pepatah lama: โ€œSeni ada di mata yang melihatnya.โ€ Namun dalam konteks seni massa, seni juga berada di tangan massa. Dalam bentuknya yang paling revolusioner, seni massa berfungsi sebagai media untuk aksi kolektif, menyatukan berbagai kelompok dengan tujuan yang sama, perjuangan bersama, dan impian akan dunia yang lebih baik. Di sinilah seni melampaui perannya sebagai hiburan semata dan menjadi alat transformasi sosial. Ini seperti sebuah lagu protes yang Anda dengar, dan tiba-tiba saja Anda mempertanyakan segalanya: kapitalisme, kemapanan, guru sejarah di sekolah menengah yang pernah mengatakan โ€œseni hanya untuk bersenang-senang.โ€ Tiba-tiba, Anda bukan hanya seorang konsumen; Anda adalah seorang partisipan dalam revolusi.

Seni massa, ketika diproduksi dengan tujuan untuk memberi informasi, mendidik, dan menginspirasi, memiliki kekuatan untuk mengekspos ketidakadilan yang tersembunyi di masyarakat dan memobilisasi orang untuk menantang struktur kekuasaan yang sudah mengakar. Sama seperti meme yang dibuat dalam waktu yang tepat dapat menggalang jutaan orang untuk melakukan protes, sebuah karya seni massa dapat meningkatkan kesadaran, memicu dialog, dan membawa perubahan kolektif yang dibutuhkan untuk perubahan yang berarti. Tentu saja, meme tidak dapat menggulingkan pemerintah dalam semalam, tetapi setiap gerakan sosial membutuhkan satu lagu yang menarik atau gambar viral yang dapat menyulut semangat. Sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa ketika seni massa diselaraskan dengan nilai-nilai kelas pekerja dan komunitas yang terpinggirkan, ia dapat berfungsi sebagai alat yang ampuh untuk melakukan perlawanan. Seni massa mungkin tidak dapat menyelesaikan semua masalah di dunia, namun seni massa dapat memulai percakapan.

Dengan cara ini, seni massa tidak hanya menjadi cermin bagi masyarakat, tetapi juga palu godam untuk meruntuhkan tembok-tembok ketidaksetaraan, penindasan, dan rasa puas diri. Pergulatan antara aksesibilitas dan kedalaman, komersialisasi dan kekritisan, bukanlah hal yang mudah untuk dipecahkan. Namun, seperti halnya semua seni yang hebat, ketegangan, dorongan dan tarikan, yang memberikan kekuatan transformatif pada seni massa. Jadi, lain kali jika Anda mendengar lagu pop yang menarik atau melihat mural yang provokatif, ingatlah: ini bukan sekadar seni, ini adalah revolusi yang dibungkus dengan warna dan suara. Dan jika revolusi itu melibatkan lagu yang menarik atau tarian TikTok, maka biarkan saja. Perubahan juga harus menyenangkan, bukan?


Daftar Pustaka

He, X. (2022). Guangyi wang โ€™s great criticism: coca cola: a compromising of art languages. International Journal of Education and Humanities, 6(2), 66-67. https://doi.org/10.54097/ijeh.v6i2.3352

Larsen, G. and Kerrigan, F. (2018). Critical arts marketing., 135-151. https://doi.org/10.4324/9781315630526-8

Ruitenberg, C. (2014). On consumerism, collective action, and whether art teaches anything. Educational Theory, 64(2), 179-194. https://doi.org/10.1111/edth.12056

Tratnik, P. (2021). Art addressing consumerism in the age of late capitalism. Croatian Journal of Philosophy, 21(61), 39-51. https://doi.org/10.52685/cjp.21.1.3

Visconti, L., Sherry, J., Borghini, S., & Anderson, L. (2010). Street art, sweet art? reclaiming the โ€œpublicโ€ in public place. Journal of Consumer Research, 37(3), 511-529. https://doi.org/10.1086/652731

Antonius Harya Febru Widodo
Antonius Harya Febru Widodo
Kader Gerindra Masa Depan Angkatan 15 dan Magister Ilmu Filsafat dengan fokus studi filsafat musik, budaya populer, serta pegiat budaya massa yang aktif mengkritisi dinamika sosial dan estetika dalam budaya kontemporer.

Bacaan Lainnya