Saturday, November 27, 2021
Home Esai Posisi Penafsiran dalam Konstruksi “Esensi” Filsafat Indonesia

Posisi Penafsiran dalam Konstruksi “Esensi” Filsafat Indonesia

Dalam pandangan saya, esensi tunggal memang tidak mungkin karena makna historis-kultural selalu berangkat dari peleburan cakrawala antara posisi penafsir dan teks budaya yang diteliti.

*Artikel ini adalah tanggapan atas artikelnya Muhammad Qatrunnada Ahnaf

Tulisan saya yang berjudul Sebelum Menjalin atau Membangun Filsafat Indonesia mendapat tanggapan dari Muhammad Qatrunnada Ahnaf (selanjutnya akan disingkat M.Q. Ahnaf) dalam tulisan berjudul Analisis atas Esensi Filsafat Indonesia dan Esensi Problem Filsafat Kontemporer. Tulisan menarik yang mendorong saya untuk berpikir dan merespons karena ada hal-hal yang memang perlu untuk direspons.

Menjawab Persoalan Esensi

M.Q. Ahnaf membuat pengandaian tentang penelitian P1 yang meneliti sebuah tarian T1 di Indonesia. Berdasar pada tarian T1 tersebut, ditemukan bahwa keadilan adalah esensi dari Filsafat Indonesia. Di sisi lain, terdapat juga penelitian P2 yang meneliti tarian T2 lalu ditemukan bahwa terdapat nilai ketidakadilan yang bisa juga ditarik sebagai esensi dari Filsafat Indonesia.  M.Q. Ahnaf di sini hendak menunjukkan kemungkinan kekeliruan saya dalam berpikir, yang bisa jadi menerima dua esensi yang berkontradiksi (keadilan sekaligus ketidakadilan) berdasarkan contoh-contoh P1 dan P2.

Sayangnya, penelitian budaya yang mencari-cari esensi semacam itu kelihatannya sudah lama ditinggalkan. Sudah sejak awal abad ke-20, Wilhelm Dilthey menekankan pentingnya geisteswissenschaften sebagai bentuk tafsir yang khas terhadap dunia manusia, yang perlu dibedakan dari cara pandang Comtean yang melihat manusia dalam perspektif yang sama seperti ilmu-ilmu alam. Artinya, penarikan esensi tunggal seperti T1 adalah keadilan dan T2 adalah ketidakadilan merupakan hal yang malah menjadi sasaran kritik dari para antropolog atau sosiolog masa kini. Para antropolog kritis bahkan sudah menyuarakan “anti esensialisme” sebagai sebuah sikap dalam meneliti agar tetap melihat masyarakat sebagai sesuatu yang dinamis dan progresif.

Maka itu, lebih tepat jika penelitian atas T1 ataupun T2 bukan sedang mencari esensi, melainkan semacam tafsir yang tidak bisa dilepaskan dari posisi peneliti yang tidak mungkin berkunjung ke masa lalu. Jika demikian halnya, maka saya sadar ada problem lain yang muncul akibat ketidakstabilan esensi. Pertama, bahwa esensi menjadi tidak ada atau yang kedua, jikapun terpaksa ada esensi, maka esensi adalah sesuatu yang dikonstruksi. Pada titik ini, tidak ada perbedaan serius antara pendapat saya dan M.Q. Ahnaf yang menawarkan untuk,

(…) membangun sebuah konstruksi teoretik-filosofis yang mapan untuk Filsafat Indonesia dengan tetap membawa semangat dekolonisasi.

Dalam pandangan saya, esensi tunggal memang tidak mungkin karena makna historis-kultural selalu berangkat dari peleburan cakrawala antara posisi penafsir dan teks budaya yang diteliti. Namun itu tidak berarti bahwa teks-teks berkenaan dengan tarian atau arsitektur masa lampau tidak layak sama sekali untuk dijadikan pijakan. Mungkin si penari atau si arsitek tidak mempertimbangkan suatu esensi atau posisi filosofis tertentu saat membuat koreografi atau bangunan arsitektur, tetapi sekali lagi, seperti dalam tulisan saya sebelumnya, tugas para akademisilah yang kemudian merekonstruksi aspek filosofisnya untuk kepentingan masa kini.

Masalahnya, dalam lanskap Filsafat Barat, mungkin kita juga tidak bisa yakin sepenuhnya apakah misalnya, Diogenes, “si anjing” dari Sinope, benar-benar merumuskan suatu etika bernama sinisme, atau ia hanya hidup menggelandang dan kita akhirnya menganggapnya sebagai seorang filsuf, berdasarkan pembacaan-pembacaan yang dilakukan oleh penulis biografi seperti Diogenes Laërtius? Kita seringkali begitu saja menerima historisitas Filsafat Barat sebagai sesuatu yang rapi dan linear, seolah-olah memang demikian adanya, tetapi melupakan bahwa ada kerja akademisi yang begitu telaten, yang bisa jadi membuatnya demikian tersusun. Akademisi tersebut mungkin ada dalam suatu pengaruh dogma tertentu, seperti Great Books of the Western World yang disusun oleh Robert Hutchins dan Mortimer Adler, yang menganggap bahwa pendidikan terbaik haruslah bersifat perenialis dengan prinsip “Standing on the shoulders of giants”.

Dalam arti lain, persoalan menunda atau meniadakan sama sekali, bukan terletak dari ada atau tidaknya esensi itu (karena dalam pandangan saya, esensi itu sudah sedari awal tidak bisa diketahui), melainkan dikembalikan pada bagaimana ketelatenan serta kemauan kita untuk melakukan rekonstruksi. Masalah apakah misalnya pemaknaan kita terhadap tarian T1 dan T2 ternyata tidak sesuai dengan pemahaman filosofis penggagas tarian T1 dan T2 atau bahkan bertolak belakang, kelihatannya tidak jadi soal jika teks kita anggap sebagai sesuatu yang produktif dan senantiasa hidup di benak pembacanya (bukan membeku di kepala kreatornya).

Menjawab Tentang Problem Filsafat Kontemporer

Berikutnya, saya mengakui bahwa M.Q. Ahnaf telah memformulasikan dengan tajam bahwa problem filsafat kontemporer adalah berkenaan dengan tiga hal yaitu problem yang bertahan hingga sekarang, problem yang baru muncul sekarang dan problem yang mungkin akan muncul sejauh ia relevan dengan kondisi sekarang. Namun formulasi tersebut juga sekaligus menegaskan bahwa penyebutan “problem filsafat kontemporer” menjadi tidak terlalu relevan, terutama berkaitan dengan poin pertama yaitu problem filsafat kontemporer sebagai problem yang bertahan (dari dulu) hingga sekarang.

Kelihatannya problem filsafat manapun selalu terbuka untuk dipertanyakan dari dulu hingga sekarang. Problem pikiran dan tubuh misalnya, bisa jadi “terselesaikan” lewat pemikiran Maurice Merleau-Ponty yang juga dilengkapi riset ilmiah, salah satunya melalui percobaan Adhémar Gelb dan Kurt Goldstein terhadap pasien bernama Johann Schneider. Namun usaha penyelesaian Merleau-Ponty menjawab pemisahan pikiran dan tubuh ini tidak membuat kita harus berhenti mengkaji gagasan dualisme Cartesian. Intinya, saya setuju sepenuhnya dengan formulasi M.Q. Ahnaf terhadap problem filsafat kontemporer, yang poin pertamanya justru membuat istilah “problem filsafat kontemporer” menjadi tidak diperlukan karena problem filsafat dari masa ke masa selalu segar untuk diperbincangkan di masa kontemporer.

Saya tidak menolak bahwa seluruh problem tersebut mesti dipecahkan alih-alih fokus pada peristilahannya. Justru saya yang heran mengapa harus ada istilah “problem filsafat kontemporer” seolah-olah problem filsafat ada yang baru dan ada yang usang. Kembali lagi pada pertanyaan demotivatif: jangan-jangan yang baru dan yang usang cuma fenomen-fenomennya saja?

Terakhir, saya tertarik dengan tulisan Bayu Aji Pamungkas yang berjudul Sebuah Jalan Keluar dari Hegemoni Filsafat Barat. Dalam artikelnya, Bayu Aji Pamungkas menyebutkan,

(…) pertanyaan-pertanyaan filsafat kontemporer di dunia barat saat ini adalah pertanyaan filosofis kosong bagi peradaban kita yang tidak perlu dijawab dan tidak bernilai dari segi kuriositas. Peradaban kita lebih ingin tahu soal ketimpangan kelas dan opresi gender ketimbang apakah itu unsur-unsur pembentuk kesadaran. Peradaban kita lebih ingin menjawab pertanyaan tentang rasisme dan diskriminasi berkedok agama ketimbang problem pikiran – tubuh (mind-body problem).

Pernyataan tersebut setidaknya bisa saya tafsirkan sebagai jalan keluar bagi Filsafat Indonesia yang terkesan tidak solutif terhadap problem filsafat kontemporer karena “tidak didesain untuk itu”. Pertanyaannya, apakah “itu” adalah sesuatu yang bersifat universal dan menjadi keresahan bersama seluruh peradaban? Atau jangan-jangan, “itu” menjadi universal dan penting karena menunggang hegemoni Barat yang sudah kadung menjadi norma dalam berfilsafat? Apakah penting bagi lanskap berpikir masyarakat Sunda misalnya, untuk bermusyawarah menyelesaikan persoalan dilema troli atau problem demarkasi, jika untuk mengimplementasikan metafisika hérang caina, beunang laukna saja memerlukan perjalanan hidup dan permenungan yang panjang? Dalam konteks peradaban lain, apakah penting bagi para Biksu Buddhisme Zen, untuk menerapkan logika proposisional secara ketat, jika mereka sendiri sudah menerapkan paradoks berbahasa dalam bentuk koan, sebagai suatu jalan menuju pencerahan?

Mungkin tidak perlu dijawab. Direnungkan saja sambil menjalani kehidupan yang tidak bermakna ini.

Syarif Maulanahttps://www.syarifmaulana.id/
Syarif Maulana adalah pengajar di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan dan mahasiswa doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Syarif menginiasi kelas belajar filsafat daring Kelas Isolasi dan menulis buku berjudul Kumpulan Kalimat Demotivasi (2020) serta Nasib Manusia: Kisah Awal Uzhara, Eksil di Rusia (2021). Syarif juga merupakan ketua panitia Philofest ID 2020, festival filsafat terbesar di Indonesia.
RELATED ARTICLES

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia