More

    Kegilaan dan Aktivisme Kesehatan Mental

    Aktivisme kesehatan mental harus dapat menemukan koneksi antara kegilaan dan seni, teater, spiritualitas, dan sensitivitas yang berharga pada penderitaan individual atau kolektif.

    Moh. Gema
    Pembaca One Piece. Tertarik pada filsafat sains dan metafisika.

    Artikel Terbaru

    Membiarkan COVID-19 Menjadi Penyakit Generasi Muda

    Sebagaimana banyak orang tua sekarang ini, Jason Newland, seorang pediatrik (dokter anak—pen.) di Washington University St. Louis dan seorang ayah dari...

    Kegilaan dan Aktivisme Kesehatan Mental

    Kita telah memasuki zaman edan. Banyak orang yang ‘mengidap’ gangguan mental yang dapat kita temui di sekitar kita. Dari mulai gangguan...

    Apa Itu Seni?

    Berkaitan dengan kegiatan manusia, seni merupakan sebuah bentuk kegiatan yang kemunculannya berulang. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa setiap manusia menunjukan eviden...

    Jared Diamond: Bagaimana COVID-19 dapat mengubah dunia — menjadi lebih baik

    Saat ini, COVID-19 menghancurkan dunia. Dia sedang dalam proses menginfeksi banyak (mungkin bahkan sebagian besar) dari kita, membunuh beberapa, menutup hubungan...

    Teori Kemunculan Islam dan Kristen

    Pada dua sampai tiga dekade terakhir telah muncul madzhab baru dalam kajian Islam di Barat, banyak pengikut dari madzhab ini menyebut...

    Kita telah memasuki zaman edan. Banyak orang yang ‘mengidap’ gangguan mental yang dapat kita temui di sekitar kita. Dari mulai gangguan mental ringan seperti narsistik hingga skizofrenia akut yang membuat orang bahkan lupa dengan kesadaran diri dan dunianya. Jika demikian sebagai awalan mari kita sepakati bahwa gangguan mental dapat dipahami sebagai ikhwal yang gradual (akan dibahas di bawah). Pertanyaannya kemudian, dan yang paling krusial—jika tidak ingin disebut fundamental—apa itu sebenarnya gangguan mental? Terdapat beberapa jawaban yang secara fundamental berbeda satu sama lain.

    Saya tidak mungkin menyebutkan semua jawaban tersebut dalam tulisan ini karena akan melenceng terlalu jauh dari fokus tujuan utama tulisan ini, yaitu memberikan pemahaman makna kegilaan dan bagaimana aktivisme kesehatan mental meresponsnya. Jawaban pertama dari pertanyaan di atas adalah bahwa gangguan mental merupakan penyakit otak. Yang kedua terdapat argumen bahwa gangguan mental merupakan konstruksi sosial yang digunakan untuk memedikalisasi perilaku yang menyimpang. Kemudian yang ketiga, dari ranah psikologi evolusioner, terdapat jawaban bahwa gangguan mental adalah respon perilaku adaptif evolusioner yang tidak lagi sesuai bagi kita yang hidup dalam sebuah konteks modern. Yang keempat, dari ilmu kognitif, dapat dikatakan bahwa gangguan mental merupakan kekeliruan atau bias pada kerja pengkodean kognitif kita. Kemudian yang kelima terdapat beberapa pemikir yang meyakini bahwa gangguan mental hanyalah respons normal terhadap situasi buruk.

    Untuk menjawab pertanyaan di atas kita dapat memulainya dengan memahami bahwa gangguan mental sebagai sesuatu yang berhubungan secara intim dengan bagaimana kita memahami tubuh dan pikiran manusia bekerja, dalam pengertian umum. Contohnya, seorang biolog yang memfokuskan kajiannya pada sel akan memiliki pandangan bahwa gangguan mental adalah penyakit otak, sedangkan seorang sosiolog, yang mungkin memahami konsep gangguan mental secara keseluruhan sebagai sebuah konstruksi sosial. Yang satu memahami bagaimana manusia bekerja mempengaruhi pemahaman yang lain tentang apa maksudnya ‘disfungsi’ bagi dan untuk manusia. Dalam sebuah contoh yang pandir, jika kita masuk ke dalam sebuah mesin waktu, kemudian mengunjungi René Descartes, dan bertanya kepadanya apa itu gangguan mental, kita mungkin dapat mengasumsikan bahwa jawaban Descartes akan didasarkan pada pemahaman dualistiknya tentang tubuh-pikiran. Mungkin dia akan menganjurkan jawaban bahwa gangguan mental merepresentasikan korupsi pada jiwa, atau mungkin sesuatu seperti kerusakan mekanis pada jiwa yang berkomunikasi melalui kelenjar pineal.

    Kita tidak akan terlalu jauh menggali jawaban untuk pertanyaan di atas. Menurut saya jawaban-jawaban di atas sudah cukup untuk menjadi pengantar tulisan ini. Sekarang mari kita beralih ke pembahasan tentang makna kegilaan.

    Kegilaan mungkin dapat didefinisikan sebagai sebuah penderitaan yang kronis, degeneratif, tak dapat disembuhkan, yang dikarakterisasi oleh gangguan berpikir, merasa, bertindak, dan kepenuhan-hati. Kata “gila” tidak menunjukkan bahwa ia menjelaskan dan mengkonfirmasi kegilaannya. Pembungkaman atas kegilaan inilah yang menjadi sebuah tema kunci dalam sejarah revisionis tentang kegilaan yang ditulis oleh filsuf terkenal seperti Foucault. Bagi Foucault sekali kegilaan diserahkan pada dokter dan kemudian dipahami sebagai penyakit mental, maka ada kemungkinan tidak adanya dialog lebih jauh: bahasa psikiater menjadi sebuah monolog pemikiran tentang kegilaan, sebuah mekanisme yang dengannya orang-orang gila dibungkam. Sejarah tentang aktivisme kesehatan mental dapat dilihat sebagai sebuah usaha terus-menerus oleh beberapa kelompok tertentu untuk menghentikan pembungkaman tersebut, untuk menemukan suara yang akan dapat melawan monolog medis tentang kegilaan, dan melawan diskualifikasi dan diskriminasi dalam masyarakat.[1] Gambaran sekilas tentang kegilaan dan aktivisme kesehatan mental ini dapat menjadi titik awal untuk memahami perlunya rekognisi atas kegilaan. Namun sebelum masuk ke pembahasan tentang rekognisi saya akan memperdalam makna dari kegilaan terlebih dahulu.

    Seseorang diidentifikasi sebagai orang gila biasanya didasarkan pada praasumsi metafisik esensialis bahwa seseorang tersebut pada naturnya gila. Dengan kata lain objek tersebut memiliki properti esensial tertentu (kegilaan). Dan tanpa properti tersebut orang gila tidak akan menjadi ‘orang gila’. Dalam hal ini kategori gila dipandang sebagai  jenis natural (natural kind). Jenis natural adalah konsep filosofis yang mengacu pada entitas yang eksis di alam dan secara kategori berbeda satu sama lain. Fitur yang teramati dari sebuah jenis natural muncul dari struktur internalnya, yang juga merupakan kondisi untuk keanggotaan dari jenis tertentu.[2] Contohnya, meskipun dapat diperdebatkan, adalah setiap senyawa yang memiliki dua molekul hidrogen dan satu molekul oksigen adalah air, tanpa dependen dengan fitur yang teramatinya yang dalam kasus ini adalah H2O yang dapat menjadi es, cair, atau gas. Jenis natural ini dalam pendekatan saintifik dan medis hingga gangguan mental merupakan dasar bagi asumsi berikut:[3] (1) gangguan yang berbeda adalah berbeda secara kategoris di antara satu sama lain (skizofrenia adalah sesuatu yang berbeda dari bipolar disorder); (2) seseorang memiliki gangguan tertentu atau tidak—sebuah gangguan merupakan sebuah kategori yang berlainan; (3) fitur yang teramati dari sebuah gangguan (simtom atau tanda) secara kausal diproduksi oleh struktur internalnya (abnormalitas yang mendasarinya); dan (4) diagnosis merupakan sebuah determinasi dari jenis tersebut (gangguannya) yang terinstansiasi dalam individu tertentu.  

    Dalam banyak kasus, asumsi di atas mendapat banyak tantangan. Di antara gangguan mental tertentu dengan gangguan mental lainnya, dan di antara gangguan dan absennya gangguan, tidak dapat dibuat garis demarkasi yang tegas sebagai kategori tertentu. Artinya yang ada hanyalah batas-batas samar. Misalnya simtom skizofrenia dan bipolar disorder yangsaling meliputi satu sama lain, meniscayakan konstruksi yang janggal seperti gangguan skizoafektif atau mania dengan simtom psikotik. Begitu juga dengan batas antara depresi klinis dan kesedihan intens telah mendapat banyak kritik bahwa bahwa kedua hal tersebut tidak dapat ditentukan.[4] Dengan demikian gambaran kausal reduktif yang diimplikasikan oleh pandangan jenis natural dapat dikatakan naif dalam kasus gangguan mental: simtom psikiatris sebagai produk dari faktor-faktor yang saling berinteraksi dan berlipat ganda (biologis, sosial, kultural, psikologis) merupakan kebenaran yang tak dapat disangkal lagi. Dari sini kita dapat menggunakan konsep “kesamaran” (vagueness) untuk kasus-kasus gangguan mental. Dengan konsep tersebut, konsep psikiatris dan klasifikasinya dapat dilihat melalui pemahaman derajat (degrees) daripada pemahaman kategoris. Dan implikasi dari kesamaran ini tidak lain adalah gradualisme.

    Dengan pemahaman gradualisme kita mendapatkan kunci untuk memaknai ulang dan mengklaim kegilaan sebagai fenomena empiris yang mendapatkan perlakuan dan pelabelan yang salah. Menurut J. Poole dan J. Ward kata gila dapat mengacu pada seseorang yang dipatologisasi atau dipsikiatrisasi sebagai seseorang yang sakit secara mental.[5] Aktivisme gila juga menolak bahasa biomedis dan reklamasi term gila dan beralih dengan mengembangkan konten positif pada kegilaan dan maka dari itu pada identitas gila itu sendiri untuk kemudian membentuk harga diri atau kebanggaan gila (Mad Pride).

    Setelah memaknai kegilaan di atas, bagaimana kemudian seharusnya aktivisme kesehatan mental menyikapi kegilaan? Aktivis kesehatan mental harus terlebih dahulu memahami bahwa pengguna, dan orang yang selamat dari, pelayanan kesehatan mental dapat mengalami pelanggaran eksesif melalui legislasi dan perlakuan koersif; kurangnya inklusi dari suara seseorang yang diidentifikasi sebagai orang gila mengenai keputusan tertentu untuk perawatan dan recoverynya; reduksi pengalaman mereka pada model pesakitan biomedis terbatas dan model kognitif; stigma dan ketiadaan respek dalam masyarakat yang berkisar mulai dari persepsi yang takterjustifikasi dari kebahayaan dan defisit hingga diskriminasi aktual dalam pekerjaan. Kuncinya adalah menolak label “sakit secara mental”, “penyakit”, “gangguan”, reklamasi term gila dan redefinisinya dalam berbagai cara. Dari sini aktivisme kesehatan mental harus dapat menemukan koneksi antara kegilaan dan seni, teater, spiritualitas, dan sensitivitas yang berharga pada penderitaan individual atau kolektif. Selain itu aktivisme kesehatan mental harus melawan pandangan tentang kegilaan sebagai sebuah pesakitan menuju pandangan bahwa kegilaan dapat menjadi dasar bagi identitas dan kultur. Hal ini dapat dianalogikan dengan hak untuk menjadi hitam dan gay untuk berjuang mendapatkan haknya dan menuntut kesetaraan dan rekognisi. Dan aktivisme kesehatan mental harus menuntut perubahan sosial untuk mengafirmasi validitas identitas gila.


    [1] Lih. Mohammed Abouelleil Rashed, 2019, Madness and the Demand for Recognition, Oxford: Oxford University Press, hal. 3.

    [2] Untuk pembahasan mengenai jenis natural dan gangguan mental lih. Rachel Cooper, 2005, Classifying Madness, Dordrecht: Springer, hal. 45-76.

    [3] Lih. Nick Haslam, 2000, “Psychiatric Categories as Natural Kind: Essentialist Thinking About Mental Disorders” dalam Social Research, Vol. 67, hal. 1033-1034.

    [4] Lih. Op.Cit., Mohammed Abouelleil Rashed, hal. 15.

    [5] Lih. J. Poole dan J. Ward, 2013, “”Breaking Open the Bone”: Storying, Sanism, and Mad Grief” dalam B. LeFrançois, R. Menzies, dan G. Reaume (ed.), Mad Matters: A Critical Reader in Canadian Mad Studies, Toronto: Canadian Scholars’ Press, hal. 96.

    Photo by Andrey Zvyagintsev on Unsplash

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here