Melalui artikel ini, saya akan merespons kritik Quinean Risalatul Hukmi terhadap artikel saya sebelumnya. Namun, penting dicatat bahwa artikel ini tidak berambisi untuk membela mati-matian tuduhan Quinean tentang pemborosan ontologis Meinongian. Tugas utama artikel ini adalah melacak sumber kebuntuan dialog Meinongian-Quinean dengan menyoroti bagaimana keduanya memahami eksistensi. Pemahaman ini penting untuk memperjelas perbedaan mendasar dan kemungkinan titik temu keduanya dalam hal menyikapi objek.
Akar Permasalahan
Jika being identik dengan eksistensi—sebagaimana pandangan umum Quinean—bagaimana pertanyaan ‘apa saja yang eksis?’ dapat dijawab? Bagi Quine, “segala sesuatu eksis”, sedangkan menurut Meinong, “beberapa objek tidak eksis.” Bagi Meinong, objek seperti persegi bundar merupakan objek yang dapat dirujuk meskipun tidak eksis. Quine menolak hal ini, karena baginya persegi bundar secara logis mustahil benar.
Keberatan tersebut dibangun di atas dua asumsi:
- Menyamakan being dengan eksistensi
- Karena being atau eksistensi dapat dijelaskan secara cukup melalui simbol kuantor eksistensial ($\exists$)
Melanjutkan keberatan Quine di atas, catatan van inwagen berikut cukup membantu, terutama untuk memperjelas poin argumen Quinean tentang kontradiksi teori objek Meinong. Karena ekspresi “beberapa” secara adekuat dapat dijelaskan oleh ($\exists x$) maka pernyataan seperti there is an $x$ such that $x$ is f,” “there exists an $x$ such that $x$ is f,” dan “some $x$ are $f$” adalah setara secara logis (van Inwagen, 1998). Implikasinya, mengatakan “beberapa objek tidak eksis” sama dengan mengatakan “di sana ada objek yang tidak eksis” atau “di sana ada objek, tapi objek semacam itu tidak benar-benar ada” atau “ada objek yang—pada saat yang sama—tidak ada.” Parafrase semacam inilah yang membuat teori objek Meinong secara logis terlihat sungguh kontradiktif. Sampai di sini, saya melihat pandangan Quinean semacam van Inwagen lahir dari kesalahpahaman dalam menafsirkan teori objek Meinong. Kesalahpahaman ini akan saya elaborasikan di bagian selanjutnya.
Sebagian besar Neo-Meinongian (Berto, Castañeda, Jacquette, Parsons, Paśniczek, Priest, Rapaport, Routley, Zalta) tidak setuju dengan prinsip kesetaraan antara being dan eksistensi. Contohnya, gunung emas adalah objek, dan tidak ada satu pun orang yang pernah melihat atau berjumpa dengan objek semacam itu sebab ia tidak eksis secara konkret. Namun ia tetap objek. Buktinya, ia bisa dipikirkan dan bisa dijadikan objek rujukan dalam tindak tutur. Ilustrasi ini menjadi salah satu argumen penting Meinongian bahwa being tidak sama dengan eksistensi. Ada objek yang tidak memiliki sifat eksistensi. Objek yang eksis hanyalah sebagian (proper subset) dari semua objek yang mungkin ada (the universal domain of objects). Artinya, tidak semua objek itu eksis.
Menjembatani Meinongian-Quinean
Perihal jembatan yang dimaksud, mari tengok pembelaan Maciej Sendłak, salah satu neo-meinongian yang menurut saya cukup optimis dengan dialog konstruktif Meinongian-Quinean. Baginya, tidak ada kontradiksi dalam tesis meinongian (Sendłak, 2023). Menariknya, optimismenya itu dimotivasi oleh pandangan van Inwagen, yang notabene adalah Quinean totok.
Menurut van Inwagen, bisa jadi Meinongian dan Quinean punya pemahaman yang berbeda tentang being, namun keduanya sepakat tentang “segala sesuatu”. Perbedaan keduanya terdapat pada sikap mengenai domain objek yang eksis. Taruhlah segala sesuatu adalah objek. Namun, dalam standar kuantor ($\exists$), $x$ sebagai objek diletakkan pada domain kuantifikasi di mana domain tersebut hanya berisi objek yang eksis. Adapun kebuntuan muncul karena kerangka Meinongian dipaksakan untuk dijelaskan atau diukur dengan standar ($\exists$). Merespons hal itu, Sendłak mengajak kita untuk beralih dari kuantor eksistensial ($\exists$) ke kuantor universal (∀). Dengan cara inilah kita bisa mengurai kebuntuan dialog Meinongian dan Quinean, sekaligus memperjelas koherensi logis teori objek Meinong.
Kuantor ($\forall$) dalam teori objek Meinong digunakan untuk menjelaskan bahwa objek mencakup yang eksis maupun yang tidak eksis, sebagaimana hal berikut:
($\forall x) (\exists(x) \vee \neg\exists(x))$
($\forall x$) Objek($x$) : “Untuk setiap $x$, $x$ adalah objek.”
Misal, $x$ = gunung emas
($\forall x$) ($\exists$(gunung emas) $\vee$ $\neg\exists$ (gunung emas))
Artinya, untuk objek gunung emas, berlaku bahwa ia eksis atau tidak. Dengan kata lain, gunung emas adalah objek, entah ia eksis atau tidak. Dalam hal ini jelas bahwa being dan eksistensi tidaklah sama, sebab eksistensi diposisikan sebagai sifat objek. Meskipun suatu objek tidak eksis dalam realitas konkret, ia tetap sebagai objek, objek subsiten yang tidak memiliki sifat eksistensi.
Lalu, bagaimana kuantor universal bisa menjadi titik temu meinongian dan Quinean? Mari kita lihat penjelasan van Inwagen (2008). Kritiknya tentang inkonsistensi teori objek Meinong justru bisa menjadi solusi pemecah kebuntuan Meinongian-Quinean. Untuk menjelaskan inkonsistensi tersebut, van Inwagen mengasumsikan adanya titik temuantara keduanya. Van Inwagen sepakat dengan Meinongian perihal prinsip unrestricted universal quantifier (UUQ) bahwa ruang lingkup (∀) tidak dibatasi oleh jenis atau domain apa pun. Singkatnya, Meinongian dan Quinean sama-sama meyakini kebenaran kuantor universal. Sebagai contoh, U: “semua unicorn tidak eksis” atau “setiap unicorn adalah non-eksis”. Quinean akan memparafrase U sebagai berikut:
(UQ): $\forall x \neg$ ($x$ adalah unicorn)
Kebenaran (U) didasarkan pada kebenaran “Segala sesuatu adalah bukan unicorn” atau “tidak ada yang merupakan unicorn.” Meinongian setuju dengan (U) namun tidak setuju dengan parafrase Quinean terhadap U (UQ): “Untuk setiap $x$, tidak benar bahwa $x$ adalah unicorn” atau “tidak ada satupun objek yang merupakan unicorn.” Sebagai gantinya, Meinongian menawarkan (UM), bentuk parafrase mereka atas (U).
(UM): $\neg \forall x \neg$($x$ adalah unicorn)
Tidak benar bahwa untuk setiap $x$, $x$ bukan unicorn. Dikarenakan teori objek Meinong tidak mengikat kuantor pada eksistensi, maka unicorn ada sebagai objek yang tidak eksis, atau setidaknya ada satu unicorn yaitu objek yang bisa diakses—dipikirkan, dibayangkan—melalui komponen sifat penyusunnya. Berbeda dengan itu, bagi Quinean, mengatakan “unicorn ada” sama artinya dengan mengklaim bahwa ia eksis, dan itu jelas salah karena unicorn tidak eksis. Ini sekaligus menjadi argumen Quinean bahwa Meinongian terjebak dalam pemborosan komitmen ontologis.
Lebih lanjutnya, berikut adalah konsekuensi perbedaan (UQ) dan (UM):
- Setiap unicorn adalah non-eksis
- Setiap unicorn mempunyai sifat bahwa semua hal bukanlah dia.
- $\forall x$[$x$ adalah unicorn → $(\forall y) \neg(y = x)$]
- $\forall x \neg$($x$ adalah unicorn)
Karena Meinongian sepakat dengan 1, mereka juga harus sepakat dengan 4. Namun 4 kontradiksi dengan (UM). Bagaimana Meinongian bisa menyepakati secara sekaligus 1 dan 4, padahal 4 kontradiksi dengan (UM)? Di situlah letak kontradiksinya. Untuk menghindari kontradiksi ini, Meinongian menafsirkan eksistensi dengan cara berbeda dari pemahaman Quinean. Mereka memahami eksistensi sebagai sifat non-trivial, di mana beberapa objek mempunyai sifat semacam itu sedangkan yang lainnya tidak.
Meskipun stance tersebut dapat menyelamatkan Meinongian dari inkonsistensi dengan menghalangi inferensi (1) ke (2), hal itu justru membuat tesis Meinongian menjadi terlihat tidak jelas. Menariknya, Meinongian menghindari inkonsistensi dengan mengorbankan ketidakjelasan tesis kunci mereka, yakni ketidakjelasan makna dan batasan apa yang dimaksud sebagai “eksistensi.” Menurut saya, definisi Meinongian tentang eksistensi menjadi objek kritikan—terutama dari Russell dan Quine—karena Meinongian memposisikan eksistensi sebagai sifat yang tidak mendeterminasi objek. Dengan kata lain, $x$ tetaplah objek meskipun tidak memiliki sifat eksistensi (E). Hal itu pula yang saya sadari sebagai penjelas hutan belantara Meinongian. Maka, pada poin ini saya cukup sepakat dengan gugatan Hukmi (2025) bahwa Meinongian tidak bisa membela diri dari tuduhan pemborosan ontologis. Pada dasarnya, mereka boros karena pemborosan itulah yang menjadi ongkos untuk menghindari inkonsistensi yaitu meletakkan E pada hutan belantara tak bertepi.
Sama dengan Meinongian, Quinean memperjelas definisi eksistensi menggunakan notasi sederhana berikut.
- Unrestricted universal quantification ($\forall$)
- Negation ($\neg$)
- Identity (=)
Mengelaborasi ketiga notasi di atas, Meinongian dan Quinean—konteks van Inwagen— mengklaim bahwa:
“$x$ eksis” =def $\neg \forall y \neg (x=y)$
“$x$ eksis” didefinisikan sebagai “tidak benar bahwa untuk setiap $y$, $x$ tidak sama dengan $y$.” Ini adalah poin prinsip identitas yang sangat penting dalam proyek dialog ini. Dengan kata lain, $x$ eksis jika dan hanya jika ada sesuatu (setidaknya satu $y$) yang identik dengan $x$, sebab jika tidak benar bahwa x berbeda dari semua hal, maka ada sesuatu yang identik dengan $x$.
Dalam kasus Meinongian, jika unicorn tidak identik dengan apa pun di dunia nyata, maka:
$\forall y \neg$(unicorn = $y$), atau unicorn tidak eksis. Sedangkan, unicorn punya sifat-sifat yang membuatnya identik dengan minimal satu objek yang ada secara aktual di dunia nyata ($\neg \forall y \neg$ (unicorn = $y$))
Kekeliruan Quinean
Merujuk pada argumen Sendłak, kekeliruan Quinean dapat dilihat pada asumsi mereka bahwa Meinongian setuju dengan pernyataan beberapa objek bukanlah objek atau beberapa objek tidak identik dengan dirinya sendiri. Padahal, Meinongian sepakat bahwa domain objek tidak mencakup objek-objek yang tidak identik dengan dirinya sendiri, dengan demikian objek harus self-identical. Artinya, suatu objek—being an object— harus dapat diidentifikasikan dengan sesuatu. Meskipun demikian, hal ini membawa kita kembali kepada permasalahan: “Bagaimana menerapkan prinsip identitas itu pada objek-objek Meinongian?”
Bagi Quinean, sikap Meinongian justru kerap melanggar prinsip identitas yang telah dijelaskan sebelumnya. Ini adalah bentuk inkonsistensi Meinongian yang paling jelas. Pada kasus persegi bundar, Quinean menegaskan bahwa mustahil ada objek yang sekaligus bundar dan persegi. Menurut Quinean, persegi bundar adalah not self identical, dengan demikian bukanlah objek. Alasan lainnya, persegi bundar—sebagai agregasi sifat— bukanlah persegi dan juga bukan bundar. Sebut saja keberatan Quinean ini sebagai tesis QRS: “Setiap objek yang bundar pasti bukan persegi.
Bagi Meinongian, QRS keliru karena terjebak pada simplifikasi objek, yaitu memahami objek sebatas sebagai agregasi sifat. Meinongian menolak itu, karena meskipun objek adalah kumpulan sifat, namun kumpulan itu bukan berarti peleburan (fusion), melainkan relasi antar subset yang berjejaring membentuk objek dengan segala konsekuensi penggambarannya dalam pikiran manusia: Ada yang mungkin untuk tergambarkan, dan ada yang tidak. Maka, persegi bundar adalah objek yang bundar sekaligus persegi, terlepas dari apakah kita dapat membayangkannya atau tidak.
Justifikasi Quinean atas QRS berlanjut menjadi QRS*: Setiap objek bundar yang eksis adalah bukan persegi. Tesis QRS* menekankan “eksistensi.” Menariknya, Quinean dan Meinongian sepakat dengan QRS*. Keduanya tidak meyakini eksistensi objek mustahil seperti persegi bundar. Artinya “domain objek yang eksis” tidak mencakup persegi bundar. Namun, pertanyaan utama kita bukanlah “Apakah ia adalah objek yang eksis?—berdasarkan ($\exists$)” melainkan “Apakah persegi bundar itu adalah objek—berdasarkan ($\forall$)?” Karena jika berhenti pada pertanyaan ($\exists$), maka persegi bundar akan tertolak secara logis, dieksklusikan dari domain objek, dan dengan demikian bukanlah objek. Peralihan pertanyaan inilah yang menjadi titik terang proyek dialog Meinongian-Quinean ke depannya.
Referensi
Sendłak, M. (2022). From the Meinongian Point of View. Logic and Logical Philosophy, 32(2), 243–251. https://doi.org/10.12775/LLP.2022.028
van Inwagen, Peter. 1998. “Meta-Ontology.” Erkenntnis 48(2): 233–50. https://doi.org/10.1023/A:1005323618026. van Inwagen, Peter. 2008. “McGinn on Existence.” The Philosophical Quarterly 58(230): 36–58. https://doi.org/10.1111/j.1467-9213.2008.534.x.

