More

    Beberapa Catatan Tak Tuntas Tentang Kegilaan

    Kegilaan sudah menjadi isu sentral sejak 2500 tahun lalu yang dalam kultur Yunani Kuno maujud dalam watak penalaran dan rasionalitas, secara umum, dan kegilaan hingga, kegagalan rasionalitas.

    Moh. Gema
    Moh. Gema
    Pembaca One Piece. Tertarik pada filsafat sains dan metafisika.

    Artikel Terbaru

    Realisme dan Anti-realisme dalam Pemikiran Martin Heidegger

    Pemikiran Martin Heidegger masih terasa pengaruhnya hingga hari ini. Ketika perkembangan teknologi dan sains semakin maju, manusia terasing di dalam sistem...

    Where Is God in a Coronavirus World?

    This year's coronavirus pandemic has truly shaken the world's citizens both physically and mentally. People are required to self-isolate to prevent...

    Waktu: Jejaring Peristiwa dan Relasinya (Bagian 2)

    Penjelasan bagian pertama sedikit banyak telah “meruntuhkan” konsepsi waktu awam yang biasa kita kenal. Mulai dari keumuman, ketakgayutan, serta kesetangkupan (simetris)...

    Pengakuan Dunia-Kehidupan yang Sakramental: Pembunuhan Tuhan dan Ekonekrofilia

    Edmund Husserl, dalam fenomenologinya, memperkenalkan istilah “dunia-kehidupan”. Ia mempopulerkannya dengan istilah lebenswelt atau lifeworld (leben: hidup dan welt: dunia). Istilah ini...

    Beberapa Catatan Tak Tuntas Tentang Kegilaan

    Konsep kegilaan, atau penyakit mental, mengacu pada deviasi dari pemikiran, penalaran, perasaan, attitude, dan perbuatan normal, yang oleh subjeknya, atau orang...

    Konsep kegilaan, atau penyakit mental, mengacu pada deviasi dari pemikiran, penalaran, perasaan, attitude, dan perbuatan normal, yang oleh subjeknya, atau orang lain, dianggap disfungsi secara personal ataupun sosial. Anggapan disfungsionalitas ini selaras dengan historiografi kegilaan yang acuannya dianggap sebagai sesuatu yang jahat, buruk, malang, tidak diterima oleh lingkungan sosial di mana ia hidup. American Psychiatric Association (DSM-5 [APA 2013]) dan International Statistical Classification of Disease and Related Healt Problem (ICD-11 [WHO 2018]) menyediakan label klasifikasi dan terminologi baru. Revisi tersebut bertujuan untuk mereduksi asosiasi negatif dan sigma buruk dari kegilaan, yaitu “gangguan mental”, “disabilitas psikiatris”, “gangguan psikatris”, “penyakit mental”, “kegilaan”, dan “psikopatologi”. Diferensi mental ini masih diperdebatkan apakah diferensi tersebut merupakan penyakit atau gangguan sama sekali. Dalam artikel ini saya menggunakan terminologi ‘kegilaan’ untuk menunjukan bahwa gangguan mental bukan hanya urusan psikiatri tetapi juga menjadi urusan problem identitas dalam kehidupan sosio-kultural. Kegilaan juga bukan hanya mengacu pada kondisi mental seperti psikosis dan gangguan afektif, tetapi juga mengacu pada perilaku seperti kecanduan dan gangguan karakter, dan dengan munculnya ilmu kognitif maka term tersebut juga mengacu pada kognisi.

    Dulu, mental dalam kegilaan didiagnosis hanya ketika tidak ada evidensi sifat somatik, namun sekarang diagnosa mental disorder melibatkan kondisi fisik juga. Secara tradisional, model dua-bagian dari patologi, disfungsi proses internal organik pada individu termanifes dalam, dan bertanggung jawab secara kausal untuk, penanda teramati dan simtom; secara kolektif, dua bagian ini membuat konsep penyakit (disease). Proses yang mendasari kegilaan itu dibatasi sebagai mental oleh kategori tradisional fakultas psikologi (persepsi, afeksi, kognisi, memori dan sebagainya). Contoh, halusinasi merepresentasikan kemampuan perseptual disfungtif, mania dan depresi ditandai oleh regulasi afeksi yang terganggu, dan delusi yang terjadi akibat atau dibarengi oleh proses kognitif yang rusak. Maka dari itu sebuah gangguan ditetapkan sebagai mental, dibedakan dari fisikal, jika kausasi internal mengikutsertakan fakultas psikologis. Kontras dengan yang kausasi internal semata, ada pula yang melibatkan kecacatan mental yang tidak berbasis pada fitur internal tertentu tapi juga fungsi dari sosial dan personal. Contohnya karena kondisi kesedihan seseorang dan self-doubt menghasilkan absenteeism, orang dengan depresi tersebut mencari bantuan medis. Tapi jika tidak didasarkan pada kausalitas fisik internal maka kegilaan dapat diasosiasikan pada relativisme. Suatu simtom mental yang disfungtif mungkin dianggap sebagai sesuatu yang normal oleh seseroang dari sosio-kultur yang berbeda, bahkan mungkin juga dianggap sebagai sesuatu yang keren. Kegilaan seharunya dibedakan secara konseptual dari deviasi, begitupun dari respon normal terhadap kehilangan dan kemunduran yang dialami oleh manusia pada umumnya.[1]

    DSM dan ICD memberikan definisi standar bahwa term “gangguan” digunakan untuk klasifikasi baru yang membedakannya dari ‘disease’ dan ‘illnes’. ‘Gangguan’ sendiri bukanlah term eksak, tapi term yang digunakan untuk menyatakan secara tidak langsung eksistensi dari sebuah himpunan simtom atau perilaku yang diasosiasikan dengan kesukaran yang secara klinis dapat dikenali.[2] Simtom ini dikategorikan menjadi dua, yaitu simtom positif dan negative. Simtom positif muncul untuk merefleksikan ekses atau distorsi fungsi normal, sedangkan simtom negatif muncul untuk merefleksikan penyusutan atau kehilangan fungsi normal.[3] Secara filosofis kita dapat menggunakan konsep intensionalitas dan apropriasi objek intensional kondisi mental untuk mendefinisikan kegilaan. Terkait dengan intensionalitas ini, Bolton mendefinisikan kegilaan sebagai sebuah kegagalan intensionalitas.

    Konsep intensionalitas dalam filsafat akal budi dan teori psikologi memiliki dua aspek. Pertama, intensionalitas mengacu pada aboutness (atau directedness). Untuk mengatakan bahwa keyakinan (atau hasrat atau emosi) memiliki intensionalitas berarti bahwa intensional tentang sesuatu, tipikal objek atau state of affairs. Kedua, tidak niscaya ‘sesuatu’, misalnya, keyakinan terhadap sesuatu, eksis dalam realitas. Seseorang bisa saja meyakini sesuatu yang tidak eksis sama sekali.[4]

    Sejauh penelusuran saya kegilaan ini sudah menjadi isu sentral sejak 2500 tahun yang lalu. Dalam kultur Yunani Kuno kegilaan ini berupa watak penalaran dan rasionalitas, secara umum, dan kegilaan hingga, kegagalan rasionalitas.[5] Pada zaman modern Descartes, dalam Meditations, memperlakukan kegilaan sebagai sebuah kegagalan radikal dari representasi realitas. Kemudian empiricism Locke memiliki konsekuensi bahwa kegilaan merupakan ketidakmampuan untuk mengkombinasikan ide sederhana menjadi ide kompleks. Pengertian kegilaan lainnya datang dari filsafat Kantian bahwa kegilaan mengikutsertakan gangguan dalam persepsi atas ruang, waktu, dan kausalitas.[6] Secara historis gangguan personalitas, sebagai  contoh, bersifat peyoratif, non-developmental dan anti-therapeutic. Asumsi dari klasifikasi ini berbasis pada karakterisasi oleh presensi sifat abnormalitas. DSM menggambarkan sifat personalitas ini sebagai suatu pola kronis dari penghayatan, dan berhubungan dengan, lingkungan dan diri sendiri dalam jajaran konteks sosial dan personal.[7]

    Pandangan tentang hakikat dari kegilaan dapat didekati dengan menggunakan pendekatan filosofis dan menggunakan psikologi kognitif. Dalam beberapa pendekatan filosofis, termasuk filsafat yang berjangkar pada tradisi fenomenologis, mental dibedakan oleh beberapa fitur: mental membawa relasi khusus dengan conscious awareness, dan juga ‘diri’. Kemudian dalam pendekatan psikologi kognitif pandangan tentang mental berubah-ubah: model pemrosesan informasi, termasuk di dalamnya proses komputasi dan representasi; jaringan koneksionis; dan, baru-baru ini pendekatan neural secara langsung. Dari kedua pendekatan tersebut kita dapat menarik implikasi metafisik bahwa kegilaan tidak perlu dipandang sebagai dualisme metafisik. Kegilaan merupakan kondisi atau keadaan yang diatributkan pada seseorang, tapi atribusi ini tidak membutuhkan komitmen metafisik bahwa hakikat kegilaan adalah non-fisikal ataupun melulu neuro-saintifik. Mempertahankan separasi antara kegilaan dan gangguan fisikal kompatibel dengan beberapa bentuk fisikalisme lemah, contohnya, bahwa proses mental atau psikologis ikut ambil bagian dalam fungsi seperti persepsi, penalaran, dan memori, yang dependen pada kerja otak.[8]

    ***

    Pembahasan filosofis tentang kegilaan dan psikiatri dapat dibedakan ke dalam tiga topik. Pertama, topik yang muncul ketika memandang psikiatri sebagai sebuah ilmu khusus kita dapat menguraikannya menggunakan metode dan konsep filsafat ilmu. Dalam topik ini termasuk pembahasan tentang eksplanasi, reduksi, dan klasifikasi. Kedua, terdapat isu konseptual yang muncul ketika memahami kegilaan dan segi etisnya, serta dimensi yang didasarkan pada pengalaman atau observasi. Ketiga, terdapat interaksi antara psikopatologi dan filsafat akal budi; para filsuf sering menggunakan fenomena klinis untuk menjelaskan isu dalam filsafat akal budi, serta untuk memahami kegilaan. Dalam artikel ini saya akan membahas ketiga topik tersebut.

    Beberapa filsuf ilmu mengklasifikasikan status ontologis kegilaan sebagai natural kind. Secara paradigmatic natural kind adalah jenis suatu hal yang diklasifikasikan oleh ilmu kealaman. Contohnya table periodic, yang menyediakan sebuah basis klasifikasi untuk kimia, Melalui klasifikasi ini kita dapat memahami dan mengontrol entitas fisik untuk kemudian menjadi dasar bagi eksplanasi dan prediksi. Jika kegilaan adalah natural kind mungkin suatu hari nanti klasifikasi psikiatris akan menjadi dasar bagi teori dan praktik psikiatris seperti pendekatan table periodic dalam kimia.  Dengan menetapkan kegilaan sebagai natural kind, eksplanasi kegilaan dapat didasarkan pada entitas fisik yang memiliki properti kausal seperti gen.[9] Tapi karena kegilaan tidak memiliki properti yang stabil dan termanifes secara berbeda dengan zat kimia maka kegilaan juga bisa jadi dikategorikan sebagai non-nantural kind yang dapat berubah dan ‘berinteraksi’ melalui efek menyimpul.[10] Misalnya, zat kimia bersifat pasti dan objektif, sedangkan kegilaan bersifat samar dan value-laden. Klasifikasi psikiatris mengikutsertakan pengklasifikasian manusia, tidak seperti elemen kimiawi, manusia dapat merespon klasifikasi tersebut dalam cara yang variatif.[11] Dengan asumsi ini kita dapat membuat eksplanasi non-reduktif secara bertingkat (dari tingkat fisik hingga tingkat sosio-kultural). Sayangnya model psikiatri saat ini melekat dengan ‘model medis’ yang menyokong pengaplikasian konsisten pemikiran dan metode medis modern dengan asumsi bahwa psikopatologi merepresentasikan manifestasi dari fungsi dalam tubuh (otak) yang terganggu.

    Shah dan Mountain mendefiniskan model medis sebagai sebuah proses anjuran dokter yang berbasis pada eviden yang tersedia untuk koordinasi atau intervensi perbaikan kesehatan.[12] Namun definisi yang diberikan oleh Shah dan Mountain ini tidak informatif karena yang mereka definisikan hanya mengacu pada deskripsi praktik antara psikiatri dengan pasiennya. Jika kita membatasi definisi tersebut pada apa yang menjadi eviden untuk diagnosis dan hasil diagnosisnya maka kita dapat membuat komitmen pada apa yang disebut interpretasi minimal atas model medis. Interpretasi minimal ini memberikan komitmen umum pada metode empiris, misalnya informasi epidemiologis atau informasi tentang hubungan antara dosis-respon untuk beberapa obat. Selain itu interpretasi minimal dapat memberikan basis komitmen untuk informasi tentang faktor yang beresiko atas kegilaan seperti gen dan lingkungan keluarga, dan melihat kegilaan sebagai sindrom—himpunan petanda dan simtom yang terjadi secara bersamaan dan memiliki sejarah yang dapat diprediksi. Informasi ini dapat dikenali secara medis dan kita dapat mengumpulkan informasi lebih jauh tentang diagnosis, prognosis, beserta pendekatannya.[13] Maka dari itu interpretasi minimal dapat dikenali secara jelas oleh pendekatan medis berdasarkan informasi yang dikumpulkan, konsep yang digunakan, dan praktik yang mendukung, untuk berkomitmen pada apa yang sebenarnya terjadi dengan pasien.

    Selain interpretasi minimal atas model medis terdapat juga interpretasi kuat. Interpretasi kuat atas model medis merupakan sebuah himpunan komitmen tentang hakikat kegilaan yang dipandang sebagi sebuah penyakit (disease) dan menganjurkan sebuah komitmen filosofis tentang eksplanasi dari kegilaan. Komitmen ini akan mengantarkan kita pada reduksionisme. Tapi sebelum membahasnya saya akan mengeksplor terlebih dahulu intepretasi kuat ini.

    Berbeda dengan interpretasi minimal atas model medis yang tidak berkomitmen pada struktur fisikal yang mendasari kegilaan, interpretasi kuat berkomitmen pada proses tersebut—yang merupakan entitas takteramati (unobservable entity). Dalam pandangan interpretasi ini psikiatri menggambarkan “kegilaan” sebagai penyakit yang secara kausal dapat dijelaskan melalui patofisiologi yang mendasarinya. Dengan dasar ini intepretasi kuat berkomitmen pada hipotesis kausal yang spesifik dalam pengertian abnormalitas sistem neurobiologis yang mendasarinya, yang kemudian determinan atas pola petanda dan simtom yang diamati.[14] Contoh dalam pandangan ini adalah Nancy Andreasens[15] yang berargumen bahwa eksplanasi kegilaan pasti melibatkan proses destruktif dalam sistem otak, seperti penyakit fisik yang lainnya dapat dieksplanasikan oleh beberapa proses dalam organ tubuh tertentu. Proses ini dapat memediasi efek dari sosio-kultural tertentu ataupun faktor lingkungan. Tapi seperti yang sudah saya katakan di atas pandangan ini bisa menjebak kita pada reduksionisme yang membuat psikiatri hanya mencari kausalitas dalam pengertian mekanisme molekular atau genetik, dan melupakan faktor lain.

    ***

    Kegilaan bukanlah entitas yang memiliki properti stabil. Secara historis fenomena yang diklasifikasikan sebagai kegilaan bersifat dinamis. Contohnya seperti transeksual dan homoseksual yang dulu dianggap sebagai kegilaan sekarang dianggap sebagai diferensi seksual. Sebaliknya terdapat juga yang dulunya tidak dianggap sebagai kegilaan sekarang termasuk ke dalam klasifikasi kegilaan, misalnya orang-orang yang memiliki delusion of grandeur. Orang-orang ini percaya bahwa dirinya adalah seorang raja yang agung. Fenomena seperti ini masih terjadi hingga sekarang. Properti yang dinamis ini menunjukan hubungan antara kegilaan dengan struktur sosio-kultural. Karena itu eksplanasi atas kegilaan tidak boleh berhenti pada level neurobiologi tetapi juga harus mengikutsertakan analisis sosio-kultural.

    Eskpalansi di luar medis harus dapat memberikan eksplanasi perilaku manusia secara bermakna, dan memiliki kekuatan eksplanatoris yang memadai dalam rantai kausalitas. Dengan demikian sangatlah problematik jika hakikat pikiran, makna, dan relasi kausalitasnya dipahami secara isolatif dari sejarah pemikiran. Dalam problem tersebut kita harus dapat memberikan kausasi mental yang melibatkan keyakinan, hasrat dan sebagainya yang memiliki peran kausal di luar natural kind—yang tentu saja masih bertopang pada entitas fisikal.[16] Bagaimana kemudian kita dapat menjelaskan gangguan yang tidak reduktif?

    Sebelum membahas eksplanasi kegilaan yang non-reduktif ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu beberapa jenis reduksionisme.[17] Pertama adalah reduksionisme metafisik yang mengklaim bahwa entitas pada tingkat yang lebih tinggi bukanlah apa-apa (epifenomena) dibanding tingkat yang lebih bawah. Dalam psikiatri contohnya adalah disputasi apakah pikiran di atas, dan berbeda dengan, otak. Disputasi ini bersifat metafisik karena bersinggungan dengan natur realitas. Kedua adalah reduksionisme epistemik atau eksplanatoris yang memandang bahwa klaim pada satu tingkat tertentu dapat direduksi pada klaim tingkat yang lebih bawah. Contoh dari reduksionisme epistemik ini adalah ilmu psikologi, yang dapat direduksi pada neurologi. Klaim epistemik ini berhubungan dengan pengetahuan manusia. Dan yang ketiga adalah reduksionisme metodologis. Reduksionisme jenis ini memandang bahwa reduksi merupakan strategi yang lejit untuk sains dalam menjelaskan sebuah fenomena. Strategi ini mungkin saja gagal tapi reduksionisme metodologis tetap memandang reduksi sebagai metode yang bagus untuk sains.

    Reduksionisme pertama dan kedua seringkali berhubungan erat karena sekali kita menetapkan status metafisik hal ikhwal maka akan mengantarkan kita pada akses epistemik tertentu. Berangkat dari hubungan tersebut kita harus menetapkan terlebih dahulu status metafisik dari kegilaan. Kegilaan merupakan sebuah fenomena mental maka dari itu tergantung pada status mental. Entitas mental merupakan entitas yang berbeda sama sekali dengan entitas fisikal karena memiliki properti yang tidak dapat direduksi pada entitas fisikal, misalnya kesadaran, subjektivitas, dan intensionalitas. Meskipun bertopang pada entitas fisik, properti-properti ini memiliki relasi yang erat dengan kondisi sosio-kultural tertentu. Demikian juga dengan simtom kegilaan berhubungan erat dengan keyakinan, hasrat, dan aksi dari individu yang lain.[18] Bagaimana kemudian keadaan intensional ini memiliki peran kausal?

    ***

    Kausasi bukan hanya korelasi. Kita tidak dapat menyimpulkan secara langsung tentang apa yang menyebabkan apa dari data tentang apa yang mengkorelasikan apa. Begitupun dengan eksplanasi dalam psikiatri.[19] Terdapat anggapan bahwa ada korelasi antara kemiskinan dan kegilaan, misalnya, tapi hipotesis kausal yang menjelaskan korelasi ini tidak tunggal. Atau bahkan mungkin saja terdapat faktor ketiga yang menyebabkan kemiskinan dan kegilaan. Mungkin juga kemiskinan dapat menyebabkan kegilaan atau mungkin sebaliknya, kegilaan menyebabkan kemiskinan. Kita tidak tahu hingga kita memahami intervensi kausal yang ikut serta dalam korelasi tersebut.

    Kausalitas dalam pemahaman saintifik dapat dieksplisitkan sebagai intervensi kausal. Untuk X penyebab dari Y adalah bahwa X dan Y dikorelasikan oleh intervensi pada X. Secara ekuivalen, kita juga dapat mengatakan bawha X penyebab dari Y adalah sebuah kasus di mana terdapat intervensi pada X dan jika ada intervensi tersebut maka akan terdapat perbedaan pada Y.[20] Analisis intervensionis ini adalah artikulasi dari pendekatan kausasi yang sering dijadikan praasumsi dalam sains eksperimental secara umum, bukan hanya psikiatri. Pendekatan terhadap kausasi ini sangat penting bagi psikiatri karena secara prinsipil variable dari beberapa tingkat eksplanasi dapat dimasukan: variable X dan Y dapat berupa variable ekonomis, biologis, sosiologis, kultural, dan sebagainya, karena secara metafisik hakikat dari kegilaan harus dapat dijelaskan dalam multi-tingkat.

    Christopher Frith memformulasikan eksplanasi kausal secara bertingkat dari kegilaan sebagai berikut[21]:

    “Eksplanasi kausal untuk simtom skizofrenia tidak cukup adekuat. Misalnya bahwa “gangguan pikiran disebabkan oleh reseptor dopamin yang supersensitive”, atau “halusinasi terjadi ketika hemisper kanan melakukan koneksi intens pada hemisper kiri melalui sebuah corpus callosum yang cacat” . . .

    Perhatikan pernyataan dari tipe “Pikiran yang bertentangan disebabkan oleh tembakan neuron dopamin yang tidak tepat.” Mari kita asumsikan bahwa pernyataan tersebut benar bahwa terdapat sebuah asosiasi antara pikiran yang bertentangan dengan abnormalitas neuron dopamin. Meskipun demikian, penjelasannya tidak adekuat karena tidak menjelaskan hakikat halusinasi ataupun proses yang mendasarinya. Eksplanasi tersebut juga tidak menjelaskan peran neuron dopamin dalam domain fisiologis. Kita mungkin dapat berargumen bahwa secara empiris detil ini tidak relevan karena tidak cukup dan penting untuk mendemonstrasikan sebuah asosiasi. Pendekatan ini sangat berbahaya. Dalam penelitian klinis eksplanasi ini biasanya hanya mungkin untuk mendemonstrasikan asosiasi daripada kausasi . . . .

    Pemikiran yang lebih baik, tapi tetap tidak memuaskan, untuk menghubungkan pikiran dan otak adalah “tembakan acak” neuron yang menghantarkan pasien pada pengalaman mental abnormal. Pemikiran seperti ini merupakan posisi dualis di mana pikiran dan otak mengirim pesan satu sama lain. Eksplanasi ini tidak adekuat karena tidak dapat menjelaskan bagaimana pikiran secara normal dapat dibedakan antara pengalaman mental natural dan non-natural. Pada tingkat neural pasti terdapat sebuah mekanisme yang membolehkan sebuah pembedaan antara tembakan non-natural dan yang membentuk sebuah bagian yang cukup dari skema yang lebih besar . . . .

    Pendekatan saya ini akan berkembang selengkap mungkin seperti kemungkinan eksplanasi pada tingkat psikologis. Paralel dengan kemungkinan eksplanasi tersebut maka harus eksplanasi lengkap pada tingkat psikologis.”

    Kausasi mental dapat dikatakan sebagai pikiran yang membuat sebuah perbedaan. Keyakinan, hasrat, perasaan, dan pikiran dapat menyebabkan keyakinan, hasrat, perasaan, dan pikiran lebih jauh; dan juga menyebabkan peristiwa fisik seperti aksi. Artinya selain terdapat kausasi fisikal-pada-mental juga terdapat kausasi mental-pada-mental dan mental-pada-fisikal. Salah satu contoh eksplanasi kegilaan yang reduktif adalah proyek Research Domain Criteria (RDoC) yang digagas oleh National Institute of Mental Health Amerika Serikat. Proyek RDoC berusaha untuk mengklasifikasikan kegilaan yang didasarkan pada sistem sirkuit otak. Dalam pemahaman ini kegilaan dapat dimengerti sebagai gangguan otak dan karena itulah proyek ini merupakan proyek eksplanasi reduktif karena hanya memprioritaskan satu tingkat entitas dan eksplanasi, yaitu neurologis. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan mekanisme neurobiologiko-etiologis dari gangguan mental.[22] Dengan mekanisme tersebut proyek ini berharap dapat memformulasikan penyebab fisikal yang mendasari kegilaan untuk kemudian dapat merumuskan fungsi prediktif dari sains, namun dengan mengabaikan variabel lain.


    Catatan Akhir

    [1]Jennifer Radden, “Mental Disorder (Illnes)”, The Stanford Ensyclopedia of Philosophy (Edisi Winter 2919), URL = https://plato.stanford.edu/archives/Win2019/entries/mental-disorder/.

    [2]Derek Bolton, “Problems in the Definition of ‘Mental Disorder’ dalam The Philosophical Quarterly, Vol. 51, No. 203 (2001), hal. 182-199

    [3]DSM4, hal. 274-275.

    [4]Op.cit.,hal, 185.

    [5]Lih. K. W. M., dkk (ed.), “Introduction: History” dalam The Oxford Handbook of Philosophy and Psychiatry (Oxford: Oxford University Press), hal. 16.

    [6]Lih. E.M. Hundert, Philosophy, Psychiatry, and Neuroscience, (Oxford: UP, 1989).

    [7]K. W. M., dkk (ed.), “Introduction: Summoning Concepts” dalam The Oxford Handbook of Philosophy and Psychiatry (Oxford: Oxford University Press), hal. 361.

    [8]Loc.Cit., Jennifer Radden.

    [9] Lih. Rachel Cooper, 2013, “Natural Kinds” dalam K. W. M. Fulford, dkk (ed.), The Oxford Handbook of Philosophy and Psychiatry”, , hal 950.

    [10] Lih. Jennifer Radden, “Mental Disorder (Illnes)”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Winter 2919), URL = https://plato.stanford.edu/archives/Win2019/entries/mental-disorder/.

    [11] Lih. Dominic Murphy, “Philosophy of Psychiatry”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Spring 2017), Edward N. Zalta (ed.), URL = <https://plato.stanford.edu/archives/spr2017/entries/psychiatry/>.

    [12] Lih. P. Shah dan D. Mountain, 2007, “The Medical Model is Dead: Long Live the Medical Model” dalam British Journal Psychiatry, 191, hal. 375.

    [13] Lih. Dominic Murphy, 2013, “The Medical Model and the Philosophy of Science” dalam K. W. M. Fulford, dkk (ed.), The Oxford Handbook of Philosophy and Psychiatry”, hal. 967.

    [14]Ibid., hal. 968.

    [15]Lih. Nancy Andreasen, 2001, Brave New Brain, (New York, NY: Oxford University Press), hal. 172-176.

    [16] Lih. Derek Bolton, Jonathan Hill, 2003, Mind, Meaning and Mental Disorder, (Oxford: Oxford Unversity Press), hal. 1. 

    [17]Lih. Rachel Cooper, 2007, Psychiatry and Philosophy of Science, (Stocksfield: Acumen), hal. 102-103.

    [18]Lih. Mark Turner, 2003, “Psychiatry and the Human Science” dalam British Journal of Psychiatry 182, hal. 473.

    [19]Lih. John Campbell, 2013, “Causation and Mechanisms in Psychiatry” dalam K. W. M. Fulford, dkk (ed.), The Oxford Handbook of Philosophy and Psychiatry”, hal. 935.

    [20]Ibid., hal. 936.

    [21] Seperti yang dikutip dalam Ibid. hal. 938-939.

    [22]Lise Marie Andersen, 2017, “Mechanisms and Reduction in Psychiatry” dalam EPSA15 Selected Papers, hal 111-112. Doi:10.1007/978-3-319-53730-6_10.

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here