More

    Pembalikan Tatanan Dependensi: Dari Ontologi Berorientasi Objek ke Ontologi Berorientasi Struktur

    Moh. Gema
    Moh. Gema
    Pembaca One Piece. Tertarik pada filsafat sains dan metafisika.

    Artikel Terbaru

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Pembalikan Tatanan Dependensi: Dari Ontologi Berorientasi Objek ke Ontologi Berorientasi Struktur

    Realisme struktural memiliki dua pilihan, yaitu dengan mengakui adanya sesuatu yang melampaui struktur—sebutlah X—di dunia, yang biar bagaimanapun kita tidak memiliki aksesibilitas untuk mengetahuinya...

    Realisme struktural[1] memiliki dua pilihan, yaitu dengan mengakui adanya sesuatu yang melampaui struktur—sebutlah X—di dunia, yang biar bagaimanapun kita tidak memiliki aksesibilitas untuk mengetahuinya (apalagi memahaminya), atau memang tidak ada sesuatu yang lain yang melampaui struktur.[2] Realisme struktural epistemik seperti yang diadvokasi oleh Worrall memilih pilihan pertama sedangkan realisme struktural ontik memilih pilihan kedua.

    Setelah Worrall mengajukan realisme struktural sebagai ‘yang terbaik dari dua dunia’ dan mendapat banyak perhatian dari banyak filsuf, realisme struktural mengambil arah yang berbeda pada akhir 90-an ketika James Ladyman (1998) dan Steven French (1998) mengajukan pembaharuan atas realisme struktural sebagai sebuah posisi ontologis. Menurut Ladyman realisme struktural tidak memiliki kelebihan yang berarti daripada realisme ilmiah tradisional jika hanya dimengerti sebagai perbaikan epistemologis belaka, realisme struktural harus dikembangkan sebagai posisi metafisik.[3] Posisi ini membutuhkan pandangan tentang dunia macam apa yang dibicarakan, dan pandangan tersebut adalah dengan mengambil struktur sebagai basis ontologis. Dalam kata-katanya Ladyman,

    we should seek to elaborate structural realism in such a way that it can diffuse problems of traditional realism [. . .] This means taking structure to be primitive and ontologically subsistent.”[4]

    Posisi ini kemudian disebut realisme struktural ontik. Inti dari pandangan ini adalah bahwa struktur merupakan basis secara ontologis: apa yang awalnya nampak sebagai struktur dari ‘sesuatu’ yang memiliki segi kualitatif yang tidak diketahui sesungguhnya hanya struktur lah yang pada dasarnya ada. Dengan kata lain, realisme struktural ontik menolak presumsi bahwa objek dan segi kualitatifnya merupakan basis secara ontologis dan struktur, sejauh eksis, dependen pada eksistensi objek dan propertinya. Realisme struktural ontik memutar-balik tatanan dependensi ini dan menempatkan struktur sebagai basis secara ontologis, dan mempositnya sejauh objek dan properti eksis, eksistensinya dependen pada eksistensi struktur.[5]

    Tesis metafisik realisme struktural ontik tentang apa yang fundamental secara ontologis dimotivasi oleh dua hal: (a) kebutuhan untuk membangun sebuah ontologi yang cocok untuk fisika kontemporer, dan sebuah jalan pelarutan beberapa teka-teki dasar metafisik yang muncul darinya; dan (b) kebutuhan untuk membangun sebuah konsepsi bagaimana teori merepresentasikan dunia yang kompatibel dengan apa yang diperankan oleh model dan idealisasi dalam fisika.[6] Di atas disebutkan bahwa realisme mensyaratkan komitmen metafisik tentang pandangan bagaimana dunia eksternal. Tapi komitmen metafisik ini tidak ditentukan oleh eviden, khususnya fisika. Ini merupakan teka-teki metafisik yang ingin dilampaui oleh realisme struktural ontik, yaitu ketaktertentuan metafisik (metaphysical underdetermination).

    Dalam filsafat ilmu ketaktertentuan semacam ini dikenal sebagai tesis ketaktertentuan teori oleh eviden (underdetermination theory by evidence) untuk menunjukkan bahwa pemilihan teori dalam ilmu tidak rasional. Tesis ini adalah sebagai berikut:

    Andaikan ada dua teori, teori T1 dan T2 yang ekuivalen secara empiris, artinya bahwa kedua teori tersebut membuat prediksi teramati yang sama. Maka [menurut tesis ini] tidak ada eviden teramati yang dapat menentukan pilihan antara T1 dan T2 secara konklusif.[7] 

    Menurut Laudan dan Leplin tesis di atas dapat menjadi motivasi bagi relativisme dalam ranah ontologis maupun epistemologis yang menghantarkan kita pada skeptisisme.[8] Jadi selain meruntuhkan rasionalitas pemilihan teori, komitmen metafisik kita tentang dunia sebagaimana yang dikatakan teori juga runtuh. Non-realis dapat menunjukkan bahwa eksistensi teori yang ekuivalen secara empiris tidak meruntuhkan rasionalitas pilihan teori satu di antara teori lainnya pada tingkat tertentu dalam perkembangan ilmu, yaitu dengan menunjukkan bahwa ekuivalensi empiris dari dua teori tidak mensyaratkan ekuivalensi evidensialnya. Contohnya, jika, seperti Larry Laudan (1981), kita pragmatis, maka kita dapat berpikir bahwa pemilihan teori secara keseluruhan rasional karena adanya pembatasan pragmatik, tapi meskipun demikian komitmen ontologis pada teori yang dipilih demikian rupa tidak dapat dijustifikasi karena adanya kemungkinan teori yang ekuivalen secara empiris dengan ontologi alternatif. Lebih jauh, Roger Jones (1991) berargumen bahwa ketika kita menghadapi teori yang mengakui formulasi alternatif yang mengajukan metafisika yang berbeda (contohnya mekanika Newtonian dan ‘aksi pada sebuah jaraknya’, ‘variasional’, ‘teoretika-medan’, dan bahkan formulasi ‘ruangwaktu lengkung’), kita tidak dapat menjadi realis tentang teori tersebut karena kita tidak tahu versi mana untuk dipercaya tentang bagaimana dunia sebenarnya bekerja.

    Meskipun kita dapat menentukan formulasi kanonis dari sebuah teori, masih terdapat problem lain dari ketaktertentuan metafisik, contohnya problem individualitas dan non-individualitas dalam fisika fundamental. Contoh ini merupakan problem yang menjadi titik berangkat orientasi ontologis dari realisme struktural ontik. Dalam fisika klasik, partikel elementer merupakan objek individu seperti objek dalam kehidupan sehari-hari kita (meja, rumah, motor, dan sebagainya) yang dapat kita acu dengan term singular (kita dapat menamainya, atau mengacunya dengan ekspresi indeksikal atau deskripsi definit) dan membandingkannya secara bermakna dengan objek lainnya. Tapi dalam mekanika kuantum gagasan individualitas ini menjadi problematik, bahkan dalam babak awal sejarah mekanika kuantum banyak yang mengajukan bahwa partikel kuantum bukanlah individu.[9]

    Untuk menunjukkan klaim ini kita membutuhkan sebuah asas individualitas, yaitu kriteria untuk menentukan suatu objek dengan objek lainnya berbeda (distinct). Asas yang digunakan dalam disputasi metafisik mekanika kuantum adalah asasnya Leibniz di mana individuasi objek sesuai dengan properti yang dimilikinya. Asas ini juga disebut sebagai asas identitas takterbedakan (principle of identity of indiscernibles): ∀x∀y[(∀P)(Px↔Py)→(x=y)], di mana x dan y adalah variabel tatanan pertama (meliputi objek) dan P adalah sebuah variabel tatanan kedua (meliputi properti). Asas ini mengatakan bahwa jika objek x dan y memiliki properti yang sama (share all properties), maka x dan y identik; atau sebaliknya, jika dua objek adalah sesungguhnya bukan satu dan sama, maka pasti terdapat paling tidak satu properti yang dimiliki oleh satu objek tapi tidak dimiliki oleh objek lainnya. Properti yang diliputi oleh P adalah (a) properti monadik, (b) properti monadik dan relasional yang tidak termasuk properti spasial, dan (c) properti monadik dan relasional termasuk properti spasial.[10] Berdasarkan asas ini partikel klasik adalah objek individu karena sifat tak dapat ditembusnya (imprenetability) di mana dua partikel tidak dapat menempati lokasi spasio-temporal yang sama. Maka dari itu partikel klasik dapat dibedakan menurut trajektorinya dalam ruangwaktu.[11]

    Tapi asas identitas takterbedakan gagal dikenakan dalam mekanika kuantum. Mengikuti French dan Redhead (1988), anggaplah terdapat dua partikel kuantum yang memiliki properti intrinsik sama yang tidak tergantung pada keadaannya (non-state dependent) (massa, muatan listrik, …) dan asumsikan bahwa kedua partikel tersebut, paling tidak pada awalnya, dianggap sebagai individu yang dilabeli ‘1’ dan ‘2’. Problem yang harus kita pecahkan adalah bagaimana kita mendistribusikan kedua partikel ini pada dua keadaan kuantum dengan |a> dan |b>. Kemudian kita tulis |a>|b> untuk menyatakan bahwa partikel pertama dalam keadaan |a> dan partikel kedua dalam keadaan |b>. Jadi sistem kedua-partikel dapat berada dalam empat keadaan berbeda: |a>|a>, |a>|b>, |b>|a>, |b>|b>. Keadaan ini benar jika partikelnya adalah partikel klasik. Tapi mekanika kuantum memberitahu kita bahwa sistemnya hanya dapat berada dalam salah-satu dari keadaan berikut:

    (1) |a>|a>

    (2) 1/√2 (|a>|b> + |b>|a>)

    (3) 1/√2 (|a>|b> – |b>|a>)

    (4) |b>|b>

    Lebih jauhnya, keadaan ini tidak tersedia untuk semua partikel. Terdapat dua jenis partikel fundamental: fermion dan boson. Status partikel tidak dapat berubah melalui waktu: jika sebuah partikel adalah fermion (atau boson) pada satu titik waktu maka partikel tersebut adalah fermion (atau boson) selamanya. Maka dalam mekanika kuantum fermion hanya dapat berada dalam keadaan (3), sementara boson dapat berada dalam keadaan (1), (2), dan (4).[12]

    French dan Redhead[13] menunjukkan bahwa partikel yang berada dalam salah-satu keadaan di atas memiliki properti monadik dan relasional yang bergantung pada keadaan (state-dependent) yang sama dalam pengertian berikut:

    Monadik: untuk setiap properti P dan setiap nilai p dari P, probabilitas pengukuran properti P pada partikel 1 yang memiliki hasil p sama dengan probabilitas pengukuran properti P pada partikel 2 yang memiliki hasil p.

     

    Relasional: untuk setiap dua properti P dan Q dan semua nilai p dan q dari properti tersebut, probabilitas pengukuran P pada partikel 1 memiliki hasil p mengingat bahwa pengukuran Q pada partikel 2 memiliki hasil q sama dengan probabilitas pengukuran P pada partikel 2 yang memiliki hasil p mengingat bahwa pengukuran Q pada partikel 1 memiliki hasil q.

    Hasil di atas diturunkan menggunakan mekanika kuantum standar, dan maka dari itu berdasarkan pada mekanika kuantum standar dua partikel tidak dapat dibedakan. Karena posisi ini adalah properti yang bergantung pada keadaan dalam mekanika kuantum maka hasilnya berdampak pada properti spasial dan maka dari itu partikel kuantum juga tidak dapat dibedakan dengan berdasar pada properti spasialnya.[14]

    Non-individualitas partikel kuantum di atas dapat diterima jika asas identitas takterbedakan benar. Jika kita tidak ingin menyimpulkan bahwa kedua partikel identik karena sudah jelas bahwa kita memiliki dua sistem partikel dan bukan satu sistem partikel, maka asas identitas takterbedakan salah dan tidak dapat digunakan untuk menentukan individualitas dalam partikel kuantum. Tapi jika kita tidak menerima asas identitas takterbedakan maka kita harus mendasarkan individualitas pada kriteria lain, yaitu ke-ini-an (thisness) primitif atau haecceity yang tidak dapat dipertahankan karena bertentangan dengan mekanika kuantum.[15]

    Pokok persoalan di atas adalah untuk mempertimbangkan natur metafisik dari partikel kuantum. Dua pilihan yang tersedia adalah (a) partikel sebagai individu (memiliki kondisi identitas yang didefinisikan secara ketat, dapat diidentifikasi dan dire-identifikasi) atau (b) partikel sebagai non-individu (identitas untuk partikel kuantum tidak didefinisikan secara ketat, tidak adanya kondisi identitas). Pilihan ini hanya tersedia untuk ontologi beroreintasi-objek (object-oriented ontologies) yang dalam artian luasnya objek tidak membutuhkan kondisi identitas yang didefinisikan secara ketat untuk sesuatu menjadi sebuah objek. Kedua pilihan di atas, sejauh mekanika kuantum terlibat, sama-sama dapat diterima dan realisme standar harus dapat menentukan natur entitas yang realis percaya.[16] Situasi ini merupakan ketaktertentuan metafisik, yang realisme struktural ontik berusaha untuk melampauinya dengan meninggalkan objek—yang secara partikular status metafisiknya tidak dapat ditentukan—dan berkomitmen pada struktur yang secara umum dimiliki oleh kedua pilihan di atas.

    Ladyman melihat problem di atas sebagai kegagalan teori mutakhir untuk menentukan karakteristik ontologis fundamental dari entitas pokok yang dipostulatkan. Problem ini merupakan bentuk ersatz dari realisme yang menganjurkan komitmen pada eksistensi entitas yang memiliki status metafisik ambigu. Problem individualitas di atas memang muncul dari mekanika kuantum partikel-banyak dan tentu saja teori mutakhir dari teori kuantum adalah teori medan. Realisme mungkin akan mengabaikan problem ketaktertentuan metafisik pada basis perbedaan kemutakhiran teori. Tapi terdapat beberapa problem juga dengan pengabaian ini. Pertama, seperti halnya mekanika klasik, fakta bahwa partikel non-relativistik mekanika kuantum memiliki kesuksesan empiris yang sangat besar dan untuk sebuah paradigma teori ilmiah yang bagus berarti bahwa realis harus memiliki pemahaman; realis tentang apa. Jika tidak realisme hanya akan dipakai untuk satu teori yang benar tentang dunia, jika memang ada, dan sejak kita belum memilikinya maka realisme tidak memiliki relevansinya dengan teori-teori yang aktual. Kedua, kita harus memiliki konsep tertentu dari partikel fundamental yang digunakan secara luas oleh para fisikawan dan ilmuan kimia dari ontologi teori medan, dan maka dari itu pertanyaan tentang naturnya masih akan tetap bermakna. Ketiga, teori medan kuantum tidak mudah untuk diinterpretasikan secara realistik daripada teori kuantum biasa dan memunculkan problem interpretatif baru dan sama-sama mendesaknya.[17] Teller mengatakan bahwa medan kuantum tidak analog dengan medan klasik, di mana medannya terdiri dari operator yang diparameterisasi dengan titik ruang-waktu:

    These operator values associated with the space-time points are not specific values of some physical quantity. The specific or concrete values are, as on initially expects, the states, or equivalently, the catalogue of probability amplitudes for all possible measurements.[18]

    Maka dari itu operatornya tidak merepresentasikan nilai dari kuantitas fisiknya tapi kuantitas itu sendiri (quantities themselves). Problem interpretatif dari teori medan kuantum ini diwariskan dari mekanika kuantum non-relativistik.

    Keempat, problem individualitas tidak dapat dipecahkan dengan bergeser pada teori medan. Teller menegaskan bahwa mekanika kuantum konvensional memang tampak inkompatibel dengan gagasan klasik tentang properti yang mana semua kuantitas selalu memiliki nilai yang jelas. Dengan mengatakan bahwa bilangan ‘partikel’ selalu memiliki nilai yang jelas, teori medan kuantum juga menghadirkan problem yang persis sama.[19]

    Dalam teori medan kuantum, bilangan partikel untuk keadaan medan tertentu (berapa banyak partikel yang ada) bergantung pada kerangka acuan yang diadopsi. Dalam situasi ini partikel seperti kehilangan realitasnya dalam pendekatan teoretika medan. Teller sendiri menganjurkan interpretasi dalam pengertian “kuanta” yang merupakan eksitasi medan yang dapat diagregasi seperti partikel (kita dapat mengatakan ada sebuah keadaan dengan kuanta yang sangat banyak), tapi tidak dapat dienumerasi (kita tidak dapat mengatakan yang ini yang pertama, yang ini yang kedua, dan seterusnya); kuanta bukanlah individu.[20] Jika demikian problem individualitas muncul kembali; apakah medan itu sendiri individu atau apakah medan itu sebenarnya properti dari titik ruangwaktu. Problem ini kemudian akan menghantarkan kita pada disputasi antara substantifalisme dan relasionalisme dalam metafisika relativitas umum.

    Secara kasar substantifalisme memandang bahwa titik lipatan ruangwaktu eksis secara independen dari konten material semesta. Sedangkan relasionalisme memandang bahwa fakta spasio-temporal hanyalah relasi di antara elemen yang berbeda dari konten material ruangwaktu. Jika ditelusuri ulang disputasi ini mungkin dapat ditelusuri kembali hingga disputasi Newton dan Leibniz, meskipun anakronistik. Problem bagi relasionisme adalah bahwa persamaan medan dari relativitas umum memiliki solusi di mana ruangwaktu kosong secara keseluruhan, yang disebut solusi de Sitter. Karena itu teori relativitas umum seperti menyiratkan bahwa ruangwaktu dapat eksis dan memiliki properti dan struktur, yang independen dari konten materialnya. Di sisi lain, problem bagi substantifalisme adalah kararan umum persamaan medan yang menunjukkan bahwa model ruangwaktu dan gambarannya yang berada di bawah sebuah keadaan yang disebut diffeomorfhism, yaitu sebuah pemetaan bijektif (memiliki fungsi satu-satu (one-one) dan pada (onto)) yang dapat dibedakan dari modelnya pada dirinya sendiri dengan mempertahankan struktur topologis, ekuivalen satu sama lain dalam semua hal; semua properti fisiknya diekspresikan dalam pengertian objek geometrik kararan umum.[21] Dengan kata lain, jika titik ruangwaktu secara keseluruhan tidak dapat dibedakan satu sama lain maka tidak ada perbedaan jika kita menukarnya sejauh strukturnya secara keseluruhan tetap sama. Menurut argumen lubangnya Earman dan Norton (1987), jika model diffeomorphic diperlakukan secara berbeda secara fisik maka akan ada sebuah kerusakan deternimisme. Tentu saja substantifalisme tidak dapat menerima ini karena pertanyaan tentang determinisme harus ditetapkan pada tataran empiris atau fisik, dan bukan tataran filosofis.

    Apa yang kemudian harus dilakukan oleh realis? van Fraassen—memahami bahwa realisme sudah sewajarnya harus memiliki pengetahuan metafisik—bersikeras bahwa kita harus “mengucapkan selamat tinggal” pada metafisika, dan maka dari itu realisme itu sendiri. Tapi Ladyman mengajukan usul lain. Menurut Ladyman yang kita butuhkan adalah sebuah pergeseran pada basis ontologis yang berbeda secara keseluruhan di mana pertanyaan seperti individualitas tidak muncul. Kita dapat memandang paket individu dan non-individu, seperti partikel dan gambaran medan dalam teori kuantum, sebagai representasi yang berbeda dari struktur yang sama. Situasi ini juga analog dengan disputasi tentang substantifalisme dalam relativitas umum. Robert DiSalle (1994) mengusulkan bahwa struktur ruangwaktu berlaku sebagai eksisten tanpa bertopang (supervenient) pada eksistensi titik-titik ruangwaktu. Ladyman mengindetifikasi ini sebagai uraian baru dari posisi yang dikembangkan oleh Howard Stein yang memandang ruangwaktu bukan sebagai substansi maupun himpunan relasi di antara substansi, tapi struktur dalam dirinya sendiri.[22] Untuk mengatakannya secara sederhana, realisme yang memiliki ontologi yang berorientasi objek harus beralih ke realisme ontologis yang berorientasi struktur di mana struktur dan/atau relasi memiliki status ontologis subsisten dengan mengorbankan individu yang subsisten-pada-dirinya, objek, dan properti intrinsiknya.

     

    Catatan Akhir

     

    [1] Untuk pengantar singkat tentang realisme struktural anda dapat membaca artikel saya sebelumnya di sini.

    [2] Lih. Stathis Psillos, 2009, Knowing the Structure of Nature, London: Palgrave Macmillan, hal. 130.

    [3] Lih. James Ladyman, 1998, “What is Structural Realism?” dalam Study of History and Philosophy of Science, Vol. 29, No. 3, hal. 411.

    [4] Lih. Ibid., hal. 420.

    [5] Lih. Steven French dan James Ladyman, 2003, “Remodelling Structural Realism: Quantum Physics and the Metaphysics of Structure” dalam Synthese, Vol. 136, hal. 46. Bidik juga Roman Frigg dan Ioannis Votsis, 2011, “Everything You Always Wanted to Know About Struktural Realism but were Afraid to Ask” dalam European Journal for Philosophy of Science, Vol. 1, hal. 227-276.

    [6] Lih. James Ladyman dan Don Ross, 2007, Every Thing Must Go. Oxford, New York: Oxford University Press, hal. 131.

    [7] Lih. Newton C. A. Da Costa dan Steven French, 2003, Science and Partial Truth, Oxford: Oxford University Press, hal. 189.

    [8] Lih. Lary Laudan dan Jarret Leplin. 1991. “Empirical Equivalence and Underdetermination” dalam The Journal of Philosophy, 88. Hal. 450.

    [9] Lih. James Ladyman dan Don Ross, Op. Cit., hal. 134.

    [10] Lih. Roman Frigg dan Ioannis Votsis, 2011, “Everything You Always Wanted to Know About Struktural Realism but were Afraid to Ask” dalam European Journal for Philosophy of Science, Vol. 1, hal. 266.

    [11] Lih. James Ladyman dan Don Ross, Op. Cit., hal. 134.

    [12] Lih. Roman Frigg dan Ioannis Votsis, Op. Cit., hal. 266-267.

    [13] Lih. Steven French dan M. Redhead, 1988, “Quantum Physics and the Identity of Indiscernibles” dalam British Journal for the Philosophy of Science, 39, hal. 238-242.

    [14] Lih. Roman Frigg dan Ioannis Votsis, Op. Cit., hal. 267.

    [15] Lih. Ibid..

    [16] Lih. James Ladyman, Op. Cit., hal. 420.

    [17] Lih. James Ladyman, 2001, “Science, Metaphysics and Structural Realism” dalam Philosophica, 67. Hal. 66-67.

    [18] Lih. P. Teller, 1990, “Prolegomenon to a Proper Interpretation of Quantum Field Theory” dalam Philosophy of Science, 57, hal. 613.

    [19] Lih. Ibid., hal. 594.

    [20] Lih. James Ladyman dan Don Ross, Op. Cit., hal. 139-140.

    [21] Lih. James Ladyman, Op. Cit., hal. 68.

    [22] Lih. . James Ladyman, 1998, Op. Cit., hal. 420.

    Sumber gambar: medium.com

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here