James Ladyman: Memahami Filsafat Sains

Ulasan buku karya James Ladyman (2001), "Understanding Philosophy of Science", Routledge.

Luqman Fauzi
Luqman Fauzi
Alumni Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo dan Universitas Gadjah Mada. Tertarik dengan isu-isu metafisika, filsafat sains, dan sains-agama.

Tahun 2003, American Library Association (ALA) menobatkan buku ini sebagai karya akademik terbaik filsafat sains. Dua tahun setelahnya, si penulis buku, James Ladyman, meraih penghargaan akademik masyhur di Britania Raya: Philip Leverhulme Prize. Setahun kemudian, ia menjadi ketua editor di British Journal for Philosophy of Science, jurnal filsafat sains paling prestisius dalam filsafat analitik, sebelum akhirnya menjadi presiden British Society for the Philosophy of Science (BSPS) pada 2022-2024.

Meskipun sekilas buku ini terkesan hanya untuk mahasiswa filsafat, Ladyman membuatkan dialog ala Plato untuk mempermudah pemahaman para pembaca awam di setiap akhir bab-nya, beserta daftar rekomendasi bacaan tambahan. Buku ini membahas filsafat sains menjadi dua bagian utama: epistemologi dan metafisika.

Bagian Pertama: Epistemologi Sains

Di bagian pertama, Ladyman menguraikan konsep induktivisme—yaitu keyakinan bahwa penalaran induksi adalah rasional—dan masalah utama yang dihadapinya. Penalaran induksi adalah proses mengambil simpulan universal dari fakta-fakta partikular. Berbeda dengan penalaran deduksi yang menurunkan simpulan universal kepada fakta-fakta partikular. Sejak Francis Bacon, kita meyakini bahwa penalaran tersebut menghasilkan simpulan yang rasional. Misalnya, jika kita melihat logam menghantarkan panas di kondisi, lokasi, dan waktu yang berbeda-beda, maka kita sah mengambil kesimpulan bahwa logam memiliki sifat penghantar panas atau konduktor. Metode sains pada dasarnya merupakan penalaran induksi ini.

Pada pertengahan abad 18, David Hume, menyangkal rasionalitas induktivisme. Hume membedakan dua jenis proposisi: (i) proposisi yang berkaitan dengan relasi antar-ide (relation of ideas), dan (ii) proposisi yang berkaitan dengan fakta (matter of fact). Menurut Hume, proposisi pertama benar karena penolakan terhadapnya mengimplikasikan kontradiksi logis, sedangkan proposisi kedua tidak demikian. Proposisi “besi selalu menghantarkan panas”, misalnya, termasuk matter of fact, karena penolakannya tidak mengimplikasikan kontradiksi.

Menurut Hume, kebiasaan kita menarik kesimpulan dari masa lalu ke masa depan, yakni induksi, bergantung pada gagasan kausalitas. Kausalitas sendiri mengandaikan adanya keteraturan (regularity) di dunia. Namun Hume menunjukan, bahwa keteraturan tidak bisa dibuktikan secara induktif, karena pembuktiannya akan bersifat sirkular: induksi mengandaikan keteraturan untuk membuktikan keteraturan itu sendiri. Karena itu, jika keteraturan bisa dibuktikan, pembuktiannya harus dilakukan secara deduktif. Masalahnya, keteraturan adalah proposisi yang berkaitan denganfakta sehingga tidak dapat dibuktikan secara deduktif. Dengan demikian, keteraturan tidak memiliki landasan pembuktian logis.

Dalam filsafat sains, masalah ini dikenal sebagai “Problem Meta-Induksi”. Pendukung irasionalitas sains seringkali mengutip problem meta-induksi. Larry Laudan, yang merumuskan ulang problem ini dengan lebih shopistaced dalam argumen “Pesimisme Meta-Induksi”, mendaftar puluhan teori-teori ilmiah yang gagal dalam sejarah sains. Sedangkan pendukung rasionalitas sains seringkali menolak problem meta-induksi dengan menerima falsifikasionisme—keyakinan bahwa meski kita tidak tahu secara pasti teori yang benar, kita tahu teori yang keliru.

Ada catatan penting untuk bagian pertama: Meski Ladyman menguraikan dengan terang problem induksi, saya tidak melihat dengan cukup terang, bagaimana akhirnya para filsuf (setidaknya para filsuf analitik) bersepakat tentang rasionalitas induksi.

Bagian Kedua

Di bagian kedua Ladyman menguraikan perdebatan metafisik antara realisme dan antirealisme ilmiah, yakni perdebatan mengenai apakah keberhasilan epistemik sains atau teori-teori ilmiah terbaik kita dalam menjelaskan fenomena alamiah mengharuskan kita memiliki komitmen ontologis terhadapnya.

Memang, hari ini, sains modern tidak hanya memberi tahu kita hal-hal yang dapat diamati oleh indera secara langsung; namun juga banyak menjelaskan entitas-entitas yang tak teramati (unobservable) seperti elektron, lubang cacing, dan gen. Para realis ilmiah pada umumnya memiliki tiga klaim utama: entitas-entitas tersebut benar-benar ada secara independen dari pikiran kita (metafisik), klaim sains tentang entitas tersebut memiliki nilai benar atau salah (semantik), dan kita dapat memperoleh pengetahuan tentang entitas-entitas tersebut (epistemik).

Sebaliknya, para antirealis menyangkal salah satu atau semua klaim tersebut. Pertanyaan utamanya: Jika kita sepakat bahwa sains adalah cara terbaik kita untuk mengetahui sesuatu, apakah semua hal yang dipostulatkan oleh teori ilmiah terbaik kita hari ini, benar-benar mendeskripsikan realitas sebenarnya yang independen dari pikiran kita?

Di bab 6, Ladyman menunjukan bahwa dalam filsafat sains, persoalan ini dipertajam oleh “problem ketaktentuan teori” (problem of underdetermination), yaitu keadaan dimana lebih dari satu teori yang sangat berbeda dapat menjelaskan data empiris yang sama. Jika banyak teori yang ada setara secara empiris, maka data tersebut tidak cukup untuk menentukan teori mana yang benar. Misalnya kasus astronomi Ptolemaik dan Kopernikan, kasus optika partikel dan gelombang, atau yang masih on going adalah interpretasi mekanika kuantum yang lebih dari lima dan semuanya setara secara empiris.

Problem ini menjadi salah satu argumen paling kuat bagi antirealisme ilmiah untuk meragukan keberadaan entitas tak teramati teori-teori ilmiah. Namun pada umumnya, para realis akan menjawab bahwa setara secara empiris bukan berarti setara secara bukti. Selain bukti empiris, untuk menentukan satu teori yang benar, kita bisa mempertimbangkan nilai-nilai teoritis yang dimilikinya, seperti: kesederhanaan (simplicity), daya penjelasan (explanatory power), daya penyatuan (unifiying power), dan sifat non-ad hoc.

Kekayaan referensi dan uraian yang nuance Ladyman sangat tampak di bagian kedua ini. Alih-alih menunjukan kelemahan para antirealis, Ladyman banyak menunjukan kecocokan antirealis dengan sains modern kontemporer, dan ketidakcocokan pandangan-pandangan realis pada umumnya. Meski begitu, Ladyman dengan apik menutup uraiannya di bab 7 dengan mengutip John Worrall: “Meski praktik sains tidak ada yang kompatibel dengan pandangan realisme ilmiah, tidak menutup kemungkinan akan adanya varian realisme yang kompatibel. Karena keyakinan bahwa teori ilmiah terbaik kita benar-benar menjelaskan dunia eksternal adalah satu-satunya posisi yang paling masuk akal diterima” (halaman 226). Di akhir buku, Ladyman mengelaborasi realisme macam apa yang kompatibel dengan sains kontemporer, yang kemudian ia jelaskan secara utuh dalam karya polemiknya Every Thing Must Go (2007).

Penilaian

Ada tiga hal menarik—setidaknya menurut saya—dari buku ini ketimbang buku pengantar filsafat sains yang lain. Pertama, buku ini lebih kompleks dan nuance dalam menjelaskan perdebatan metafisika sains, dibanding an introduction to the philosophy of science Kent Staley. Kedua, buku ini lebih sederhana. Tidak seperti buku The Meaning of Science: An Introduction to the Philosophy of Science Tim Lewens, Ladyman berhasil menyederhanakan perdebatan filsafat sains dengan jernih menjadi dua tema besar belaka: epistemologi dan metafisika.

Dan ketiga, netralitas penulis. Alih-alih mempromosikan gagasannya sendiri, yakni realisme struktural, Ladyman lebih memilih untuk menunjukan kesulitan-kesulitan realisme dan antirealisme di hadapan teori-teori terbaik sains kontemporer.

Sebagai penutup, tentu buku ini cocok sebagai pintu masuk yang kritis dalam diskursus filsafat sains, terutama bagi kalangan akademisi pemula maupun senior. Namun bagi pembaca awam yang sekadar penasaran, buku a very short introduction: philosophy of science Samir Okasha mungkin lebih nyaman untuk dibaca.

Luqman Fauzi
Luqman Fauzi
Alumni Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo dan Universitas Gadjah Mada. Tertarik dengan isu-isu metafisika, filsafat sains, dan sains-agama.

Bacaan Lainnya