Empat Babak Pembuka Perdebatan
Kita patut mengapresiasi bagaimana dua pendekar ‘sentris/non-sentris’ memperlihatkan ‘jurus-jurus filosofis mereka’, terutama ketika mereka mempertahankan, mengembangkan, sampai menggugat berbagai filo-sentris (philo-centric) yang bertautan dengan relasi antara manusia dan alamnya. Sedari awal, tulisan ini ditujukan bukan untuk menyelesaikan tawaran atau gugatan dramatis dari kedua penulis itu, baik untuk Risalatul Hukmi ataupun Fajar Nurcahyo, melainkan hanya semacam refleksi acak untuk menjelaskan keanehan dari ‘antroposentris’ dan ‘non-antroposentris’ itu sendiri.
Mari kita mulai dari Fajar Nurcahyo. Ia memosisikan kosmosentrisme sebagai penghalang etis bagi terraforming; ia bahkan dengan lantang mengajukan anti-tesis dari antropo-pluralistik. Istilah ini saya rujuk untuk menebak-nebak arah ‘pancingan filosofis’ Nurcahyo yang menegaskan bahwa nilai moral tidak (lagi) melekat pada entitas kosmik tanpa (adanya) penilaian manusia, sehingga terraforming bisa saja sah apabila mampu berkontribusi sebagai lanjutan proses evolusi kosmik berikutnya. Adalah hal yang tidak masuk penalaran Nurcahyo ketika semua nilai intrinsik yang dirujuk dalam kosmosentrisme bahkan gagal membedakan setidaknya ‘bobot moral’ antara batu atau mikroba secara sekaligus—yang pada akhirnya selalu diproyeksikan kembali pada manusia. Oleh karenanya, Nurcahyo meyakini tidak semua entitas kosmik harus dapat diperlakukan setara secara moral.
Di sisi lain, Risalatul Hukmi menegaskan bahwa penolakan atas antroposentrisme bukan berarti semata-mata untuk menghilangkan ‘manusia’ dari daftar pertimbangan moral atau etis, melainkan hanya melepaskan ‘properti etis’ manusia sebagai pusat dari segala nilai yang dirujuk. Di sinilah, saya melihat tantangan Hukmi ketika menawarkan dua masalah utama antroposentrisme: elastisitas normatif dan relativisme internal. Kedua argumentasi Hukmi didasarkan pada asumsi bahwa seluruh penilaian dari antroposentrisme pada akhirnya akan selalu ‘demi (ke)manusia(an)’ dan juga memiliki standar internal yang sangat ambigu sekaligus rentan akan bentuk politisasi etis, terutama saat antroposentrisme gagal memberikan standar internal yang lebih stabil. Sebab, pertanyaan: “manusia yang mana?”—yang dirujuk oleh antroposentrisme, terlebih lagi, ketika terjadi konflik antar sesama manusia sampai krisis akibat bencana alam.
Hukmi pun mengakui bahwa antroposentrisme konseptual itu mungkin, namun tidak degan antroposentrisme ontologis dan etis. Caranya? Setidaknya dengan mempertimbangkan pendekatan pluralistik bahwa manusia bukanlah jangkar ‘dunia’ tunggal. Menariknya, Nurcahyo secepat kilat membalas di artikel keduanya “Mempertahankan Antroposentrisme”. Saya menyadari beberapa hal menarik ketika Nurcahyo menyangkal pandangan elastisitas antroposentrisme bukan sebagai kelemahan atau cacat berpikir, melainkan hanyalah bagian dari kekuatan adaptif atau proses penyempurnaan dalam etika lingkungan. Namun, Nurcahyo mengembalikan kembali tuduhan itu dengan menawarkan kerancuan konsep non-antroposentrisme dengan mengandaikan bahwa ada bentuknya yang paling reflektif atau kritis sekalipun. Meskipun terkesan aneh, Nurcahyo mengakui antroposentris bukan lagi penghalang bagi kita untuk menyadari adanya eksistensi yang-lain. Antroposentris hanyalah sebuah jalan untuk memahami yang-lain.
Setelah Nurcahyo mempercayai pola gerak evolusi antroposentris yang menurunkan warisan moral terbaik bagi kelangsungan hidup lintas generasi, Hukmi menghantam kerancuan (moral) antroposentrisme dengan menekankan adanya batas ‘keniscayaan epistemik’. Apa yang niscaya dari antroposentrisme ialah cara kita berangkat dari perspektif manusia. Namun, menurut Hukmi, tidak kemudian dibenarkan menempatkan manusia selalu sebagai pusat nilai moral. Pada posisi ini, perdebatannya kemudian diperluas menjadi dua model antroposentrisme, yakni secara epistemologis dan normatif, sekaligus pembeda antara subjek moral dan agen moral.
Pasca-Antroposentrisme: Obskuritas Antropik
Mari kita mulai dengan berandai-andai di antara perang dingin dua kubu sentralistik antroposentrisme dan non-antroposentrisme. Tentu, perang wacana ini bukan lagi tentang ‘kritisisme Nurcahyo vs Hukmi’, melainkan bagaimana dua pandangan yang berbeda ini memiliki kontribusi signifikan terhadap perkembangan filsafat dan etika lingkungan kontemporer. Salah satunya dengan melahirkan bentuk ‘sentris’ baru, yang disebut sebagai pasca-antroposentrisme (post-anthropocentrism).
Saya menangkap adanya alasan menarik di balik Hukmi menghindari macam-macam neologisme sampai penyebutan -sentris dalam perdebatan kali ini untuk meminimalisir kerancuan argumentasi dari kerangka berpikir filsafat tentang manusia dan non-manusia. Sayangnya, pada bagian ini, saya lebih banyak memberikan kerangka pandang yang berangkat dari istilah-istilah baru (neologisme), yang lahir dari keterbatasan bentuk antroposentrisme klasik kita—manusia sebagai pusat tunggal atas nilai, pengetahuan, sampai kebermaknaan dunia. Bentuk ini disebut sebagai pasca-antroposentrisme yakni pendekatan filosofis yang mencoba untuk ‘melampaui’ manusia-sentris dengan cara mencari bentuk alternatif relasional baru antara manusia dan non-manusia. Meskipun, dengan catatan, baik Hukmi maupun Nurcahyo menyinggung persimpangan pasca-antroposentris secara implisit dalam perdebatan mereka, saya di sini mencoba untuk merefleksikan kembali bentuk kerancuan pasca-antroposentrisme.
Posisi relasional menjadi titik balik bagi pasca-antroposentrisme untuk melampaui kelemahan antroposentrisme klasik, kritik terhadap kegagalan modernisme-pencerahan, humanisme, dan dampak logika eksploitatif-ekstraktivis selama proyek pembangunan peradaban manusia. Selain itu, pasca-antroposentrisme selalu memosisikan bahwa (mungkin ada) bentuk nilai moral yang tidak hanya berlaku bagi manusia, melainkan mencoba mengakui adanya agensi pada entitas non-manusia (flora, fauna, ekosistem, batu, mesin, infrastruktur, teknologi, dan sebagainya). Oleh sebab itu, manusia hanyalah satu dari banyaknya simpul-simpul jejaring relasional yang lebih kompleks, luas, dan rumit. Tentu saja, posisi lain dari pasca-antroposentrisme ialah tidak menegasikan manusia atau anti-manusia dalam wacana filsafat sampai etika lingkungan, lebih tempatnya anti dominasi atas yang-lain. Sangat rancu, ambigu, dan aneh. Tapi tak apa.
Saya mulai menyadari satu hal menarik tentang posisi pasca-antroposentrisme yang ternyata sedikit banyak bersentuhan dengan trans/pasca-humanisme. Transhumanisme lebih berfokus pada peningkatan kapasitas atau kemampuan bio-teknis manusia melalui perluasan alat teknologi sedangkan pascahumanisme lebih mencoba untuk mendekonstruksi ide universal “manusia”, yang bertujuan untuk mengganti konsep subjek manusia. Bila transhumanisme menekankan pelampauan keterbatasan biologis dan bertumpu pada bio-teknologisasi, pascahumanisme memproyeksikan “manusia” tidak hanya sekadar konsep-konsep biologis per se tetapi juga meruntuhkan konsepsi lama tentang “kesempurnaan manusia” secara intrinsik.
Berbeda dari keduanya, pasca-antroposentrisme hanya bertujuan untuk menelusuri bentuk-bentuk relasional antara manusia dan non-manusia, di mana manusia memiliki bentuk ambivalensi terhadap dunia non-manusia. Sebagai contoh, minimnya etika lingkungan atau etika non-manusia pada transhumanisme dan poshumanisme tidak memberikan pembenaran pada pasca-antroposentrisme untuk menegasikan segalanya. Justru sebaliknya, pasca-antroposentrisme akan selalu membuat jejaring-relasional yang tidak terbatas, termasuk model-model kelenturan posisi hierarki ontologis tertentu. Manusia pada fase tertentu dapat mendominasi kekuatan perubahan sosial, namun di suatu fase penyebaran pandemi global posisi agensi virus menjadi lebih tampak dan dominan. Begitulah gambaran tentang penggeseran “seolah-olah pusat” bagi manusia bersifat dinamis, fluktuatif, dan ambivalen sekaligus.
Selanjutnya, apakah pasca-antroposentrisme merupakan bentuk antroposentrisme baru? Jawabannya pun ambigu: bisa iya dan tidak sekaligus. Jika pun iya, saya mengamati sebagai bentuk “manusia + …”, manusia “ditambah” sesuatu hal (x), x dapat berarti entitas apa pun yang relevan dengan logika terpusat bagi manusia itu sendiri. Semisal manusia + teknologi, maka bentuk antropomorfisme teknologi terjadi. Teknologi harus memuat nilai-nilai kemanusiaan. Begitu juga sebaliknya, apabila identifikasi antropomorfisme pada alam, hewan, dan bentuk-bentuk non-manusia lainnya terjadi, maka akan melahirkan bentuk toteminisme-metaforik. Seandainya pun tidak, maka pasca-antroposentrisme harus menggeser manusia dari pusat agensi dengan cara meletakan kerangka “tanpa sentris”, atau non-antroposentris.
Masalahnya adalah pandangan non-antroposentrisme pada konteks etika lingkungan tidak dapat mempertahankan kepastian dari dinamika lingkungan itu sendiri. Ambivalensi agensial antara manusia dan non-manusia, katakanlah alam, selalu diperkeruh dengan posisi etis yang harus dicapai. Non-antroposentris pun membangun sentris barunya dalam tiga model utama: ekosentrisme, biosentrisme, dan zoosentrisme.
Ketiganya menawarkan cara baru dalam memandang nilai moral; tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi meluas ke entitas kehidupan (biosentrisme), hewan (zoosentrisme), dan sistem ekologis secara keseluruhan (ekosentrisme). Sayangnya, walau ketiganya tampak menjanjikan sebagai alternatif etika lingkungan, masing-masing pendekatan ini menyimpan persoalan mendasar, baik dari sisi konseptual maupun praktis, oleh karena besarnya tuntutan moral dari pendekatan non-antroposentris yang kerap cukup kontra-produktif.
Pertama, tidak adanya konsensus tentang unit moral yang utama (individu, spesies, ekosistem, atau sistem biosfer) yang membuat etika lingkungan berada dalam dilema konseptual-filosofis semata, alih-alih terapan-praksis. Kedua, pendekatan-pendekatan tersebut sering gagal menangani dinamika kekuasaan global yang mendasari krisis ekologis, seperti kapitalisme, kolonialisme ekologis, dan ketimpangan pembangunan. Ketiga, dalam konteks dunia yang sudah didominasi manusia, pendekatan yang menuntut pengunduran total dari dominasi manusia tampak utopis dan tidak realistis.
Di sinilah, obskuritas pasca-antroposentrisme lalu muncul. Ia datang untuk menawarkan sebuah rekonstruksi filosofis terhadap perdebatan dua kubu etika lingkungan, antara antroposentrisme (kuat dan lemah) dan non-antroposentrisme (bio/zoo/eko-sentrisme). Argumentasi pasca-antroposentrisme dapat dirangkum dalam tiga poin berikut:
- Mereformulasi pusat. Ia menolak peran dominasi manusia, tetapi masih melibatkan manusia—asal (dengan catatan) jangan memonopoli jangkar nilai yang terpusat. Pertanyaannya, siapa yang bisa menilai selain manusia? Mungkin saja, pasca-antroposentrisme akan percaya pada penilaian transendental dari oto-bot atau gerak alamiah konstelasi keplanetan.
- Mengklaim posisi yang lebih transformatif. Ia mengakui peran agensi, hak, atau bahkan kepentingan entitas non-manusia, tetapi sekaligus bukan anti-manusia. Manusia hanya perlu memikirkan kembali bentuk landasan metafisika, epistemik, dan etika lingkungan yang lebih terbuka pada keadilan multi-spesies. Intinya tidak semata-mata manusia sentris. Pun jika Akal Imitasi (AI) bisa bekerja sendiri untuk memoderasi kebijakan sosial dan manajemen ekologis, pasca-antroposentris akan melegakan tindakan itu.
- Mencoba mengadopsi bahasa ontologis relasional. Ia selalu akan dan senantiasa membuat ruang-ruang argumentasi yang aneh (uncanny), tidak pasti (uncertain), dan tidak jelas (inconsistent) untuk selalu merancukan preferensi normatif yang mengaburkan batas antara manusia dan non-manusia. Artinya, kita mau menuntut apa pun, ya begitulah gap onto-epistemologi ini terbangun secara kontraproduktif.
Ya, begitulah kisah pasca-antroposentrisme. Ia menjadi pemikiran yang premature dan obskur di tengah-tengah perdebatan dua kubu tersebut. Apabila pembaca menuntut kejelasan argumentasi yang menyenangkan, maka saya dapat memastikan hal tersebut sulit ditemukan dalam esai pendek ini.
Bayangan Akhir Dunia untuk Manusia
Mari kita mulai kembali menelaah mengapa pasca-antroposentrisme dapat muncul begitu saja sebagai respons atas dua perdebatan tersebut. Tentunya, pasca-antroposentrisme bukan lahir dari ruang hampa. Ia muncul sebagai respons atas keterbatasan manusia dalam memahami ragam krisis lintas dimensi. Krisis ini lahir dari ketakutan eksistensial dan kecemasan ekologis atas proyeksi bayang-bayang kepunahan massal manusia di saat merayakan akhir dunia mereka. The End of The World secara definitif artinya akhir dari dunia. Dunia bagi manusia. Pijar-pijar pelampauan manusia hari ini ditunjukkan oleh progresivitas sains dan teknologi. Kita bisa melihat bagaimana Nurcahyo mencoba merancang bentuk etika bisnis terraforming atau Hukmi dengan jelas mengkritisi “campur tangan etis” manusia yang berlebihan.
Begitu pula dengan pasca-antroposentrisme yang lebih absurd. Ia lahir sebagai tanggapan kritis terhadap keterbatasan paradigma non-antroposentrisme yang dituduh terjebak pada dualisme moral: pusat moral manusia ke alam. Ia hanya ingin membicarakan dinamika non-sentris baru di mana jaringan agensial yang sangat kompleks: kerjalinan infrastruktur teknologi, multispesies, dan entitas non-manusia lainnya dapat hidup dan beradaptasi bersama-sama bahkan aktif berpartisipasi dalam membentuk kondisi planet baru yang mulai menuju titik nadirnya.
Melalui kerangka ini, rujukan krisis ekologis yang terjadi menjadi bukti penanda keterjalinan radikal yang menghubungkan kesetangkupan relasional antara manusia dan non-manusia, baik dalam berbagai aspek material, sosial, alamiah, maupun politik. Sekali lagi, pasca-antroposentrisme tidak lagi menempatkan posisi manusia sebagai entitas yang diistimewakan, melainkan hanyalah bagian dari jaringan agensial yang lebih kompleks. Artinya, akar krisis ekologis global sebagai contoh, tidak hanya dapat diklaim sekadar bersumber satu-satunya berasal dari manusia atas eksploitasi alamnya; tetapi, lebih dari itu, terdapat kegagalan manusia saat mereka mencoba untuk menerjemahkan keterhubungan dan kebergantungan eksistensial lintas agensi, yang selama ini dipinggirkan atau dianggap pasif sebagai titik balik perubahan iklim global. Di sisi lain, proyeksi agensial-aktif ini tidak terlepas dari pengaruh pandangan materialisme baru, poshumanisme, kajian gender, teori jaringan-aktor, sampai antropologi multispesies.
Perlu kita cermati kembali, pandangan pasca-antroposentrisme mulai bergulir ketika gerakan filsafat ‘akhir dunia’ atau saya sebut berfilsafat di dunia katastrofe/apokaliptik lahir. Usaha untuk meruntuhkan rezim dominasi subjektivitas diri yang harus dihancurleburkan melalui daya eksternalitas terluar. Apa itu? Apa pun mulai dari virus pandemi, ledakan bom nuklir, sampai tabrakan lintasan antar planet. Di saat bersamaan, saya melihat ambisi pasca-antroposentrisme yang mencoba dengan segala pretensinya melampaui humanisme.
Di sinilah letak kebuntuan itu, apa yang coba dilampauinya kerap kali mengabaikan jurang (abyssal worlds) yang menganga di inti persoalan subjektivitas, terutama ketika dunia yang dihidupinya sendiri sedang menuju keruntuhan. Subjektivitas yang dielu-elukan, entah bentuk manusia ekologis, manusia dalam jejaring multi-spesies, atau bahkan manusia radikal-emansipatoris, masih acap kali terperangkap pada fantasi kemapanan yang memiliki imunitas ontologis terhadap segala gempuran deskruktif dari runtuhnya biosfer. Skenario kiamat diletakan sebagai simulasi dari keretakan internal subjek yang dipaksakan untuk membuka jalan alternatif ketika membicarakan betapa rapuhnya eksistensi dan jangkar penilaian diri.
Titik rapuh dan jurang ontologis inilah yang kemudian menjadikan “akhir dunia”, bukan lagi menjadi imajinasi sains fiksi distopik melainkan lambat laun menjadi pengalaman yang menubuh. Untuk itulah, subjektivitas pasca-antroposentris terpaksa mau tidak mau harus mendefinisikan ulang dirinya di tepi kehancuran dengan cara apa? Setidaknya ia mencoba untuk menegosiasikan kelangsungan hidup baru melalui berbagai kondisi yang-mungkin.
Pengakuan Liyan yang Terpaksa
Selama hampir tiga dekade terakhir, para filsuf pasca-kontinental mencoba untuk menyituasikan kembali masalah pengakuan terhadap liyan (other), terutama pada bidang ekosofi. Berbagai perspektif yang mencoba untuk membicarakan model-model relasional yang saling menyilang-sengkarut, berlapis-lapis dalam transversal subjektif, sampai keterhubungan interioritas dan eksterioritas dari segala sesuatu hal-di-antaranya. Subjek yang hadir bukanlah subjek tunggal yang berdiri sendiri. Bukan pula subjek-terberi begitu saja.
Bertolak dari argumen bahwa subjektivitas pasca-antroposentrisme lahir dari keterjeratan diri dengan liyan, kita perlu memahami liyan bukan lagi sekadar pertemuan antar-wajah yang menuntut etika dan tanggung jawab tak terbatas terhadap sesama manusia, melainkan sebagai keberadaan yang lebih-dari-manusia (more-than-human). Selama ini, konsep other-ness selalu dilemahkan dengan adanya kekaburan akan akuntabilitas akan keterbatasan (finitude) dari agensi dan perubahan yang terjadi pada subjek saat memahami liyan. Subjek-diri seolah-olah manunggal. Untuk itulah, di saat bersamaan, obskuritas antropik dimunculkan. Ia dipaksa untuk mengakui yang-lain.
Pemaksaan ini terwujud terutama ketika krisis sedang terjadi. Bentuk-bentuk subjektivitas yang mencoba untuk mengakomodasi bentuk-bentuk keterbukaan terhadap yang lain agar tidak lagi terbatas secara eksklusif. Sayangnya, pada titik ini, imaji untuk menjadikan yang-lain sebagai tamu atau sahabat (xenos) ialah hal yang mustahil. Manusia akan senantiasa mengekslusifkan dirinya sendiri. Jangankan dengan yang-lain, pun dengan sesamanya masih saling memarjinalkan untuk menegaskan kediriannya. Padahal, terdapat pula kritik utama bagi humanisme klasik yang naif itu, ketika ia membuat hierarki keadaban, dari inhuman yang tidak beradab sampai pemberadaban human itu sendiri.
Keterbatasan ekspresi bahasa dalam mengungkapkan yang tak terungkap menjadi pendasaran mengapa horizon kemajuan peradaban manusia selalu diromantisasi bahkan diglorifikasi berlebihan. Pun, ia tak terlepas dari bias-bias kultural tertentu. Keberuntungan sekaligus kesialan manusia pasca-glasial Pleistosen menuju Holosen ini membuktikan bagaimana kegilaan Thomas Moynihan (2019) tentang spinal catastrophism dapat direfleksikan kembali untuk menyakini proyeksi pasca-antroposentrisme. Suatu pandangan yang mengaitkan bagaimana perubahan bentuk postur tubuh manusia berkembang, termasuk kemampuan berbahasa dan kemampuan teknis lainnya tidak dapat terlepas dari serangkaian “kecelakaan” sejarah alam. Atau, dampak geotrauma yang hebat sehingga memaksa manusia untuk dapat keluar dari kerentanan psikologis atau semacam penyakit mental purba yang tertanam secara fisik di bagian tulang belakang manusia. Artinya, selain manusia bagian dari sejarah kepunahan massal, ia tidak lebih dari bentuk koloni mamalia tegak, yang juga sakit, tetapi mampu berbicara, termasuk membicarakan tentang dirinya dan moralitas-etis bagi yang-lain (other). Toh, kita bisa tunggu pula kapan generasi emas manusia akan lumpuh akibat dari dampak teknotrauma yang berlebihan. Dan, mungkin saja, teknologi di masa depan yang akan menggantikan kita untuk berbicara dengan bahasanya.
Sebagai jeda dari perdebatan antara Nurcahyo dan Hukmi, saya menegaskan kembali bahwa pilihan diksi retoris yang saya sajikan tidak lebih dan bukan sebagai bagian dari panggilan atas trauma masa silam pada masa transisi panjang geologis manusia atas kemenangan yang heroik atas pendakian ke puncak hierarki spesies. Meskipun kemudian, bentuk non-antroposentrisme juga dianggap bagi pasca-antroposentrisme sebagai antroposentris versi malu-malu, tetapi serangan atas antroposentrisme selalu gagal melakukan reposisi atas relasi ragam spesies yang terbuka tidak menutup kemungkinan sulit terjamah.
Begitulah adanya pasca-antroposentrisme, ia hanyalah sebuah keraguan, kerancuan, dan kebingungan “di antara”. Model kerangka berpikir katastrofik atas proyeksi kiamat subjek selalu diusahakan oleh retorika filosofi yang inklusif meskipun tersembunyi pula keterpaksaan di bawah ancaman runtuhnya kemapanan konfigurasi ontologis yang sudah ada selama ini.
Selanjutnya, tantangan terbesar bagi pasca-antroposentrisme ialah pertanyaan tentang subjektivitas yang membeku (frozen subjectivity)—sebuah kondisi di mana subjek dipertahankan dalam ilusi kestabilan, seakan terlindung dari riak sejarah seleksi alam, trauma ekologis, dan benturan ontologis dengan non-manusia. Mungkin saja, kebekuan subjek ini hanya tinggal menunggu waktu saja untuk meleleh, melebur, dan akhirnya menguap ke dalam kepunahan yang nihilistik itu.
Ehem! Tentu tidak semudah itu~
Masih ada pengujian tesis filosofis yang diajukan oleh Hukmi tentang bagaimana seharusnya kita mengatasi dikotomi palsu dalam proyek pembelaan antroposentrisme. Saya membayangkan kita bisa juga membuat semacam proyeksi prinsip non-jangkar epistemik untuk memastikan pemisahan epistemik dan normatif di antara debat yang sedang terjadi. Pilihan lain mungkin mulai menimbang ulang konflik antara nilai yang dapat dikelola melalui model-model institusionalisasi ‘suara’ non-manusia dengan menekankan prinsip komputasi pilihan etis yang penuh dengan kehati-hatian. Sayangnya, pasca-antroposentrisme gagal menjawab itu. Ia bahkan tidak selesai dengan dirinya sendiri. Ia masih berhasrat untuk melebur dengan yang-liyan (non-manusia), tetapi selalu gagal.
Maka, terpujilah Mis-(a)-antropik!

