Mungkinkah Masalah Filsafat Terpecahkan?

Kita memang tidak sanggup memecahkan persoalan metafisika, tapi bukan berarti harus berhenti.

Faris Ahmad Toyyib
Faris Ahmad Toyyib
Program sarjananya ditempuh di Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Kini ia melanjutkan program magister di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada.

Perdebatan antara ontologi boros Meinong dan ontologi sederhana Quine yang terjadi belakangan ini di Antinomi merupakan gambaran kecil dari ketidaksepakatan akut yang amat gampang dijumpai dalam filsafat. Ketidaksepakatan akut berbeda dengan ketidaksepakatan biasa. Ketidaksepakatan akut tak pernah membawa orang-orang yang bersitegang di dalamnya ke mana-mana, di situ-situ saja. Karena itu, jika ditanya adakah jawaban yang benar atas persoalan filsafat, setidaknya setelah filsafat terbentang hampir tiga milenium, maka jawabannya tidak ada! Para filsuf masih sibuk bersitegang. Jawaban-jawaban itu masih dalam polemik panjang.

Ketidaksepakatan akut itu membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar ketimbang, misalnya, ikut tenggelam dalam kolam perdebatan Meinongian-Quineian, yakni apakah persoalan metafisika itu sendiri dapat dipecahkan? Lebih jauh lagi, apakah persoalan filosofis itu sendiri dapat dipecahkan? Ini disebut problem metafilosofis. Esai ini akan membabarkan beberapa jawaban yang telah disuguhkan oleh beberapa filsuf.

Van Inwagen (2009: 274) dalam bab terakhir Metaphysics menampilkan kecenderungan skeptisisme. Menurutnya, persoalan metafisika kemungkinan besar mustahil dipecahkan. Namun, dunia, yang merupakan objek persoalan metafisika, bukan pada dirinya sendiri (an sich) takterpahami, melainkan takterpahami oleh orang-orang yang berusaha memahaminya: kita! Klaim ini mudah diterima, meski argumen yang dihadirkan van Inwagen cukup retoris.

Rata-rata kadar kecerdasan intelektual (KI) negara maju 100 s.d 106 dan anggap ini rata-rata KI filsuf. Pertanyaannya mengapa kita yakin bahwa kadar demikian sanggup menyelesaikan persoalan metafisika? Cukup jelas kadar di bawah itu, seperti 50, 60, atau 70, kita dapat memastikan tidak akan sanggup. Mengapa kita tidak mematok 160, 200, atau lebih tinggi lagi? Sekali lagi cukup jelas kian tinggi kadar IK, maka kemungkinan untuk sanggup memecahkan makin naik.

Skeptisisme ini juga disampaikan oleh McGinn (1993: 150) di bab akhir bukunya Problems in Philosophy. Ia membuat istilah naturalisme transendental, pandangan bahwa ada “keterbatasan struktural” pada kecerdasan manusia yang membuatnya kesulitan berfilsafat; “nalar tidak didesain agar sensitif pada kebenaran filosofis.” Kesulitan dalam berfilsafat terjadi, karena kita memaksa pikiran mengerjakan sesuatu yang tak sanggup ia kerjakan. Ini sama seperti memaksa orang buta paham konsep warna atau manusia terbang.

Mengapa naturalisme transendental perlu diterima? Ia, kata McGinn (1993: 152), merupakan “posisi paling jelas dan alamiah.” Ia hadir sebagai perwujudan kondisi filsafat yang stagnan: terjadi perdebatan, ketakpastian, yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Filsafat telah berlangsung hampir tiga alaf tanpa ada satu kesepakatan besar tentang jawaban atas semua persoalan filsafat. Sementara itu, bidang pengetahuan lain, terutama sains, mengalami kemajuan pesat.

McGinn (1993: 151) mendasarkan naturalisme transendental pada, pertama, prinsip pemisahan tegas epistemologi dan ontologi, dan kedua, pandangan naturalistik tentang kecerdasan manusia. Karena keterbatasan saya perihal temuan negatif ilmiah atas kecerdasan manusia dan McGinn memang tidak mengutip temuan negatif ilmiah untuk meneguhkan klaimnya ini, jadi mari fokus pada bagian pertama belaka.

Lagi pula, bagi McGinn, bukti empiris apa pun yang dihadirkan akan selalu terbuka atas berbagai tafsiran dan karena itu tak meyakinkan. Bukti empiris juga bersifat partikular. Ia selalu berubah seiring waktu, seiring ditemukan piranti dan teori yang lebih memadai. Ia menuju cara pembuktian yang general. Di sinilah bagian pertama tadi berperan untuk meneguhkan naturalisme transendental.

Pemisahan tegas antara apa yang kita tahu tentang sesuatu sebagai satu hal (epistemologi) dan keberadaan sesuatu sendiri sebagai hal lain (ontologi) berdasarkan pada common sense global—kata global perlu ditambahkan lantaran common sense berarti sesuatu yang diyakini banyak orang yang ini kerap berbeda tergantung tempat, budaya, dan seterusnya. Baiklah, mari ikuti uraian berikut.

Bayangkan Anda punya koin yang ditaruh di sebuah tempat di kamar Anda yang tidak ada seorang pun tahu kecuali Anda. Akan tetapi, pada suatu hari ketika Anda sedang berusaha menyeberang jalan, mobil dengan kecepatan tinggi menubruk dan nafas terakhir Anda saat itu juga lunas. Sekarang tak ada seorang pun di dunia ini yang tahu keberadaan koin tersebut. Pertanyaannya, apakah lantaran tak ada seorang manusia pun di muka bumi yang mengetahui koin itu, maka ia menjadi tidak ada?

Jelas jawabannya koin itu tetap ada. Keberadaannya tak mensyaratkan keberadaan pengamat atau entitas selain koin yang mengetahuinya, bahkan tanpa ia sendiri menyadari dirinya sebagai sebuah koin. Bagaimana koin itu sebetulnya tak ada, tapi seluruh orang di bumi ini percaya bahwa Anda menyimpannya di tempat tersembunyi di kamar rumah Anda? Apakah koinnya, dengan begitu, menjadi ada? Jelas tidak. Prinsipnya sama seperti sebelumnya.

Dalam kasus metafisika, objeknya buka koin yang tampak kasat mata dan dapat digenggam, tapi objek dan struktur fundamental. Segala pengindraan tak berguna di hadapannya. Jadi, bagaimana dengan keberadaan bulatan persegi? Kita bisa bilang bahwa ia ada karena ia terdiri dari bagian-bagian yang dapat dibayangkan, yakni bulatan dan persegi. Kita bisa bilang sebaliknya bahwa ia tak ada, karena tidak mungkin sesuatu tanpa sudut sekaligus punya sudut, sama tidak masuk akalnya dengan sesuatu ada sekaligus tak ada.

Perdebatan ini tidak akan pernah khatam, karena pikiran (epistemologi) tidak sama dengan realitas (ontologi). Itu pertama. Kedua, kita tidak punya cara mengakses objek fundamental. Dengan begitu, sekalipun sebuah penjelasan konsisten, tampak begitu rasional, dapat dibuat tentang keberadaan objek, itu tidak menjamin ia benar-benar meringkuk dalam realitas. Sampai di sini dapat diamati prinsip pemisahan epistemologi-ontologi menjadi dasar kokoh bagi naturalisme transendental.

Apakah ini berarti akhir dari metafisika? Boleh jadi iya. Paling tidak, saya punya alasan kuat. Coba ikut eksperimen pikiran naga di garasi Sagan (2023). Saya mengajak Anda buat melihat naga di garasi saya. Anda mau. Di garasi, tak tampak sebatang hidung naga pun. “Di mana naganya?” sergah Anda. “Naganya jelas di hadapan kita, tapi ia tak kasatmata.” Anda pun melangkah maju dan meraba-raba dengan tangan terlentang ke depan.

Saya kemudian menambahkan bahwa selain tak kasat mata, sang naga juga tak berbentuk. Anda menaburkan tepung ke lantai. Saya menambahkan sang naga mengapung, tepatnya melayang, di udara. Anda mengambil sensor panas. Setidaknya suhu nafas api sang naga akan terlihat. Tapi, nafasnya tak panas. Intinya, setiap cara apa pun buat membuktikan keberadaan naga, selalu saja ada kondisi pada naga yang bikin cara itu mentah.

Bagaimana kita, tanya Sagan, membedakan naga yang tak kasat mata, tak berbentuk, tak terdeteksi sensor panas dengan ketiadaan naga sama sekali? Itulah yang terjadi ketika membuat klaim perihal objek metafisik: kita tak pernah bisa membedakan antara objek metafisik yang sungguh ada dan tak ada, atau jika mau dirinci lagi antara objek metafisik yang ada dan mungkin diketahui, yang ada tapi tak mungkin diketahui, dan yang sungguh tak ada. Bermetafisika berarti selalu berarti berada di perbatasan ada dan ketiadaan.

Karena kita tidak tahu mana yang ada dan tak ada di luar data fisik, maka menolak segala klaim metafisik secara tentatif sembari terbuka pada berbagai kemungkinan data fisik di masa depan adalah sikap paling rasional. Itulah yang disarankan Sagan ketika berhadapan dengan objek metafisik. Apakah yang di luar fisik tak ada? Tentu tidak. Ia amat mungkin ada. Tapi, sikap paling rasional yang dapat diambil ialah percaya pada hal-hal yang jelas ada, daripada mencoba bertaruh pada spekulasi.

Bagaimana dengan kasus bulatan persegi? Filsuf bisa berdalih bahwa ia ada (baca juga: being) karena terdiri dari bagian-bagian yang dapat dipikirkan, yakni bulat dan persegi. Filsuf menyangkal, sebab mustahil sesuatu bulat (tak punya sudut) sekaligus persegi (punya sudut). Ini sama mustahilnya sesuatu ada sekaligus tak ada atau panas sekaligus tak panas. Selama tak ada akses langsung terhadap objek fundamental, keduanya akan terus berkompetisi, beberapa dekade ke depan atau satu juta tahun lagi.

Meski tak ada cara mengakses langsung objek fundamental sehingga dapat memperoleh jawaban yang benar atas persoalan metafisika, kita tetap perlu bermetafisika. Namun, tujuannya bukan lagi pengejaran jawaban yang benar. Hal ini berlaku juga pada semua cabang filsafat lain sehingga pertanyaannya buat apa berfilsafat bila semua persoalan menolak untuk dipecahkan?

Russell (1998) di bagian penutup The Problems of Philosophy bergerak mencari tujuan lain dari berfilsafat selain untuk mendapatkan jawaban yang benar. Tujuan berfilsafat, baginya, adalah demi pertanyaan filsafat itu sendiri. Penyelidikan filosofis, meski tak berbuah hasil, masih memberikan guna begitu besar pada kehidupan; berfilsafat membuat orang terbuka pada berbagai kemungkinan, memperluas daya kreativitas, terhindar dari sikap dogmatik, dan menyatu dengan semesta—ini tampak aneh.

Sebagai penutup, kita memang tidak sanggup memecahkan persoalan metafisika, tapi bukan berarti harus berhenti. Selama ia punya kegunaan, bahkan sekadar memberikan kepuasan estetik seperti melukis, menyimak musik, atau membaca komik, maka masuk akal untuk terus melakukannya.


Daftar Rujukan

McGinn, C. (1993). Problems in Philosophy. Blackwell Publishers.

Russell, B. (1998). The Problems of Philosophy. Oxford University Press.

Sagan, C. (2023). The Demon-Haunted World: Sains Penenerang Kegelapan (D. T. W. Palar, Penerj.). Kepustakaan Populer Gramedia.

Van Inwagen, P. (2009). Metaphysics. Westview Press.

Faris Ahmad Toyyib
Faris Ahmad Toyyib
Program sarjananya ditempuh di Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Kini ia melanjutkan program magister di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada.

Bacaan Lainnya