More

    Catatan Tentang Properti

    Sebuah Review Singkat dari Bagian “Properties” dalam “An Introduction to Metaphysics” karya John W. Carrol dan Ned Markosian.

    Moh. Gema
    Pembaca One Piece. Tertarik pada filsafat sains dan metafisika.

    Artikel Terbaru

    Membiarkan COVID-19 Menjadi Penyakit Generasi Muda

    Sebagaimana banyak orang tua sekarang ini, Jason Newland, seorang pediatrik (dokter anak—pen.) di Washington University St. Louis dan seorang ayah dari...

    Kegilaan dan Aktivisme Kesehatan Mental

    Kita telah memasuki zaman edan. Banyak orang yang ‘mengidap’ gangguan mental yang dapat kita temui di sekitar kita. Dari mulai gangguan...

    Apa Itu Seni?

    Berkaitan dengan kegiatan manusia, seni merupakan sebuah bentuk kegiatan yang kemunculannya berulang. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa setiap manusia menunjukan eviden...

    Jared Diamond: Bagaimana COVID-19 dapat mengubah dunia — menjadi lebih baik

    Saat ini, COVID-19 menghancurkan dunia. Dia sedang dalam proses menginfeksi banyak (mungkin bahkan sebagian besar) dari kita, membunuh beberapa, menutup hubungan...

    Teori Kemunculan Islam dan Kristen

    Pada dua sampai tiga dekade terakhir telah muncul madzhab baru dalam kajian Islam di Barat, banyak pengikut dari madzhab ini menyebut...

    Properti (sifat) adalah sesuatu yang melekat pada objek. Dalam bukunya, John W. Carroll dan Ned Markosian (selanjutnya ditulis penulis) memulai pembahasan tentang properti dari disputasi mengenai problem yang-satu-meliputi-yang-banyak. Jika ditelusuri secara retrospektif disputasi tersebut berakar dari filsafat Yunani, yakni disputasi antara pemikiran Plato dan Aristoteles tentang universalia dan partikularia. Properti adalah sesuatu seperti kualitas, fitur, karakteristik, atau atribut. Dalam pemaparan tentang properti ini relasi akan menjadi bagian penting. Relasi adalah, seperti halnya properti, namun relasi mengkarakterisasikan dua atau lebih hal ikhwal dalam relasinya satu sama lain. Kepemilikan merupakan contoh yang baik dari sebuah relasi; Brooks Robinson memiliki enam belas Sarung Tangan Emas. Kediantaraan adalah relasi lainnya: Kota New York berada di antara Boston dan Philadelphia. Isu ontologis dalam kasus tersebut adalah: apakah ada sesuatu seperti properti dan relasi? Jika ada, entitas macam apa kedua hal tersebut?

    1. Yang Universal

    1.1 Melipatgandakan properti dan relasi yang terinstansiasi

    Socrates pernah mengisyaratkan bahwa terdapat sesuatu (ke-kebaikan-an (virtuehood)) yang membuat kebaikan sebagai kebaikan. Terdapat banyak kebaikan, meskipun hanya ada satu hal yang membuat semua kebaikan tersebut. Dengan demikian ke-kebaikan-an melipatgandakan keterinstansiasikan. Hal demikian merupakan karakteristik yang membedakan yang universal dan yang partikular. Yang universal dapat diinstansiasikan oleh yang partikular; yang partikular tidak terinstansiasi oleh lebih dari satu hal. Dengan pemahaman atas yang universal dan yang partikular tersebut kita dapat merumuskan bagaimana sebuah property dipredikatkan pada (yaitu diatribusikan pada) beberapa entitas sebagai berikut:

                Predikasi melalui yang universal

                a adalah F jika dan hanya jika a menginstansiasikan ke-F-an,

    di mana ‘ke-F-an’ dimengerti untuk menamai sebuah universalia. Rumusan di atas dapat disuplementasi dengan klausa untuk menangani predikasi relasional. Untuk dua-tempat predikasi kita membutuhkan rumusan sebagai berikut:

                a Rs b jika dan hanya jika a dan b (dalam tatanan tersebut) menginstansiasikan me-R (R-  ing),

    di mana ‘me-R’ berdiri untuk sebuah relasi dua-tempat, dimengerti menjadi sebuah universalia. Dengan demikian predikasi melalui yang universal adalah predikasi itu sendiri. Pemahaman ini tidak mengikutsertakan pandangan ontologis tentang apakah yang universal eksis maupun tentang apakah persisnya yang universal itu. Dalam bukunya, penulis memfokuskan pemaparan pada dua pandangan ontologis yang representatif, yaitu Platonisme dan Aristotelianisme.

    1.2 Universalia Platonik dan Aristotelian

    Platonisme diawali dengan asumsi bahwa terdapat sebuah universalia yang berkorespondensi pada setiap predikat yang bermakna. Terdapat keperihatinan tentang universalia Platonik. Singkatnya jika kebenaran dari sebuah teori membutuhkan bahwa beberapa objek eksis, dan objek tersebut tidak benar-benar eksis, maka teori tersebut salah. Pemahaman ini terlalu berlebihan dan abstrak dalam dua hal: abstrak karena muncul sebelum abstraksi dan juga abstrak karena hal tersebut non-spasio-temporal. Oleh karena itu tidak dapat dipersepsi dan tidak memiliki koneksi kausal dengan dunia.

    Aristotelianisme memahami eksistensi sebuah universalia hanya ketika ia terinstansiasi. Universalia ini terikat pada partikularia yang konkret dan terhubung dengan relasi kausal. Maka dari itu universalia Aristotelian tidak semisterius universalia Platonik yang dapat dipahami berada dalam dunia ide. Dengan demikian kita dapat memahaminya secara spasio-temporal melekat dalam alam semesta kita dan tidak terpisahkan. Namun demikian universalia Aristotelian ini juga bermasalah apabalia dihadapkan dengan kasus berikut: daya elektron 1 dan daya elektron 2 bukanlah dua instansiasi dari daya. Dari kasus tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa elektron 1 dan elektron 2 memiliki daya yang sama persis meskipun kedua elektron tersebut terpisah oleh jarak yang sangat jauh. Kasus ini dapat dikatakan absurd karena suatu hal ikhwal, yaitu properti daya, dapat secara simultan hadir secara penuh dalam dua tempat dan dalam satu waktu yang bersamaan.

    2. Tidak Ada Yang Universal

    2.1 Himpunan, Trop, dan Garis Keras

    Terdapat pemahaman ontologis yang mengakui eksistensi properti tapi di samping itu properti ini tidak universal. Pemahaman tersebut adalah nominalis himpunan dan nominalis trop (tropes). Kemudian ada juga yang menolak eksistensi properti sama sekali, yaitu nominalis garis keras (austere).

    2.2 Nominalisme Himpunan

    Beberapa kerja predikasi meminimalisir perbedaan antara properti dan partikularia. Kerja tersebut mengindetifikasi properti dengan sebuah jenis khusus partikularia, yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

                Predikasi melalui Himpunan

                a adalah F jika dan hanya jika a adalah anggota dari ke-F-an,

    di mana ‘ke-F-an’ menami sebuah himpunan. Plato, sebagai contoh, adalah orang bijak karena dia adalah anggota dari kebijaksanaan (wisdom), yang dimengerti sebagai himpunan dari ikhwal bijak. Jadi, kebijaksanaan adalah sebuah partikularia dan bukan universalia; dengan demikian himpunan tidak terinstansiasi oleh setiap anggotanya atau oleh apapun—tidak melipatgandakan keterinstansiasikan. Predikasi keanggotaan tipikal dimengerti sebagai sesuatu yang kasar. Nominalis himpunan dapat menolak bahwa universalia itu eksis, bahkan setiap properti dianggap sebagai sebuah jenis himpunan khusus. Kondisi identitas himpunan dapat dipahami sebagai berikut: S  dan T adalah himpunan yang sama jika dan hanya jika S dan T memiliki anggota yang sama persis.

    Nominalisme himpunan memiliki ketertarikannya sendiri. Universalia adalah sesuatu yang aneh jika dipahami sebagai sesuatu yang sesuai dengan keterinstansiasikan ganda; familiaritas kita jika membicarakan himpunan dan keanggotaan dalam matematika membuat himpunan menjadi kurang asing. Lebih jauhnya, anggaplah keberlimpahan himpunan dari posibilia membuatnya sesuai dengan makna predikat, dalam pemahaman demikian kita dapat memahaminya mirip dengan universalia Platonik daripada universalia Aristotelian. Namun fitur nominalisme himpunan hanya menang dalam pemahaman status ontologis. Himpunan adalah abstraksi, dan eksis di atas dan melampaui anggotanya.

    2.3 Nominalisme Trop

    Nominalisme trop adalah jalan lain untuk memahami properti sebagai sesuatu yang partikular. Seperti dalam pemahaman Aristotelian, trop nominalisme memandang bahwa properti yang takterinstansiasi tidak ada. Pandangan ini dapat menolak ekistensi yang universal, semua properti adalah trop. Dengan demikian dapat dikatakan partikular abstrak (dalam pengertian lemahnya, abstraksi dari ‘yang abstrak’). Trop adalah sesuatu seperti kebijaksanaannya Plato dan Socrates. Kebijaksanaan ini adalah properti, tapi properti tersebut tidak dapat terinstansiasi secara ganda—properti ini bukanlah sesuatu yang universal. Kebijaksanaan Plato bukanlah kebijaksanaannya Socrates; tidak peduli bagaimana mirip keduanya, properti tersebut adalah adalah dua hal yang berbeda dan bukanlah satu hal yang sama.

                Predikasi melalui trop

                a adalah F jika dan hanya jika a memiliki ke-F-an,

    di mana ‘ke-F-an’ disebut sebuah trop. Socrates bijaksana karena dia memiliki kebijaksanaan, karena sesuatu yang dinamai trop tertentu adalah milik Socrates. Trop nominalisme lemah berhenti di sini, memahami kepemilikan sebuah trop melalui sebuah partikularia.

    Selain trop nominalisme lemah ada juga trop nominalisme ambisius. Pemahamn ini mempertahankan adanya sebuah hubungan khusus di antara dua trop yang merupakan trop dari sebuah ikhwal yang tunggal; properti demikian hadir (compresent). Trop nominalisme ambisius ini menggunakan relasi tersebut untuk mengatakan satu hal tunggal yang mana setiap hal tersebut adalah sebuah himpunan trop yang hadir. Dalam pemahaman ini kebijaksanaan adalah sebuah himpunan dari semua kebijaksanaan; yaitu himpunan dari trop yang cocok atau mirip (secara keseluruhan) dengan beberapa trop kebijaksanaan. Apakah suatu trop yang cocok atau hadir dengan trop yang lainnya bukanlah sebuah analisis lebih jauh; fakta tersebut diasumsikan begitu saja. Dalam kerangka ini trop nominalis ambisius memahami predikasi sebagai berikut:

                Predikasi melalui himpunan trop

                a adalah F jika dan hanya jika a beririsan dengan ke-F-an,

    di mana ‘ke-F-an’ menamai sebuah himpunan trop yang cocok. Seperti dalam pengertian standarnya, irisan didefinisikan dalam pengertian keanggotaan himpunan tertentu.

    2.4 Nominalisme garis keras

    Nominalisme garis keras menolak eksistensi properti sama sekali. Menurut pandangan ini tidak ada urgensi untuk universalia, trop, ataupun properti sebagai himpunan. Maka dari itu pandangan ini juga menolak untuk memberikan eksplanasi tentang predikasi, menolak Yang-Satu-di-atas-Yang-Banyak dengan dalih bahwa problem tersebut adalah sebuah pseudo-problem. Dengan begitu tidak ada sesuatu apapun yang membuat Plato dan Socrates bijak (tidak ada yang universal, tidak ada himpunan). Selain itu juga tidak ada dua hal (dua trop) yang membuatnya demikian rupa. Plato bijak dan Socrates bijak, dan setiap fakta tersebut dapat dipahami sebagai sebuah fakta kasar. Nominalis garis keras memandang semua predikasi sebagai sesuatu yang primitif.

    3. Kesuksesan Eksplanatoris

    Banyak filsuf yang menolak nominalisme garis keras karena nominalisme garis keras melewatkan iluminasi tentang properti begitu saja. Dengan demikian tidak ada predikasi yang perlu atau bahkan dapat dijelaskan (explained). Terdapat dua hal yang perlu ditegaskan dari nominalisme garis keras. Pertama, nominalis garis keras tidak perlu atau mungkin tidak mau memandang semua predikasi sebagai sesuatu yang kasar. Maka dari itu kita dapat mengatakan bahwa a adalah seorang bujang (bachelor) seperti halnya a adalah seseorang yang tidak pernah menikah. Nominalisme garis keras dapat mengatakan bahwa a adalah berkepala dingin jika dan hanya jika a menghindari ekses. Dengan prinsip ini kita dapat memandang, misalnya, kebaikan, kesalehan, warna, bentuk, dan sebagainya, sebagai sesuatu yang primitif. Namun beberapa, atau bahkan banyak, predikasi yang terbuka untuk eksplanasi.

    Untuk yang kedua, mari kita pertimbangkan kembali nominalisme himpunan. Pandangan tersebut menurut penulis dapat memberikan eksplanasi yang sirkular atas predikasi seperti berikut:

                Predikasi sirkular melalui himpunan

    a adalah F jika dan hanya jika a adalah sebuah anggota dari himpunan semua x sedemikian rupa sehingga x adalah F.

    Seharusnya eksplanasi dapat memberitahu kita apa yang membuat sesuatu menjadi F. Dengan pemahaman ini dapat dikatakan bahwa Socrates bijak karena Socrates berada dalam himpunan yang mengikutsertakan semua yang bijak; sederhananya, Socrates bijak karena Socrates bijak. Tidak hanya nominalisme himpunan tetapi juga semua pemahaman mengenai properti seperti pemahaman-pemahaman sebelumnya yang sudah dibahas dapat terjebak dalam eksplanasi sirkular.

    Para filsuf yang menganjurkan eksistensi yang universal adalah untuk menganjurkan sebuah pertimbangan umum yang tampak informatif namun sebenarnya, menurut penulis, tidak. Dalam setiap pemahaman tadi, ‘F’ tercantum dalam eksplanandum (yaitu apa yang hendak dijelaskan) dan juga dalam eksplanan (yaitu penjelasan macam apa yang hendak dikemukakan).

    4. Pandangan Common-Sense

    Problem yang-satu-meliputi-yang-banyak bukan hanya tentang isu ontologis tetapi juga dapat dipahami melalui pengetahuan common-sense. Contohnya adalah sebagai berikut:

                (1) Socrates memiliki kebijaksanaan

                (2) Plato dan Socrates memiliki kebijaksanaan yang sama satu sama lain.

                (3) Plato dan Socrates memiliki sesuatu yang sama satu sama lain.

                (4) Kerendahan hati adalah sebuah kebaikan.

    Kalimat (1)-(4) benar. (1), (2), dan (4) mengacu pada properti tertentu. Sedangkan (3) mencantumkan pembilang ‘sesuatu’ untuk mengkuantifikasi properti.

                (2) ekuivalen dengan kalimat berikut: ‘Terdapat suatu hal yang disebut bijak demikian rupa sehingga Plato dan Socrates adalah beberapa orang yang bijak’. Kemudian kalimat (3) ekuivalen dengan kalimat berikut: ‘Terdapat suatu hal demikian rupa sehingga Plato dan Socrates adalah beberapa orang yang termasuk di dalamnya’.

    5. Pertimbangan Ontologis

    Ontologi Platonisme, Aristotelianisme, nominalisme trop, dan nominalisme himpunan dapat dipetakan sebagai berikut:

                Setiap pandangan tentang properti yang sudah dibahas sebelumnya memiliki kelebihan dan kekurangan. Nominalisme garis keras, yang tak tercantum dalam pemetaan di atas, meminimalisir ontologi properti tapi terikat pada banyak predikasi yang kasar. Kemudian pandangan lainnya memiliki pandangan tentang properti sebagai sesuatu yang tidak primitif. Penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan ontologis kita tentang properti relative pada keseluruhan korpus pengetahuan kita.

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here