More

    Socrates dan Martin Luther King: Pelajaran dalam Ketidaktaatan Sipil

    Artikel Terbaru

    Jared Diamond: Bagaimana COVID-19 dapat mengubah dunia — menjadi lebih baik

    Saat ini, COVID-19 menghancurkan dunia. Dia sedang dalam proses menginfeksi banyak (mungkin bahkan sebagian besar) dari kita, membunuh beberapa, menutup hubungan...

    Teori Kemunculan Islam dan Kristen

    Pada dua sampai tiga dekade terakhir telah muncul madzhab baru dalam kajian Islam di Barat, banyak pengikut dari madzhab ini menyebut...

    Apakah Sains itu Agama?

    Adalah lumrah untuk menjadi apokaliptis mengenai ancaman terhadap kemanusiaan yang diakibatkan oleh virus AIDS, musibah “lembu gila” dan banyak lainnya, namun...

    Catatan Tentang Properti

    Properti (sifat) adalah sesuatu yang melekat pada objek. Dalam bukunya, John W. Carroll dan Ned Markosian (selanjutnya ditulis penulis) memulai pembahasan tentang...

    Socrates dan Martin Luther King: Pelajaran dalam Ketidaktaatan Sipil

    Pada pembukaan "Crito", sebuah dialog karya Plato, Socrates telah dipenjarakan. Dia tengah menunggu eksekusinya atas dugaan kejahatan karena merusak para pemuda...

    Pada pembukaan “Crito”, sebuah dialog karya Plato, Socrates telah dipenjarakan. Dia tengah menunggu eksekusinya atas dugaan kejahatan karena merusak para pemuda dan memercayai dewa-dewa aneh. Namun, Socrates masih hidup, terperangkap di dalam selnya. Sekitar waktu persidangannya, orang Athena mengirim sebuah kapal kecil untuk misi keagamaan ke pulau Delos di Aegea. Mereka percaya bahwa pulau itu suci bagi Dewa Apollo, olehnya saat kapal itu pergi, tidak ada eksekusi apapun yang boleh dilakukan.

    Teman Socrates yang kaya, Crito, pun mengunjungi sang filsuf pada hari itu. Dia memberi tahu Socrates bahwa kapal dari Delos akan segera sampai dan segera setelah kapal tersebut mendarat di Athena ia akan dieksekusi. Olehnya masih ada waktu yang tersisa, Crito meyakinkan Socrates bahwa dia akan menyuap penjaga penjara agar membiarkan Socrates melarikan diri dari Athena. Dengan begitu, sang filsuf dapat menghindari hukuman matinya, dan dapat menjalani hari-harinya di Thessaly. Namun anehnya: Socrates justru menolak tawaran Crito.

    Sebaliknya, Socrates membuat beberapa pertanyaan (seperti yang biasa ia lakukan) dan kemudian terlibat dalam diskusi filosofis dengan temannya yang khawatir tersebut, Crito. Socrates pertama-tama bertanya, apakah kita harus peduli dengan pendapat mayoritas, mereka (mungkin) bisa membahayakan daging manusia, tetapi bisakah mereka merusak jiwanya? Socrates tidak percaya demikian; dia kemudian bertanya apakah dibenarkan untuk menyakiti orang lain yang sudah menyakiti kita?

    Crito mempertimbangkan hal ini dan kemudian menyimpulkan bahwa perbuatan salah, pada dasarnya, tidak bisa dibenarkan dan kita tidak boleh melakukan kesalahan kepada orang lain bahkan meskipun kita juga menderita karena ketidakadilan. Socrates menyetujui hal ini dan mengakui banyak orang yang tidak setuju dengannya tentang masalah ini. Dia bahkan mengatakan …

    “Seseorang tidak boleh, ketika dirugikan, melakukan kesalahan sebagai balasannya, seperti yang diyakini mayoritas, karena seseorang tidak boleh melakukan kesalahan.”

    – Plato, Crito

    Socrates kemudian memulai garis pemikiran lain yang sangat mirip dengan Teori Kontrak Sosial yang mana sekitar dua ribu tahun kemudian akan disempurnakan oleh Thomas Hobbes. Socrates menganggap bahwa jika dia melarikan diri dari penjara—itu akan merusak otoritas pengadilan Athena dan pemerintahan demokratis yang masih muda.

    Karena bagaimanapun, Socrates tidak pernah mengeluh ketika Athena melindunginya, mendidiknya, memperhatikan keluarganya, dan melindunginya dari penjajah. Lalu mengapa sekarang ia harus menghancurkan Athena hanya karena kota itu telah membawa keadaan yang tidak menguntungkan kepadanya? Seperti yang dikatakan sang filsuf, kita mungkin meninggalkan masyarakat, berusaha membujuk mereka untuk berubah, atau menerima hukuman apa pun yang ditimpakannya kepada kita. Tidak ada pilihan lain bagi orang yang setia.

    Anda mungkin tidak setuju dengan sang filsuf dalam hal ini. Tentunya jika kita tengah menunggu hukuman kita, kita mungkin memikirkan cara bagaimana untuk bisa melepaskan diri dari hukuman tersebut. Namun, Socrates baru saja menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak boleh menyakiti, bahkan ketika bahaya menimpa kita. Satu-satunya bahaya nyata yang dapat ditimbulkan pada seseorang adalah bahaya yang merugikan jiwa.

    Socrates, seorang pria yang berusaha membujuk Athena untuk mencari kebijaksanaan akan mengguncang kandang mereka yang berkuasa dan juga mempermalukan mereka. Akibatnya, dia dengan pasti akan menerima penghinaan oleh orang-orang terpandang. Dia akan berusaha membujuk mereka untuk berubah, agar menerima kebijaksanaan daripada kebodohan. Dia akan dihukum. Dan meskipun tercekik di bawah kekejaman, dia dengan murah hati akan menerima hukumannya, sangat kontras dengan ketidakadilan dalam masyarakat.

    Sekitar dua ribu tahun setelah Socrates berbicara dengan Crito, Martin Luther King Jr. juga duduk di sel penjara. Pada tanggal 12 April 1963, King ditangkap di Birmingham, Alabama akibat serangkaian aksi sit-ins dan demonstrasi tanpa kekerasan yang dimotorinya. Selama di penjara, King menulis surat terbuka yang membahas perlunya aksi tanpa kekerasan, ketidaktaatan sipil, dan mengingatkan bahaya ketimpangan ras di Amerika.

    Surat dari penjara Birmingham itu kemudian akan menjadi inti dari pergerakan hak-hak sipil Amerika dan pendukung ringkas untuk aksi ketidaktaatan sipil. Dalam menghadapi kesenjangan ras dan ketidakadilan, surat tersebut menguraikan bagaimana aksi non-kekerasan harus diimplementasikan agar menghasilkan perubahan yang langgeng dan mendasar. King menggarisbawahi bahwa secara aktif menolak untuk mematuhi hukum yang tidak adil bukan hanya diperlukan bagi aktivis sosial, tetapi secara moral wajib bagi siapa pun yang percaya pada keadilan dan martabat manusia yang sejati.

    King membandingkan hukum Amerika Selatan dengan hukum Nazi Jerman, di mana membantu seorang pria atau wanita Yahudi dianggap “ilegal”. Namun, King mengaku bahwa jika dia berada di Jerman pada saat itu, dia pasti akan melakukannya. Menolak untuk mematuhi hukum yang, seperti dikatakan King, merendahkan kepribadian manusia adalah tugas paling mulia bagi siapa pun yang ingin mencari perubahan mendasar dalam masyarakat yang tidak adil.

    Kunci dari ketidaktaatan sipil (seperti yang sudah ditunjukkan Socrates dan King) adalah begitu kita menolak untuk mematuhi hukum yang tidak adil, kita pun harus dengan murah hati menerima hukuman, terlepas dari apakah hukuman itu adil atau tidak. Socrates menerima hukuman matinya tanpa pertengkaran. King menghabiskan waktunya di sel penjara hanya karena mengadakan demonstrasi damai. Ini adalah kunci ketidaktaatan sipil dan aktivisme sosial. Dengan menderita di bawah hukuman yang tidak adil, kita menunjukkan ketidakadilan masyarakat; dengan cara ini, kita mendorong orang lain untuk mempertimbangkan kembali hakikat keadilan yang sebenarnya.

    King dan Socrates tampaknya terikat oleh perjuangan mereka untuk kemajuan. King bahkan menyebut filsuf besar ini dalam suratnya ketika dia menulis…

    “Sama seperti Socrates yang perlu untuk menciptakan ketegangan dalam pikiran sehingga seorang dapat bangkit dari belenggu mitos—ke dunia analisis kreatif dan penilaian obyektif yang tidak terkekang, begitu pula kita harus melihat perlunya aksi tanpa kekerasan untuk menciptakan jenis ketegangan dalam masyarakat yang akan membantu masyarakat untuk bangkit dari prasangka dan rasisme yang gelap menuju ketinggian pemahaman dan persaudaraan yang agung.”

    Martin Luther King, Surat Dari Penjara Birmingham

    Jika kedua orang ini benar-benar terlibat dalam perjuangan yang sama demi melepaskan diri dari rantai penindasan, maka tidak heran jika pada akhirnya mereka mendapat akhir yang tragis demi cita-cita mereka. Socrates akan dihukum mati oleh negara yang ingin ia cerahkan; sementara Martin Luther King dibunuh pada 4 April 1968 saat berdiri di balkon lantai dua hotelnya di Memphis, Tennessee. Dia ditembak oleh James Earl Ray, seorang pria yang menyewa kamar di sebuah asrama di seberang jalan dari hotel King. Menarik untuk dicatat pula bahwa Robert Kennedy, segera setelah pembunuhan King tersebut, memberikan pidato di mana dia mengutip naskah Yunani, dari penulis hebat Aeschylus.

    “Dia yang belajar harus menderita

    Dan bahkan dalam rasa sakit tidur kita yang tidak bisa dilupakan

    Jatuh setetes demi setetes di atas hati,

    Dan meskipun kita sendiri, bertentangan dengan keinginan kita,

    Kebijaksanaan datang kepada kita oleh kasih karunia Tuhan yang mengerikan.”

    – Aeschylus, sebagaimana yang dikutip oleh Robert Kennedy.

    Socrates dan King akan dikenang dengan kekaguman dan rasa hormat. Ide-ide mereka akan menarik kebencian banyak orang, dan menderita secara tidak adil akibat tujuan mereka. Dan tragisnya mereka berdua rela mati demi gagasan mereka, dan berjuang untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

    Terpisah oleh ribuan tahun sejarah, mereka berdua berjuang dengan gagah berani untuk keadilan dalam masyarakat yang berusaha untuk menghancurkan mereka. Dipersatukan oleh tujuan, Socrates dan King tetap menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perubahan datang perlahan dan seringkali menyakitkan. Dan pencerahan apa pun yang kita nikmati saat ini, seringkali berkat orang-orang hebat sepanjang sejarah yang menderita demi kita, untuk memastikan bahwa keadilan yang sejati akan ditemukan.

    ** Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Van Bryan di Classical Wisdom dengan judul asli Socrates And Martin Luther King: Lessons in Civil Disobedience pada 26 Juni 2020.

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here