Filsafat Negasi inkomplet dalam meletakkan negasi sebagai bentuk inkonsistensi. Bahkan jika Filsafat Negasi, sejak awal ingin menjadikan “negasi” sebagai suatu temuan momentum, negasi yang dimaksud adalah momentum tanpa inkonsistensi. Negasi tanpa inkonsistensi merupakan implikasi dasar atas seluruh upaya Filsafat Negasi yang mengandaikan subjek negasi seperti natural kind.[1]
Setidaknya, persoalan itu muncul ketika meletakkan negasi sebagai bentuk keniscayaan yang mesti mendahului subjek negasi. Negasi atas “minus-p” atau “kurang-p” adalah subjek negasi yang menjadi inkonsisten hanya jika afirmatif. Negasi sebagai afirmasi, bagi filsafat negasi adalah bentuk kekeliruan yang mengandaikan deskripsi ganda, ia absolut dan konsisten. Karena sifat negasi yang demikian, ia tidak pernah menyelisih apapun tentang padanannya, melainkan hanya menegaskan konsistensi negasi atas negasi menjadi afirmasi.
Pemahaman filsafat negasi atas negasi memang bisa diterima, dan bisa diartikulasikan secara berbeda di luar hukum-hukum logika. Namun terlepas dari godaan doktrin negasi, kita mesti memeriksa ulang negasi melalui implikasi epistemologis dari setiap putusan logis negasi. Negasi, meski samar dalam filsafat negasi, setidaknya ia bisa dikeluarkan dari setiap pengandaian mistik filsafat negasi. Melihat negasi sebagaimana “negasi seperti negasi” filsafat negasi. Itu tentu bisa dilakukan, dan menerima status negasi seperti pernyataan filsfat negasi di bawah ini:
- Negasi adalah – inkonsistensi, jika
- p adalah subjek negasi,
- Negasi atas p adalah – inkonsistensi p (bisa dibaca negasi atas p atau, –p).
Inkonsistensi p di sini secara hati-hati diterima, semata untuk memperlihatkan bahwa negasi atas negasi atas p atau inkonsistensi p yang dimaksudkan itu adalah bentuk rigid. Rigiditas negasi diperlukan sebagai dasar penalaran, apakah negasi mensyaratkan bentuknya yang inkonsisten atau justru sebaliknya tanpa inkonsistensi. Jika negasi konsisten atas inkonsistensi p, maka negasi keluar dari tugasnya yang menuntut inekualivalensi. Ilustrasi negasi pada kasus ini akan membiarkan kita untuk memikirkan negasi sebagai satu temuan yang jelas berbeda.
Untuk mengupayakan negasi sebagai sebuah temuan, kita akan mengikuti negasi sebagaimana Al-Fayyadl menempatkannya dalam filsafat negasi. Menurut Al-Fayyadl, negasi juga merupakan rekomposisi terhadap inkonsistensi p, jika sebaliknya, agar konsisten (menjadi konsistensi –p), konsistensi –p selalu sejak dini dinegasikan melalui redeskripsi struktur. Jadi, yang dimaksud negasi atas inkonsistensi p adalah negasi atas struktur di luar dirinya. Sebaliknya, negasi struktur atas negasi konsistensi –p adalah negasi atas negasi yang inkonsisten di dalam dirinya, karena bukan negasi atas dirinya sendiri.
Term “struktur” di sini jelas menyatakan (pembalikan inkonsistensi p menjadi konsistensi –p) syarat suatu pembalikan negasi yang inkonsisten karena di luar dirinya –(–p). Supaya ia konsisten –p, atau untuk menyatakan negasi terhadap dirinya sendiri, negasi atas konsistensi –p (dibaca –,–p) harus dikeluarkan dari nomenklatur struktur, yaitu sub–tipe struktur.
Pengguanaan istilah sub–tipe struktur secara sederhana mengacu pada sebuah ‘interpretasi’. Negasi atas konsistensi –p adalah hasil yang ingin dicapai filsafat negasi, menjadi peristiwa murni negasi, atau Al-Fayyadl menyebutnya logika murni—bukan negasi dalam kategori Kantian atau Aristotelian. Jadi, ketika negasi bukan kategori atau objek intuisi, maka logika murni hanya bisa menjadi temuan di luar interpretasi. Karena negasi hanya mungkin diluar interpretasi, maka negasi menunda segala bentuk relasi yang mungkin terhadapnya. Pada saat ini, negasi pada bentuknya yang paling mungkin adalah domain konstitutif.
Negasi sebagai domain konstitutif berhasil menghindarkan dirinya dari tuduhan idealisme, dan sekali lagi lolos dari jebakan transendental. Namun yang perlu dicatat bahwa, sifat negasi yang konstitutif terjebak dalam doktrin fondasionalisme, negasi sebagai sebuah nama adalah domain di mana fenomena selalu bisa dikembalikan padanya. Artinya, sejauh pemahaman subjek atas realitas, niscaya dinegasikan—mensyaratkan suatu kondisi hubungan yang overlap atas negasi. Konsekuensinya, sebagaimana Al-Fayyadl mungkin tidak sadar mengakuinya bahwa, negasi atas realitas tidak berarti apa-apa, karena negasi atas-nya tidak mengubah properti pada-nya.
Filsafat negasi, pada momen tersebut secara eksplisit mempercayai dua hierarki properti, (1) ada properti internal dan (2) terdapat properti eksternal. Adapun properti ketiga yang akan kita identifikasi selanjutnya adalah properti negasi. Istilah properti internal (1) berarti properti bawaan objek-objek, yaitu properti yang bisa membedakannya dengan objek lain. Meski negasi ada pada yang (1), ia tidak mampu mengubah kedudukan pemaknaan apapun soal objek-objek. Adapun properti eksternal, ia merupakan properti yang dilekatkan subjek dalam domain konstitutif negasi. Pada kasus yang terakhir ini negasi atas sesuatu sudah selalu menjadi anteseden atas yang dinegasikan secara dinamis.
Tepat pada momen tersebut, negasi memainkan perannya sebagai locus intuisi, sehingga benar jika klaim filsafat negasi atas negasi adalah proses intensi. Namun proses intensifikasi yang terjadi pada momen gerak negasi searah determinis, sama seperti determinasi isomorfisme— bahasa qua makna akan realitas. Jadi, apa yang ada adalah ada yang telah dan akan-dinegasikan, di luar itu, kemungkinan negasi atas sesuatu tidak ada dalam domain konstitutif negasi. Sehingga upaya, produk konstitutif negasi bukan suatu proses materialisasi, akan tetapi, pada momen intuitif, memberikan penambahan hierarki properti baru, yaitu (3) properti negasi.
Negasi meski berbeda dengan kategori Kantian, ia diduga memainkan peranan yang hampir sama. Bahkan tidak luput dari pengertiannya yang negatif, term negasi dalam filsafat negasi hanya upaya untuk memperluas peranan negasi Kantian, dan tidak pernah keluar dari kategori Aristotelian. Bedanya, negasi dalam filsafat negasi bukan objek intuitif, melainkan suatu gerak kesadaran atas inkonsistensi p. Namun gerak kesadaran atas inkonsistensi p sudah selalu ovelap dengan realitas yang terarahkan oleh negasi untuk dinegasikan. Oleh karena itu, objek-objek dalam domain konstitutif negasi adalah produk negasi, objek yang sudah memiliki properti negasi.
Gerak refleskif negasi memperlihatkan suatu kelemahan teoretis filsafat negasi, bahwa negasi tidak pernah mendahului realitas. Karena realitas yang menjadi aktus negasi adalah properti negasi. Momentum ini memperlihatkan bahwa negasi memiliki arti semat, pencocokan objek-objek searah ketersesuaian properti negasi. Inilah peran utama domain konstitutif negasi yang memiliki kemampuan untuk melakukan rekomposisi atas negasi tanpa inkonsistensi. Negasi tanpa inkonsistensi karena ia sudah selalu termuat dalam upaya pencocokan tersebut.
Karena temuan negasi atas konsistensi –p selalu diluar domain interpretasi, maka rekomposisi atas negasi –p, menjadi konsistensi –p, hanya mungkin, menjadi temuan pertama atas informal languange. Jadi, jika negasi ingin dikeluarkan dari pengandaian mistik filsafat negasi, kita bisa melakukan pembalikan dua kali atas negasi. Pertama, pembalikan negasi dari domain gerak negasi ke dalam temuan domain informal language. Kedua, pembalikan sekali lagi atas negasi dilakukan dari domain informal language menjadi temuan domain ‘peristiwa murni’—dimana keniscayaan negasi sudah selalu menjadi negasi, atau justru ia bukan negasi sama sekali.
Pada kasus ini, temuan negasi merupakan implikasi epistemologis yang memiliki konsekuensi pada temuan ontologis. Hasilnya, bisa jadi ia adalah negasi sebagai negasi pada dirinya sendiri, atau bahkan, kedepannya, ia bukanlah negasi sama sekali—sesuatu yang berbeda yang menjadikan negasi sebagai domain konstitutif.
Sekali negasi terhadap inkonsistensi p menyatakan temuan konsistensi –p, berarti konsistensi –p adalah juga temuan dari redeskripsi yang tidak absolut. Karena ia tidak absolut, artinya konsistensi –p bukan depskripsi kelas abstrak, di luar inkonsistensi p, maka preseden negasi memiliki kepercayaan terhadap sautu kondisi yang niscaya. Apakah kondisi tersebut memiliki nilai kebenaran kontingen atau tidak, setidaknya itu adalah persoalan level semantik di dalam filsafat negasi.
Kata kontingen di sini sepadan dengan pengertiannya yang terarah, stand for, nonarbitrary contradiction. Kita menggunakan istilah nonarbitrary contradiction atau kontradiksi yang tidak arbitrer karena negasi selalu merupakan gerak terarah, sehingga ia rigid, dari rekomposisi untuk intensifikasi negasi.
Selama proses intensifikasi negasi—inkonsistensi p menjadi temuan yang niscaya konsisten –p, dan tidak dapat diulang. Karena proses intensifikasi negasi ini tidak dapat diulang, maka di sini ia sekali lagi dapat dinyatakan rigid.
Rigiditas negasi terjadi persis setelah rekomposisi inkonsistensi p. Jika kita ingin menggunakan notasi primitif, – (–p) menandakan inkonsistensi p dan –,–p adalah konsistensi –p. – (–p) adalah negasi atas p yang berada dalam struktur, sedangkan –,–p adalah hasil negasi atas negasi atas p yang menjadi identitas negasi, atau negasi atas di luar dirinya (yaitu, (–p)). Jadi, jika rekomposisi atas inkonsistensi p dilakukan, maka negasi atas negasi atas p menjadi konsistensi –p. Anggapannya, redeskripsi atas konsistensi –p adalah negasi atas negasi itu sendiri, sehingga apakah negasi untuk negasi?
Negasi atas inkonsistensi p dapat dilakukan jika ia pertama-tama mengandaikan subjek negasi setelahnya, dan negasi selalu mendahului ruang konsistensi –p sebelumnya. Jadi, dalam filsafat negasi ada satu model ‘kondisi negasi’ yang setidaknya eksplisit menyatakan bahwa:
- Hal itu niscaya bahwa ada sesuatu seperti ini dan seperti itu yang menempatkan [konsistensi –p] memenuhi kondisi negasi.
Sama halnya menegaskan bahwa terdapat sesuatu x yang niscaya logis memenuhi “kondisi negasi” untuk menyatakan bahwa x = x, dimana x stand for konsistensi –p. Jika ia tidak niscaya, maka keniscayaan itu tidak niscaya, atau jika ia tidak dinegasikan, menegasikan itu bukanlah negasi sama sekali, atau bukan negasi untuk negasi dirinya sendiri, atau bukan ada dari yang ada. Ini adalah kondisi yang niscaya bagi negasi, tapi itu bukan kondisi yang sufficient, untuk setiap subjek negasi diluar domain konstitutif.
Catatan Akhir
[1] Penulis mengidentifikasi bahwa Filsafat Negasi memperlakukan subjek negasi sama seperti natural kinds. Artinya, subjek negasi berupa—momentum ada—adalah proses kristalisasi dari hal yang subjektif menjadi sesuatu yang objektif, dan dalam gesture yang sama, pembalikan yang objektif menjadi temuan subjektif. Jelas bahwa, filsafat negasi tidak membatasi diri pada natural kind benda-benda, tapi juga memasukkan natural natural kinds of state dan juga natural kind proses secara bersamaan. Penulis akan membahas persoalan ini secara lebih detail dalam artikel yang terpisah.

