Sunday, October 24, 2021
Home Esai Sebelum Menjalin atau Membangun Filsafat Indonesia

Sebelum Menjalin atau Membangun Filsafat Indonesia

Tanggapan atas Tulisan Saras Dewi dan Banin Diar Sukmono

Diskusi tentang Filsafat Indonesia terus bergulir. Kegiatan Sarasehan Filsafat Indonesia yang berlangsung 19 September 2021 lalu memang berupaya merumuskan “Filsafat Indonesia” melalui beraneka pendapat dari para akademisi maupun pegiat filsafat. Namun, bisa dipahami, karena waktunya yang terbilang singkat dan memang acara tersebut bisa dikatakan merupakan “pemanasan” (sebelum acara simposium di tahun depan), maka luaran mengenai apa itu “Filsafat Indonesia” masih jauh dari tuntas – atau, akankah tuntas?

Berangkat dari momentum kegiatan Sarasehan Filsafat Indonesia tersebut, Saras Dewi menulis artikel berjudul “Menjalin Filsafat Indonesia” di Kompas (2 Oktober 2021). Gagasan mengenai Filsafat Indonesia yang ditawarkan oleh Saras Dewi setidaknya dapat disarikan dari dua pernyataan berikut:

  1. “Gagasan Filsafat Indonesia mengendap di dalam ekspresi-ekspresi berkesenian: tarian, kidung, pahatan, yang brilian dan tidak saja indah, tapi juga memiliki kemanjuran sosial.”
  2. “Berfilsafat memang semestinya menjejak serta mampu digunakan untuk mengidentifikasi secara kritis dan rasional problem-problem yang ada di masyarakat. Feminisme di Indonesia, misalnya, adalah suatu reaksi terhadap kekerasan dan ketidaksetaraan terhadap perempuan. Filsuf seperti Toety Heraty merupakan seorang pelopor yang memberikan kontribusi besar pada filsafat Indonesia, khususnya dalam membongkar relasi hierarkis dan mengusulkan perspektif baru yang adil dan setara.”

Dalam pernyataan pertama, Saras Dewi kelihatannya meyakini bahwa secara esensial ada yang dinamakan “Filsafat Indonesia”, yang kehadirannya disuling dari beraneka ekspresi kesenian yang berangkat dari tradisi. Pada pernyataan yang kedua, Saras Dewi memandang perlunya Filsafat Indonesia guna memecahkan persoalan yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia. Pada bagian ini, kelihatannya Saras Dewi ingin menempatkan filsafat pada usaha untuk memecahkan persoalan masyarakat kontemporer. Dengan demikian, secara ringkas dapat dikatakan bahwa Saras Dewi meyakini dua hal tentang Filsafat Indonesia: bahwa Filsafat Indonesia tidak hanya “ada”, tetapi juga “harus ada” – posisi deskriptif dan preskriptif yang dipegang sekaligus.

Masalah Filsafat Geografis

Pernyataan pertama Saras Dewi membuka kemungkinan untuk jatuh pada esensialisme “filsafat geografis” seperti yang juga dikemukakan oleh Banin Diar Sukmono dalam tulisannya yang berjudul “Membangun Filsafat Indonesia”. Saya setuju dengan Banin Diar Sukmono terkait pernyataan berikut: “ … sebagian dari kita masih berfokus mencari ‘sesuatu yang filosofis’ di balik arsitektur rumah, tarian-tarian tradisional, dan pemikiran suatu komunitas, yang pemaknaannya mungkin dibuat secara arbitrer ratusan tahun yang lalu dan tidak diniatkan untuk menjadi filosofis, dan seakan-akan percaya bahwa hanya dengan cara itulah kita menemukan filsafat Indonesia.”

Banin Diar Sukmono kelihatannya menemukan ada unsur “pemaksaan” atau “cocoklogi” dalam tulisan Saras Dewi yang melihat adanya hubungan antara kesenian dan Filsafat Indonesia. Saya setuju dengan Banin Diar Sukmono. Selain itu, jika klaim Filsafat Indonesia berangkat dari kesenian-kesenian tradisional seperti yang dikatakan Saras Dewi, maka ia berarti mencampuradukkan apa yang organik, bergerak dinamis melampaui sekat-sekat geografis, tetapi pada saat yang sama juga dibatasi secara ketat oleh klaim geopolitik. Dengan demikian, Filsafat Indonesia berpotensi menjadi klaim sepihak yang jangan-jangan hanya berbicara tentang filsafat tertentu saja dan mengabaikan aspek multikulturalitas. Singkat kata, alih-alih lepas dari jeratan esensialisme, filsafat Indonesia justru jatuh pada esensialisme “filsafat geografis”.

Namun, di sisi lain, kemungkinan merumuskan Filsafat Indonesia melalui klaim geopolitik ini juga bisa dijustifikasi jika hendak jujur mengacu pada suatu kepentingan. Melihat usaha pembentukan identitas Filsafat Indonesia tentu tidak serta merta dapat disamakan dengan cara kita melihat Filsafat Jerman, Filsafat Prancis atau Filsafat Amerika. Sebagaimana negara-negara lain yang juga pernah dijajah secara fisik dalam rentang waktu yang lama, penemuan identitas bisa dipandang sebagai upaya melakukan diferensiasi agar bisa menempatkan diri di kancah internasional dan bersikap solid dalam mengimbangi hegemoni.

Amerika, yang tanahnya didominasi oleh kaum imigran, sempat mengalami kesulitan untuk merumuskan apa itu “kebudayaan Amerika”. Mungkin kesulitan yang mereka alami bisa jadi lebih sulit dari apa yang kita alami. Rasanya sukar untuk menyuling kebudayaan Amerika dari suku-suku asli yang justru mereka persekusi. Kanon-kanon baru mesti dirumuskan dan mereka mesti membuat diferensiasi dari kebudayaan Eropa. Sebagai contoh, mengklaim jazz sebagai “musik Amerika” – konkretnya dituangkan dalam The Great American Songbook yang isinya didominasi musik jazz – jelas merupakan klaim geopolitik yang bisa melukai sebagian kaum yang sempat tereksklusi dari program kesetaraan dan kebebasan yang diusung oleh (orang kulit putih) Amerika.

Apa yang menjadi poin saya adalah sebagai berikut: terlepas dari kemungkinan ada “lompatan kesimpulan” dari penggalian tradisi nenek moyang ke identitas Filsafat Indonesia—sebagaimana menarik garis antara musik jazz ke “musik Amerika” atau menganggap Thales dari Miletos sebagai bagian dari “filsafat Yunani Kuno”—klaim geopolitik ini bisa jadi masih diperlukan (meski harus hati-hati). Kemungkinan falsifikasi tentu ada, seperti halnya Banin Diar Sukmono mencontohkan klaim “idealisme Jerman” yang bisa mengeksklusi Habermas yang “kurang idealis”.

Istilah “penggalian tradisi” ini juga sebaiknya tidak dipahami sebagai keketatan historis sebagaimana halnya Schleiermacher dalam melakukan pembacaan teks secara hermeneutis. Banin Diar Sukmono tentu mengetahui bagaimana tawaran yang lebih kontemporer dari Gadamer, yang mengajak kita untuk membaca teks dengan cara “meleburkan horison-horison” alih-alih melakukan romantisisasi sejarah. Pada titik ini, saya akan mengutip Bambang Sugiharto yang melihat usaha penggalian tradisi lebih sebagai usaha rekonstruksi: “back to the future.

Dengan demikian, ini mudah-mudahan sekaligus mengatasi frasa “… tidak diniatkan menjadi filosofis …” yang ditulis oleh Banin Diar Sukmono sendiri. Saya ragu apakah saat Thales dari Miletos menyebut “alam semesta terbuat dari air” bisa dikategorikan sebagai sebentuk pernyataan filosofis di masanya. Mungkin saja ada usaha “penggalian tradisi” dari para akademisi “Barat” untuk memasukkan sosok dan pernyataan Thales tersebut pada “ensiklopedia filsafat Barat” demi kepentingan identitas itu tadi. Sama halnya dengan tari-tarian atau bangunan arsitektur yang disebutkan Saras Dewi, mungkin juga tidak ada tendensi filosofis sama sekali. Namun bukankah itu menjadi salah satu tugas akademisi, untuk merekonstruksi “apa yang filosofis” (bukan memeriksa akurasi sejarah loh ya)? Apakah ada perbedaan serius antara tafsir tentang “apa yang filosofis”, yang berangkat dari naskah-naskah kuno tradisi Indonesia dengan yang berangkat dari “naskah-naskah kuno tradisi Barat” seperti yang ditulis oleh Wittgenstein atau Russell? Saya bisa menduga jawaban akan pertanyaan tersebut bisa terbelah, antara yang “sama” dan yang “beda”, tergantung dari posisi berfilsafat masing-masing.

Tentu klaim geopolitik yang berangkat dari tradisi secara terburu-buru juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi saya pribadi. Dalam konteks “curhat”, jujur saja saya muak melihat bagaimana sebagian orang-orang tradisi tiba-tiba mengangkat etnosentrisme sempit sebagai basis bagi kebudayaan Indonesia. Di sisi lain, ada juga kaum nasionalis karbitan yang “mendadak Indonesia” saat, misalnya, tim bulutangkis kita mendapat medali emas Olimpiade. Mereka memanfaatkan isu nasionalisme untuk meraih popularitas yang berujung pada kekuasaan. Namun, saya tidak mau membahas lebih jauh agar tidak terjebak pada kesesatan confusing the abstract with the concrete. Persoalan filsafat geografis saya akhiri sampai di sini dan berikutnya saya akan masuk ke pembahasan tentang persoalan filsafat kontemporer. 

Menyelesaikan Persoalan (Filsafat) Kontemporer (?)

Pernyataan Saras Dewi yang berikutnya, terkait Filsafat Indonesia sebagai jalan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan persoalan kontemporer masyarakat Indonesia dengan mengambil feminisme sebagai contoh, kelihatannya punya perbedaan dengan apa yang dimaksud “persoalan kontemporer” dalam perspektif Banin Diar Sukmono. Hal tersebut tercermin dari pernyataan Banin berikut: “Daripada mencari filsafat Indonesia, sudah saatnya kita membangun filsafat Indonesia dengan cara berkontribusi di perdebatan filsafat kontemporer dan menyelesaikan masalah filsafat di dalamnya.”

Penjelasan dari pernyataan tersebut ada pada pernyataan berikutnya: “Masalah filsafat apa pun tidak jadi soal. Di metafisika, kita bisa berkontribusi untuk menjawab, misalnya, karakter dari pendasaran, dan di filsafat ilmu, kita juga bisa berkontribusi untuk menjawab sejauh apa pergantian paradigma keilmuan berhubungan dengan kebenaran, atau masalah pluralisme epistemologis.”

Di sinilah terjadi perbedaan, bahwa apa yang dimaksud Saras Dewi sebagai “persoalan (filsafat) kontemporer” adalah problem dalam masyarakat yang masih relevan (yang dicontohkannya lewat kekerasan dan ketidaksetaraan terhadap perempuan), sementara bagi Banin Diar Sukmono, hal tersebut lebih dialamatkan pada perdebatan yang terjadi sekarang, yang kelihatannya spesifik terjadi di wilayah metafisika dan filsafat ilmu (jika mengacu pada pernyataannya sendiri).

Tentu tidak sulit bagi Banin Diar Sukmono untuk memahami bahwa kontemporer diartikan sebagai “bersama waktu” atau dalam istilah yang lebih lepas bisa diartikan sebagai “masa kini”. Pertanyannya: Apakah yang dimaksud dengan “persoalan (filsafat) kontemporer” ini merupakan problem yang benar-benar muncul di “masa kini” – dalam artian di masa kita bersama hidup sekarang, sebagaimana definisi dari “kontemporer” itu sendiri – atau merupakan persoalan klasik dalam filsafat yang masih belum terpecahkan dan berusaha diselesaikan dalam artikulasi masa kini?

Sebagai contoh, apakah problem pikiran – tubuh merupakan persoalan filsafat klasik atau kontemporer? Mungkin bisa dua-duanya: persoalan tersebut sudah dibicarakan sejak masa Yunani Kuno, tetapi kita masih mempersoalkannya, mungkin bukan karena ada persoalan metafisika yang “baru”, tetapi lebih karena ada usaha mengartikulasikannya dengan cara-cara “baru”, yang bisa jadi berangkat dari fenomena-fenomena yang juga “baru”. Artinya, apa yang disebut kontemporer dan bukan kontemporer tidak sesederhana dikategorikan berdasarkan apakah kemunculannya terjadi di masa kini atau di masa sebelumnya.

Saya ambil contoh pemikiran Christian Fuchs yang saat ini masih hidup. Secara periodisasi, tentu saja ini sangat kontemporer. Fokus kajiannya adalah soal perburuhan digital yang menyentuh wilayah media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram (jelas isunya juga kontemporer). Kemudian ia memunculkan istilah “playbour” yang mengacu pada konsep buruh yang sebenarnya dieksploitasi, tetapi ia tidak merasa menderita, karena kerja yang dijalaninya dilakukan sambil bermain-main media sosial. Segalanya serba kontemporer, bahkan istilah “playbour” itu sendiri terdengar baru dan segar. Namun, dalam teks-teksnya, ia selalu kembali pada argumentasi Marxisme tradisional tentang alienasi dan teori nilai lebih. Fuchs pada dasarnya sedang menyelesaikan persoalan penindasan kelas yang terjadi dari masa ke masa, tetapi berangkat dari fenomena terkini, yaitu media sosial. Tidak mudah untuk mengatakan Fuchs mempunyai pikiran kontemporer hanya berdasarkan periodisasi masa hidupnya, masalah yang diangkatnya dan neologisme yang diproduksinya. Pada prosesnya, ia selalu mengembalikan argumentasi pada “artefak filsafat masa lalu”, yaitu Marxisme tradisional.

Semakin canggihnya Artificial Intelligence, misalnya, mungkin memunculkan renungan yang “baru” tentang “Apakah artinya menjadi manusia?” atau “Apa itu kesadaran?”. Kita bisa menemukan jawaban-jawaban berbeda yang menarik, yang bisa jadi berbeda sekali dengan masa-masa sebelumnya. Namun pertanyaan semacam itu sudah ditanyakan ribuan tahun silam dan dari masa ke masa. Bisa jadi hanya fenomenanya yang berubah-ubah, tetapi apa yang dipersoalkan secara filosofis masih hal yang itu-itu juga.

Singkat kata, jika Banin Diar Sukmono meyakini bahwa menyelesaikan problem filsafat kontemporer merupakan tugas filsafat yang “sebenar-benarnya” dan bahkan ini menjadi fondasi bagi pembangunan filsafat Indonesia, maka mesti dijernihkan dulu apa yang dimaksud “problem filsafat kontemporer” itu. Jangan-jangan tidak ada yang dinamakan “problem filsafat kontemporer” karena yang berubah hanyalah fenomen-fenomennya saja. Jangan-jangan yang dimaksud Banin Diar Sukmono sebagai “problem filsafat kontemporer” adalah sama dengan apa yang dimaksud Saras Dewi sebagai “problem lama yang dipecahkan dengan artikulasi kontemporer”?

Terakhir, bisa jadi, urusan “lama” atau “baru”, “kuno” atau “kontemporer”, hanya ada ketika kita memandang waktu secara linier.

Syarif Maulanahttps://www.syarifmaulana.id/
Syarif Maulana adalah pengajar di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan dan mahasiswa doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Syarif menginiasi kelas belajar filsafat daring Kelas Isolasi dan menulis buku berjudul Kumpulan Kalimat Demotivasi (2020) serta Nasib Manusia: Kisah Awal Uzhara, Eksil di Rusia (2021). Syarif juga merupakan ketua panitia Philofest ID 2020, festival filsafat terbesar di Indonesia.
RELATED ARTICLES

Posisi Penafsiran dalam Konstruksi “Esensi” Filsafat Indonesia

*Artikel ini adalah tanggapan atas artikelnya Muhammad Qatrunnada Ahnaf Tulisan saya yang berjudul Sebelum Menjalin atau Membangun Filsafat Indonesia...

Beberapa Persoalan Tentang Usaha Membangun Filsafat Indonesia

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu disoroti dalam perdebatan mengenai filsafat Indonesia. Saya merasa filsafat masih diandaikan memiliki sebuah identitas esensial....

Pembebasan Filsafat Indonesia Hari Ini

*Artikel ini ditulis sebagai respon terhadap semua tulisan sebelumnya mengenai problematika Filsafat Indonesia. Sebelum perdebatan ini terperosok terlalu...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Posisi Penafsiran dalam Konstruksi “Esensi” Filsafat Indonesia

*Artikel ini adalah tanggapan atas artikelnya Muhammad Qatrunnada Ahnaf Tulisan saya yang berjudul Sebelum Menjalin atau Membangun Filsafat Indonesia...

Beberapa Persoalan Tentang Usaha Membangun Filsafat Indonesia

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu disoroti dalam perdebatan mengenai filsafat Indonesia. Saya merasa filsafat masih diandaikan memiliki sebuah identitas esensial....

Pembebasan Filsafat Indonesia Hari Ini

*Artikel ini ditulis sebagai respon terhadap semua tulisan sebelumnya mengenai problematika Filsafat Indonesia. Sebelum perdebatan ini terperosok terlalu...

Sebuah Jalan Keluar dari Hegemoni Filsafat Barat

Ada hantu yang bergentayangan di dalam diskursus filsafat Indonesia. Hantu-hantu filosof leluhur Indonesia. Filsafat Indonesia dapat dibebaskan hanya setelah mumifikasi pemikiran leluhur...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia