James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus.

Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani) hidup, maka, ada kemungkinan, dapat disimpulkan bahwa filsuf yang baik seharusnya bijaksana dan orang-orang baik, dapat membantu orang lain yang sedang berjuang mengatasi tragedi atau bahkan dengan keberadaannya sendiri. Tetapi jika kita melihatnya secara keseluruhan kesimpulan tadi bukanlah bagaimana filsuf itu sendiri merasa. Saya membayangkan filsuf akademik, meskipun saya tahu bahwa penganugerahan gelar “filsuf” hanya pada orang-orang tertentu yang bekerja di bidang akademis yang didanai Negara akan terasa konyol. Ada banyak orang bijak dan sophiaphiles yang hebat di luar departemen filsafat. Posisi filsuf akademis merupakan sebuah inovasi yang relative baru, dan seseorang mungkin akan menganggap bahwa profesionalisasi subjek sebagai seseorang yang korup dan takterelak terdistorsi, khususnya dalam akademi kontemporer di mana ide-ide manajerial dan administratif yang dapat dibilang sok-sokan intelek ada di mana-mana–saksi “tema penelitian”, “dampaknya”, dan proliferasi “strategi penelitian”.

Bagaimanapun, komplain baru-baru ini tentang spesialisasi filsafat tidak terlihat memiliki profesionalisasi sebagai targetnya, tetapi lebih karena ketakteraksesannya apa yang dilakukan oleh para professional dari perspektif orang lain. Profesionalisasi dan ketakteraksesan mungkin berhubungan satu sama lain. Apakah karena filsuf profesional terlalu terspesialisasi sehingga mereka tidak dapat membantu bagaimana orang-orang menjalani hidup dan terlibat langsung dalam pencarian masyarakat awam untuk menemukan (menciptakan) makna dan pemahaman filsafat?

Apakah para filsuf professional atau tidak, beberapa filsuf suka berdebat, bahkan jika mereka berdebat tentang apakah mereka suka berdebat. Saya pernah mendengar dua orang filsuf terkenal mendiskusikan kapan persisnya “Tractatus-nya” Ludwig Wittgenstein menjadi sebuah omong kosong. Salah satu dari mereka bersikeras bahwa mereka berdua memikirkan hal yang sama tentang problem ini, dan yang lainnya berpendapat bahwa ada perbedaan pendapat di antara mereka. Yang saya tahu sekarang mereka masih berpolemik tentang hal itu.

Tak ada argumen yang lebih baik untuk dimiliki para filsuf selain tentang sifat dasar filsafat itu sendiri. Untuk berdebat tentang hakikat filsafat adalah untuk sampai pada hakikat esensialnya yang pada dasarnya konyol. Jika filsafat adalah, seburuk-buruknya, (atau sebaik-baiknya), bertanya tentang sesuatu yang tidak berguna yang oleh orang lain diterima begiru saja–apakah kita tahu bahwa besok matahari akan terbit sama sekali atau apakah meja itu benar-benar ada atau whatever–apa yang lebih berguna daripada disputasi tentang apakah filsafat itu sendiri ada gunanya? Tentu saja, seperti yang dikatakan oleh Alan Bennett pada Jonathan Miller dalam sebuah sketsa komedi yang memparodikan filosofi Oxford, seseorang yang menyatakan bahwa metafisika sebenarnya tidak (di)mungkin(kan) sebetulnya ia sedang menganjurkan sebuah pandangan metafisik tertentu. Demikian pula seseorang tidak dapat mengatakan apa itu filsafat, atau bahkan menawarkan argumen mengapa filsafat tidak berguna, tanpa berfilsafat. Filsafat, seperti menulis prosa, mudah dilakukan tanpa disadari.

Saya ingin menjelaskan mengapa saya berpikir bahwa banyaknya spesialisasi dalam filsafat kontemporer bukanlah sesuatu yang buruk. Sebagain besar argumen saya bergantung pada keterlibatan filsafat dengan pengetahuan lainnya. Saya ingin mempertahankan spesialisasi dalam filsafat yang merupakan konsekuensi dari tumpang-tindihnya antara subbidang filsafat serta materi ajar khusus lainnya, di mana itu mungkin sejarah filsafat itu sendiri. Ini merupakan jenis filsafat yang saya yakini bermanfaat. Jika memang ada filsafat murni maka mungkin filsafat tersebut tidak bernilai, tidak jelas apakah itu lebih dari bentuknya yang ideal, karena tidak ada filsuf yang merupakan sebuah kelompok tertentu.

Bagaimanapun juga, penting untuk membedakan antara berbagai jenis spesialisasi. Beberapa orang mengkhususkan diri dalam literatur yang dihasilkan oleh kelompok sebaya mereka selama dua puluh atau tiga puluh tahun terakhir, dan memiliki paling tidak sedikit pengetahuan tentang apa yang dikatakan oleh para filsuf besar di masa lalu, dan/atau bahkan tentang keasyikan mereka sendiri dalam bergumul dengan filsafat. Mungkin hal ini merupakan sesuatu yang buruk. Bahkan lebih buruk lagi, setiap subjek memiliki jalan buntu, dan pasti ada cabang filsafat dengan konsep dan pertanyaan yang kita anggap tidak ada gunanya. Bagaimanapun, tidak mudah untuk memilih pemenang dalam bidang filsafat daripada di bidang lain manapun. Kita tahu bahwa kontribusi keseluruhan filsafat bagi keberadaan manusia begitu besar sehingga mustahil untuk dievaluasi bahkan jika kita hanya mempertimbangkan spin-offnya dalam sains. Kontribusi ini berasal dari subkultur yang berpikir secara berkelanjutan dan hati-hati tentang sesuatu yang orang lain terima begitu saja dan biasanya hal ini berarti mengkhususkan diri (specializing). Saya akui bahwa pembelaan saya terhadap spesialisasi dimotivasi oleh keinginan saya yang tulus yang masih dapat menghabiskan sisa hidup saya dengan memikirkan sebagaian besar problem yang sama yang telah saya pikirkan selama dua puluh tahun–meskipun dalam pandangan saya hal ini berarti belajar lebih banyak lagi tentang segala sesuatu yang lain juga.

Tentu saja, filsafat akademis bisa sangat terspesialisasi, dan diskusi yang sering terjadi dalam apa yang dianggap oleh orang lain sebagai sebuah jargon yang tidak dapat ditembus (atau dipahami). Namun, situasi seperti ini bukanlah sesuatu yang khas hanya dimiliki oleh filsafat saja. Siapa yang memahami term-term yang digunakan oleh para matematikawan dan fisikawan teoretis untuk berkomunikasi selain mereka yang memiliki pelatihan yang memadai dalam bidang teknis yang relevan? Seharusnya ada sesuatu yang salah dengan filsafat yang dalam hal-hal tertentu tidak dapat diakses, hal ini merupakan sebuah fakta bahwa filsafat tampaknya telah mengkhianati konsepsi filsafat Socrates, yaitu mencitai kebijaksanaan.

Socrates berpikir bahwa tujuan hidupnya adalah untuk menunjukan bahwa orang lain yang mengaku memiliki pengetahuan tentang apa yang paling penting sesungguhnya tidak. Namun, bagi Socrates yang paling penting adalah sifat kebajikan, yang baginya berarti pengetahuan tentang bagimana seseorang harus hidup. Tetapi filsafat tidak dimulai dari Socrates. Thales sering disebut sebagai filsuf pertama karena dia mempertanyakan fundamen dari segala sesuatu yang ada yang menurutnya adalah air. Tidak diragukan lagi dia bukan orang pertama yang memikirkan keberadaan, dan pemikir dari masa pra-sejarah mungkin juga terlibat dalam persoalan metafisika. Mungkin saja pertanyaan filosofis pamungkas adalah tentang makna kehidupan, tetapi ia disaingi oleh pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan sifat alam semesta. Selain itu, ada banyak pertanyaan filosofis–mengenai, misalnya, identitas diri, kehendak bebas, pengetahuan, dan sifat emosi–yang terkait erat dengan makna kehidupan, tetapi orang mungkin tertarik pada sesuatu yang secara independen memiliki dasar-dasar tertentu.

Dari berbagai cabang filsafat, filsafat dapat disatukan, jika memang demikian, yaitu dengan metodologi dan tujuan utamanya. Area-area filsafat yang berbeda didasarkan pada diferensiasi bidangnya yang berbeda, dan masing-masing tumpang tindih dengan diskursus teoretis dari bidang lain. Taka ada yang namanya fakta pemikiran bebas, kecuali mungkin dalam logika dan matematika. Disputasi filosofis menyangkut kedua aspek subjetivitas manusia (seperti agensi, identitas, dan tanggung jawab), dan hakikat dari fitur dunia (seperti kausasi, kebetulan, hukum, materi, modalitas, ruang dan waktu, ataupun ruangwaktu). Tidak masuk akal untuk terlibat dalam refleksi filosofis tentang subjektivitas manusia dalam ketidaktahuan sepenuhnya tentang sejarah, politik dan psikologi, untuk mengatakan sesuatu tentang karya seni, sastra, dan musik. Demikian pula, tidak masuk akal jika kita melakukan sebuah penyelidikan filosofis tentang alam jika kita tidak tahu sama sekali tentang sains. Oleh karena itu beberapa filsuf harus berspesialisasi ke dalam beberapa bagian logika, matematika, dan sains, dan membawa pengetahuan tersebut pada ranah disputasi filosofis. Setelah penyelidikan filosofis menghasilkan buah dari logika matematika kontemporer, dan menghasilkan sistem yang canggih dari logika deontik, epistemik, dan modal, akan terasa banal jika menganjurkan disputasi filosofis tentang logika filosofis–begitupun pertanyaan-pertanyaan kuno mengenai esensi, eksistensi, identitas, individualitas, properti, dan sebagainya–harus dilakukan di antara para ahli dalam sebuah idiom yang dapat diakses oleh orang awam.

Dalam sebuah wawancara dengan The Philosopher’ Magazine (terbitan 26), A. C. Grayling mengatakan bahwa teman ekonomnya dan yang lainnya di Cambridge, harus memiliki pelatihan lanjutan dalam bidang matematika dan pemikiran abstrak hanya untuk membaca tulisan-tulisan pemikiran Bertrand Russell. Banyak filsuf bekerja di bidang yang tumpang tindih dengan beberapa bagian sains yang paling teoretis atau dengan sejarah sains. Contohnya beberapa filsuf yang bekerja di ranah teori-teori probabilistik tentang rasionalitas dan kausasi, serta teori keputusan (decision theory), teori konfirmasi, linguistik teoretis, machine learning, fondasi (dasar) fisika, dan sebagainya. Orang-orang tersebut harus berinteraksi dengan para ilmuan yang tertarik pada bidang-bidang tersebut. Saya telah menghadiri banyak konferensi yang melibatkan fisikawan dan filsuf, dan kolega saya bekerja dengan ahli biologi, saintis computer, ekonom, dan psikolog. Jika para filsuf bukan spesialis, mereka tidak akan dapat berinteraksi dengan para saintis.

Bagi beberapa filsuf  yang ingin memahami pertanyaan-pertanyaan tradisional tentang pikiran atau dunia fisik dalam terang pengetahuan ilmiah terbaik kita, jauh lebih mudah bagi mereka untuk berbicara dengan orang-orang yang melek secara ilmiah tentang pekerjaan mereka, karena masalahnya dihasilkan oleh sains aktual serta kompleksitas konseptual dan matematisnya. Hal yang sama juga berlaku untuk orang-orang yang tertarik untuk mempelajari filsafat musik, estetika, dan sebagainya. Filsafat juga membutuhkan pengetahuan tentang sejarah beberapa gagasan tertentu, sejarah sains, politik, dan ekonomi. Sejarah seni dan sastra juga terkait dengan sejarah filsafat. Banyak filsafat secara simultan juga merupakan sejarah filsafat karena para filsuf secara konstan menyajikan dan menginterpretasikan argumennya satu sama lain. Beberapa argumen terbaik dipertimbangkan, dalam beberapa bentuk tertentu, oleh para filsuf besar terdahulu, tapi lagi-lagi untuk memahami sejarah filsafat dengan baik atau bahkan bagian-bagian kecil dari sejarah tersebut, kita perlu menspesialisasikannya pada batas-batas tertentu.

Saat saya menulis ada orang-orang yang mempertanyakan nilai semua bidang seni dan humaniora dan meminta untuk mengetahui bagaimana seni dan humaniora bermanfaat bagi apa yang disebut masyarakat umum. Beberapa tidak memiliki pelatihan akademik yang sama sekali memadai dan memiliki kosa kata yang relative terbatas berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Bagi orang-orang semacam ini, banyak kamus merupakan jargon yang tidak dapat ditembus, sehingga jurnal-jurnal filsafat tidak menimbulkan problem yang unik. Di sisi lain, populasi yang diprakarsai secara akademis akan mencakup orang-orang yang telah kuliah, dan mereka yang telah melatih pikiran mereka sendiri. Akan ada perpecahan kasar antara mereka yang memiliki pengetahuan tentang matematika, atau paling tidak dasar-dasarnya, dan mereka yang tidak memilikinya, mereka yang paling tau tentang seni, humaniora atau sains. Beberapa dari orang-orang demikian sudah terbiasa berpikir tentang isu-isu filosofis di bidang mereka sendiri. Atau setidaknya akan cukup tahu tentang bidang kajian mereka sehingga aspek-aspek filosofis mereka dapat dengan mudah dijelaskan.

Oleh karena itu, saya dapat dengan mudah menjelaskan apa yang saya kerjakan dengan detail yang masuk akal kepada seseorang insinyur telepon seluler yang memiliki minat dalam bidang fisika, dan kolega saya mungkin merasa sangat mudah untuk menjelaskan apa yang dia lakukan kepada mereka yang sudah membaca karya-karya Jean Paul Sartre dan Albert Camus secara matang. Akan ada sesuatu yang sangat salah jika sebuah karya filsafat fisika dapat diakses oleh seorang ahli bahasa seperti halnya fisikawan, atau jika kerja dalam bidang filsafat bahasa sama mudahnya diakses oleh ahli fisika seperti halnya dengan ahli bahasa.

Orang-orang menginginkan sesuatu yang sangat berbeda dari filsafat. Beberapa mungkin ingin tahu apakah fisika benar-benar menjelaskan asal-usul alam semesta, yang lain ingin tahu apakah mereka harus menjadi vegetarian. Sebagaian besar pada akhirnya akan memiliki gagasan bahwa filsafat berkaitan dengan apakah keberadaan kita memiliki makna dan tujuan, dengan sifat dasar realitas, dan batas-batas pengetahuan. Bagaimanapun, tidak ada buah yang menggantung rendah untuk dipetik di wilayah ini. Jadi kami puas dengan membuat langkah kecil dalam disputasi tertentu (yaitu khusus), bukan dengan gambaran besar secara langsung. Sebagian besar filsuf professional mempelajari masalah kecil karena hanya melalui perincianlah gambaran yang lebih besar terungkap.

Saya tidak mengerti kenapa setiap filsuf, atau sebagaian besar, harus tertarik untuk mengkomunikasikan pemikiran mereka tentang masalah ini kepada dunia. Saya tidak memiliki hasrat yang membara untuk bersaing dengan orang-orang yang menjadikannya sebagai bisnis mereka untuk mempopulerkan filsafat, dan bahkan jika saya melakukannya, saya mungkin tidak akan terlalu pandai dalam hal ini. Ada banyak buku popular tentang filsafat, dan nada pasar yang berkembang untuk buku-buku tersebut. Ada banyak orang hebat yang menjadi penengah antara akademisi secara umum dan penduduk lainnya. Saya bingung kenapa banyak orang menyerukan semua akademisi untuk melakukan hal tersebut. Kasus filsafat dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan matematika murni atau mikrobiologi. Gagasan bahwa setiap ilmuan harus menjadi jurnalis sains paruh waktu dan pembicara publik merupakan sesuatu yang absurd.

Terlalu mudah untuk mengolok-olok dan mengabaikan karya akademis yang direkondisi dan mempertanyakan nilainya. Ketika orang-orang mengklaim bahwa filsuf-filsuf profesional menghasilkan karya yang nilainya sedikit atau tidak ada sama sekali karena karya tersebut hanyalah jargon-jargon dan tidak dapat diakses. Jika semua hal dalam jurnal-jurnal filsafat memang tidak penting untuk misi filsafat, maka tidak perlu merasa tidak enak karena tidak memahaminya, tidak perlu menerimanya bahwa isi jurnal tersebut tidak terjangkau oleh banyak ilmu pengetahuan, dan tidak perlu melakukan beberapa upaya besar yang diperlukan untuk melatih pikiran seseorang dan memperoleh latar belakang pengetahuan dan menguasai konsep-konsep sejauh yang diperlukan untuk memahaminya.

Sebagian besar pekerjaan akademik dalam semua bidang studi kering dan membosankan bagi orang lain dan hanya berkontribusi sedikit demi sedikit pada sejumlah pengetahuan. Saya berharap ada orang-orang di luar sana yang memiliki selera untuk rincian morfologi siput atau kehidupan biara pada abad ke-17. Saya tidak berharap mereka tertarik pada status prinsip identitas yang tidak dapat dilihat dalam terang fisika kontemporer. Sebuah peradaban membutuhkan orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu tentang ikhwal yang obskur yang mana hal itu dapat dilabeli sebagai sesuatu yang abnormal, jikan bukan borderline obsessive-compulsive. Charles Sanders Peirce menghabiskan waktu berjam-jam setiap pagi dengan mempelajari “Critique of Pure Reason”. Itu jauh dari standard kebanyakan filsuf, karena mereka tidak terlalu peduli tentang Kant. Tetapi kita semua harus menghormatinya sama seperti kita menghargai kolega kita yang menghabiskan hidup mereka untuk mencoba memahami Joyce atau distribusi bilangan prima, atau ketika “Tractatus” menjadi omong kosong, karena ini semua adalah salah satu hal terpenting yang ada.

Filsafat berkaitan dengan dasar pemikiran dan pengetahuan di setiap bidang termasuk, misalnya, logika, matematika, dan semua ilmu, tetapi juga etika, hukum, politik, dan historiografi, serta studi kritis seni dan sastra. Oleh karena itu tidak bijaksana untuk mengharapkan sebagian besar filsuf akademik untuk bersikap adil terhadap bidangnya secara keseluruhan. Sebaliknya, penting bahwa beberapa orang menjadi terspesialisasi dalam memahami secara tepat mengapa kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan spesifik yang banyak di antaranya hanya masuk akal bagi para ahli. Hal ini mungkin tidak sama dengan memajukan pemahaman kita tentang makna kehidupan, namun demikian masih bersesuaian dengan konsepsi Socrates tentang filsuf sebagai pengganggu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan canggung dan mengungkapkan keangkuhan epistemik. Pengetahuan kita tentang dunia telah berkembang tak terkira sejak zaman kuno, dan para filsuf akan gagal dalam peran mereka jika mereka tidak berspesialisasi secara cukup untuk mengetahui secara memadai untuk dapat menunjukkan dengan tepat di mana letak batas pemahaman kita.

____________

*Artikel ini dialih-bahasakan atas seizin penulis, James Ladyman, dari esainya yang berjudul “In Praise of Specialisation” di The Philosopers’ Magazine. James Ladyman adalah seorang filsuf kontemporer yang merupakan proponen realisme struktural ontik. Kajian filsafatnya fokus pada bidang filsafat ilmu dan metafisika. Saat ini dia mengajar sebagai Profesor Filsafat di Department of Philosophy, University of Bristol.