Tentang Metode Analisis

Analisis, dalam setiap bentuknya, merupakan alat yang kuat untuk menjelajahi dan memahami dunia.

Muhammad Qatrunnada Ahnaf
Muhammad Qatrunnada Ahnaf
Magister Filsafat yang memiliki minat riset dalam bidang logika, metafisika, dan filsafat ilmu. Selain filsafat, juga tertarik dengan ekonomi, investasi, dan trading: telah memantau pergerakan pasar secara otodidak dan kuantitatif-logis sejak 2018.

Ever since I abandoned the philosophy of Kant and Hegel, I have sought solutions of philosophical problems by means of analysis; and I remain firmly persuaded, in spite of some modern tendencies to the contrary, that only by analysing is progress possible.

(Russell, 2023: 4)

Metode analisis telah dipraktikkan dan dipahami dengan berbagai cara. Dapat dikatakan, metode analisis merupakan nafas utama dalam metode filsafat dan berfilsafat, setidaknya untuk filsafat analitik. Secara umum, metode analisis merupakan proses mengidentifikasi hal-hal mendasar sehingga sesuatu dapat diturunkan, dijelaskan, maupun dikonstruksikan dari berbagai hal mendasar tersebut. Proses identifikasi tersebut dapat dipahami sebagai sebuah penelusuran yang sifatnya eksploratif dengan tahapan-tahapan yang ketat.

Metode analisis seringkali dipahami sebagai metode yang bertujuan untuk memperjelas relasi-relasi atas suatu hal (Strawson, 1992: 3). Maksud โ€˜memperjelasโ€™ di sini adalah, sekali lagi, kembali pada hal-hal yang mendasar (Beaney, 2013: 7). Pada perkembangannya, terdapat berbagai mekanisme atau cara-cara dalam menerapkan metode analisis. Sehingga, wajar pula tidak terdapat konsensus yang tegas mengenai apa itu metode analisis, bahkan dalam tubuh filsafat analitik sendiri. Meski demikian, kita dapat mengkategorisasi lebih lanjut secara skematik terkait mekanisme atau cara-cara apa saja yang dapat dikatakan sebagai metode analisis sejauh ini.

Metode analisis sendiri seringkali dikritik, baik dari luar filsafat analitik (tentu saja), maupun dari dalam filsafat analitik (ini apa lagi). Namun, berbagai kritik tersebut justru mengembangkan metode analisis dan melahirkan bentuk-bentuk metode analisis baru. Dalam sejarah filsafat analitik sendiri, banyak sekali konsepsi maupun teknik analisis yang bermunculan, mungkin sebanyak filsuf analitik yang ada. 

Bagi saya pribadi, metode analisis dan filsafat analitik sendiri sangat menarik karena meski menggunakan proses yang ketat, masing-masing filsuf memiliki cara dan paradigmanya tersendiri dalam menganalisis. Hal tersebut tercermin pada banyaknya pemikiran filsuf analitik yang bermacam-macam, yang terfragmentasi di berbagai sub-aliran di bawah payung atau bendera filsafat analitik.

Terlepas dari itu, saya pribadi cukup muak dengan pandangan yang mereduksi metode analisis dan filsafat analitik sebagai metode-filsafat โ€œkebarat-baratanโ€ sebab itu adalah pandangan yang keliru dan sempit. Kita ambil posisi sederhana saja: filsafat analitik secara umum merupakan โ€œfilsafat dengan metode analisisโ€. Jejak dari metode analisis sendiri menunjukkan bahwa ia lahir di tiga tempat berbeda: India, Cina, dan Yunani. Dari jejak ini saja pandangan reduktif tentang metode analisis dan filsafat analitik sebagai metode-filsafat โ€œkebarat-baratanโ€ kurang lebih terbantahkan. 

Saya pikir kita perlu melihat metode analisis dan filsafat analitik dari kacamata yang lebih luas dan terbuka. Mungkin pertanyaan menggelitiknya adalah: mengapa metode analisis tidak berkembang pesat di Indonesia? Perihal ini, Anda dapat merefleksikannya pada fenomena masyarakat sekitar Anda: disuruh berpikir atau membaca saja malas, jatuhnya berpikir dan membaca dengan serampangan, maunya serba instan dan selalu bersifat mistis; jika demikian, bagaimana bisa menganalisis secara ketat?

Terminologi Analisis

Kata โ€œanalisisโ€ sendiri dapat ditelusuri akar katanya dari Yunani kuno, yakni โ€œanalusisโ€. Kata โ€œanalusisโ€ terdiri dari prefiks โ€œana-โ€ dan kata dasar โ€œlusisโ€ yang dapat diartikan sebagai โ€œmemecah-belahโ€, โ€œmemilah-pilahโ€, โ€œmemisah-pisahโ€, atau โ€œmelepas-lepasโ€ (Beaney dan Raysmith, 2024; Beaney, 2017: ch.6). Secara terminologis, โ€œanalisisโ€ dapat diartikan sebagai โ€œpembongkaranโ€ atau โ€œpenguraianโ€ suatu hal. Sehingga, โ€œanalisisโ€ secara umum dapat dipahami sebagai pengungkapan jaring-jaring keterhubungan mengenai hal yang sedang dianalisis, kemudian tiap keterhubungan tersebut juga dianalisis lebih lanjut, dan begitu seterusnya hingga menyeluruh atau sampai pada hal/penyusun yang mendasar. Penyusun mendasar tersebut menyusun secara keseluruhan hal yang dianalisis pertama kali, dan ini cukup jelas (obvious) bukan? Inilah gambaran dari analitisitas. 

Saya pribadi lebih suka menjelaskan metode analisis menggunakan metafora peperangan; analisis itu divide and conquer: kita pecah-belah hal yang dianalisis untuk โ€œmenguasaiโ€ (atau โ€œmemahamiโ€) hal yang kita analisis tersebut secara keseluruhan. Kita dapat pula memakai metafora pembedahan, bahwa metode analisis itu โ€˜membedahโ€™ suatu hal sehingga terungkap bagaimana hal yang dibedah tersebut tersusun dan bekerja. Secara garis besar, berbagai metafora terkait analisis ini dapat digunakan sebagai titik berangkat untuk memahami berbagai metode analisis; namun tentu jangan ditelan mentah-mentah.

Memahami analisis tidak hanya terbatas pada kata literal “analisis” itu sendiri atau istilah-istilah serupa dalam bahasa lain, seperti “analusis” dalam bahasa Yunani, โ€œanalysisโ€ dalam bahasa Inggris, atau “analyse” dalam bahasa Jerman. Contohnya, meskipun Plato tidak menggunakan kata “analusis“, akan tetapi metode yang digunakan adalah bentuk analisis konseptual.

Euclid, misalnya,  dalam karyanya yang berjudul Elements, tidak menggunakan kata “analusis“, tetapi metode yang digunakan untuk menyusun pembuktian-pembuktian geometri yang diakui sebagai bentuk analisis. Begitu pula dalam bahasa Latin, istilah “resolutio” digunakan untuk menerjemahkan “analusis” dalam konteks metodologis, sementara “decompositio” digunakan dalam konteks lain (Beaney dan Raysmith, 2024; Beaney, 2017: ch.6). Istilah “reduksi” juga sering dikaitkan dengan analisis, baik dalam teori silogistik Aristoteles maupun dalam filsafat analitik awal.

Tradisi di luar Barat juga memiliki metode yang serupa dengan analisis, meskipun menggunakan istilah yang berbeda. Misalnya, dalam filsafat India kuno, perdebatan digambarkan sebagai “penguraian” (“nibbeแนญhanam“), yang mirip secara metaforis dengan “analisisโ€ (Beaney dan Raysmith, 2024). Perbedaan antara tradisi-tradisi ini justru memberikan wawasan baru tentang makna โ€œanalisisโ€. 

Konsep “analisis” telah berkembang secara signifikan sepanjang sejarah, dengan benang merah yang menghubungkan berbagai tradisi. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konsepsi metode analisis sendiri sangatlah kaya, dan benang merahnya menunjukkan kapasitas manusia untuk berpikir dan memecahkan masalah. Dengan memahami โ€œanalisisโ€ yang melampaui kata “analisis”, kita dapat menghargai keragaman cara berpikir manusia dan menemukan kesamaan dalam upaya kita untuk memahami dunia.

Bentuk-bentuk Analisis

Dalam bentuknya yang umum, setidaknya terdapat empat kategori/konsepsi umum atas metode analisis (Beaney dan Raysmith, 2024): dekomposisional, regresif, transformatif, dan konektif. Mari kita eksplorasi satu persatu.

Analisis Dekomposisional

Ciri khas analisis dekomposisional adalah memilah-pilah suatu hal menjadi elemen-elemen yang lebih sederhana, lengkap dengan relasi-relasinya, dan begitu seterusnya untuk setiap elemen tersebut (Beaney dan Raysmith, 2024). Analisis dekomposisional akan menunjukkan komposisi internal dari ihwal yang dianalisis. Dengan kata lain, proses dekomposisi tersebut akan mengungkap komposisionalitas dari hal yang dianalisis. Secara sederhana, kita bisa sebut konsepsi ini sebagai konsepsi analisis yang membongkar secara detail untuk menjelaskan susunan internal dari ihwal yang dibongkar. 

Secara abstrak, sebagai contoh, kita menganalisis $X$ secara dekomposisional, berarti kita memilah-pilah $X$ semisal menjadi $x_0, x_1$ dengan relasi $R$, dan juga memilah-pilah $x_0$ menjadi $y_0, y_1$ dengan relasi $S$ dan $x_1$ menjadi $z_0, z_1$ dengan relasi $T$, sehingga $X = R(S(y_0,y_1),T(z_0,z_1))$ sejauh pemilahan tersebut dinilai โ€œcukupโ€ oleh si penganalisis. Hasil pemilihan tersebut mengungkap susunan internal dari $X$ sehingga kemudian dinilai apakah susunan tersebut โ€œjelasโ€ atau justru bermasalah. 

Visualisasi abstrak analisis dekomposisional

Kita akan ambil contoh sederhana untuk memahami konsep analisis dekomposisional. Semisal kita ingin mendekomposisi sepeda kayuh. Mendekomposisi sepeda kayuh berarti membongkar komponen-komponen utama sepeda kayuh.

Pertama, tentu yang paling jelas adalah rangka. Rangka menyatukan semua bagian dan memberikan bentuk umum dari sepeda kayuh. Tanpa rangka, bagian-bagian lain tidak akan memiliki dasar yang stabil untuk menyatukan dan membentuk sepeda. 

Selanjutnya adalah roda. Sepeda kayuh memiliki dua roda, yakni roda depan dan belakang. Roda memungkinkan sepeda kayuh untuk berpindah. Setiap roda terdiri dari ban, pelek, dan jeruji: ban mencengkeram jalan, pelek menahan ban di tempatnya, dan jeruji mendistribusikan berat secara merata. 

Perhatikan bahwa ban belakang memiliki roda gigi yang terhubung dengan roda gigi di tengah melalui rantai. Roda gigi di tengah memiliki pedal, dan pedal adalah tempat seseorang menginjak untuk menggerakkan sepeda dengan mentransfer tenaga pijakan tersebut ke roda belakang. Saat seseorang mengayuh pedal, maka rantai memutar roda belakang sehingga sepeda bergerak maju.

Roda depan terhubung dengan setang. Tuas rem menempel pada setang, dan terhubung dengan rem pada ban, baik ban depan maupun ban belakang. Rem memberikan gesekan pada roda untuk memperlambat laju sepeda, memungkinkan sepeda untuk berhenti.

Terakhir adalah sadel. Sadel adalah tempat seseorang duduk. Sadel menempel pada rangka dan dirancang untuk kenyamanan dan penyangga selama berkendara.

Penjelasan tadi merupakan analisis dekomposisional atas sepeda kayuh. Kita memahami bagaimana relasi di antara komponen sepeda yang membentuk sepeda secara keseluruhan. Kita dapat melihat bagaimana setiap bagian berkontribusi pada fungsi keseluruhan sepeda. Inilah yang disebut analisis dekomposisional: mengambil sesuatu yang kompleks seperti sepeda kayuh, dan memahaminya dengan memeriksa bagian-bagian yang lebih sederhana beserta relasi di antara mereka. Meski contoh ini terlihat sederhana, analisis dekomposisional akan menjadi lebih kompleks apabila hal yang hendak didekomposisi adalah objek abstrak seperti pengetahuan, keadilan, dan kebahagiaan.

Sering kali kita menerima sesuatu begitu saja: sepeda ya sekadar sepeda. Metode analisis dekomposisional menuntut kita untuk berhenti sejenak dan mengapresiasi detail dan interaksi internal dari apa yang terberi pada kita. Dalam konteks sepeda kayuh, kita berhenti sejenak untuk melihat detail dari susunan sepeda kayuh: kita mengapresiasi relasi internal sepeda kayuh dan bagaimana bagian-bagiannya berkontribusi membentuk sepeda kayuh secara utuh.

Analisis Regresif

Ciri khas analisis regresif adalah berjalan mundur, menelusuri jejak-jejak atau tahapan-tahapan kemunculan dan terbangunnya ihwal yang dianalisis (Beaney dan Raysmith, 2024). Bisa dibilang, analisis regresif merupakan penelusuran yang hendak menemukan hal-hal mendasar melalui prinsip-prinsip atau fakta-fakta tertentu sehingga terungkap bagaimana hal yang dianalisis muncul atau dapat diterima. Kita menelusuri sesuatu secara mundur untuk kemudian juga memahami tahapannya secara maju atau progresif. 

Secara abstrak, sebagai contoh, kita menganalisis $X$ secara regresif, berarti kita menelusuri bagaimana $X$ muncul atau dapat diterima dengan menemukan $Y$ yang kemudian dari $Y$ juga ditelusuri dengan menemukan $Z$ sehingga $Z \implies X$ sejauh penelusuran tersebut dinilai โ€œcukupโ€ oleh si penganalisis. Hasil penelusuran tersebut mengungkap bagaimana $X$ muncul atau dapat diterima berdasarkan $Z$ sebagai hal mendasar untuk $X$, atau justru mengungkap sebaliknya bahwa $X$ tidak berdasar sebab $Z$ bermasalah.

Visualisasi abstrak analisis regresif

Visualisasi abstrak analisis regresif

Saya yakin kita cukup familier dengan analisis regresif ini, atau mungkin sudah menerapkannya meski kita tidak menyadarinya. Kita ambil contoh sederhana dalam aritmatika. Semisal terdapat persamaan:

$3x + 5 = 20$

Kita ingin menemukan nilai $x$. Kita sebenarnya melakukan analisis regresif untuk menemukan nilai $x$. Strateginya sederhana, kita mencari cara untuk melangkah mundur pada hal yang lebih sederhana sehingga mengisolasi variabel $x$. Perhatikan bahwa terdapat penjumlahan pada sisi kiri persamaan tersebut. Dengan demikian, kita akan mengurangi kedua sisi dengan nilai $5$ untuk membatalkan penjumlahan di sisi kiri, yakni:

$3x + 5 – 5 = 20 – 5$

Karena kita mengtahui $5 – 5 = 0$ dan $3x + 0 = 3x$, maka:

$3x = 20 – 5$

Perhatikan bahwa prosesnya terlihat seakan kita memindahkan angka $5$ ke sisi kanan dengan mengubah simbolnya dari positif ke negatif, akan tetapi itu sebenernya proses yang melompat. Saya juga pernah diajari melompat secara demikian dan hal tersebut memang keliru serta merusak proses/tahapan berpikir: tidak terdapat proses memindahkan secara demikian dalam aritmatika. Ihwal yang terdapat dalam aritmatika adalah operasi aritmatika, sehingga kita sebenarnya melakukan sebuah operasi aritmatika di kedua sisi persamaan sehingga operasi di salah satu sisi persamaan terbatalkan. 

Lantas, kita mengetahui bahwa $20 – 5 = 15$. Dengan demikian:

$3x = 15$

Perhatikan bahwa terdapat perkalian di sisi kiri. Dengan demikian, kita akan bagi kedua sisi dengan $3$ untuk membatalkan perkalian, yakni:

$\frac{3x}{3} = \frac{15}{3}$

Karena $\frac{3}{3} = 1$ dan $1x = x$, maka:

$x = \frac{15}{3}$

Karena $\frac{15}{3} = 5$, maka:

$x = 5$

Mari identifikasi prinsip dasarnya. Tujuannya adalah menyelesaikan $x$, dan langkah-langkahnya melibatkan pembalikan operasi yang diterapkan pada $x$ dengan operasi aritmatika, yakni penambahan dan perkalian. Langkah-langkah ini pada dasarnya adalah prinsip keseimbangan persamaan: apa pun yang dilakukan di satu sisi persamaan, harus dilakukan di sisi lain persamaan untuk menjaga kesetaraan.

Dengan bekerja mundur dari persamaan yang diberikan, kita mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan untuk mencari nilai $x$ dan menemukan prinsip dasar keseimbangan persamaan. Dari penggunaan prinsip dasar tersebut ditemukanlah hal mendasar dari persamaan awal yakni $x = 5$. Inilah analisis regresif: menelusuri suatu hal melalui prinsip dasarnya sehingga mencapai hal-hal yang mendasar.

Mungkin contoh aritmatika itu membosankan dan memuakkan bagi beberapa orang. Mari kita pakai contoh lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Suatu ketika, saat pulang ngopi saya dibonceng oleh sahabat saya untuk kembali ke kontrakan. Namun, tiba-tiba motornya mati, motornya mogok: meski sudah dicoba untuk dihidupkan kembali, seperti distarter atau diengkol manual, motornya tetap tidak mau menyala. Sontak saya kirim pesan ke sahabat saya yang lain agar dijemput dan dibantu untuk distep (didorong menggunakan kaki) ke bengkel. Sahabat saya pun juga sibuk mencoba mengontak sahabat kita yang lain dengan cara langsung menelepon; namun belum ada yang mengangkat. Tapi, saya tiba-tiba tergelitik untuk menemukan sumber masalahnya sendiri.

Oke, berarti masalahnya adalah motornya tidak mau menyala. Saya tahu bahwa motor membutuhkan bensin, sehingga saya mengecek tangki bensin. Ternyata bensinnya masih banyak. Oke, bensin bukan masalah di kasus ini. Meski saya tidak paham betul tentang motor, saya tahu bahwa menyalanya motor itu berhubungan dengan prinsip pembakaran pada mesin: bensin mengalir ke ruang pembakaran, lalu terdapat percikan api sehingga bensin tersebut terbakar-meledak dan ledakan tersebut kemudian memutar piston. Dengan demikian, mungkin saja percikan api untuk menyalakan mesinnya yang tidak terjadi. Nah, apakah benar demikian? Dan mengapa percikannya tidak terjadi?

Faktanya tadi tidak dapat distarter, mungkin salah satu masalahnya di aki/baterai. Namun, diengkol manual pun juga tidak dapat menyala. Dengan demikian, masalahnya tidak terdapat pada aki/baterai. Tiba-tiba saya teringat bahwa tadi sempat hujan, dengan demikian saya menyimpulkan bahwa ini kemungkinan besar ada hubungannya dengan air.

Dari fakta bahwa masalahnya (1) berhubungan dengan air, (2) berhubungan dengan percikan api, dan (3) diengkol manual tetap tidak menyala, berarti pemercik apinya yang bermasalah. Sontak pikiran saya tertuju pada busi: mungkin businya yang terpengaruh oleh air sehingga tidak menghasilkan percikan. Langsung saya cek businya, dan benar bahwa businya lembap. Saya langsung keringkan businya, dan mencoba menyalakan motornya kembali. Percobaan pertama, motor menyala beberapa saat, namun langsung mati kembali. Saya pikir, mungkin businya masih belum kering betul: saya keringkan businya lagi dan coba nyalakan motornya kembali. Akhirnya, motornya menyala kembali setelah dua kali percobaan: kita memberi kabar sahabat yang lain bahwa motornya sudah menyala, dan kita langsung pulang ke kontrakan.

Cerita tadi dapat menggambarkan bagaimana analisis regresif berlangsung. Kita punya masalah pertama: motor tidak dapat menyala. Kita berjalan mundur untuk menemukan masalah mendasar dari masalah pertama tersebut melalui prinsip-prinsip dan mekanisme yang kita ketahui. Mulai dari mengecek bensin, lalu menghubungkannya dengan prinsip pembakaran mesin hingga relasinya dengan kondisi hujan dan fakta bahwa diengkol manual masih tidak dapat menyala, ditemukan bahwa masalah mendasarnya di kasus ini terletak pada busi.

Hal tersebut juga analogis dengan bagaimana seorang dokter mewawancarai pasiennya. Masalah pertama tentu adalah sang pasien sakit. Lalu, sang dokter mencari informasi dengan mewawancarai dan mengecek pasien terkait hal-hal yang berhubungan/berelasi dengan sakitnya seperti: sakitnya di bagian mana, rasa sakitnya seperti apa, dan sebelumnya melakukan apa atau mengonsumsi apa. Dari berbagai informasi tersebut, sang dokter dapat merumuskan diagnosis terkait masalah mendasar dari sakitnya pasien sehingga kemudian sang dokter dapat melakukan penanganan untuk menyembuhkan pasien. Seorang dokter harus pandai menganalisis, kecuali dokternya cenayang yang langsung tahu penyebab sakit tanpa perlu informasi lebih lanjut tentang pasien dan sakitnya; itu dokter atau dukun?

Metode analisis regresif menuntut kita untuk berhenti sejenak untuk mencari tahu asal muasal sesuatu. Dalam metode regresif, kita dituntut untuk tidak sekadar menerima begitu saja suatu hal yang terjadi. Kita perlu mencari hal mendasar dari proses dan tahapan terjadinya sesuatu agar kita dapat memahami suatu hal secara utuh.

Analisis Transformatif

Ciri khas analisis transformatif adalah memperlihatkan bagaimana suatu hal yang dianalisis berperilaku (behaves) dan bertransformasi dalam sistem atau kerangka tertentu. Proses analisisnya memerlukan interpretasi atas hal yang dianalisis ke dalam sistemnya terlebih dahulu dan kemudian memperlihatkan bagaimana hal tersebut bertransformasi lebih lanjut di dalam sistem yang ditentukan dan akhirnya melakukan interpretasi kembali atas hasil transformasinya (Beaney dan Raysmith, 2024). Penilaian, transformasi, dan interpretasi dapat berhenti pada titik tertentu yang dinilai memuaskan atau tidak memuaskan oleh si penganalisis. 

Secara abstrak, sebagai contoh, kita menganalisis $X$ melalui sistem atau kerangka $Y$, berarti kita menginterpretasikan $X$ ke dalam sistem $Y$ dan kemudian memperlihatkan bagaimana hal tersebut bertransformasi dalam sistem $Y$ semisal menjadi $Z$, dan akhirnya kita menginterpretasikan $Z$ ke luar sistem $Y$ serta melihat kembali hubungannya terhadap $X$. Semisal hasil interpretasi atas $Z$ dinilai memuaskan, maka analisis dikatakan “cukup” bahwa $X$ terjelaskan menjadi $Z$ dalam sistem $Y$; sementara jika tidak, maka terdapat problem yang dapat diangkat perihal $X$ atau bahkan perihal $Y$: entah kemudian akan dilakukan reinterpretasi atas $X$ atau $Z$, atau justru mengotak-atik $Y$.

Visualisasi abstrak analisis transformatif

Contoh, seorang guru berkata pada murid-muridnya, โ€Kalian lulus ujian hanya jika kalian belajar dengan rajin sehingga kalian memahami soal dan kalian mampu menjawab soal dengan tepat.โ€ Proses analisis transformatif atas pernyataan tersebut memerlukan sebuah kerangka untuk menginterpretasikan pernyataan guru tersebut. Agar mudah, ambil saja kerangka logika klasik.

โ€œ$P$ hanya jika $Q$โ€ dan โ€œ$P$ sehingga $Q$โ€ diinterpretasikan menjadi โ€œJika $P$, maka $Q$โ€ yakni โ€œ$P \rightarrow Q$โ€ dalam logika klasik. Sementara itu, โ€œ$P$ dan $Q$โ€ diinterpretasikan menjadi โ€œ$P \land Q$โ€. Dengan demikian, pernyataan guru tersebut kita interpretasikan sebagai berikut:

$A$: Kalian lulus ujian.

$B$: Kalian belajar dengan rajin.

$C$: Kalian memahami soal. 

$D$: Kalian mampu menjawab soal dengan tepat.

Maka dari itu, pernyataan guru tersebut dalam logika klasik adalah:

$A \rightarrow (B \rightarrow (C \land D))$

Dalam logika klasik, pernyataan tersebut bertransformasi menjadi:

$(B \land (\neg C \lor \neg D)) \rightarrow \neg A$

Berikut adalah pembuktiannya:

1$A \rightarrow (B \rightarrow (C \land D))$[Premis]
2$\neg(B \rightarrow (C \land D)) \rightarrow \neg A$[Kontraposisi dari (1)]
3$(B \land \neg (C \land D)) \rightarrow \neg A$[Negasi Implikasi Material di sisi anteseden dari (2)]
4$(B \land (\neg C \lor \neg D)) \rightarrow \neg A$[De Morgan di sisi anteseden dari (3)]

Kita interpretasikan kembali hasil transformasi tersebut keluar dari kerangka logika klasik menjadi:

โ€œJika kalian belajar dengan rajin dan (akan tetapi) kalian tidak memahami soal atau (maupun) kalian tidak mampu menjawab soal dengan tepat, maka kalian tidak lulus ujian.โ€

Dengan kata lain, sang guru hendak mengatakan bahwa belajar yang rajin saja tidaklah cukup sebab apabila kalian (murid-murid) tidak memahami soal atau tidak mampu menjawab soal dengan tepat, maka konsekuensinya kalian tetap saja tidak lulus. Hasil transformasi ini menjelaskan apa yang sebelumnya mungkin tidak terpahami dengan jelas dari pernyataan pertama sang guru: sehingga, pernyataan sang guru terjelaskan menjadi hasil transformasi ini.

Ini hanyalah satu contoh sederhana saja. Banyak contoh lain yang mungkin lebih abstrak dan kompleks. Misal seorang ilmuwan menganalisis sebuah fenomena dari kerangka teori tertentu, itu juga merupakan analisis transformatif. Ingat, bukan berarti hasil transformasi itu selalu dan harus benar, namun ia sekadar benar dalam kerangka teori yang digunakan sejauh proses transformasinya juga tepat. Bisa jadi hasil transformasinya tidak dapat diterima sehingga banyak yang dapat kita pertanyakan dan eksplorasi: antara observasi kita yang keliru sehingga kita perlu observasi atau klarifikasi kembali, interpretasi kita yang keliru sehingga kita perlu melakukan interpretasi ulang, atau kerangka kita yang keliru sehingga kita perlu memakai kerangka lain.

Bagaimanapun, metode analisis transformatif menuntut kita untuk tidak gegabah dalam menerima sesuatu. Metode analisis transformatif menuntut kita untuk berhenti sejenak dalam mempertimbangkan bagaimana suatu hal dapat dipahami atau terjelaskan. Ini berarti kita perlu berhati-hati dalam melakukan interpretasi, dan kita perlu mendetailkan kerangka yang digunakan: jangan memaknai sesuatu secara sembarangan dan membawa jauh sesuatu secara serampangan (semisal, โ€œcogito ergo sumโ€ diinterpretasikan sebagai โ€œaku berpikir maka aku berada (dalam arti orang berada/berharta/kaya); ya ini jelas ngawur jika bukan sekadar bercanda).

Analisis Konektif

Ciri khas analisis konektif adalah memperlihatkan bagaimana suatu hal secara holistik berkaitan dengan hal lain: entah ternyata hal yang dianalisis memiliki susunan yang mirip, prinsip dasar yang mirip, atau transformasi yang mirip dengan hal lain. Dengan kata lain, analisis konektif menjembatani analisis-analisis sebelumnya dan memperlihatkan bagaimana hal tersebut berkaitan satu sama lain (Beaney dan Raysmith, 2024). 

Upaya dari analisis konektif tidak sekadar mencari penjelasan eksplanatoris atas suatu hal, namun juga mencari penjelasan elusidatoris, yakni mencari insight atau pencerahan terkait suatu hal dalam konteks yang lebih besar dalam hubungannya dengan hal lain.  Secara abstrak, sebagai contoh, kita menganalisis $X$ secara konektif dengan $Y$, berarti kita hendak menjelaskan keterkaitan $X$ dengan $Y$, misalnya perihal susunannya, prinsip dasarnya, maupun transformasinya, sehingga ditemukan insight atau pencerahan terkait $X$ (dan juga $Y$) dalam konteks yang lebih besar.

Visualisasi abstrak analisis konektif

Untuk mempermudah pemahaman, mari kita gunakan contoh jaring-jaring makanan dalam ekosistem untuk menjelaskan analisis konektif ini. Jaring-jaring makanan menunjukkan bagaimana organisme yang berbeda dalam ekosistem terhubung melalui apa yang mereka makan dan apa yang memakan mereka. Misalnya, kita hendak menganalisis jaring-jaring makanan ekosistem hutan.

Kita mulai dari satu organisme: misal, seekor kelinci. Kelinci memakan rumput dan dimakan oleh hewan lain, misalnya rubah. Kita mengetahui relasinya: di satu sisi, kelinci terhubung dengan rumput karena bergantung pada rumput untuk dimakan, dan sementara lain kelinci juga terhubung dengan rubah karena menjadi makanan bagi rubah. Dengan demikian, transformasi  populasi kelinci tentu berefek pada rumput dan rubah: lebih banyak kelinci berarti lebih sedikit rumput dan lebih sedikit kelinci berarti lebih sedikit makanan untuk rubah.

Sekarang, kita perluas ke sistem yang lebih luas. Kita tahu bahwa rumput juga dimakan oleh hewan lain, seperti rusa. Dengan demikian, terdapat hubungan antara kelinci dan rusa yakni sama-sama hewan herbivor; dan mungkin mereka memiliki komposisi dan tipe pencernaan yang mirip sehingga mereka sama-sama memakan rumput. Selain itu, rusa dimakan oleh harimau; sehingga rubah memiliki relasi dengan harimau, yakni sama-sama memakan hewan lain, yakni predator. Tentu, transformasi terhadap populasi rusa juga berefek pada harimau, bahkan juga berefek pada kelinci dan rubah. 

Perhatikan bahwa perubahan di satu bagian jaring-jaring makanan dapat berdampak pada keseluruhan ekosistem, yakni mempengaruhi rumput, rubah, rusa, harimau, dan bahkan hewan lain. Misalnya, perburuan harimau sedang trendi sehingga populasi harimau berkurang. Efeknya, karena predator rusa berkurang, maka populasi rusa dapat bertambah. Bertambahnya populasi rusa, dapat berefek pada rumput yang semakin sedikit. Hal tersebut kemudian dapat berefek pada kelinci yang kemudian berkurang jumlahnya sebab jumlah makanannya berkurang. Karena jumlah kelinci berkurang, jumlah rubah dapat berkurang atau mungkin rubah akan lebih sering untuk menangkap dan memakan hewan lain, seperti tikus. Hal tersebut berarti rubah mungkin menjadi pesaing ular sehingga akan dapat berdampak pada populasi ular, yang kemudian juga dapat berdampak pada elang, dan seterusnya.

Sekarang, pahami keseluruhannya. Dengan menggunakan analisis konektif ini, kita melihat bahwa ekosistem hutan adalah jaringan hubungan yang saling bergantung. Tidak ada organisme yang hidup dalam isolasi; setiap organisme memainkan peran dalam keseimbangan sistem secara keseluruhan. Inilah analisis konektif: alih-alih sekadar memecah ekosistem menjadi bagian-bagian individual seperti analisis dekomposisional, kita fokus pada bagaimana bagian-bagian itu terhubung dan saling mempengaruhi dalam sistem yang lebih besar.

Metode analisis konektif menuntut kita untuk berhenti sejenak dan melihat gambaran besarnya. Kita seringkali terlalu sibuk dengan hal-hal detail sehingga lupa akan gambaran besar dari apa yang dianalisis dan dilakukan. Dengan melihat gambaran besar, kita tentu memperkecil kemungkinan kita untuk tersesat dalam detail-detail yang sebenarnya tidak relevan: seperti terlalu sibuk menganalisis pergerakan mekanika kuantum dari partikel subatomik di dalam sel tubuh kelinci padahal yang hendak dianalisis itu perihal ekosistem hutan. Sebaliknya, analisis konektif yang terlalu luas pun juga bermasalah: semisal menganalisis ihwal ekosistem hutan yang mungkin terkait dengan gravitasi bumi akan tetapi juga dikaitkan dengan kemungkinan hubungannya dengan gravitasi planet di andromeda hanya karena sama-sama ada hubungannya dengan konsep gravitasi. Sehingga, secara sederhana, analisis itu sendiri juga tentang mencari titik optimal dari proses analisis.

Keempat kategori/konsepsi analisis di atas tidak dapat dilihat sebagai suatu hal yang terpisah secara mutlak melainkan pada praktiknya mereka seringkali hadir berbarengan menjadi satu kesatuan utuh dalam proses analisis. Bisa dikatakan bahwa keempat kategori tersebut menyusun apa yang dimaksud dengan metode analisis, bisa pula keempat hal tersebut dianggap sebagai ihwal dan prinsip mendasar dari metode analisis, atau keempat hal tersebut bisa saja merupakan hasil transformasi metode analisis dalam sebuah sistem atau kerangka berpikir tertentu. Bahkan, keempat kategori ini bisa saja sebenarnya memiliki kaitan dengan metode lain dalam konteks yang lebih besar. Akan tetapi, saya akan berhenti di sini agar penjelasan umum ini tidak menjadi terlalu โ€œmetaโ€ seakan kita menganalisis tentang analisis itu sendiri lebih โ€œmendalamโ€.

Bagaimanapun, jangan membatasi diri bahwa analisis itu hanyalah keempat kategori tersebut. Mungkin saja terdapat kategori umum lain yang belum ditemukan atau dieksplorasi. Anggap saja keempat kategori umum ini sebagai kategori yang memang umum, yakni sekadar menjadi acuan awal bagi kita untuk memahami apa itu metode analisis selayang pandang. Terlebih, pada praktiknya, metode analisis sendiri memiliki berbagai macam tipe yang saarat akan objek yang dianalisis: analisis logis, analisis psikologis, analisis finansial, analisis konseptual, analisis linguistik, analisis matematis, analisis gembel (anabel), dan lain sebagainya.

Lagi pula seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, kata โ€œanalisisโ€ itu sendiri tidak hanya satu-satunya term yang merujuk pada apa yang dimaksud sebagai metode atau proses analisis. Dalam sejarah filsafat sendiri, terdapat berbagai macam term dan praktik yang analogis dengan metode analisis meski terdapat perbedaan nuansa dan terminologi. Memahami keragaman praktik metode analisis justru memperkaya pemahaman kita akan apa itu โ€œanalisisโ€ dan bagaimana ia berkaitan dengan hal lain dalam konteks yang mungkin berbeda.

Jadi, Apa itu Analisis?

Analisis adalah metode filosofis yang mendasar, dan, bagi saya, cukup serbaguna. Analisis digunakan dalam berbagai cara sepanjang sejarah dan budaya. Analisis melibatkan pemecahan, rekonstruksi, atau penghubungan gagasan-gagasan untuk mengungkap prinsip-prinsip dasar, struktur logis, atau konteks yang lebih luas. Analisis tidak terbatas pada satu pendekatan; ia mencakup berbagai konsepsi seperti dekomposisional (memecah menjadi bagian-bagian), regresif (menelusuri kembali ke prinsip mendasar), transformatif (menerjemahkan ke dalam kerangka tertentu), dan konektif (memahami hubungannya dengan konteks yang lebih luas).

Metode analisis telah berkembang dan bervariasi di berbagai budaya, dari filsafat kuno hingga modern, dan terus beradaptasi dalam disiplin ilmu seperti matematika, linguistik, dan psikologi. Meskipun terminologi dan pendekatannya berbeda, inti dari analisis tetap sama: memahami kompleksitas melalui pemecahan atau penghubungan. Analisis juga bersifat dinamis, berevolusi melalui kritik dan inovasi, yang menjadikannya alat yang tetap relevan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan.

Hal yang paling penting, analisis mencerminkan kapasitas manusia dalam berpikir dan memecahkan masalah. Dengan mempelajari berbagai bentuk analisis, bahkan mungkin dari budaya dan disiplin yang berbeda, kita tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang metode ini tetapi juga menghargai keragaman cara berpikir manusia. Analisis, dalam setiap bentuknya, tetap menjadi alat yang kuat untuk menjelajahi dan memahami dunia. Jika disaripatikan, analisis itu adalah kehati-hatian berpikir dan juga tentang โ€œberhenti sejenakโ€: stop (ฬถiฬถtฬถ, gฬถeฬถtฬถ sฬถoฬถmฬถeฬถ hฬถeฬถlฬถpฬถ) and think about it again. Akhir kata:

…only by analysing is progress possible.

(Russell, 2023: 4)

Catatan penutup: saya berterima kasih kepada Anas Al Masyhudi yang telah mentraktir saya โ€œkopiโ€ di Saweria. Artikel ini merupakan bentuk terima kasih saya: saya akan membuat artikel rangkuman-penjelasan populer tentang metode-metode analisis dan mungkin sejarah filsafat analitik untuk selanjutnya. Teman-teman dapat mentraktir saya โ€œkopiโ€ di https://saweria.co/mqahnaf: saya akan buatkan artikel khusus semampu saya sesuai permintaan kalian. 


Referensi

Beaney, Michael, dan Raysmith, Thomas, 2024, “Analysis”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi musim gugur), Edward N. Zalta & Uri Nodelman (eds.).
<https://plato.stanford.edu/archives/fall2024/entries/analysis/>

Beaney, Michael, 2017, Analytic Philosophy: A Very Short Introduction, Oxford: Oxford University Press.

Beaney, Michael, (ed.), 2013, The Oxford Handbook of the History of Analytic Philosophy, Oxford: Oxford University Press.

Russell, Bertrand, 2023, My Philosophical Development, London and New York: Routledge Classics.

Strawson, P. F., 1992, Analysis and Metaphysics: An Introduction to Philosophy, Oxford: Oxford University Press.

Muhammad Qatrunnada Ahnaf
Muhammad Qatrunnada Ahnaf
Magister Filsafat yang memiliki minat riset dalam bidang logika, metafisika, dan filsafat ilmu. Selain filsafat, juga tertarik dengan ekonomi, investasi, dan trading: telah memantau pergerakan pasar secara otodidak dan kuantitatif-logis sejak 2018.

Bacaan Lainnya