More

    Lipstick under My Burkha: Can Spivak Speak?

    Risalatul Hukmi
    Risalatul Hukmi
    Post-Nietzschean free thinker

    Artikel Terbaru

    Socrates dan Martin Luther King: Pelajaran dalam Ketidaktaatan Sipil

    Pada pembukaan "Crito", sebuah dialog karya Plato, Socrates telah dipenjarakan. Dia tengah menunggu eksekusinya atas dugaan kejahatan karena merusak para pemuda...

    Populisme Kiri: Sebuah Pengantar

    Akhir-akhir ini, ruang publik demokratik kita terkungkung dalam jurang cemoohan dan celaan—demonisasi—terhadap orang-orang atau kelompok yang disinyalir anti-demokratik. Mereka ialah orang-orang...

    Apa Arti Menjadi Pluralis Ilmiah?

    Apa yang akan kita lakukan jika kita berhadapan dengan dua atau lebih pandangan berbeda secara politik? Ada dua jawaban umum. Kita...

    Realisme dan Anti-realisme dalam Pemikiran Martin Heidegger

    Pemikiran Martin Heidegger masih terasa pengaruhnya hingga hari ini. Ketika perkembangan teknologi dan sains semakin maju, manusia terasing di dalam sistem...

    Where Is God in a Coronavirus World?

    This year's coronavirus pandemic has truly shaken the world's citizens both physically and mentally. People are required to self-isolate to prevent...

    Membicarakan perempuan memang tidak ada habisnya. Setelah beberapa hari terakhir ini orang-orang di sekeliling saya ramai memperbincangkan film indie asli Indonesia berjudul Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017), maka saya adalah hal lain. Saya lebih memilih membicarakan film Lipstick under My Burkha (2017), yang sama-sama mengangkat isu feminisme. Hanya saja, yang satu ini benar-benar berasal dari tanah kelahiran si feminis kontemporer, Gayatri Chakravorty Spivak.

    Selain karena film tersebut diproduksi oleh orang-orang yang hendak disuarakan Spivak, yakni orang India, alasan lain mengapa saya lebih memilih India daripada Indonesia, jujur saja, saya tidak pernah tertarik dengan film-film dalam negeri selain hanya Surat dari Praha yang berkali-kali saya tonton, tapi masih nangis juga. Akan tetapi, penghadiran film di sini sebenarnya tidak begitu amat penting, karena poin utama yang ingin saya bahas adalah persoalan feminisme.

    Penokohan dan Upaya Dekonstruksi

    Secara serba singkat, film yang diproduseri oleh Prakash Jha ini mengisahkan tentang empat perempuan dengan latar belakang fase usia yang benar-benar berbeda (masih kuliah, hendak menikah, sedang berkeluarga, dan sudah menjanda), akan tetapi memiliki kesamaan nasib dalam hal kedudukannya sebagai seorang perempuan yang telah selalu dikonstruksi oleh tradisi.

    Tokoh pertama, Rehana, adalah seorang mahasiswi muslimah yang setiap berangkat dari rumah menggunakan burkha, tetapi sesampainya toilet kampus berubah menjadi ter-bukha. Pekerjaan utamanya adalah menjahit busana ‘ninja-ninja-an’, dan pekerjaan sampingannya adalah mengutil kosmetik, pakaian, dan sepatu dari distro-distro mahal, dengan cara menyembunyikannya dibalik jubah. Jujur, saya tidak pernah kepikiran bahwa jubah juga bisa berfungsi demikian. Cerdas! Siapa juga yang curiga sama seorang muslimah, yang dalam hal pakaian saja begitu syar’i, mana mungkin ia mencuri.

    Tokoh kedua, Leela, merupakan seorang perempuan yang sedang merintis usaha make-up dan fotografi bersama kekasihnya demi meraih cita-citanya untuk berkeliling dunia. Meskipun di pertengahan jalan, ia terpaksa menerima untuk dijodohkan dengan orang kaya, karena ibunya terlilit hutang yang banyak. Ya, semacam jualan anak perawan, meskipun sebenarnya Leela sudah tidak perawan lagi karena sudah berkali-kali berhubungan seks dengan kekasihnya, Arshad. Yang paling menarik adalah ketika malam pertunangannya dengan lelaki pilihan ibunya, listrik tiba-tiba padam, lantas seketika Leela dan Arshad membuat sex-tape di kamar dan terciduk oleh ibunya. Ya, tentu saja nggak penting apakah anaknya masih perawan atau enggak, yang penting anaknya harus menikah sama orang kaya. Meskipun pada akhirnya, calon suaminya tidak sengaja melihat rekaman intim yang tersimpan di HP Leela.

    Tokoh ketiga, Aslam, adalah seorang ibu rumah tangga muslimah yang memiliki suami maniak seks. Suaminya tidak pernah mau menggunakan kondom, sehingga anaknya banyak, dan parahnya, si suami tidak punya kerjaan, alias nganggur. Terpaksa, tanpa seizin suami, Aslam memutuskan untuk bekerja sebagai sales perabotan rumah tangga untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya, tentu saja juga suaminya. Parahnya, saat si suami mengetahui bahwa Aslam bekerja, ia malah memarahinya. Padahal, di belakang istrinya, ia menjalin cinta dengan wanita lain (seketika, saya berpikir, dasar akhi-akhi bejat! Taunya cuma ngeseks!).

    Tokoh terakhir, Usha Parmar (tetapi lebih sering dipanggil ‘Buaji’, artinya tante), adalah seorang janda yang sedang sibuk membaca novel Lipstick Dreams, yang kemudian membuat gairah seksnya kembali menggebu-gebu saat ia bertemu dengan berondong, pelatih renang di kolam renang umum. Ia bahkan rela membeli pakaian renang untuk dapat belajar renang dengan pemuda itu. Setiap malam, Buaji menelpon pemuda tersebut dengan nama samaran Rosy (nama tokoh dalam novel yang dibaca). Bagian paling menarik adalah ketika si janda tua ini horny yang berakhir dengan orgasme saat melakukan sex-phone dengan pelatih renang tersebut. Meski pada akhirnya, semua penyamaran tersebut terbuka karena Buaji tidak sengaja meninggalkan novelnya di atas kursi pinggir kolam renang.

    Dapatkah Spivak berbicara?

    Setelah menonton film tersebut, saya masih menerka-nerka, sudahkah Spivak tersampaikan oleh orang-orang India? Jangan-jangan, hanya Spivak yang merasa bahwa Timur dikolonisasi oleh Barat melalui pengetahuan. Seperti halnya Barat yang berasumsi bahwa ada ketidakadilan gender dalam budaya Timur.

    Di sinilah saya beranggapan bahwa persoalan presentasi dan representasi yang diajukan oleh Spivak, hanyalah permainan konseptual belaka. Senyatanya, entah laki-laki ataupun perempuan, selama berada dalam komunitas sosial, mau tidak mau hidup berdasarkan konstruksi. Jika memaksakan diri untuk menggunakan istilah representasi, laki-laki (khususnya dalam budaya Timur) pun juga selalu direpresentasikan sebagai orang yang harus bertanggungjawab, menafkahi dan melindungi keluarga seperti halnya perempuan yang direpresentasikan sebagai orang yang berkewajiban mengurus persoalan rumah tangga. Tidak ada yang salah dengan representasi semacam itu. Kata orang Jawa, ‘wong yo urip ki cen mung sawang-sinawang’; Laki-laki beranggapan bahwa menjadi perempuan itu enak, sebaliknya perempuan beranggapan bahwa menjadi laki-laki itu enak.

    Persoalan bahwa perempuan selalu dianggap berada di bawah bayang-bayang representasi laki-laki, tentu saja itu hanya masalah sentimen. Toh, senyatanya selama ini bukan laki-laki itu sendiri yang merepresentasikan, melainkan tradisi, sebagaimana digambarkan dalam film di atas. Perkara bahwa tradisi yang selama ini dipelihara merupakan tradisi patriarkal, itu adalah hal lain. Begitu banyak hal yang turut menyertai tradisi itu selain hanya perkara representasi laki-laki, jika kita ngotot bahwa ada representasi semacam itu. Bahkan sepasang binatang, mungkin lebih memahami perkara ini.

    Sementara, permasalahan pembagian tugas dalam rumah tangga, itu adalah kesepakatan bersama. Jika ada salah satu yang mendominasi dan melanggar kesepakatan, itu bukan perkara feminisme atau genderisme atau apalah itu namanya. Itu murni persoalan kekerasan, dan kekerasan adalah persoalan hak asasi manusia, tidak ada kaitannya dengan dominasi laki-laki terhadap perempuan dan semacamnya. Sebagaimana kasus Aslam, itu bukan perkara gender, itu murni persoalan kemanusiaan. Jika kita berasumsi bahwa kemanusiaan selama ini didominasi oleh representasi laki-laki, alias budaya patriarkal, kita tidak membutuhkan feminisme untuk melawan hal yang demikian, cukup hanya menafsirkan kembali makna kemanusiaan, jika kita masih mempercayai hal itu.

    Feminisme: masihkah ia mungkin?

    Begini loh, bahwa dulu perempuan posisinya selalu dibatasi hanya perkara domestik, lalu sekarang menjadi sepenuhnya terbuka, semua itu tidak lain hanyalah perkara semangat zaman (zeitgeist). Boleh jadi, perempuan yang sekarang sudah memiliki kebebasannya untuk memilih hak politis dan posisi dalam rumah tangga, suatu saat mungkin akan kembali lagi seperti dahulu, ketika mereka mulai berpikir bahwa kehadiran perempuan di dalam rumah lebih dibutuhkan demi kelestarian keturunan yang lebih baik, jika kita masih meyakini hal demikian.

    Saya pikir, feminisme adalah diskursus yang paling tidak bermakna dan tidak penting dalam sejarah panjang filsafat. Asumsi tentang ‘persamaan’ itu sudah salah sejak awal jika didasarkan pada asumsi ontologi materialis. Bodoh-bodohannya, kelamin laki-laki dan perempuan itu berbeda. Tentu saja, konsekuensi dari perbedaan itu besar. Dan konsekuensi-konsekuensi itulah yang melahirkan tradisi yang selama ini dianggap patriarkal. Pertanyaannya, sejak kapan dan dari mana sih asumsi bahwa patriarkal itu jahat?

    Saya hanya khawatir, jangan-jangan, isu-isu kesetaraan gender yang selama ini digaungkan oleh para feminis, tidak lain hanyalah ungkapan personal dari orang yang tidak mampu memahami atau tidak puas dengan posisi dirinya, sehingga kemudian mencari dukungan untuk melegitimasi gerakannya. Sementara, istilah patriarkal, boleh jadi hanyalah konsep yang di-ada-kan untuk menjustifikasi kehendak yang cacat itu. Toh senyatanya, alam juga berpihak pada perbedaan kelamin, karena dengan perbedaan itulah spesies manusia tetap lestari.[]

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here