Perdebatan tentang Object-Oriented Ontology (OOO) dan flat ontology tidak seharusnya dipahami sebagai soal selera intelektual. Taruhannya lebih mendasar, yakni bagaimana menentukan batas rasional bagi komitmen ontologis. Kapan sebuah ontologi memang memerlukan kekayaan entitas untuk menjelaskan fenomena, dan kapan ia berubah menjadi penambahan daftar yang tidak produktif? Ukuran yang relevan di sini bukan jumlah entitas, melainkan koherensi dan daya penjelasnya. Bertolak dari situ, dua sikap ekstrem sama-sama bermasalah: ontologi yang menumpuk entitas tanpa fungsi penjelasan, dan ontologi yang terlalu disederhanakan hingga miskin sumber konseptual.
Dalam konteks Indonesia, perdebatan semacam ini kerap terjebak dalam dua sikap ekstrem: mengagungkan konsep kontinental sebagai penanda kecanggihan atau menolaknya sebagai pseudosains. Tulisan ini berusaha menghindari keduanya. Saya tidak menulis sebagai penganut OOO, melainkan memperlakukan OOO sebagai seperangkat alat analitis yang berguna untuk membaca realitas non-manusia, teknologi, dan ekologi—sekaligus terbuka terhadap kritik. Saya juga mengakui pentingnya disiplin Quine mengenai komitmen ontologis agar metafisika tidak kehilangan standar rasional. Namun, ketika dijadikan satu-satunya horizon, pendekatan tersebut berisiko terlalu membatasi, dan pada titik inilah tradisi kontinental kerap menyediakan sumber konseptual yang tidak dapat digantikan oleh penghematan inventaris semata.
Dalam dua tulisannya, Risalatul Hukmi mengajukan peringatan metodologis yang patut dipertimbangkan. Intinya, OOO dicurigai mewarisi kemurahan ontologis ala Meinong, sehingga apa pun yang dapat dipikirkan atau dinamai otomatis diperlakukan sebagai entitas. Konsekuensinya, daftar entitas membengkak tanpa kontribusi eksplanatoris yang jelas. OOO juga dianggap gagal melampaui problem Kantian: jika realitas “pada dirinya” tidak terakses, maka konsep withdrawal (objek menarik diri) tampak hanya mengulang kutukan itu—bahkan dengan versi yang lebih buruk. Selain itu, perangkat seperti quadruple object dan klaim kausalitas OOO kerap tampak retoris, sukar diuji, dan karenanya perlu dibatasi oleh prinsip parsimoni. Dalam hal ini, saya sepakat pada tuntutan “tanggung jawab metafisik”, namun tidak dengan kesimpulan bahwa OOO gagal memenuhinya.
Persis dalam konteks inilah saya akan mengajukan tesis tanggapan. Keberatan Hukmi tepat sebagai peringatan, karena ia menekankan bahwa “kaya ontologi” tidak otomatis berarti “kaya penjelasan.” Namun, ia keliru sebagai diagnosis terhadap OOO setidaknya karena dua hal. Pertama, analogi Meinong itu paralel OOO terlalu terburu-buru. Sebab, OOO tidak beroperasi dengan prinsip “setiap deskripsi melahirkan objek”, dan banyak yang tampak seperti “inflasi entitas” sebenarnya adalah cara OOO menata ulang perbedaan antara jenis-jenis keberadaan dengan cara-cara hadirnya sesuatu. Kedua, parsimoni yang digunakan untuk menilai OOO perlu dibaca sebagai efisiensi penjelasan, bukan sekadar pengurangan inventaris. Apabila yang kita ukur hanya jumlah entitas, kita bisa menyelesaikan diskusi dengan cara paling mudah: menyatakan dunia ini miskin.
Namun, dunia—sayangnya bagi para pecinta kesederhanaan—sering tidak kooperatif dengan sikap tersebut. Berdasarkan itu, saya akan mengembangkan dua argumen: (1) menunjukkan apa bedanya OOO dari kemurahan Meinongian, dan (2) menunjukkan kegunaan OOO sebagai tata bahasa metafisik untuk agensi non-manusia, mediasi kausal, dan skala ekologis yang tidak ramah terhadap intuisi reduksionistik manusia.
Parsimoni dan Komitmen Ontologis
Agar diskusi ini tidak jatuh menjadi moralizing (mubazir!), kita perlu menggeser medannya ke persoalan metodologi. Prinsip Quine tentang komitmen ontologis memang sangat membantu: pertanyaan “apa yang harus ada agar teori benar?” adalah pertanyaan yang sehat karena memaksa metafisika menunjukkan kartu-kartu rasionalnya. Akan tetapi, prinsip demikian sering disalahpahami sebagai etika asketis, seakan-akan metafisika yang baik adalah metafisika yang hidup hemat dan makan sedikit entitas. Padahal, apa yang dituntut Quine bukan puasa ontologis, melainkan alasan teoretis, yaitu entitas apa yang diperlukan agar sebuah teori bekerja dalam menjelaskan fenomena.
Sampai di sini, saya perlu mengingatkan pentingnya membedakan dua hal: membahas sesuatu (secara semantik, naratif, atau pragmatik) tidak sama dengan berkomitmen pada keberadaannya dalam ontologi. Quine sangat berguna dalam proyek regimentasi bahasa ilmiah, namun ia tidak otomatis menjadi hakim tunggal untuk seluruh metafisika, terutama ketika objek perdebatan mencakup artefak, institusi, teknologi, estetika, dan pengalaman ekologis yang nyata secara kausal meski tidak selalu pas dengan model bahasa ilmiah yang disterilkan.
Pada titik ini, saya kira kita perlu merapikan istilah parsimoni itu sendiri, karena ia sering dipakai seperti palu godam untuk semua paku. Ada parsimoni numerik: sedikit entitas lebih baik daripada banyak entitas. Ini berguna sebagai rem terhadap mitologi—tetapi bisa menjadi dangkal bila dijadikan satu-satunya standar filosofis. Ada juga parsimoni teoretis: sedikit prinsip dasar, jangkauan penjelasan luas, dan minim tambalan ad hoc. Kerap kali, teori yang tampak “gemuk” secara ontologi justru hemat secara prinsip; sebaliknya, teori yang tampak “kurus” bisa menyelundupkan banyak asumsi terselubung. Dengan demikian, debat ini akan buntu ketika parsimoni dipersempit menjadi slogan “sedikit entitas sama dengan lebih rasional”. Menurut saya, apa yang lebih relevan adalah rasio beban komitmen terhadap daya eksplanatif. Teori boleh kompleks bila kompleksitas itu bekerja. Itu artinya, yang mubazir bukanlah kekayaan, melainkan surplus yang tidak melakukan pekerjaan penjelasan apa pun.
Mengapa Meinong tidak sama dengan OOO?
Meinong bergerak dari describability menuju “objek”: ketika sesuatu bisa dipikirkan atau dideskripsikan, maka—kurang lebih—ada “sesuatu” yang menjadi objeknya. OOO, setidaknya dalam formulasi yang paling serius, bergerak dari arah yang berlawanan, yaitu dari kosmos menuju tata bahasa yang lebih jujur, bukan sebaliknya. Objek tidak lahir karena kita punya kata benda atau karena kalimat kita membutuhkan subjek. Kontras dengan itu, objek ditandai oleh ketahanan dan kesatuan—ia adalah unit yang tidak habis oleh relasi. Sehubungan dengan ini, rumus praktis Harman saya kira akan cukup membantu, bahwa sebuah objek lebih dari bagian-bagiannya dan kurang dari total efeknya. Dengan kata lain, OOO tidak mengajak kita mengadakan “bonus entitas” demi kenyamanan gramatika. Sebaliknya, ia justru curiga pada kebiasaan reifikasi semantik itu.
Di titik inilah kekhawatiran Russell tentang kontradiksi sering diseret masuk dengan cara yang terlalu serampangan: “apabila anda mengakui objek apa pun, berarti kalian juga harus mengakui persegi bundar, dan itu intolerable.” Tapi, OOO tidak harus bermain di papan yang sama dengan Meinong. Dalam OOO, ada pembedaan penting—meski bentuknya bervariasi antar para penggagasnya—antara objek sebagai artefak representasi (yang hidup di ranah intensi, bahasa, narasi, atau konsep) dan objek-riil yang punya koherensi kausal. “Persegi bundar” bisa hidup dengan damai sebagai konstruksi dalam sistem representasi—sebagai teka-teki logika, gambar absurd, atau lelucon metafisika—tanpa harus naik pangkat menjadi real object yang berdiri dengan daya kausal mandiri di alam. Kontradiksi tetaplah kontradiksi. Sementara itu, apa yang kita jelaskan adalah di mana kontradiksi itu beroperasi, yakni di dalam mekanisme representasi kita, bukan sebagai entitas riil yang mengacak-acak hukum non-kontradiksi dari dalam.
Hal yang sama juga berlaku untuk fiksi, tetapi dengan keuntungan tambahan: fiksi tidak hanya merupakan permainan bahasa—ia punya efek, dan efek itu nyata. Kita tidak perlu mengakui Sherlock Holmes sebagai entitas subsisten ala Meinong agar kalimat-kalimat tentang Holmes bermakna. OOO sanggup membaca Holmes sebagai objek-sensual yang stabil dalam praktik interpretasi—figur yang “hadir” dalam pengalaman membaca, diskusi, dan imajinasi kolektif. Pada saat yang sama, OOO juga bisa menunjuk objek yang lebih keras dan kausal: korpus teks Conan Doyle, institusi penerbitan, tradisi kritik sastra, adaptasi film, bahkan algoritma rekomendasi yang membuat Holmes muncul di beranda kita. Semuanya merupakan artefak budaya yang jelas bekerja di dunia nyata. Jadi, makna dan efek fiksi bisa dijelaskan tanpa perlu menambah “makhluk metafisik baru.” Dalam ungkapan lain, apa yang ditambahkan OOO bukan populasi entitas gaib, melainkan ketelitian dalam menamai apa yang sebenarnya sudah beroperasi.
Pada titik ini, sering muncul salah paham yang kedua: “ontologi datar berarti semua setara dalam nilai, daya, atau skala.” Kesalahpahaman itu lantas mengubah ontologu menjadi pamflet moral, lalu menghukum OOO karena tidak memenuhi pamflet itu. Padahal “datar” di sini bukan klaim etis bahwa batu harus dipilih jadi Gubernur, atau bahwa tuyul harus diberi hak suara (kendatipun imajinasi tentang ini menghibur). “Datar” berarti sesuatu yang lebih teknis, yaitu menolak privilese ontologis a priori bagi manusia sebagai pusat realitas (subject oriented ontology). Setelah privilese itu dipangkas, perbedaan justru bisa dibahas secara lebih jernih: ada objek yang rapuh dan sebentar, ada yang tahan lama dan menyebar; ada yang daya kausalnya besar, ada yang kecil; ada yang bisa dihancurkan dengan palu, ada yang perlu kebijakan global. Status ontologis tidak sama dengan bobot normatif. Hemat kata, OOO memotong antroposentrisme, bukan memotong evaluasi epistemik.
Apabila hutan liar Meinongian lahir dari reifikasi deskripsi—bahwa setiap bentuk kebahasaan otomatis melahirkan entitas—maka OOO justru berusaha menahan reifikasi semacam itu. Ia tidak mengundang semua kata benda ke dalam party ontologi. Kontrasn dengan itu, ia justru mengingatkan bahwa yang kita sebut “objek” mesti dipahami sebagai sesuatu yang tidak habis oleh reduksi dan tidak habis oleh relasi. Jadi OOO bukan ontologi kemurahan hati yang sentimental, melainkan ontologi “ketakterhabisan” dan “mediasi”; suatu ontologi yang mengakui bahwa dunia penuh entitas yang berinteraksi tanpa pernah saling menelanjangi esensinya. Dan, di sini kita tiba pada isu Immanuel Kant: apakah “ketakterhabisan” itu hanya cara lain untuk berkata “kita tidak bisa mengakses yang an-sich”?
Kant, Korelasionisme, dan Withdrawal
Salah satu poin terpenting dari proyek kritik Kant adalah menguji batas-batas pengetahuan bagi subjek manusia. Baginya, kita hanya dapat mengenal fenomena, bukan noumena. Sementara itu, dunia “pada dirinya” (das ding an sich) berada di luar jangkauan struktur epistemik kita. OOO menggeser pusat demikian dengan langkah yang, ironisnya, lebih anti-antroposentris: ketakterjangkauan tidak terbatas pada nasib manusia semata, melainkan struktur relasi dunia. Setiap relasi—bukan hanya relasi manusia dengan benda, tetapi juga relasi benda dengan benda—selalu parsial. Oleh karenanya, OOO berkata “realitas tidak pernah habis diketahui—oleh siapa pun, termasuk oleh objek lain.” Di sini, saya ingin mengeksplisitkan bahwa withdrawal adalah pembalikan fokus, bukan pengulangan terhadap Kant. Maksudnya, apa yang menjadi pusat adalah “ketakterhabisan objek”, bukan “batas kita”. Itulah sebabnya mengapa OOO merasa berhak berbicara tentang dunia tanpa harus selalu mengawalinya dari tribunal subjek.
Taruhan metafisik dari withdrawal adalah dua penolakan sekaligus. Pertama, penolakan reduksionisme, bahwa objek tidak identik dengan bagian-bagiannya, entah bagian itu atom fisik, fitur fungsional, atau variabel ilmiah. Kedua, penolakan relasionalisme total, bahwa objek tidak identik dengan total efeknya, total relasinya, atau total cara ia tampak dalam jaringan. Rumus “lebih dari bagian, kurang dari total efek” kembali bekerja di sini. Dalam konteks itu, ide kausalitas yang termediasi—yang sering disindir “tak teruji”—sebetulnya muncul sebagai deskripsi umum. Bahwa, sebab-akibat di dunia hampir selalu bekerja lewat medium, lewat perantara, lewat terjemahan. Api tidak menyentuh kayu sebagai esensi telanjang; ia bekerja melalui suhu, kelembapan, struktur serat, aliran oksigen—dan seterusnya. Kalau itu “tak teruji”, maka yang tak teruji adalah kenyataan sehari-hari kita sendiri. Pendek kata, apa yang dipersoalkan semestinya terkait bagaimana mediasi itu dipahami tanpa jatuh ke mitologi atau ke reduksi.
Dari Akrobatik ke Tata Bahasa Metafisik
Bertolak dari eksposisi di atas, tuduhan Hukmi bahwa OOO itu “akrobatik” perlu diuji melalui output penjelasan. Mari kita ambil contoh awal Harman melalui Heidegger, yakni tool-being. Benda dan sistem teknis itu paling menentukan justru ketika ia tidak hadir sebagai objek kontemplasi; ia surut dalam praktik. Palu yang bekerja menghilang dalam tangan; jalan tol yang lancar menghilang dalam rutinitas; birokrasi yang “normal” menghilang dalam prosedur; platform digital yang stabil menghilang dalam kebiasaan scroll. Ia muncul sebagai “objek” justru ketika macet: saat palu patah, jalan banjir, server down, atau aturan berubah dan kita baru sadar kita selama ini hidup di dalam sistem. Poin krusial yang mesti saya tegaskan adalah bahwa premis ini bukanlah pernyataan mistik. Sebaliknya, ia merupakan fenomenologi yang diberi bobot ontologis, di mana terdapat mode keberadaan yang tidak setara dengan “hadir di depan mata sebagai daftar sifat.” Dari sini pula, kita mengerti mengapa banyak struktur paling berkuasa justru beroperasi sebagai latar yang tidak kita sadari.
Levi Bryant menambah satu perangkat yang membuat OOO lebih dari sekadar slogan, yaitu pembedaan antara virtual proper being dan local manifestation. Sederhananya, objek memiliki kedalaman disposisional (struktur daya, potensi, cara-cara ia bisa bereaksi) yang tidak identik dengan, dan tidak terbatas dalam, manifestasi aktualnya di satu situasi. Karena itu, satu objek dapat menampilkan sifat yang berbeda lintas konteks tanpa harus larut menjadi sekadar efek relasi. Penegasan ini memberi kita objektivitas tanpa esensi beku, bahwa sesuatu itu stabil sekaligus adaptif. Secara ilmiah, ia sejalan dengan cara kita memahami sistem kompleks (dari bahan kimia sampai organisme): perilaku aktual tergantung kondisi, tetapi ketergantungan itu tidak membuat entitas menjadi ilusi. Secara sosial-teknologis pun sama: institusi “yang sama” bisa memproduksi manifestasi berbeda ketika regulasi, teknologi, atau insentif berubah—tanpa harus kita simpulkan bahwa institusi itu hanya nama kosong.
Selanjutnya, Morton datang dengan uji stres ekologis yang membuat banyak ontologi tradisional tampak seperti peta kota untuk membaca samudra, melalui konsep hyperobjects. Pemanasan global, plastik, radiasi nuklir, bahkan kapitalisme fosil sama sekali bukanlah benda yang bisa kita pegang sebagai satu unit lokal; ia nonlokal, lengket, dan berdurasi ganjil—hadir sebagai jejak yang tersebar dalam ruang-waktu. Morton menyebut ciri-cirinya sebagai viscosity, nonlocality, temporal undulation, phasing, interobjectivity. Pada intinya, objek-objek ini membunuh kenyamanan konsep “Nature” sebagai latar yang rapi, dan memaksa kita mengakui agensi non-manusia pada skala yang tidak ramah bagi intuisi kita. Tatkala ontologi dibatasi pada kuantifikasi “apa yang ada” ala katalog, kita akan terus terjebak pada pertanyaan yang terlalu kecil untuk objek yang terlalu besar. OOO (dan ekstensinya pada hyperobjects) memberi kosakata untuk mengatakan bahwa kitalah yang kekurangan ontologi yang memadai untuk skala dan mediasi yang sedang kita hidupi.
Catatan Penutup
Saya harus mengakui bahwa OOO memang tampak “gemuk” bila ukuran yang dipakai adalah timbangan sensus: berapa banyak objek yang berhasil kita daftarkan, dari planet sampai playlist, dari bakteri sampai “tim sepak bola” (yang entah bagaimana bisa lebih real daripada sebagian debat di Twitter). Namun, “gemuk” di sini bisa menipu karena yang perlu dinilai itu efisiensi prinsip, bukan jumlah entitas. Beberapa tesis dasar—withdrawal, mediasi kausal, anti-reduksi—membuka cara membaca lintas teknologi, seni, dan ekologi tanpa menambah entitas ad hoc untuk menambal lubang bukti. Tentu saja, hal tersebut berada di kelas yang berbeda dengan penjelasan “bangunan roboh karena jin marah” atau “karena Tuhan menghendaki”—yang memasukkan agen gaib justru untuk mematikan penyelidikan. OOO tidak mengajukan jin baru; ia menawarkan kerangka untuk memahami entitas yang sudah kita hadapi sehari-hari, tetapi selama ini kita perlakukan sebagai latar. Parsimoni yang sehat, bagi saya, adalah yang menolak surplus yang tidak bekerja, bukan yang menolak kompleksitas.
Hal penting yang harus saya eksplisitkan di sini adalah bahwa membela reliabilitas OOO bukan berarti menutup mata dan lalu bergabung dalam ordo rahasia para pemuja palu, meja, dan withdrawal. OOO punya risiko internal yang nyata. Pertama, ia kadang tergoda menjadikan metafor sebagai tesis: “menarik diri”, “gelap”, “berkedip”. Saya sadar bahwa bahasa semacam ini memang produktif. Betapapun demikian, ia tidak boleh menggantikan struktur inferensial yang ketat. Di sini, kita perlu distingsi yang jelas dan tegas terhadap deskripsi fenomenologis (cara sesuatu tampak dalam pengalaman atau praktik) dari klaim metafisik (cara sesuatu ada, terlepas dari pengalaman). Kedua, withdrawal tidak boleh jadi sapu serbaguna: tidak semua problem filosofis selesai dengan kalimat “objek selalu menarik diri” seperti mantra penutup sidang. Dan karena Harman, Bryant, Morton punya aksen berbeda, saya ingin kita semua bersikap jujur untuk memperlakukan OOO sebagai keluarga alat—bukan “teori final segala-galanya” yang kebal revisi.
Sampai di sini, dua hal tampaknya sudah cukup jelas. Pertama, OOO bukan Meinongianisme versi baru yang memproduksi entitas dari gramatika; ia justru curiga pada reifikasi semantik dan lebih tertarik pada ketahanan objek yang tidak akan pernah habis oleh reduksi maupun relasi. Kedua, OOO tidak mengulang Kant dalam mode baru, mengingat bahwa “yang tak habis” bukan hanya batas epistemik manusia, melainkan struktur relasional dunia—yang berlaku juga antar-objek. Dengan demikian, kritik yang menyamakan OOO dengan inflasi ontologis melewatkan inti taruhannya dalam mengembangkan realisme non-antroposentris dengan perangkat penjelasan tentang mediasi, skala, dan agensi non-manusia. Apabila OOO terkadang berlebihan, itu masalah yang dapat dikritik dari dalam—bukan alasan untuk membuang seluruh proyeknya sebagai mubazir.
Di sisi lain, saya juga tidak ingin “mengalahkan” Quine dengan cara mengusirnya dari ruangan. Quine memberi disiplin yang sangat dibutuhkan: komitmen ontologis harus punya alasan teoretis, bukan karena kita jatuh cinta pada kata benda. Akan tetapi, ketika Quine dijadikan horizon tunggal, ia mudah mengeringkan pertanyaan-pertanyaan ontologis yang justru hidup dan dirayakan dalam tradisi kontinental: tentang mediasi, struktur pengalaman, cara benda-benda membentuk dunia sosial-teknis, dan—yang paling mendesak—krisis ekologis sebagai krisis skala.
Daftar Pustaka
Bryant, L. (2011). The Democracy of Objects. Open Humanities Press.
Harman, G. (2002). Tool-Being: Heidegger and the Metaphysics of Objects. Open Court.
Harman, G. (2011). The Quadruple Object. Zero Books.
Harman, G. (2017). Object-Oriented Ontology: A New Theory of Everything. Pelican Books.
Hukmi, R. (2025). Ontologi yang Mubazir dan Akrobatik. Antinomi. https://antinomi.org/ontologi-yang-mubazir-dan-akrobatik/
Hukmi, R. (2025). Soal Kesederhanaan Ontologis. Antinomi. https://antinomi.org/soal-kesederhanaan-ontologis/
Morton, T. (2011). Here Comes Everything: The Promise of Object-Oriented Ontology. Qui Parle, 19(2), 163–190. https://doi.org/10.5250/quiparle.19.2.0163
Morton, T. (2013). Hyperobjects: Philosophy and Ecology after the End of the World. University of Minnesota Press.
