Perjalanan kita sebelumnya menelusuri gurun Hukmi, oasis buatan Arkhano, hutan liar Khasri-Meinong, hingga omong kosong mistis OOO-Afif, akhirnya bermuara pada satu titik simpul puing-puing reruntuhan. Dari puing-puing reruntuhan itu, pada tulisan ini, kita akan melihat apakah kita bisa membangun sesuatu yang lain yang bukan sekadar kompromi jalan tengah.
Bagi saya, keempatnya berbagi satu kegagalan yang sama. Mereka semua gagal melihat hubungan yang tepat dan intuitif antara Bahasa, Pikiran, dan Realitas. Kegagalan ini bermanifestasi dalam bentuk yang berbeda-beda, namun akarnya tunggal: ketidakmampuan untuk menempatkan “Objek” pada koordinat yang tepat.
Hukmi (2025a & 2025b) melihat bahwa bahasa kita lebih luas daripada realitas fisik. Reaksinya adalah panik dan mencoba memangkas bahasa agar pas dengan ukuran realitas fisik yang sempit. Hasilnya adalah reduksionisme naif dengan embedding seenak sendiri: menjangkarkan makna begitu saja pada referensi fisik melalui operator yang arbitrer dan tidak jelas. Terlebih, sampai memaksa alam semesta untuk tunduk pada prinsip Parsimoni yang, apabila diperhatikan, tidak lebih dari preferensi estetis saja.
Khasri (2025) dengan Meinongnya melihat hal yang sama, tapi bereaksi sebaliknya. Karena bahasa bisa menyebut “Gunung Emas”, maka realitas harus diperluas untuk menampungnya. Hasilnya adalah inflasi tanpa batas. Ia menghancurkan batasan antara “mendefinisikan-menyebutkan” dan “mengadakan”. Akibatnya, peta realitas menjadi sama kacaunya dengan imajinasi, penuh dengan paradoks seperti “Gunung Emas yang Eksis”.
OOO-Afif (2025) mengambil langkah paling radikal. Ia memutus hubungan sama sekali. Objek “menarik diri” dari bahasa, dari pikiran, bahkan dari relasi dengan objek lain. Hasilnya adalah mistifikasi. Dengan menolak relasionalitas (yang dibuktikan oleh Yoneda Lemma), ia mengubah semua objek menjadi hantu yang tak terjangkau. Ini bukan penjelasan tentang realitas, melainkan penolakan terhadap kemungkinan penjelasan terkait realitas itu sendiri.
Sementara Arkhano (2025) mencoba menengahi dengan teknik formal. Ia mengubah aturan main logika agar kita bisa bicara tentang Pegasus tanpa berkomitmen pada eksistensinya. Sayangnya, ini hanyalah penghindaran. Ia menciptakan “ruang tunggu” (Outer Domain) bagi objek fiksi, tapi tidak pernah menjelaskan status ontologis ruang tunggu tersebut. Ia memperbaiki pipa saluran (logika), tapi tidak menjernihkan airnya (ontologi). Masalah filosofis hanya digeser menjadi masalah teknis.
Jika kita perhatikan, kekacauan ini bermula dari ambiguitas kata “Ada” (Existence). Bagi Hukmi, “Ada” berarti menempati ruang-waktu melalui embedding. Bagi Khasri, “Ada” berarti dapat dipikirkan atau disebut. Bagi OOO-Afif, “Ada” berarti substansi mandiri di luar relasi. Bagi Arkhano, “Ada” berarti sub-himpunan $E$, apapun itu.
Mereka bertengkar memperebutkan satu kata ini, seolah-olah “Ada” adalah properti tunggal yang monolitik. Padahal, “Ada”-nya sebuah atom berbeda dengan “Ada”-nya angka 7, berbeda dengan “Ada”-nya Sherlock Holmes, dan berbeda dengan “Ada”-nya Tuhan.
Kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan memilih salah satu. Kita tidak bisa membuang fiksi karena fiksi punya kekuatan kausal tersendiri di dunia manusia. Kita tidak bisa menerima semua fiksi sebagai realitas karena itu menciptakan kekacauan pemetaan. Kita tidak bisa pula memutus relasi begitu saja karena terdapat identitas yang relasional.
Untuk menyelesaikan kekacauan ini, saya mengajukan sebuah proposal. Kita harus berhenti bertanya pertanyaan biner yang menjebak seperti “Apakah X ada?”, dan mulai bertanya “Di koordinat mana X berada dan bagaimana demikian?”.
Dengan demikian, kita membutuhkan sebuah model yang mengakui Realitas Aktual, mengakui Realitas Konstruktif, mengakui Batas Bahasa, dan yang terpenting, memetakan Relasi, Interaksi, atau Morfisme di antara ketiganya tanpa mencampuradukkannya. Solusi yang saya tawarkan adalah Model Dinamis. Model ini tidak mencoba membuang entitas begitu saja, melainkan memberikan “alamat” yang tepat bagi setiap entitas dalam peta realitas yang kompleks. Ini adalah upaya untuk memberikan “rumah” yang tepat bagi setiap jenis objek, dari atom hingga unicorn, dari angka hingga Tuhan.
Tentang Model Dinamis
Langkah pertama adalah redefinisi. Kita definisikan “objek” secara netral sebagai “hal yang dapat dirujuk”. Apa pun yang bisa ditunjuk oleh simbol, bahasa, atau pikiran adalah objek, atau setidaknya kandidat objek. Ini adalah batas semesta pembicaraan kita, yang saya sebut sebagai Domain Semesta/Diskursus $D$. $D$ adalah kelas sejati yang berisi semua hal yang dapat dirujuk, yakni objek atau kandidat objek. Jadi, di dalam $D$ adalah objek, sebab ia berarti dapat dirujuk. Sementara di luar $D$ adalah bukan objek, sebab ia berarti tidak dapat dirujuk. Sesuatu yang dapat dirujuk bukan berarti rujukannya ada.
Di dalam semesta $D$, terdapat dua himpunan yang saling beririsan. Pertama adalah Himpunan Aktual $A$, berisi segala sesuatu yang memiliki eksistensi mandiri, fisik, atau kausal, terlepas dari apakah kita mengetahuinya atau tidak. Kedua adalah Himpunan Konstruktif $K$, berisi segala sesuatu yang dapat dikonstruksikan secara konseptual oleh semua agen kapabel dan rasional, yakni yakni Intersubjective Constructibility. Perlu dicatat, $K$ bukan sekadar apa yang bisa dibayangkan secara mental atau visual, melainkan apa saja yang bisa dibangun secara logis-matematis. “Segi-seribu” (Chiliagon) mungkin tak terbayangkan baik secara mental maupun visual, tapi ia terkonstruksi secara geometris, sehingga ia adalah elemen sah dari $K$.
Perpotongan kedua himpunan ini menghasilkan empat wilayah ontologis yang berbeda. Pertama, Realitas Terjangkau ($A \cap K$). Ini adalah wilayah irisan di mana objek-objek di dalamnya adalah aktual dan dapat dikonstruksi secara bersamaan. Laptop atau HP di depanmu, Matahari yang bersinar, virus influenza; semua yang seperti itu ada di sini. Ini adalah zona nyaman sains normal dan pengalaman sehari-hari.
Kedua, Realitas Tak Terjangkau ($A \setminus K$). Ini adalah wilayah objek aktual yang belum dikonstruksi konsepnya oleh siapa pun. Planet di galaksi nan jauh di sana yang belum tertangkap teleskop, atau partikel sub-subatomik yang belum diteorikan, berdiam di sini. Wilayah ini adalah jangkar bagi Realisme; ia membuktikan bahwa dunia tidak bergantung pada pikiran kita. Terdapat hal-hal yang “ada” di luar sana, diam dan dingin, menunggu untuk ditemukan.
Ketiga, Realitas Murni Konstruksi ($K \setminus A$). Ini adalah wilayah objek yang dapat dikonstruksi secara konseptual namun tidak memiliki tubuh aktual. Sherlock Holmes, Kuda Terbang, Angka 7, dan Konsep Keadilan tinggal di sini. Wilayah ini menyelamatkan Matematika dan Fiksi dari eliminasi dan embedding sembarangan Hukmi. Mereka “ada” di $K$, valid sebagai konstruksi, memiliki struktur internal yang tidak perlu dipaksakan menjadi fisik.
Keempat, Ekses Bahasa ($D \setminus (A \cup K)$). Ini adalah wilayah terluar, tempat bagi “sampah bahasa”. Di sini bersemayam objek-objek yang bisa dirujuk oleh kata-kata namun mustahil ada di $A$ dan mustahil dikonstruksi di $K$. Contohnya adalah “Segitiga-Kotak” atau “Bujangan yang Menikah”. Objek-objek ini semacam instruksi yang gagal dalam programming. Kita bisa mengucapkannya, menuliskannya, merujuknya, tapi tidak ada konstruksi koheren di baliknya maupun wujud aktualnya. Ini menjawab masalah Meinongian; tetapi saya pikir kita tidak perlu memberi status “ada” pada inkoherensi.

Hal yang perlu ditekankan adalah, peta di atas bukanlah museum benda mati. Realitas adalah sebuah proses. Objek-objek tidak sekadar diam di kuadrannya; mereka bergerak dan berinteraksi melalui morfisme.
Morfisme adalah dinamika yang menghidupkan model ini. Sederhananya, morfisme adalah abstraksi dari relasi antar-objek dalam bentuk apapun: bisa berupa fungsi, predikat, jalan, transformasi-deformasi, proses, atau apapun itu sehingga ia bisa berupa sebuah relasi begitu saja hingga sebuah vektor. Untuk memudahkan penjelasan, kita gunakan $[X]$ untuk mewakili objek arbitrer $x$ pada himpunan $X$. Ketika api membakar kayu, itu adalah instansiasi morfisme fisik atau kausalitas $f: [A] \to [A]$, yakni morfisme dari objek aktual ke objek aktual. Ketika seorang penulis mengembangkan plot novel dari dari satu cerita ke cerita selanjutnya, itu adalah instansiasi dari morfisme konstruktif $g: [K] \to [K]$, yakni morfisme dari objek konstruktif ke objek konstruktif. Bagaimanapun, yang paling menarik adalah morfisme yang melintasi batas kuadran.
Bayangkan Einstein memprediksi Black Hole. Itu adalah sebuah Hipotesis, sebuah loncatan spekulatif dari wilayah pikiran $K \setminus A$ menuju realitas yang belum diketahui $A \setminus K$; yakni, $f: [K \setminus A] \to [A \setminus K]$. Puluhan tahun kemudian, teleskop menangkap cahaya Black Hole. Itu adalah Penemuan, sebuah morfisme/proses yang menarik objek dari kegelapan $A \setminus K$ masuk ke dalam terang pemahaman fisik kita $A \cap K$; yakni, $g: [A \setminus K] \to [A \cap K]$. Gabungan keduanya adalah salah satu bentuk Penelitian Ilmiah; yakni, $g \circ f: [K \setminus A] \to [A \cap K]$.
Seorang insinyur bisa menarik ide dari $K \setminus A$ dan mewujudkannya menjadi benda fisik di $A \cap K$; itulah Proses Realisasi atau Produksi, yakni, $p: [K \setminus A] \to [A \cap K]$. Atau, kita bisa mengambil tokoh nyata di $A \cap K$ dan mengubahnya menjadi tokoh novel di $K \setminus A$; itulah Proses Fiksionalisasi-Abstraksi, yakni, $q: [A \cap K] \to [K \setminus A]$.

Diagram Morfisme dalam Model Dinamis.
Saya pikir, salah satu kekuatan model ini terletak pada netralitasnya sampai di titik tertentu. Ia tidak memaksa kita untuk berdogma ekstrem-spesifik; sebuah bentuk modesty saja cukup. Model ini juga merupakan alat navigasi yang mampu memetakan berbagai pandangan ontologis serta perdebatannya.
Ambil contoh studi kasus teologis. Seorang Ateis akan menempatkan Tuhan di wilayah Ekses Bahasa $D \setminus (A \cup K)$, sebagai objek kosong yakni objek yang bisa dirujuk, namun rujukannya kosong/inkoheren. Seorang Teis Transenden akan menempatkan Tuhan di $A \setminus K$, sebagai Eksistensi Mutlak yang melampaui kapasitas konstruksi sebagai The Great Unknown. Konsep Wahyu bisa dipahami sebagai morfisme dari $[A \setminus K]$ ke $[A \cap K]$, di mana Yang Tak Terjangkau “turun” memberikan informasi yang bisa dipahami agen kapabel dan rasional.
Dengan Model Himpunan Dinamis, kita tidak perlu lagi berdebat kusir ontologis tentang “Ada” atau “Tidak Ada”. Kita cukup bertanya: “Di mana entitas yang dibicarakan layak ditempatkan?” dan “Morfisme apa saja yang menghubungkannya dengan entitas lain?”. Ini adalah salah satu jalan keluar dari jebakan omong kosong ontologis.
Dari pemetaan ini, kita bisa melihat bagaimana perdebatan muncul antara Hukmi, Arkhano, Khasri, dan Afif. Hukmi ingin mengembed $K \setminus A$ ke dalam $A \cap K$. Arkhano hanya memetakan $D$ dengan $E \subseteq D$ di mana $E$ masih ambigu apakah ia $A$, $K$, atau $A \cup K$ dan menganggap ini menjustifikasi Meinongian. Khasri melalui Meinong memetakan $K \setminus A$ dan $D \setminus (A \cup K)$ tanpa adanya morfisme yang jelas. Sementara Afif melalui OOO membuang semua “objek real” ke $A \setminus K$ yang kemudian mengklaim terdapat morfisme/relasi dari objek-objek di sana ke $[K \setminus A]$ dengan himpunan $A \cap K = \emptyset$ sebab segala yang terakses hanyalah “objek sensual” di $K$.
Posisi saya jelas, peta itu sendiri secara umum sudah cukup menjelaskan pembagian realitasnya, dengan morfisme yang menjelaskan relasi dan dinamikanya. Terdapat objek di realitas aktual, terdapat objek di realitas konstruktif, terdapat objek yang tumpang-tindih aktual dan konstruktif, serta terdapat objek yang hanya merupakan ekses bahasa. Mereka berempat berhubungan serta berdinamika dengan relasi dan morfisme tertentu. Sebab model ini dinamis, objek-objek di dalamnya tidak mutlak-statis selalu demikian: mereka bergerak dan berubah dalam dinamika morfisme mereka.
Dapat dipahami bahwa mungkin saja terdapat objek di $K \setminus A$ yang memiliki morfisme transformatif ke objek di $A \cap K$. Tetapi menginginkan morfisme ini selalu ada sehingga kita dapat mengembeddingnya, saya pikir absurd. Bagaimana kita meng-embedding konten dari objek geometri berdimensi $n>3$ ke dalam $A \cap K$? Hal yang bisa kita lakukan hanyalah morfisme dalam bentuk menuliskan konstruksinya dalam tulisan. Tetapi kontennya tetap tidak termaterialisasi, dan tulisan tersebut hanya bertindak sebagai objek di $A \cap K$ yang membantu kita memahami konstruksinya melalui morfismenya ke $K \setminus A$. Namun, saya tidak menutup kemungkinan untuk suatu saat nanti kita menemukan morfisme yang mematerialkan tersebut. Bagaimanapun, mengklaim bahwa morfisme tersebut ada sedari sekarang, atau bahkan selalu ada, berarti itu hanyalah harapan kosong dan dogma saja.
Sebenarnya, masih banyak lagi yang bisa dijelaskan melalui model tersebut. Semisal, terdapat ruang bagi kita untuk melakukan analogi atau metafora sebab ada functor dari dan ke $K$ atau $A$ yang menghubungkan objek-objek serta relasi-relasinya ke hal lain. Contoh, “si Fulan mencari uang seperti singa menerkam rusa” berarti analogi ini adalah functor $F$ sehingga dari relasi/morfisme “mencari” $f: \text{si Fulan} \to \text{uang}$ dianalogikan menjadi relasi/morfisme “menerkam” $F(f): F(\text{si Fulan}) \to F(\text{uang})$ di mana $F(\text{si Fulan}) = \text{singa}$ dan $F(\text{uang}) = \text{rusa}$; dan untuk memahami analogi tersebut kita tinggal mencari functor $G$ yang meresolve/menetralkan $F$ sehingga komposisi $(G \circ F)(f) = f$, semisal dalam konteks analogi ini $G$ adalah terkait keganasan singa yang melakukan segala cara untuk mendapatkan rusa sehingga si Fulan mencari uangnya seganas singa tersebut, yakni $(G \circ F)(\text{si Fulan}) = G(\text{singa}) = \text{si Fulan}$ beserta komposisi $(G \circ F)(f) = f$. Dengan senang hati saya bisa bilang bahwa kita bisa mengakses $A \setminus K$ melalui konsep functor ini, sehingga semakin memperkuat posisi Realisme; meski tentu tidak akan seekstrem itu sebab masih terdapat ruang untuk mengakomodir kedinamisan realitas. Terkait konsepsi-konsepsi lanjutan seperti ini, mungkin akan saya bahas di lain waktu saja.
Kemungkinan Keberatan
Bagaimanapun, Model Dinamis ini tentu bukan tanpa celah potensial. Setidaknya terdapat 5 kemungkinan serangan yang dapat saya bayangkan. Saya akan coba mengantisipasinya satu per satu.
Serangan pertama adalah tuduhan terkait dualisme terselubung. Argumennya berangkat dari Kategori $K$ (Konstruktif) yang dibuat terpisah dari $A$ (Aktual), padahal setiap pikiran pada dasarnya adalah aktivitas otak. Otak adalah benda fisik, sehingga $K$ sebenarnya hanyalah bagian kecil dari $A$. Tidak ada ‘wilayah fiksi’ $K \setminus A$: Sherlock Holmes hanyalah pola neuron yang menembak di otak Arthur Conan Doyle dan pembaca novelnya. Serangan dari prinsip Parsimoni muncul kembali sebab ini berarti menggandakan entitas tidak perlu.
Problem serangan seperti ini adalah mencampuradukkan medium dengan konten. Memang benar bahwa salah satu medium dari sebuah pikiran (thought) adalah objek fisik yang berdiam di $A$ seperti neuron, sinyal listrik, dan tinta di atas kertas. Namun, konten dari pikiran tersebut sama sekali tidak selalu merujuk pada objek fisik apa pun di $A$, semisal sosok detektif yang tinggal di Baker Street; paling jauh adalah terinspirasi dari sosok tertentu di dunia aktual. Jika kita memaksa $K$ menjadi bagian mutlak dari $A$ ($K \subset A$), kita akan sampai pada kesimpulan yang absurd: saat saya memikirkan/mengonstruksikan “Kuda Terbang”, harus ada kuda terbang fisik yang mewujud di dalam batok kepala saya berupa struktur neuron. Ini komitmen yang terlalu kuat. Model Dinamis menghormati perbedaan status ontologis ini. Pola neuronnya nyata (fisik), tapi objek intensionalnya fiktif. Adalah absurd untuk menyamakan “memikirkan tentang ‘sesuatu terbakar oleh api’” dengan “sesuatu terbakar oleh api”.
Serangan kedua menunjuk pada wilayah $A \setminus K$ yakni Realitas Tak Terjangkau. Argumennya berangkat dari kritik atas wilayah di luar konstruksi untuk mempertahankan realisme. Saat menyebut ‘Planet Asing’ atau ‘Unknown Reality’, kita baru saja membuat ‘konsep’ tentangnya. Sehingga, pada detik itu juga, ‘Planet Asing’ sudah masuk ke dalam $K$. Akibatnya, wilayah $A \setminus K$ secara epistemologis akan selalu kosong. Anda tidak bisa membicarakan apa yang ada di luar pikiran tanpa memikirkannya.
Ini adalah jebakan klasik Korelasionis. Counter-argumennya sederhana: perlu pembedaan antara Konsep Formal dan Konsep Spesifik. Kita bisa menunjuk sebuah kategori tanpa mengetahui isinya. Saya bisa menunjuk sebuah peti tertutup dan berkata “Terdapat sesuatu di dalamnya,” tanpa tahu apakah itu emas atau bangkai tikus. Wilayah $A \setminus K$ berisi objek yang konten detailnya belum dikonstruksi, meskipun kategori keberadaannya bisa kita tunjuk secara formal; ini sifatnya lebih ke prediktif. Kita tahu “terdapat sesuatu di sana” (formal), tapi kita belum tahu “apa itu” (spesifik). Saya pikir, penunjukan formal ini cukup untuk menjaga realisme yang cukup moderat tanpa terjebak paradoks.
Serangan ketiga mempertanyakan tentang kepemilikan $K$. Himpunan $K$ ini milik siapa? Jika $K$ adalah pikiran individu, maka ontologi ini solipsistik. Jika $K$ adalah pikiran kolektif manusia, bagaimana dengan alien atau AI? Lalu, apakah Teorema Pythagoras tidak ada sebelum manusia memikirkannya?
Jawabannya, $K$ bukanlah “apa yang sedang dipikirkan”, melainkan “apa yang dapat dikonstruksi” seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya yakni Intersubjective Constructibility. Objek masuk ke dalam $K$ bukan karena sedang dipikirkan oleh si A atau si B saat ini, melainkan karena ia dapat dikonstruksi oleh agen kapabel dan rasional mana pun yang mengikuti runtutan nalar tertentu. Teorema Pythagoras sudah “ada” di $K$ jauh sebelum Pythagoras lahir, dalam arti bahwa struktur logis-matematisnya sudah tersedia untuk ditemukan. Ia bukan sekadar invensi psikologis subjektif, melainkan sebuah kemungkinan objektif dalam ruang logis-matematis.
Lantas, subjektivitas ada di mana? Subjektivitas adalah subset dari $K$. Pikiranku adalah subset $K$, pikiranmu juga subset $K$. Pikiranku dan pikiranmu bisa bersinggungan, tumpang tindih, atau beririsan, bisa jadi juga ada konstruksi yang berbeda. Bisa jadi pula ada konstruksi yang belum terpikirkan oleh siapapun. Pikiran ini juga ada dinamika dan morfismenya, subset ini juga tumpang-tindih dengan $A$ sebagai sebuah pikiran-kesadaran akan kenyataan yang dialami.
Serangan keempat adalah perihal waktu. Di mana posisi iPhone 50 yang akan rilis tahun 2050? Barangnya belum ada di $A$, namun konsepnya sudah bisa dibayangkan di $K$. Berarti dia ada di $K \setminus A$, sama seperti Sherlock Holmes. Apakah masa depan atau masa lalu itu statusnya sama fiktifnya dengan cerita/dongeng?
Di sini pentingnya Vektor Morfisme. Sherlock Holmes adalah objek di $K \setminus A$ yang statis; tidak ada proses yang sedang berjalan untuk membuatnya menjadi nyata. Sebaliknya, iPhone 50 adalah objek di $K \setminus A$ yang sedang mengalami Morfisme Penciptaan yang aktif bergerak menuju $A$ melalui riset, pengembangan, dan akumulasi modal. Status ontologis sebuah entitas tidak hanya ditentukan oleh posisinya saat ini, tapi juga oleh morfisme, relasi, tranformasi, dan arah pergerakan (vektor) dalam proses realitas. Masa depan adalah hal yang bergerak menjadi fakta, dan masa lalu adalah fakta yang berjalan menjadi konstruksi di $K$ yang menyisakan jejak-jejaknya di $A$.
Serangan kelimaadalah paradoks $D$ (Domain Semesta). Bagaimana dengan $D$ (Domain Semesta) itu sendiri? Apakah $D$ memuat dirinya sendiri ($D \in D$)? Jika jawabannya “Ya”, kita membuka pintu bagi Paradoks Russell yang bisa meruntuhkan seluruh sistem. Jika “Tidak”, maka definisi $D$ sebagai “segala sesuatu yang bisa dirujuk” menjadi cacat.
Jawaban saya adalah ketegasan konstruktif: seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya $D$ adalah Kelas Sejati (Proper Class), bukan Himpunan. Dalam teori himpunan, Kelas Sejati adalah wadah yang terlalu besar untuk menjadi anggota dari apa pun. Secara filosofis, $D$ bisa dibilang sebagai Cakrawala atau Horizon, bukan Objek. Ini seperti Mata yang tidak bisa melihat dirinya sendiri kecuali lewat cermin, dan seperti papan catur yang tidak berdiri di atas salah satu kotak catur. Saat kita membicarakan $D$, kita sedang berbicara secara Meta-Linguistik tentang sistemnya, bukan secara Ontologis yakni di dalam sistemnya. $D$ adalah latar belakang yang memungkinkan segala sesuatu yang lain untuk tampil. Dengan demikian, Paradoks Russell terhindarkan dan tidak ada kecacatan dalam definisinya. Pun apabila mau dipaksakan sebagai objek, secara sederhana ia akan memenuhi skema inclosure (baca Priest, 2002); dan ku pikir, terkait ini, tidak ada masalah yang berarti juga, dengan senang hati saya akan menerimanya sebab $D$ itu sendiri adalah limit dari realitas bahasa-rujukan kita, limit dari horizon diskursus kita.
Penutup
Sampai titik ini, kita tidak lagi berdiri di dalam parit dengan saling melempar granat argumen. Kita kini berdiri di atas bukit, memegang sebuah peta Model Dinamis.
Tulisan ini, pada intinya, adalah sebuah upaya merapikan. Kita telah melihat bagaimana kita dapat terjebak dalam perangkap bahasa, berputar-putar dalam pseudo-problem karena gagal menyepakati di mana garis batas antara kata, pikiran, dan benda harus ditarik. Kita menolak kemiskinan ontologis yang membuang makna demi efisiensi. Kita menolak anarki ontologis yang membuang kewarasan demi merayakan imajinasi tanpa batas. Kita juga menolak mistisisme yang memutus relasi demi memuja substansi yang tak terjangkau. Sebagai gantinya, terdapat sebuah jalan tengah yang radikal namun bukan kompromi yang lemah.
Model Dinamis mengajak kita untuk menjadi Realis yang rendah hati sekaligus Humanis yang Kritis. Kita mengakui bahwa ada dunia keras di luar sana ($A$) yang tidak peduli pada apa yang kita pikirkan, ini adalah pengakuan yang menjaga kita tetap waras dan ilmiah. Pada saat yang sama, kita menghargai kekuatan dari matematika, ide, dan fiksi ($K$) yang membentuk peradaban manusia, tanpa harus menipu diri bahwa mereka memiliki tubuh fisik. Kita juga menghormati batas-batas bahasa ($D$) agar tidak tergelincir menjadi pembual yang merayakan inkoherensi dan omon-omon.
Tentu saja, Model ini ini bukanlah “Teori Segalanya” yang final. Ia hanyalah sebuah alat navigasi, sebuah kompas untuk mengarungi samudra realitas yang luas. Dengan membedakan secara tegas antara Bahasa, Pikiran, dan Realitas, serta memahami bagaimana Morfisme menghubungkan ketiganya secara dinamis, kita bisa berhenti berdebat tentang hantu dan mulai menjelajahi dunia.
Kita tidak perlu lagi memilih antara sastra atau penelitian. Kita bisa menikmati keduanya. Kita bisa merayakan keindahan cerita Sherlock Holmes di “dunia”-nya, sambil tetap percaya pada hukum gravitasi yang mengikat kaki kita di tanah.
Catatan penutup: saya berterima kasih pada kawan-kawan yang telah mentraktir di Trakteer Intuisionistik ID, terutama Akbar Rafsanjani, Aldo Fern, Pnd Prsty, Afif Anggito, Anas Al Masyhudi, Muhammad Naffan, Jong Alexander, serta enam belas hamba Allah lainnya yang namanya tidak ingin disebutkan. Artikel ini salah satunya merupakan bentuk terima kasih saya. Intuisionistik ID mencoba untuk mempopulerkan logika formal dan filsafat analitik, salah satunya melalui konten sosial media, kelas-kelas, hingga buletin mingguan; dan teman-teman dapat mengaksesnya atau mungkin traktir kami melalui tautan berikut: <teer.id/intuisionistik>. Terima kasih atas support teman-teman semua!
Referensi
Afif, Fakhri, 2025, “Object Oriented Ontology: Sebuah Pengantar”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/object-oriented-ontology-sebuah-pengantar/>.
Arkhano, R. Aquila, 2025, “Kikir Ontologi Berimplikasi Kerobohan Bangunan Metafisika”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/kikir-ontologi-berimplikasi-kerobohan-bangunan-metafisika/>.
Hukmi, Risalatul, 2025a, “Ontologi yang Mubazir dan Akrobatik”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/ontologi-yang-mubazir-dan-akrobatik/>.
Hukmi, Risalatul, 2025b, “Soal Kesederhanaan Ontologis”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/soal-kesederhanaan-ontologis/>.
Khasri, M. Rodinal Khair, 2025, “Meinong dan Hutan Belantara Ontologis”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/meinong-dan-hutan-belantara-ontologis/>. Priest, G., 2002, Beyond the Limits of Thought, Oxford: Clarendon Press.

