Ethics After Wittgenstein (2021): Usaha Meninjau Kembali Moral dalam Bahasa

Membicarakan etika bukan sebagai dogma yang dijejalkan sebagai nilai absolut, tetapi sebagai perspektif yang bisa membangkitkan kesadaran dalam diri masing-masing.

Syarif Maulana
Syarif Maulanahttps://www.syarifmaulana.id/
Syarif Maulana adalah pengajar di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan dan mahasiswa doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Syarif menginiasi kelas belajar filsafat daring Kelas Isolasi dan menulis buku berjudul Kumpulan Kalimat Demotivasi (2020, 2021), Nasib Manusia: Kisah Awal Uzhara, Eksil di Rusia (2021), Pengantar Ilmu Komunikasi (2022), Charles Handoyo: Sang Demotivator (2022), dan menerjemahkan buku Derrida: Sebuah Biografi (2022) karya Benoît Peeters dan Francis Bacon: Logika Sensasi (2022) karya Gilles Deleuze.

Etika Menurut Wittgenstein dalam Tractatus dan A Lecture on Ethics

Ludwig Wittgenstein (1889 – 1951) adalah pemikir kelahiran Wina, Austria-Hungaria yang gagasannya telah memicu babak penting dalam filsafat abad ke-20 yaitu investigasi terhadap bahasa. Semasa hidupnya, ia hanya sempat menerbitkan satu buku yaitu Tractatus Logico – Philosophicus (1921) dan satu artikel ilmiah berjudul Some Remarks on Logical Form (1929). Karya-karyanya yang lain, termasuk yang paling terkenal yaitu Philosophical Investigations (1953), diterbitkan setelah ia meninggal.

Setelah selesai menerbitkan Tractatus, Wittgenstein tidak banyak menulis lagi karena merasa telah menyelesaikan seluruh problem filsafat melalui buku tipisnya itu. Meski demikian, lebih dari dua puluh tahun kemudian setelah kelahiran Tractatus, Wittgenstein mulai menulis Philosophical Investigations yang isinya banyak mengritik gagasannya sendiri dalam Tractatus. Sayang, bukunya yang terakhir itu tidak sempat diterbitkan di masa dirinya masih hidup. Apa sebenarnya isi buku Tractatus yang terjemahan ke dalam bahasa Inggrisnya hanya setebal 100-an halaman itu? Mengapa Wittgenstein bisa memiliki keyakinan bahwa bukunya tersebut menyelesaikan seluruh problem filsafat? Apa hubungannya inti gagasan Tractatus dengan etika sebagaimana akan dibahas dalam artikel ini?

Dalam Tractatus, berulang kali Wittgenstein menyebut tentang “gambar” (picture). “Gambar” dalam pengertian Wittgenstein adalah model realitas (T, 2.12) dan fakta (T, 2.141). Dalam butir yang lain, ia menyebut bahwa proposisi adalah gambar dari realitas (T, 4.01) dan sekaligus bahasa dibentuk oleh totalitas dari proposisi (T, 4.001). Proposisi, lanjutnya, mesti mengetatkan realitas pada dua alternatif: ya atau tidak. Agar bisa demikian, proposisi mesti mendeskripsikan realitas secara komplit (T, 4.023). Berikutnya, Wittgenstein menekankan bahwa sebuah proposisi menyatakan sesuatu sejauh ia sebuah “gambar” (T, 4.03).

Jika masih bingung dengan apa yang hendak dikatakan Wittgenstein, kita akan langsung masuk pada pendapatnya berkenaan dengan etika dan estetika untuk lebih menjelaskan maksudnya tersebut:  

6.42 So too it is impossible for there to be propositions of ethics. Propositions can express nothing that is higher.

6.421 It is clear that ethics cannot be put into words. Ethics is transcendental. (Ethics and aesthetics are one and the same.)

Lewat pernyataannya tersebut, Wittgenstein hendak menekankan bahwa etika (dan juga estetika) tidak bisa ditempatkan dalam kata-kata karena sifatnya yang transendental. Proposisi mengenai etika bukanlah proposisi yang bisa mendeskripsikan realitas secara komplit. Etika bukanlah gambar dari realitas. Pertanyaan berikutnya, apa itu etika dan mengapa Wittgenstein cenderung menolaknya? Dalam A Lecture on Ethics, makalah sekitar delapan halaman yang ditulisnya tahun 1929, Wittgenstein membandingkan dua situasi. Situasi pertama, mengandaikan saya bisa bermain tenis dan seseorang yang melihat saya mengatakan, “Yah, Anda bermain agak jelek,” dan saya kira-kira menjawab, “Saya tahu, saya bermain agak jelek tetapi saya tidak mau bermain lebih baik,” lalu orang pertama kira-kira membalas kembali, “Oh, kalau begitu, baiklah.”

Sementara pada situasi kedua, terdapat seseorang yang mengatakan pada saya, “Anda berperilaku seperti hewan buas,” dan kemudian saya membalas, “Saya tahu saya berperilaku buruk, tetapi saya tidak ingin berperilaku lebih baik.” Bisakah dia kemudian berkata, “Oh, kalau begitu, baiklah.”? Tentu saja tidak, lanjut Wittgenstein, dia akan berkata, “Yah, Anda seharusnya mau berperilaku lebih baik.” Situasi terakhir itu yang dimaksud Wittgenstein sebagai etika yang berisi kalimat berkenaan dengan nilai absolut. Sementara dalam situasi pertama, kalimat yang diusungnya hanyalah nilai relatif (“Anda bermain agak jelek, tapi kalau tidak mau bermain lebih baik, ya sudah.”) atau nilai yang ukuran baik – buruknya tergantung dari orang yang berpendapat. Masalahnya, bagi Wittgenstein, nilai absolut itu tidak mungkin. Tidak mungkin orang bisa berkata secara etis atas apa yang seharusnya orang lain lakukan. Proposisi demikian, menurut Wittgenstein, bahkan tidak bisa dikatakan nonsens, melainkan sama dengan tidak mengatakan apa pun.

Kita bisa kembali pada Tractatus untuk mengutip kalimatnya yang paling terkenal: “What can be said at all can be said clearly, and what we cannot talk about we must pass over in silence.” (T, hlm 3) Simpulannya, Wittgenstein menegaskan bahwa hanya proposisi yang memiliki gambar realitas dan gambar fakta saja yang mempunyai nilai kebenaran. Di luar dari itu, seperti proposisi yang bermuatan etis (termasuk di dalamnya juga bermuatan religius), tidak bermakna apapun, sehingga alangkah lebih baik jika kita tidak mengatakan apa-apa tentang itu semua.

Jabaran berkenaan dengan etika menurut Wittgenstein di atas hanya dibatasi pada apa yang ia tuliskan dalam Tractatus dan A Lecture on Ethics. Secara umum, isi dari Philosophical Investigations adalah renungan ulang Wittgenstein atas “teori gambar” dalam Tractatus dengan menempatkan makna kata pada aturan permainannya (language game). Meski demikian, argumen Wittgenstein dalam Philosophical Investigations, terutama yang bisa dihubungkan dengan etika, tidak akan diurai dalam bagian ini, melainkan akan disinggung bersamaan dengan buku yang akan dibahas berikut ini yaitu Ethics After Wittgenstein.

Etika Pasca Wittgenstein

Pandangan Wittgenstein mengenai etika mendasari munculnya diskusi lanjutan yang salah satunya dituliskan dalam buku Ethics After Wittgenstein: Contemplation and Critique (2021) yang disunting oleh Richard Amesbury dan Hartmut von Sass. Buku terbitan Bloomsberg ini terdiri atas sepuluh tulisan dari sepuluh orang kontributor yang dibagi ke dalam tiga bagian besar: (I) Ethics and Wittgenstein; (II) Wittgenstein, Ethics and Metaethics; dan (III) After Wittgenstein. Dalam artikel ini, akan diulas masing-masing satu artikel dari setiap bagiannya.

A. Tentang Apa yang Selalu Kita Ketahui

Artikel berjudul Wittgenstein, Ethics, and Fieldwork of Philosophy yang ditulis oleh Nora Hämäläinen ini berangkat dari pernyataan Wittgenstein dalam Philosophical Investigations yang kuncinya ada pada kalimat berikut ini: “The problems are solved, not by giving new information, but by arranging what we have always known.” (PI, hlm 109). Berdasarkan potongan kalimat yang berbunyi “problem dipecahkan (oleh filsafat), tetapi tidak dengan memberikan informasi baru” Hämäläinen menunjukkan bahwa filsafat bukanlah sains. Lebih jauh lagi, Hämäläinen melihat bahwa tugas filsafat bukan untuk menyingkap sesuatu yang tersembunyi atau mengajukan teori baru. Filsafat setia pada usaha untuk mengatur atau mengorganisasi apa yang selalu kita ketahui (“what we have always known”) (hlm 31).  Di sinilah awal mula analisis Hämäläinen: apa yang dimaksud dengan “apa yang selalu kita ketahui”? 

Hämäläinen kemudian mendekatinya lewat tiga aspek yang ia ramu dari beraneka pemikiran pasca-Wittgenstein. Pertama, berkenaan dengan berpikir untuk kita sendiri (“thinking for ourselves”) yang diartikan sebagai “(…) not accepting moral dogmas or views second hand, but arriving at a perspective through reflective work of one’s own.” (hlm 32). Artinya, “apa yang selalu kita ketahui” yang disebutkan oleh Wittgenstein, bisa jadi adalah segala sesuatu yang kita refleksikan sendiri, bukan dogma moral yang disuapi oleh orang lain. Hämäläinen mencontohkan lewat bagaimana kerja dialog Sokrates yang bukan sedang menggurui lawan bicara, melainkan membuat lawan bicara menyadari sesuatu dalam dirinya. Untuk menyimpulkan aspek ini, Hämäläinen kemudian mengutip ujaran Cora Diamond, filsuf pasca-Wittgenstein: saat berfilsafat, kita tidak sedang sibuk mengatakan pada orang lain tentang apa yang baru atau fakta tambahan untuk menambah pemahaman orang lain itu, melainkan berpikir ulang untuk diri kita sendiri, dengan cara kita sendiri, tentang apa yang ada sebelum kita (hlm 33).

Kedua, berkaitan dengan melihat segala sesuatu sebagai sesuatu yang lain (“seeing aspect, seeing as?”). Diskusi ini berangkat dari pandangan Wittgenstein dalam Philosophical Investigations yang dikembangkan oleh penerusnya seperti Diamond, Stanley Cavell dan Raimund Gaita, yang pada pokoknya adalah sebagai berikut: dunia tidak pernah hadir pada kita sebagaimana adanya, tetapi selalu tampil dengan moda representasi tertentu. Dengan kata lain, apa yang disebut memahami situasi (baik itu yang riil maupun fiksional) adalah bukan tentang melihat fakta dari sebuah situasi, tetapi secara esensial melihat situasi dalam terang persepsi tertentu. Jika dikaitkan dengan pernyataan semula Wittgenstein berkenaan dengan “what we have always known”, maka filsafat dalam hal ini bukan perkara menghadirkan fakta tentang sesuatu yang kita lihat (sehingga menghasilkan informasi baru), tetapi berkenaan dengan bagaimana cara pandang kita atas sesuatu yang kita lihat tersebut berdasarkan sudut pandang atau presuposisi yang kita punya.

Ketiga, berkaitan dengan hal yang tanpa sadar kita ketahui (“what we did not know we knew?”) yang dihubungkan dengan sastra menurut pemahaman Iris Murdoch: “(…) philosophy does one thing, literature does many things and involves many different motives in the creator and the client. It makes us happy, for instance. It shows us the world, and much pleasure in art is a pleasure of recognition of what we vaguely knew was there but never saw before.” (hlm. 35). Dalam terang pemikiran Murdoch, sastra adalah semacam “filsafat dalam bahasa sehari-hari” yang berfungsi sebagai cermin untuk mengingat siapa kita atau hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu, tetapi jarang disadari (hlm 35 – 36).

Hämäläinen dalam hal ini mencoba menengok kembali filsafat moral dalam jejak yang ditinggalkan Wittgenstein. Filsafat moral tetap berguna sejauh ia bukan tentang dogma yang dipaksakan oleh orang lain – tetapi lebih tepat sebagai cara untuk membangkitkan perspektif kita sendiri -, bukan berkaitan dengan fakta sebagaimana adanya – tetapi lebih pada melihat segala sesuatu dengan cara yang lain – dan seperti halnya sastra, mengingatkan kita tentang sesuatu yang tanpa sadar telah kita ketahui. Tentu saja Hämäläinen sendiri mengakui ada filsafat moral yang klise dan dogmatis, tetapi setidaknya, perkara moral tidak bisa sepenuhnya dikatakan sebagai “tidak mengatakan apapun” sebagaimana klaim Wittgenstein dalam Tractatus dan A Lecture on Ethics.

B. Tentang Kontemplasi

Dalam artikel berikutnya yang berjudul Does it Pay to Be Good? On D.Z. Phillips Having a Theory About Not Having a Theory in Ethics, Hermurt von Sass membahas gagasan Dewi Zephaniah Phillips, seorang pemikir dalam bidang filsafat agama dan etika. Pembahasan artikel ini dibuka dengan jabaran von Sass tentang tidak adanya teori spesifik yang ditawarkan Phillips berkenaan dengan moral. Phillips tidak bicara tentang apa yang harus kita lakukan terkait dengan perdamaian, ekonomi, lingkungan, kesehatan, hewan, seksualitas, atau bahkan hal normatif yang lebih luas seperti justifikasi moral, memecahkan perbedaan pendapat tentang moral, atau mengusulkan jalan keluar terkait masalah-masalah dalam bioetika, imigrasi, atau hubungan antara negara dan agama (hlm 147). Jika terpaksa menyebutkan gagasan moral apa yang ditawarkan oleh Phillips, von Sass menyebutkan bahwa pemikir asal Wales tersebut lebih memfokuskan kajiannya pada metaetika atau investigasi terhadap bahasa moralitas.

Posisi Phillips disebut dengan naturalisme semantik yang berangkat dari proposisi (T) yang berisi: (T) The meaning of a proposition p is essentially dependent on the practical implications of that proposition p. Untuk menguji (T), Phillips melihatnya dari dua posisi yaitu realisme dan evaluasi terhadap tulisan Peter Winch berkenaan dengan “reaksi primitif” yang dihubungkan dengan parabel tentang Orang Samaria yang Baik (Good Samaritan) dalam Injil Lukas. Pertama, Phillips menolak posisi realisme yang beranggapan bahwa realitas berdiri secara independen di luar dari cara-cara kita dalam menjelaskan realitas tersebut. Phillips kemudian mengambil posisi Wittgenstein dalam Philosophical Investigations yang menyatakan bahwa “realitas” terhubung dengan permainan bahasa (language game) tertentu di mana permainan tersebut membentuk gambaran tentang dunia (hlm 156). Implikasi dari posisi Phillips ini menandakan bahwa hal tentang “baik” dan “buruk” tidak berdiri secara independen di luar penilaian kita, melainkan senantiasa terkandung di dalam aturan yang disepakati dalam bahasa.

Menariknya, penolakan Phillips terhadap realisme tidak serta merta membuat posisinya menjadi non-realisme. Ia justru menolak juga posisi non-realisme yang beranggapan bahwa segala-galanya bisa direduksi pada sikap mental tanpa jatuh pada klaim kebenaran yang berdiri sendiri. Jadi, bagaimana sebenarnya posisi Phillips jika tidak berada pada dua posisi tersebut? Phillips mengajak kita untuk bersikap kontemplatif atau setia memberi signifikansi berupa “implikasi praktis” agar proposisi (T) tidak kosong dari makna semantik (hlm 161). Pendeknya, Phillips enggan meyakini kategori baik – buruk yang berdiri independen di luar bahasa, tetapi ia juga menolak bahwa baik – buruk hanya melulu perkara keyakinan dan dorongan psikologis. Alasannya, kedua posisi tersebut sama sekali tidak menjelaskan proposisi (T) untuk memaknai tindakan berdasarkan “implikasi praktis”-nya.

Kedua, Phillips mengevaluasi tulisan Peter Winch tentang Orang Samaria yang Baik (Good Samaritan) untuk membahas lebih lanjut berkenaan dengan hubungan antara keyakinan dan reaksi. Parabel Orang Samaria yang Baik bercerita tentang bagaimana orang Samaria menolong orang asing yang terluka di tengah perjalanan. Sebelum orang Samaria tersebut memutuskan untuk menolong, ada dua orang lainnya yaitu pendeta Yahudi dan orang Lewi yang sempat menghampiri tapi menolak untuk menolongnya. Lewat parabel tersebut, Winch sedang menunjukkan contoh belas kasih langsung (immediate compassion) terhadap sesama manusia yang berlangsung tanpa asumsi spesifik tentang orang yang ditolong dan kemungkinan buruk yang akan dihadapi. Kita bisa sebut belas kasih langsung sekaligus sebagai “reaksi primitif”.  Tawaran Winch memang menarik, tetapi bagi Phillips, masih mengandaikan adanya keyakinan tertentu yang membuat orang Samaria melakukan tindakan berbeda dengan pendeta Yahudi dan orang Lewi.  

Bagi Phillips, pendapat Winch tentang keyakinan tersebut, jika dijadikan landasan etis bagi hubungan sesama manusia, berhadapan dengan persoalan saat dihubungkan dengan proposisi (T). Winch bermasalah karena secara tidak langsung mengasumsikan bahwa antara (1) pendeta Yahudi dan orang Lewi tidak meyakini bahwa orang asing yang membutuhkan bantuan mereka sebagai manusia atau (2) keyakinan ketiga orang tersebut tentang apa itu manusia berbeda-beda satu sama lain (sehingga menghasilkan reaksi yang berbeda-beda) atau (3) keyakinan mereka tentang apa itu manusia (termasuk dalam kaitannya dengan situasi yang memerlukan pertolongan), kalaupun memiliki kesamaan, ternyata tidak menghasilkan reaksi yang sama atau serupa. Mengapa Phillips mengangkat problem dalam Orang Samaria yang Baik yang ditulis Winch dan apa yang hendak ia katakan? Phillips menunjukkan bahwa tidak ada sungguh-sungguh keterkaitan antara apa yang diyakini seseorang dengan reaksi berupa tindakan. Lebih tegasnya, ia menyebutkan bahwa tidak ada “relasi internal” antara keyakinan dan hasil dari keyakinan (hlm. 160). Dalam kaitannya dengan proposisi (T), dapat dijelaskan bahwa berdasarkan tesis Winch, tidak selalu terdapat hubungan antara makna yang terkandung dalam proposisi p dan implikasi praktisnya.

Jadi, bagaimana tawaran Phillips berkenaan dengan problem Orang Samaria yang Baik tersebut? Penting untuk ditekankan bahwa Phillips membongkar hubungan antara keyakinan dan hasil dari keyakinan dengan menunjukkan bahwa (a) keyakinan tidak sama dengan hasil dari keyakinan, (b) memegang keyakinan yang sama tidak sama dengan menghasilkan tindakan yang sama yang diturunkan dari keyakinan tersebut, bahkan (c) keyakinan yang berbeda bisa saja menghasilkan tindakan yang sama! Lewat pengrusakannya terhadap tesis Winch yang notabene adalah kawannya sendiri, Phillips membuka kemungkinan bahwa tindakan dapat dengan sendirinya merumuskan keyakinan. Artinya, sebuah tindakan tidak perlu diturunkan dari keyakinan atau mengandaikan keyakinan sebagai prasyarat. Justru tindakan mengawali segala keyakinan dan bisa jadi berlangsung berbarengan. Misalnya, saat orang melakukan tindakan sembahyang, dengan sendirinya ia sudah meyakini Tuhan. Dengan demikian, Phillips berhasil mempertahankan proposisi (T).  

Hal menarik yang ditawarkan oleh Phillips menurut von Sass adalah ketekunannya dalam membongkar aspek semantik dari etika sebelum akhirnya menawarkan kontemplasi. Kontemplasi sendiri bisa dipahami sebagai sebentuk tindakan deontologis (berorientasi pada nilai tindakan itu sendiri) ketimbang konsekuensilis (berorientasi tujuan). Saat Phillips mengatakan tentang “implikasi praktis”, ia tidak mengatakan dengan spesifik apa yang menjadi kriteria bagi implikasi praktis tersebut (kenikmatan tubuh, manfaat bagi banyak orang, dan lain-lain), melainkan menunjuk bahwa implikasi praktis adalah benar sejauh diperoleh melalui kontemplasi (bukan karena mempertimbangkan konsekuensi). Jadi, jika kita kembali pada pertanyaan yang dijadikan judul dalam artikel ini: “Does it Pay to Be Good?” Ya, selama melalui jalur kontemplasi yang diwujudkan melalui tindakan mendahului keyakinan.

C. Tentang Putusan dalam Aturan

Pembahasan berikut ini berangkat dari salah satu artikel dalam Ethics After Wittgenstein yang berjudul Wittgenstein and Political Theology: Law, Decision, and the Self yang ditulis oleh Richard Amesbury. Amesbury melandasi tulisannya ini lewat dua gagasan yang diungkapkan oleh Carl Schmitt, pakar hukum dan teoritisi politik yang pernah menjadi anggota partai Nazi. Pertama, berkenaan dengan pernyataannya yaitu “segala konsepsi signifikan yang lahir dari teori negara modern adalah konsep teologi yang disekularisasi.” Kedua, terkait kedaulatan suatu negara yang menurutnya bergantung pada kemampuan otoritas untuk melakukan eksepsi (exception) atau pengecualian atas aturan positif legal demi keberlangsungan negara itu sendiri (hlm 195).  

Paul W. Kahn, pemikir asal Amerika, menanggapi gagasan pertama Schmitt dengan menyebut istilah “teologi politik” yang menunjuk bagaimana negara-negara modern dapat berbicara tentang pengorbanan, patriotisme dan nasionalisme sebagai sesuatu yang sakral, suatu gagasan yang perlu dibela sampai mati (hlm 194). Kahn meletakkan gagasan Schmitt untuk menjelaskan dimensi sakral dari kehidupan politik di Amerika – sesuatu yang disebutnya sebagai “deep structure of American political belief”. Sementara terkait gagasan kedua Schmitt tentang eksepsi, Kahn kurang lebih setuju, tetapi memberi penekanan bahwa eksepsi ini tidak berlangsung pada level otoritas tertinggi saja (yang Schmitt bayangkan terjadi dalam negara totalitarian), melainkan menembus segala level dalam lembaga negara.

Dalam pandangan Kahn, Amerika, yang menganut prinsip liberalisme, kerap meninggikan dan mensakralkan hukum, tetapi tidak pada “realisasi atas hukum” (hlm 197 – 198). Contoh kecilnya, putusan hakim, bagaimanapun, mewakili suatu “kehendak bebas” yang tidak sepenuhnya merepresentasikan hukum sebagai sebuah nilai ideal. Artinya, putusan hakim, pada titik tertentu, sudah dengan sendirinya sebuah eksepsi. Jadi, bagaimana mendamaikan antara kesakralan hukum sebagai sebuah aturan yang mengikat dan putusan hakim yang memiliki kandungan “kehendak bebas” yang dengan demikian punya desakralisasi tertentu terhadap hukum? Bagaimana Amesbury meminjam pandangan Wittgenstein untuk menerangi persoalan tersebut?

Gagasan Wittgenstein dalam Philosophical Investigations, seperti sudah disinggung sepintas, berbicara tentang aturan permainan, utamanya dalam bahasa (language game). Pertanyaannya, siapa yang mengatur aturan? Apakah terdapat aturan yang mengatur bagaimana aturan dibuat? Bagaimana memastikan sebuah aturan berjalan dengan benar, apakah disandarkan pada aturan lainnya? Wittgenstein rupanya menolak aturan yang mengatur aturan. Ia memilih untuk menjalankannya lewat putusan (decision), tindakan yang justru tidak demikian terikat oleh aturan (hlm 200). Dalam ekspresi yang lain, Wittgenstein menuliskan, “It would almost be more correct to say, not that an intuition was needed at every stage, but that a new decision was needed at every stage.” (PI, hlm 186).

Kalimat tersebut sebenarnya tidak serta merta menunjukkan posisi Wittgenstein yang menempatkan aplikasi di atas norma. Terlebih lagi, Wittgenstein, dalam Philosophical Investigations, tidak berbicara spesifik mengenai hukum. Meski demikian, dalam tafsir Amesbury terhadap pandangan Wittgenstein, putusan tetap diperlukan untuk membuat sebuah norma, yang tadinya dipertanyakan penerapannya, menjadi masuk akal. Selain itu, masih dalam tafsir Amesbury, Wittgenstein menganggap keliru siapapun yang menyimpulkan bahwa aturan dan hukum, sebagai sebuah prinsip metafisis, didudukkan sebagai hal umum yang berdiri sendiri dan independen (hlm 201).

Masih Adakah Jalan untuk Membicarakan Etika?

Lewat rangkuman atas tiga artikel yang mewakili setiap babak dalam Ethics After Wittgenstein, kita bisa merenungkan kembali pembicaraan tentang etika setelah dibuang oleh Wittgenstein, terutama dalam Tractatus dan A Lecture on Ethics. Dalam pembacaan penulis, sekurang-kurangnya ada empat jalan untuk membicarakan kembali etika dalam jejak yang ditinggalkan Wittgenstein:

  1. Membicarakan etika bukan sebagai dogma yang dijejalkan sebagai nilai absolut, tetapi sebagai perspektif yang bisa membangkitkan kesadaran dalam diri masing-masing (seperti hasil yang selalu diharapkan oleh Sokrates).
  2. Mendudukkan kembali peran sastra yang sempat ditinggalkan Wittgenstein karena dianggap hanya mewakili fungsi estetis yang tidak mengatakan apapun tentang dunia. Dalam terang pemikiran Iris Murdoch, sastra justru sejalan dengan tugas filsafat yang dinyatakan Wittgenstein dalam Philosophical Investigations: untuk mengatur dan mengorganisasi apa yang selalu kita ketahui (“what we have always known”). Sastra mengajak kita berefleksi terhadap “apa yang kita tahu tapi kita tidak sadar telah mengetahuinya” melalui bahasa sehari-hari.
  3. Melakukan investigasi bahasa hingga ke taraf radikal seperti yang dilakukan oleh Phillips, tetapi tidak jatuh pada simpulan bahwa etika itu tidak ada. Pembongkaran yang dilakukan oleh Phillips terhadap metaetika memang membuat posisi siapapun menjadi sukar untuk menentukan “baik” dan “buruk”, tetapi solusinya adalah kontemplasi: kesetiaan pada “implikasi praktis” yang berbasis tindakan dan bukan keyakinan.
  4. Sesakral apapun kita memandang aturan, desakralisasi akan selalu terjadi lewat putusan terkait bagaimana aturan tersebut harus diterapkan dan dijalankan. Artinya, putusan adalah selalu berupa eksepsi terhadap sakralitas aturan. Namun Wittgenstein, utamanya dalam Philosophical Investigations, enggan terjebak pada pengecekan tidak terbatas terhadap aturan. Hal yang lebih penting dalam aturan, sebagaimana tafsir Amesbury, justru terletak pada putusannya yang justru mesti lepas dari ikatan ketat peraturan. Meski samar-samar, dapat kita raba bagaimana jalan yang ditunjukkan Wittgenstein untuk etika sepeninggal dirinya: secanggih apapun hukum diformalkan untuk menjamin kehidupan bermasyarakat yang baik, ia tidak berarti apa-apa jika tidak difungsikan dalam masyarakat itu sendiri.

Daftar Pustaka

Amesbury, R. & von Sass, H. (2021). Ethics After Wittgenstein: Contemplation and Critique. London: Bloomsbury Academic.

Wittgenstein, L. (1958). Philosophical Investigations (terj. Anscombe, G. E. M.). Oxford: Basil Blackwell.

Wittgenstein, L. (2001). Tractatus Logico-Philosophicus (terj. Pears, D. F. & McGuinness, B. F.). London & New York: Routledge.

Wittgenstein, L. (2014). Lecture on ethics. Chichester: Wiley Blackwell.

Bacaan Lainnya