Saturday, November 27, 2021
Home Esai Mempertimbangkan Kembali Kemungkinan Monisme

Mempertimbangkan Kembali Kemungkinan Monisme

Prinsip utama dari monisme secara historis adalah bukan bahwa keseluruhan tidak memiliki bagian-bagiannya, tapi bahwa yang keseluruhan mendahului bagian-bagiannya.

Dewasa ini monisme terkesan buruk karena dianggap meniadakan fakta lain selain satu fakta tertentu yang dianggap ada. Dalam filsafat akal budi (Philosophy of mind), misalnya, monisme meyakini bahwa yang ada hanyalah entitas atau proses fisik dan entitas atau proses mental tidak ada atau dapat direduksi pada entitas fisik. Yang demikian dapat dikatakan sebagai monisme eksistensi, bahwa yang ada hanyalah satu objek tertentu. Namun selain itu terdapat monisme lain yang disebut monisme prioritas yang memandang bahwa yang ada hanyalah satu ikhwal fundamental tertentu. Namun demikian tidak berarti tidak ada ikhwal lain selain ikhwal fundamental. Monisme prioritas ini mengakui adanya ikhwal lain yang derivat atau non-fundamental.[i] Lawan dari monisme adalah pluralisme. Pluralisme meyakini bahwa terdapat banyak objek fundamental. Dan semua objek lainnya derivat dari objek-objek fundamental tersebut. Posisi pluralisme ini banyak diadopsi oleh banyak pemikir dari banyak domain. Singkatnya karena banyak objek yang ternyata tidak dapat direduksi pada objek yang berada pada tingkat fundamental. Misalnya pluralisme dalam filsafat biologi tentang taksonomi jenis natural (natural kind) yang (jika disederhanakan) menganggap bahwa jenis natural itu tidak ada karena mengandaikan esensialisme. Taksonomi biologis tidak dependen pada jenis natural tapi pada interest manusia. Karena itu, pada titik ini, kita harus mempercayai pluralisme ketimbang monisme.

Dalam tulisan ini saya hendak mengeksplorasi kemungkinan kita untuk mempertimbangkan kembali monisme. Monisme yang hendak dipertahankan dalam tulisan ini adalah monisme prioritas, meskipun pada titik tertentu juga dapat diperluas pada monisme eksistensi. Sebelum masuk ke argumen utama monisme dan pluralisme saya akan memperjelas disputasi monisme dan pluralisme.

Disputasi antara monisme dan pluralisme[ii] dalam filsafat merupakan disputasi yang sudah lama terjadi. William James bahkan mengatakan bahwa disputasi tersebut adalah problem filosofis paling sentral di antara problem filosofis lainnya. Dari sisi monisme, kita dapat menyebutkan beberapa filsuf dalam deretan silsilah seperti Parmenides, Plato, Plotinus, Spinoza, Hegel, dan Bradley. Selama abad ke-19 sisi monisme ini mencapai sebuah posisi yang dominan.

Akhir-akhir ini monisme banyak atau sering ditolak sebagai sesuatu yang tidak benar atau bahkan tidak bermakna. Sikap yang demikian berakar pada pemberontakan filosofis pada awal abad ke-20. Pada masa filsafat tradisi analitik awal, pemberontakan filosofis terjadi melawan neo-Hegelian. Beberapa filsuf yang memberontak itu di antaranya adalah Russell dan Moore. Mereka berdua menolak monisme sebagai sesuatu yang berlawanan dengan common sense. Kemudian pada masa kejayaan positivisme melawan metafisika secara umum, Carnap dan Ayer bahkan mengejek disputasi antara monisme dan pluralisme sebagai sesuatu yang nonsens dan mistis.

Schaffer kemudian mengklaim bahwa monisme sebenarnya tidak pernah disangkal tapi hanya disalah-artikan karena misinterpretasi. Monisme biasanya diinterpretasikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa hanya satu hal yang eksis (monisme eksistensi). Dalam pandangan yang demikian tidak ada partikel, batu, planet, atau bagian-bagian lainnya dari dunia. Yang ada hanyalah Yang-Satu. Jika monisme diinterpretasikan demikian maka monisme sudah sepantasnya ditolak karena sudah jelas keliru.

Prinsip utama dari monisme secara historis adalah bukan bahwa keseluruhan tidak memiliki bagian-bagiannya, tapi bahwa yang keseluruhan mendahului bagian-bagiannya. Seperti yang Proclus katakan bahwa monad itu berada di mana-mana mendahului pluralitas. Dalam kasus pokoknya, yang keseluruhan mendahului bagian-bagiannya adalah keseluruhan yang merangkul semua hal yang terpisah dalam kosmos. Doktrin ini mengisyaratkan bahwa terdapat bagian-bagian, namun yang keseluruhan mendahuluinya. Disputasi ini secara historis bukan tentang objek apa yang ada, tetapi objek atau ikhwal apa yang fundamental.

Jika secara historis demikian maka disputasi pluralisme dan monisme berada dalam ranah bingkai prioritas metafisik, yaitu antara prioritas dunia (sebagai suatu keseluruhan) atau bagiannya. Monisme berada pada sisi dunia sebagai keseluruhan sedangkan pluralisme berada pada posisi yang mempertahankan bagian-bagiannya sebagai sesuatu yang fundamental dan dari bagian-bagian tersebutlah dunia diderivasi.[iii] Disputasi tersebut memperdebatkan apakah objek tertentu mendahului objek lainnya secara metafisik (objek fundamental) atau tidak mendahului secara metafisik (objek derivat). Eksistensi dan natur dari derivat objek secara metafisik tergantung pada eksistensi dan natur  objek yang lebih fundamental (termasuk relasi eksternalnya). Fakta tentang objek yang non-fundamental dapat dijelaskan oleh fakta yang lebih fundamental namun tidak sebaliknya. Misalnya fakta biologis dapat dijelaskan oleh fakta kimiawi namun fakta biologis tidak dapat menjelaskan fakta kimiawi.

Dalam bingkai prioritas metafisik terdapat konsep yang krusial, yaitu fundamentalitas. Fundamentalitas merupakan konsep yang sentral dalam diskursus metafisika maupun filsafat sains, terutama fisika. Bahakan sudah umum beberapa filsuf mengatakan bahwa tugas metafisika adalah untuk memahami struktur fundamental realitas.[iv] Begitu juga dengan fisika. Fisika dapat disebut ilmu yang mengeksplorasi konstituen fundamental realitas dan hukum-hukum yang mengaturnya. Karena itulah dalam fisika konsep fundamentalitas juga memainkan peran yang krusial.[v] Dalam metafisika pemahaman nominalis tentang properti, contohnya, mengatakan bahwa kategori metafisik objek merupakan sesuatu yang fundamental dan propertinya derivatif atau bahkan merupakan non-eksisten. Dalam filsafat fisika kita juga dapat menemukan contoh yang mirip. Misalnya fisikalis yang percaya bahwa alam semesta secara fundamental merupakan suatu entitas fisik, peristiwa mental dan properti dependen dan dapat direduksi pada peristiwa fisik. Tidak hanya itu, fundamentalitas juga dapat kita temukan dalam pemahaman common sense tentang relasi Tuhan dan dunia, misalnya bahwa “Semua yang ada adalah ciptaan Tuhan” dan keberadaan realitas secara keseluruhan dependen pada keberadaan Tuhan. Dari sini kita dapat melihat bahwa fundamentalitas dan relasi ontologis antar lapisan realitas memiliki peran krusial untuk memahami realitas.

Sesuatu, katakanlah x, fundamental secara metafisik jika x adalah sebuah entitas, atau himpunan entitas, yang istimewa dan memainkan peran khusus dalam determinasi atas struktur realitas. Beberapa filsuf memandang bahwa tidak ada yang substansial yang dapat ditambahkan pada karakterisasi generik tersebut, dan memandang fundamentaitas metafisik sebagai sesuatu yang primitif. Selain definisi sebelumnya, fundamentalitas dapat didefinisikan dengan membasiskan diri pada konsep dependensi ontologis, yang dapat dimengerti bahwa fundamentalitas adalah entitas fundamental yang tidak dependen pada apapun selain dirinya untuk eksistensinya sendiri. Selain itu juga bersifat konstitutif dari segala sesuatu lainnya. Dengan kata lain setiap entitas yang eksis dependen pada satu atau lebih fundamentalia. Kemudian dalam pemahaman pemendasaran (grounding), yang fundamental adalah sesuatu yang tidak didasarkan pada apapun di luar dirinya, sedangkan yang non-fundamental berdasar pada yang fundamental.[vi]

Dari definisi fundamentalitas di atas kita dapat membuat suatu asumsi bahwa kategori tertentu fundamental dan derivatif adalah sesuatu yang eksklusif. Beberapa entitas adalah sesuatu yang fundamental atau derivatif, tapi tidak kedua-duanya karena properti fundamental dan derivatif tidak dapat berdiri bersama. Kategori dari sesuatu yang derivatif hanyalah kategori dari sesuatu yang dependen secara metafisik; dengan kata lain kategori yang didasarkan (grounded) dan entitas yang dependen secara ontologis. Secara definitif adalah benar bahwa entitas derivatif dependen dan, maka dari itu, memiliki eksplanasi metafisik.[vii]

Untuk membicarakan fundamentalitas, kita tidak dapat mengabaikan pandangan metasisik tentang dunia atau realitas karena dengan demikian kita dapat mengetahui bagaimana peran fundamentalitas bekerja dalam struktur realitas tertentu secara keseluruhan. Sebuah pandangan metafisik yang dianut oleh banyak filsuf dan ilmuan, yaitu fondasionalisme. Fondasionalisme adalah sebuah pandangan yang meyakini bahwa dunia memiliki sebuah struktur ‘vertikal’ atau hierarkis dan memiliki sebuah level fundamental. Bentuk populer dari fondasionalisme metafisik tidak diragukan lagi adalah fondasionalisme pluralistik. Analog dengan fondasionalisme dalam epistemologi—di mana sebuah basis ‘dogmatik’ dari nalar yang takterjustifikasi lebih jauh (non-further justified reasons) diikutsertakan guna menjustifikasi keyakinan tertentu—pandangan ini mengklaim bahwa terdapat sebuah tumpukan konstituen fundamental realitas yang mendasari—baik itu secara langsung ataupun tidak—semua hal di luar dirinya dan tanpa mendasarkan dirinya. Contoh paradigmatik yang tidak asing adalah gambaran atomistik, yang memandang bahwa terdapat beberapa jenis entitas yang tidak memiliki struktur internal, dan setiap hal yang lain terdiri dari entitas-entitas tersebut (atom atau subatom).[viii]

Kembali ke disputasi monisme dan pluralisme. Argumen utama monisme adalah bahwa monisme dapat mengakomodasi kemungkinan gunk world (dunia segala macam sampah atau dunia kacau balau)—dunia di mana setiap bagian dibagi ke dalam bagian lebih jauh tanpa akhir—sedangkan pluralisme sebaliknya. Pluralisme berargumen bahwa seraya gunk world mungkin, metafisika pluralis tidak mengizinkan kemungkinan dunia yang demikian. Dengan demikian dalam hal ini monisme lebih unggul dibanding pluralisme. Untuk mengeksplorasi lebih jauh argumen ini kita memerlukan pemahaman gunk world lebih jauh.

Gunk world adalah dunia di mana setiap bagiannya dapat dibagi kedalam bagian-bagiannya lebih jauh. Maka dari itu dalam gunk world semua objek adalah objek susunan. Dalam dunia yang demikian tidak ada objek yang sederhana (tanpa bagian) dan ipso facto dalam dunia yang demikian tidak ada objek fundamental yang sederhana. Gunk world ini mungkin secara metafisik. Argumen yang mendukung gunk world ini adalah argumen kuasi-induktif: bahwa proses penemuan saintifik tentang entitas-entitas yang lebih kecil dapat berlangsung secara terus menerus ad infinitum, hingga gunk world mungkin. Maka dari itu kemungkinan gunk world ini merupakan problem yang dapat dianggap serius secara saintifik. Dalam filsafat dunia yang demikian konsisten dengan beberapa variasi model dalam mereologi. Lantas apa urusannya dengan disputasi monisme dan pluralisme?

Jika gunk world mungkin, maka pluralisme harus dapat menjelaskan objek-objek yang mana saja yang fundamental dalam dunia tersebut. Pada titik inilah plurasime bermasalah. Terdapat tiga opsi bagi pluralisme[ix]: pertama, pluralisme harus menolak adanya objek fundamental; kedua, semua objek adalah objek fundamental; ketiga, mempertahankan bahwa beberapa sub-himpunan objek fundamental, sementara yang lainnya derivat. Opsi pertama mengimplikasikan untuk menerima bahwa semua objek adalah objek fundamental sehingga tidak dapat menjelaskan adanya objek yang non-fundamental dan terjebak pada flatworldism.[x] Dan opsi kedua mengimplikasikan bahwa pluralisme harus menerima bahwa tidak ada objek yang derviat. Jika demikian pluralisme bermasalah karena kekurangan entitas fundamental yang sesuai dalam sebuah gunk world.

Berbeda dengan pluralisme, monisme memandang bahwa dunia sebagai keseluruhan adalah satu-satunya ikhwal fundamental dan objek campuran inilah bagian-bagian dari dunia diderivasi. Jika demikian monisme prima facie lebih unggul dalam menghadapi kemungkinan gunk world karena monisme dapat menerima bahwa dunia yang tersusun itu fundamental. Dalam gunk world, seperti halnya dalam dunia non-gunk world. Dunia sebagai keseluruhan itu fundamental, dan semua bagian-bagiannya derivat.


[i] Monisme ini biasa dipahami sebagai yang satu atau tunggal. Namun monisme dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Lih. Jonathan Schaffer, “From Nihilism to Monism” dalam Australasian Journal of Philosophy, vol. 85, no. 2, (2007), hal., 175-191. Lih. juga Jonathan Schaffer, “Monism: The Priority of the Whole” dalam Philosohical Review, vol. 119, no. 1, (2010) hal. 31-76.

[ii] Dengan mengikuti Jonathan Schaffer, lih. Ibid., hal. 32-33.

[iii] Lih. Jacek Brzozowski, “Monism and Gunk” dalam Mark Jago (ed.), Reality Making, (Oxford: Oxford University Press, 2016), hal. 58.

[iv] Lih. Michael Raven, “Fundamentality without Foundations” dalam Philosophy and Phenomenological Research, doi:10.1111/phpr.12200, hal. 1.

[v] Lih. Matteo Morganti, “Fundamentality in metaphysics and the Philosophy of Physics. Part II the Philosophy of Physics” dalam Philosophy Compas, vol. 15, no. 7, (2020), hal. 1.

[vi] “Fundamentality in metaphysics and the Philosophy of Physics. Part I Metaphysics” dalam Philosophy Compas, vol. 15, no. 7, (2020), hal. 2.

[vii] Lih. Ricki Bliss dan Graham Priest (ed.), Reality and Its Structure, (Oxford: Oxford University Press, 2018).

[viii] Untuk pembahasan lebih jauh tentang pandangan struktur realitas dalam kaitannya dengan fundamentalitas lih. Matteo Morganti, “Fundamentality in metaphysics and the Philosophy of Physics. Part I Metaphysics” dalam Philosophy Compas, vol. 15, no. 7, (2020), hal. 10.

[ix] Lih. Loc.Cit., Jacek Brozozowski, hal. 62.

[x] Untuk pembahasan flatworldism lih. Karen Bennett, Making Things Up, (Oxford: Oxford University Press, 2017), hal. 214-216.

Moh. Gema
Tertarik pada filsafat sains dan metafisika.
RELATED ARTICLES

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia