Artikel ini bertujuan untuk menengahi polemik yang timbul karena sanggahan Hukmi (2025) terhadap artikel Khasri (2025). Khasri (2025) menjelaskan gagasan Meinong mengenai tiga kategori objek yaitu eksis dan subsisโserta absis. Singkatnya, kategori subsis ini mencakup segala objek intensional seperti pegasus, gunung emas, hingga objek kontradiktori persegi bundar. Kategori subsis ini dianggap sebagai objek non-eksis tapi masih memiliki sifat-sifat yang dikenali dan dianggap sebagai objek pikiran. Dengan demikian, Meinong berhasil membuka jalan untuk membicarakan objek-objek non-eksis.
Sebagai seseorang yang menyelami dunia filsafat analitik dan logika secara dangkal, saya akan mengambil posisi moderat terhadap teori objek Meinongian. Menurut saya, berbeda dari Hukmi (2025), teori Meinong sebagian tidaklah mubazir karena ia dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan filosofis. Dalam tulisan ini saya tidak akan membela OOO milik Harman. Saya akan mengarahkan teori Meinong pada gerbang common sense dan menunjukkan perannya dalam dunia logika. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai teori objek Meinong, apalagi pemikiran filsafatnya yang dekat dengan psikologi.
Pemahaman mengenai logika orde pertama adalah syarat wajib untuk memahami tulisan ini. Selain itu, kritik filsuf-filsuf analitik terhadap Meinong adalah topik yang wajib dipahami. Oleh karena itu, saya akan menuliskan pendahuluan logika orde pertama dan diskursus ontologi Russell dan Quine secara singkat. Bagi yang sudah memahami logika orde pertama, bagian berikut ini bisa dilewati saja.
Logika Orde Pertama
Logika orde pertama mesti dibedakan dari logika proposisional. Logika orde pertama melibatkan kuantor, predikat, dan variabel. Sesuai dengan gaya penulisan Copi (1979), penulisan simbol primitif tersebut adalah sebagai berikut
variabel Individual : $x, x_1 , x_2, x_{3}\dots.$
konstanta Individual : $a, a_1, a_2, a_3\dots$
variabel Predikat : $P, P_1^1, P^1_2, P_1^3, P^2_1, P^2_{2}, P^2_{3}\dots$
konstanta Predikat: $A, A^1_1, A^1_2, A^1_3, A^2_1, A^2_2\dots.$
Variabel individual bersifat arbitrer. Dalam logika proposisional variabel individual ini terikat oleh kuantor. Kuantor dalam logika klasik orde pertama dibagi menjadi ($\exists$) dan universal ($\forall$). Predikat juga dapat dianggap arbitrer sebagai abstraksi, tetapi jika predikat memiliki konsep yang telah ditetapkan, ia dapat dikatakan sebagai kostanta. Predikat dapat bersama dengan satu variabel atau lebih sebagai relasi.
Contoh penulisannya secara formal adalah seperti $\forall xPx$ atau $\forall x \forall y (x=y \rightarrow xRy)$. Selanjutnya, kuantifikasi variabel dalam logika tersebut dapat diinstansiasi menjadi konstanta. Misalnya, Kita dapat menginstansiasinya $\forall xPx$ menjadi $Pa$. Dari konstanta sendiri kita dapat menggeneralisasinya menjadi variabel. Misalnya, dari $Pa$ dapat digeneralisasi menjadi $\forall x Px$ ataupun $\exists x Px$.
Dalam bahasa sehari-hari, konstanta variabel dan predikat dianggap sebagai proper name. Contohnya, Akil makan $Ma$ adalah instansiasi dari seseorang makan $\exists xMx$ Proposisi “seseorang makan” adalah proposisi yang mengkuantifikasi secara arbitrer individual dari predikat makan. Begitupun Seorang mahasiswa filsafat $Fx$ , kita dapat menginstansiasi aqil sebagai proper name $Fa$ –karena Aqil adalah mahasiswa filsafat.
Kebenaran dalam logika orde pertama bergantung pada ada atau tidaknya suatu variabelnya dalam domain $D$ pada suatu predikat. Misalnya, notasi $\forall x Px$, hal tersebut berarti seluruh variabel yang dianggap sebagai x mesti dianggap sebagai $P$ . Oleh karena itu, konstanta pada domain $\partial_a$, $\partial_b$ ,…..$\partial_n$ harus memenuhi predikat P.
| $P$ | $\partial_a$ | $\partial_b$ |
| $P_1$ | $\checkmark$ | $\checkmark$ |
Jika terdapat konstanta yang tidak memenuhi, konstanta tersebut dapat menjadi counterexample dari proposisi tersebut. Misalnya untuk $\neg \forall x Px$ , kebenarannya dapat dibuktikan dengan ketidakpenuhan setidaknya satu konstanta individual.
| $P$ | $\partial_a$ | $\partial_b$ |
| $P_1$ | $\times$ | $\checkmark$ |
Dalam bahasa sehari-hari, proposisi Jika manusia maka mamalia, dapat diterjemahkan, untuk semua $x$, jika $x$ manusia maka $x$ mamalia atau secara formal dapat ditulis $\forall x (Hx \rightarrow Mx )$. Syarat kebenaran dari proposisi ini mengharuskan seluruh individual $x$ pada $H$ mestilah ada pada $M$. Lebih detailnya mengenai logika orde pertama bisa dibaca artikel saya bersama Ahnaf (2024).
Russell dan Quine
Hukmi (2025) menggunakan dua pandangan dari Russell (1905) dan Quine (1948) untuk membabat habis hutan Meinong. Alasan illegal loging tersebut dilakukan karena ia menganggap Meinong mengandaikan bagasi metafisika yang berlebih. Akrobat metafisika yang dilakukan Meinong dianggap mengandung kontradiksi logis dan ketidaksederhanaan. Sebelum kita memperhatikan argumen Hukmi lebih lanjut ada baiknya memahami argumen dari Russell dan Quine dahulu secara ringkas.
Russell (1905) menggunakan logika orde pertama untuk menyelesaikan teka-teki bahasa melalui teori deskripsi. Proposisi seperti “Raja Perancis hari ini botak” terlihat membingungkan sebelum diubah dalam bentuk formal. Jika “Raja Perancis hari ini botak” salah, apakah “Raja Perancis hari ini tidak botak” benar? Melalui logika orde pertama, kita dapat menuliskan ulang proposisi tersebut sebagai
$\exists x (Fx \land \forall y (Fy \rightarrow x=y) \land Bx)$
“ada $x$ yang mana $x$ adalah $F$ dan untuk semua tentang $F$ pastilah $x$, dan $x$ adalah $B$ “
Jika substitusi dengan salah satu proposisi sebelumnya, kita dapat mendapatkan kejelasan tentang kesalahan dan order kontennya. Misalnya, “Raja Perancis Hari ini Botak” dapat ditulis secara formal sebagai
ada $x$ yang mana x adalah Raja Perancis dan untuk semua tentang Raja Perancis pastilah $x$, dan $x$ adalah Botak.
Kesalahan dalam proposisi ini ditunjukkan oleh ketiadaan eksistensi kuantor. Kita tidak membicarakan soal Raja Perancis yang botak, tetapi objek individual yang terkuantifikasi yang memiliki predikat Raja Perancis dan botak. Oleh karena itu pula, kesalahan โRaja Perancis botakโ dan โRaja Perancis tidak botakโ dapat dibedakan bedasarkan derajat penempatan proposisinya. Berikut komparasi proposisinya secara terurut:
(a) tidak ada $x$ yang mana x adalah Raja Perancis dan untuk semua tentang Raja Perancis pastilah $x$, dan $x$ adalah Botak
(b) ada $x$ yang mana x adalah Raja Perancis dan untuk semua tentang Raja Perancis pastilah $x$, dan $x$ adalah tidak Botak
Dalam kasus ini, kita tidak menganggap bahwa raja perancis eksis. Anggapan salah pada proposisi tersebut akan cocok dengan jawaban (a).
Metode Russell ini kemudian dianggap cukup oleh Quine (1948) dalam menyelesaikan kebingungan bahasa dan permasalahan eksistensi. Quine membawa slogan–“To be is to be the value of a bound variable”. Dalam hal ini, Quine menolak distingsi being dan exist Meinongian yang tidak sederhana–penolakan ini ia anggap sebagai pencukuran jenggot Plato. Tidak ada pembedaan lagi antara being dan exist. Pernyataan “Pegasus tidak ada” bukan berarti terdapat being pegasus sebagai referensi. Namun, Pegasus tidaklah eksis, dalam bentuk formalnya dapat dituliskan sebagai $\neg \exists a (a=Pegasus)$ (Ney, 2020). Dengan demikian, menyatakan keberadaan pada sesuatu adalah mengkuantifikasi sesuatu tersebut. Setelah kita memahami konteks dari penolakan ontologi dan metafisika Meinong, kita akan beranjak pada kritik Hukmi (2025) terhadap Khasri dan Meinong.
Keberatan atas Kritik Hukmi
Berikut saya akan menginventarisasi argumen yang saya ambil dari tulisan Hukmi (2025) untuk saya bantah satu persatu. Setidaknya, terdapat tiga poin yang saya jadikan representasi dari tulisan Hukmi. Kita cukup menyentuh fondasi bangunan untuk merubuhkan pondok religius yang rapuh.
Permasalahan Regimentasi dan Kesederhanaan Quine
โKita tidak seharusnya menganggap entitas metafisik sebagai bonus konseptual yang bisa ditambahkan tanpa beban. Setiap entitas yang kita postulatkan dalam kerangka ontologis membawa konsekuensi teoritis yang harus ditanggung. Ketika sebuah teori menumpuk entitas yang tidak memiliki peran eksplanatoris yang jelas, maka ia hanya akan menambah beban ontologis, dan itu sebuah kemubaziran.โ
Bagi saya, ketika seseorang memilih menjadi filsuf yang sederhana, ia juga memiliki konsekuensi terhadap bangunan metafisikanya. Terdapat dua permasalahan filosofis jika kita mengabaikan pembedaan ada dalam arti kuantifikasi dan eksis. Berbagai permasalahan tersebut muncul pada logika orde pertama dalam pandangan Quine (1948). Quine sendiri secara tegas mengkritik distingsi being (ada) dan eksis. Untuk menyatakan “Pegasus tidak eksis” kita cukup melakukan penulisan ulang sebagai $\neg \exists a (a=Pegasus)$. Kita tidak harus memiliki komitmen eksis pada sesuatu yang tidak eksis.ย Menurutnya, kita tidak perlu menyatakan ada untuk sesuatu yang tidak eksis. Dalam ontologi gurun Quine, ada dan eksis adalah hal yang tidak perlu dibedakan. Oleh karena itu, hutan belantara penuh metafisika Meinong perlu dibabat habis dan digantikan dengan ontologi yang lebih sederhana.
Pemikiran Quine yang menyamakan kuantor partikular dan komitmen ontologis membawa permasalahan filosofis lain. Simbol $\exists$ tetap dapat digunakan untuk mengkuantifikasi himpunan yang berisikan objek-objek yang tidak eksis. Saya bisa menyatakan “beberapa himpunan objek fiksi adalah objek yang dapat dipikirkan”. Penulisan formalnya adalah $\exists P \exists Q (P \subset Q)$ . Apakah saya harus memiliki komitmen terhadap himpunan objek? Jika jawabannya iya, Berarti saya bukan Quinean.
Inti permasalahan dari teori Quine adalah kondisi kebenaran digantungkan pada eksistensi dan kuantifikasi objek. Menurutnya, objek harus dikuantifikasi eksis sehingga benar. Pertanyaannya, apakah objek fiksi tidak bisa benar? Saat saya menyatakan pegasus bewarna putih atau hantu yang di mimpi saya menyeramkan, saya tidak mempunyai komitmen ontologis terhadap mereka dan saya meyakini bahwa pernyataan saya benar. Begitupun ketika seseorang mengatakan “Sherlock Holmes tinggal di Jalan Baker 221B” saya akan mengamini kebenarannya. Lantas bagaimana saya dapat menyatakan properti positif objek-objek fiksi dalam gurun ontologi Quine?
Selain itu, mari kita asumsikan eksistensi sebagai predikat dan secara konsisten mengadopsi prinsip generalisasi logika orde pertama (Priest 2008). “Pegasus adalah objek tidak eksis” dapat ditulis secara formal sebagai
$Ta$ $\Rightarrow \exists x Tx$ “Eksis $x$ yang mana x adalah objek tidak eksis”
Tentu hal tersebut menjadi tidak masuk akal dan malah menimbulkan kontradiksi. Bagaiamana sesuatu dapat eksis dan tidak eksis secara sekaligus?
Dari beberapa permasalahan yang sudah saya sebutkan, tampaknya kesederhanaan yang diasumsikan oleh Quine (1948) dan Hukmi (2025) membawa para filsuf ke gurun ketidakmasukakalan. Hal tersebut dikarenakan postulat Quine terhadap kuantor partikular dan eksistensi ternyata juga membawa konsekuensi yang harus ditanggung berupa kebingungan makna dari kuantor itu sendiri. Ontologi Quine yang kering juga memaksa kita untuk tidak mengamini objek fiksi yang memiliki sifat positif. Keinginan untuk menyamakan ontologi dan sains itulah yang menjadi beban yang dibawa oleh santri Quine.
Logika Bebas dan Kalimat Barcan
โYang perlu dicatat, pertama-tama, ontologi bukan melulu soal inventarisasi daftar apa saja yang โadaโ laiknya kerja-kerja sensus, sehingga lebih banyak daftar yang kita miliki tidak kemudian membuat teori ontologi kita lebih baikโ
Seringkali inventarisasi ontologis penting untuk menghasilkan kesimpulan filsafat yang masuk akal dan lebih baik. Teori yang lebih rumit sebaiknya dipilih jika memang lebih masuk akal dan bisa menyelesaikan masalah daripada teori yang lebih sederhana. Dalam pandangan saya, kesederhanaan adalah poin paling terakhir dalam pemilihan kerangka ontologis. Kesederhanaan dipilih jika dalam perbandingan dua teori keduanya memiliki implikasi teoritis yang sama tetapi memiliki bagasi metafisika yang tidak sepadan. Jika seseorang mengamini kesederhanaan begitu saja, ia mungkin akan terjebak pada pemikiran logika klasik yang memiliki semantik yang sederhana–seperti eyang Quine. Logika dengan semantik lain seperti truthmaker dan dunia mungkin akan ditolak begitu saja hanya alasan konyol “teori tersebut tidak sederhana”.
Inventarisasi ontologi yang berlebih dapat diperlihatkan dalam motivasi logika bebas (free logic). Logika bebas adalah logika yang membuang asumsi term dan objek dari asumsi eksistensial (Lambert, 1997 ). Untuk memisahkan asumsi terma dan objek-objek dari asumsi eksistensial, logika bebas memerlukan semantik Meinongian tambahan berupa inner domain (Gratzl dkk, 2025). Sebut saja domain ini $E$. Domain tersebut merupakan subhimpunan dari domain $D$ yang mana dapat dituliskan sebagai $E$ $\subseteq$ D. Domain $E$ berisikan objek-objek yang eksis, sedangkan domain $D$ adalah himpunan segala objek. Melalui semantik tersebut, objek yang eksis di domain $D$ tidak pasti eksis di domain $E$ . Namun, jika kita ingin kembali dengan klasik, kita dapat menyamakan $E$ dan $D$ ($E=D$). Dengan demikian objek yang memiliki predikat, tidak berarti dapat disimpulkan objek tersebut eksis karena terdapat domain $D-E$ (outer domain).
Mari kita ambil contoh “Pegasus adalah objek yang tidak eksis” cukup dapat dinyatakan
$Pa$ dan tidak dapat disimpulkan $\exists x Px$ karena objek tersebut tidaklah eksis.
Untuk menyatakan generalisasi eksistensial, kita memerlukan eksistensi dari objek, dalam logika gratis kita anggap $\text{โฌ}$. Dengan demikian, jika objek $a$ eksis, kita dapat menyimbolkannya sebagai $\text{โฌ}a$ . Pegasus adalah objek tidak eksis dapat dinyatakan sebagai $\neg \text{โฌ}a$ . Lantas bagaimana kita menyatakan Jokowi adalah presiden ke tujuh yang eksis? Kita cukup menambahkan konjungsi sebagai berikut
$\text{โฌ}a \land Pa$ yang mana kita dapat generalisasi sebagai $\exists x Px$ karena objek Jokowi memiliki eksistensi.
Logika ini mungkin tidak disukai oleh Russell dan Quine karena tidak sederhana, tetapi logika ini disukai oleh Meinong karena menggambarkan bagaimana metafisikanya bekerja. Logika ini juga secara intuitif mendukung kesetujuan kita terhadap properti objek non eksis seperti “Sherlock Holmes tinggal di Jalan Baker 221B” kendati kita menolak berkomitmen pada eksistensinya. Lantas bagaimana kita menyatakan $\forall x Px$ dalam logika bebas? Asumsi dari instansi kuantor universal logika bebas dapat dituliskan “jika objek tersebut eksis, maka objek tersebut P” atau $\text{โฌ}a \rightarrow Pa$ .
Solusi selanjutnya adalah dengan membedakkan kuantifikasi objek yang eksis dan tidak eksis. Jika kita ingin mengamini kuantifikasi suatu proposisi eksis, kita dapat menyatakan kuantifikasi kita “termuat” oleh eksistensi. Kuantor eksis dan universal termuat dapat dinotasikan sebaga $\exists^t x Px$ dan $\forall^t x Px$. Proposisi dengan kuantor yang tidak termuat seperti $\exists x Px$ dan $\forall x Px$ tetap dapat terinstansiasi, tetapi kita tidak perlu memiliki komitmen eksistensi pada proposisi-proposisi tersebut. Priest (2005) menyamakan “there is” dan “exists” dan mengganti kuantor partikular sebagai “some”. Untuk menyatakan adanya komitmen eksistensi, proposisi tersebut mesti mengandung “some x exists…..” (Priest, 2008). Kendati demikian, daftar jenis objek domain eksistensi yang terpisah dan distingsi kuantifikasi merupakan hal yang wajib dalam logika bebas. Oleh karena itu, logika ini tetap tidak lebih sederhana dari logika klasik ataupun asumsi Quine yang menyamakan kuantifikasi dan eksistensi.
Logika bebas juga menjadi dasar dari logika modal berdomain variabel. Berbeda dengan logika modal domain konstan, logika modal berdomain variabel tidak menerima kalimat yang diajukan Barcan (1946) yang berbunyi:
$\forall x \square Px \rightarrow \square \forall x Px$
Contoh sederhana dari kalimat Barcan adalah “semua manusia niscaya tidak bisa tumbuh lebih dari 100 meter maka niscaya semua manusia tidak bisa tumbuh lebih dari 100 meter “. Proposisi tersebut nampak rancu, dalam dunia aktual keniscayaan tersebut didukung oleh hukum alam bahwa manusia tidak dapat tumbuh lebih dari 100 meter, tetapi dalam seluruh dunia mungkin bisa saja terdapat dunia yang memiliki manusia tinggi rata-rata 200 meter. Logika berdomain konstan tidak bisa membedakan proposisi ini karena menganggap domain $D$ dan $E$ sama. Dengan demikian, kalimat Barcan dan konversinya dapat valid. Logika modal berdomain variabel membedakan objek yang eksis dan terkuantifikasi. Dengan demikian, objek dapat terkuantifikasi dan eksis pada dunia yang berbeda.
Pentingnya pembahasan Ontologi dan Metafisika
(3) Saya tidak punya alasan untuk tidak sepakat dengan Quine; pertanyaan tentang โapa yang adaโ bukanlah soal semantik atau empati ontologis, melainkan soal komitmen teoretisโโapa yang harus ada agar teori kita benar?โ
Saya punya alasan untuk tidak sepakat dengan Hukmi (2025): apa yang harus ada agar teori kita benar adalah ketelitian metafisika dan membangun penyelesaian masalah yang masuk akal. Bukan malah terjebak pada alasan ideologis seperti kesederhanaan. Permasalahan ada juga merupakan permasalahan semantik, apa yang dimaksud โadaโ? Apakah โadaโ yang dimaksud di dunia aktual? Apakah โadaโ yang dimaksud kuantifikasi?
Sebelum kita menyatakan yang โadaโ, kita harus memberikan definisi apa yang dimaksud โadaโ. Ketika saya nonton TV dan saya terkejut bahwa rumah spongebob ada di bawah laut, bukan berarti rumah tersebut eksis dan saya berkomitmen pada eksistensi tersebut. Ketika saya menyatakan โada himpunan yang kardinalitasnya lebih besar daripada himpunan bilangan naturalโ bukan berarti saya juga berkomitmen pada himpunan tersebut. Apa yang dimaksud dengan โAdaโ tetaplah permasalahan semantik, sehingga kita mesti mencari penataan atau pendefinisian ulang mengenai โapa yang kita maksud adaโ. Lantas jika Hukmi (2025) bertanya โapa yang harus ada agar teori kita benar?โ jawabannya adalah definisi dan teori mengenai adaโtermasuk Ontologi Quine itu sendiri.
Kesimpulan
Terdapat banyak hal yang tidak sederhana tetapi memiliki kegunaan teoritis seperti logika bebas yang mengandaikan pemisahan objek seperti halnya Meinong. Terdapat pula semantik dunia mungkin dan dunia tidak mungkin yang menambah pertimbangan penalaran kita mengenai kemungkinan. Jika memiliki bagasi metafisika yang berlebih dikatakan mubazir, menolak metafisika secara berlebih dengan alasan kesederhanaan juga dapat diartikan menolak rezeki. Dapat dilihat dari ontologi kering Quine, bangunan metafisika yang sederhana tidak menjamin kekokohan konsistensi dan luas jangkauan pembahasannya. Banyak hal yang tidak bisa terjelaskan dengan ontologi yang pelit dan miskin. Oleh karena itu, jangan sampai kita kikir untuk membangun model dan konstruksi metafisika dengan ontologi yang berlebih, siapa tahu besok ia bisa roboh dan berbahaya bagi orang-orang di dalamnya.
Daftar Pustaka
Barcan, R. C. (1946). A functional calculus of first order based on strict implication. Journal of Symbolic Logic, 11(1), 1โ16. https://doi.org/10.2307/2269159
Copi, I. M. (1979). Symbolic logic (5th ed.). Macmillan Publishing.
Gratzl, Norbert, Edi Pavloviฤ, and John Nolt, โFree Logicโ, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Summer 2025 Edition), Edward N. Zalta & Uri Nodelman (eds.), URL = https://plato.stanford.edu/archives/sum2025/entries/logic-free/.
Hukmi, R. 2025, โOntologi yang Mubazir dan Akrobatik,โ Antinomi. Diakses pada 16 Oktober 2025:
Khasri, M .R. K. 2025, โMeinong dan Hutan Belantara Ontologis,โ Antinomi. Diakses pada 13 Oktober 2025:
Priest, G. (2005). Towards non-being: The logic and metaphysics of intentionality. Oxford University Press.
Priest, G. (2008). An introduction to non-classical logic: From if to is (2nd ed.). Cambridge University Press.
Lambert, K. (1997). Free logic: Selected essays. Cambridge University Press.
Ney, A. (2014). Metaphysics: An introduction (2nd ed.). Routledge.
Quine, W. V. O. (1948). On what there is. Review of Metaphysics, 2(5), 21โ38.
Russell, B. (1905). On denoting. Mind, 14(56), 479 493. https://doi.org/10.1093/mind/XIV.4.479

