Dalam hidupnya individu pernah merasa dirinya sedang dilanda “krisis eksistensi”. Mempertanyakan makna hidup yang selama ini ia jalani. Apakah hidup yang ia jalani sudah berada di jalan yang benar ataukah malah sebaliknya. Tidak jarang dari kita seolah-olah lari dari situasi ini dengan larut dalam gosip, pergi ke kafe, membaca komik, dan hal-hal keseharian lain. Bagi Martin Heidegger inilah yang disebut das Man – cara berada individu yang tergerus arus massa tanpa keberanian mengambil sikap yang berbeda – padahal di momen krisis itulah manusia memikirkan dirinya sebagai yang ada serta menjadi pribadi yang otentik. Lantas apa itu manusia (baca: pengada) yang otentik? Pertanyaan inilah yang berusaha dijawab oleh Kierkegaard lewat filsafat Eksistensialisme. Namun pertama-tama ada baiknya kita mengenal filsafat Hegel karena sosok Hegel lah yang mempengaruhi cara pandang Kierkegaard dalam karya-karyanya.

Kritik terhadap Hegel

Phänomenologie des Geistes (Fenomenologi Roh) Hegel dengan optimis yakin bahwa seluruh realitas dapat dijelaskan secara rasional. Sebagaimana yang dijelaskan oleh T. Hidya Tjaya:

Hegel ingin membangun sebuah sistem filsafat yang lengkap. Dengan filsafat ini, ia bermaksud menciptakan kerangka konseptual, sehingga masa lalu dan masa depan dapat dipahami secara filosofis. Bahkan perasaan, rasa cemas, dan penderitaan dapat dipahami lewat kerangka filsafat yang dicita-citakan Hegel. Tugas utama filsafatnya adalah menjelaskan struktur rasional internal dan tujuan proses perjalanan total segala sesuatu. Hal ini dimungkinkan oleh adannya kesadaran manusia yang mampu mengenal dan menyadari dirinya sendiri dalam peristiwa-peristiwa sejarah, atau yang disebut Roh (Spirit-Geist). [1]

Cara pandang Hegel membuat Kierkegaard tertawa. Boleh jadi Hegel tampaknya sangat ambisius dalam sistemnya. Dengan kerangka objektivitas (yang umum), ia yakin dapat menjawab segala pergolakan yang muncul dalam hidup manusia. Hegel memandang bahwa realitas objektif ini suatu saat akan final (mutlak dan absolut) lewat pengalaman sejarah atau yang disebutnya sebagai Roh.

Sudut pandang inilah yang ditentang oleh Kierkegaard. Realitas objektif tidak akan pernah final. Ia akan terus mengada dan terus berproses. Kalau Rasio dapat membuat sistematis dan mengatur segala bentuk kehidupan, maka cara hidup yang rasional sudah dapat ditemukan dalam sistem filsafat Hegel. Dengan kata lain, orang tidak perlu memilih karena sudah ada “perintah rasional yang harus ditaati oleh setiap individu. Pemuliaan Rasio dan Logika dalam filsafat Hegel pada akhirnya justru mengingkari dimensi hakiki eksistensi manusia, yaitu kebebasan.[2]

Kierkegaard menganggap tidak semua hal dapat dijawab oleh kebenaran objektif. Sebagai contoh, seorang pemimpin negara yang mesti menentukan untuk mengorbankan putra tunggalnya demi keselamatan negara, atau seorang pemuda pergi berperang untuk membalas dendam saudaranya akibat terbunuh oleh tentara musuh namun di satu sisi ia hidup bersama seorang ibu dan dialah satu-satunya penghiburan bagi ibunya. Situasi-situasi seperti inilah yang tidak dapat dijawab oleh filsafat Hegel.[3] Berangkat dari ketidakmampuan ini, subjektivitas memperoleh tempatnya.

Kepalsuan dan Kerumunan

Orang yang bermuka dua atau yang disebut Kierkegaard sebagai double life, adalah individu yang tidak otentik.[4] Hal ini muncul akibat dari ketidakselarasan antara kehidupan batin dan penampilan publik. Ketidakselarasan ini dapat dikatakan sebagai kepalsuan. Menipu orang lain karena apa yang sebenarnya terjadi ditutupi dan tidak terlihat bagi banyak orang. Sayangnya hal ini dilakukan oleh sebagian besar manusia. Mereka menolak untuk menjadi dirinya sendiri dan beberapa dari mereka tidak sadar atas ketidakotentikan kehidupan yang mereka jalani. Sama halnya ketika suami merasa muak atau sudah tidak nyaman lagi hidup dengan istrinya namun ia tidak ingin hubungan pernikahan yang sudah mereka perjuangkan pupus begitu saja. Akibatnya hubungan mereka penuh dengan kepalsuan. Politisi yang mengampanyekan visi dan misinya yang dirasa sangat membela kepentingan rakyatnya dan memberikan citra sebaik mungkin sampai-sampai elektabilitasnya muncul di papan teratas nyatanya hanya menebar kepalsuan. Tidak jarang politisi yang terpilih membuat undang-undang yang hanya menguntungkan satu pihak dan yang paling buruk melakukan tindakan korupsi. Inilah ketidakotentikan yang disebut Kierkegaard.

Menjadi otentik bukanlah perkara mudah yang dapat dilakukan begitu saja. Apalagi ketika ia hidup dalam kerumunan. Gagasan kerumunan sudah jelas bertolak belakang dengan diri sendiri atau pribadi. Apabila melihat seorang caleg berkampanye di suatu daerah, tentu saja ia akan menggerakan massanya untuk mendukung aktivitasnya.  Massa inilah yang disebut kerumunan. Individu-individu yang tergabung hingga membentuk kelompok. Identitas individu ini melebur dalam kelompoknya hingga membentuk massa dengan sifat anonimitasnya.[5]

Orang cenderung takut tidak diterima oleh kerumunannya (atau masyarakat), karena ia berpikir bahwa dengan diterimanya dia dalam kelompoknya ia merasa hadir dan hidupnya bermakna (terpenuhi).[6] Momen ketika dihadapi oleh situasi eksistensial orang tidak mau merenungi persoalannya secara pribadi melainkan memilih untuk curhat kepada orang lain atau mengalihkan perhatiannya. Inilah yang keliru. Bagaimanapun juga yang konkret adalah sang individu.

Untuk menjadi yang otentik bukan hanya masalah pilihan untuk menghindari kepalsuan dan keluar dari kerumunan. Namun individu juga harus memiliki keteguhan hati. Memilih untuk menjadi otentik adalah masalah yang serius. Hanya dengan hidup secara otentiklah kita bisa melalui pilihan-pilihan penting yang menentukan hidup kita. Maka hidup yang kita jalani mesti dilakukan secara sungguh-sungguh. Kehidupan yang kita jalani adalah perjuangan, kita adalah pejuang maka jangan hidup hanya untuk sekedar hidup aja melainkan carilah makna hidup dalam momen eksistensial kita.

Menengok Subjektivitas

Ada yang menarik dari tulisan Donny Garhal Adian dalam ulasannya dalam Irigaray’s Vaginasophia tentang subjektivitas:

Subjektivitas dalam kosakata filsafat Barat sungguh sebuah mantra suci rasionalitas. Padahal, saya termasuk orang yang percaya bahwa subjektivitas tidak lahir dari rasionalitas. Subjektivitas adalah nama lain dari penaklukan. Penegasan diri di hadapan objek adalah sebuah invasi diam-diam. Objek dibisukan dari segala tuturan pribadi tentang dirinya. Ia tidak dimusnahkan. Hanya dibisukan. Sebab itulah bukti kemenangan sejati subjektivitas di hadapan yang liyan. [7]

Donny Garhal Adian memberikan kesan mendalam tentang subjektivitas seolah-olah ia adalah Napoleon tokoh liberator yang membebaskan bangsa Prancis dari kutukan sistem feodal. Lantas siapa sejatinya subjektivitas?

Filsafat modern memang berporos pada kesadaran dan subjektivitas. Setelah kata termasyhur yang digaungkan oleh Rene Descartes yakni, Cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada). Kata cogito lebih tepat dipahami sebagai “saya menyadari”. Oleh karenanya, pernyataan Cogito ergo sum harusnya dimengerti sebagai “saya menyadari maka saya ada”. Kata “menyadari” sangat penting di sini karena selanjutnya Descartes tiba pada kesimpulan bahwa “aku” sebagai “yang sadar” dan bahwa “yang sadar” atau kesadaran itu adalah “aku” yang secara langsung mengenal diri sendiri. Ini yang disebut imanentisme Descartes, yaitu bahwa “aku” secara langsung mengenal diriku sendiri. Descartes menyimpulkan bahwa kesadaran adalah dimensi hakiki dari subjektivitas. [8] Disatu sisi, Kierkegaard agaknya memiliki pandangan lain tentang subjektivitas, ia merumuskan, “aku memilih maka saya ada”. Orang sungguh mengada tidak akan lari dari pilihan-pilihan yang harus dibuatnya, dan dari keputusan-keputusan yang harus diambilnya. Hanya dengan memilih dan mengambil keputusan orang akan menjadi manusia yang otentik. [9] Penekanan subjektivitas ini hanya masuk pada lingkup kebenaran moral dan religius. Kebenaran ini menawarkan cara bagaimana sebaiknya manusia menyelami hidupnya. Sebagai contoh, ketika individu di hadapi oleh situasi memutuskan pilihan dilematis, ia pasti terlebih dahulu termangu dalam keraguan. Individu harus memilih satu pilihan dan menyingkirkan pilihan lain dan perasaan takut kalau ternyata ia membuat kesalahan fatal. Situasi ini adalah penderitaan bagi kita tapi di sanalah kita sungguh-sungguh mengada.

Keterlemparan manusia dalam dunia memang tragedi dan itu adalah keniscayaan, mengingat ia hanyalah sintesis antara temporalitas dan yang abadi. Mewujudkan kehidupan yang bermakna tentu bukan perkara mudah. Itu siksaan. Oleh karenanya kita kerap kali terombang-ambing dalam kepalsuan tanpa komitmen dan tanpa hasrat. Mungkin manusia lebih senang memilih jalan hidup seperti ini. Namun hal inilah yang ditentang Kierkegaard. Kebenaran adalah subjektivitas. Hanya dengan mengambil keputusan dan berorientasi terhadap masa depan yang dapat menjadikan kita sebagai manusia yang sejati.

Catatan Akhir

[1] Lih.TH Tjaya, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri (Jakarta: KPG, 2018) hlm. 35

[2] Robert C. Solomon, From Rationalism to Existentialism: The Existentialist and Their Nineteenth-Century Backgrounds (Maryland: Littlefield Adams Quality Paperbacks, 1985), hlm 91.

[3] Lebih lanjut Jean-Paul Sartre dalam Existentialisme et émotions humaines (1957) menyebut tidak ada seorangpun dapat memberikan kita jawaban atas situasi diatas. Nyatanya tidak ada jawaban atas situasi tersebut sampai kita memilih pilihan yang kita ambil. Tidak ada teori moral yang dapat membantu kita menyelesaikan masalah tersebut. Jadi apapun pilihan yang dipilih maka pilihan itulah yang terbenar, karena itu ditentukan lewat nilai yang kita pilih untuk diterima.

[4] TH Tjaya, Op.cit., hlm 69.

[5] Lih. Ibid., 76

[6] Terdapat kemiripan dalam cara pandang Kierkegaard dengan Martin Heidegger. Heidegger menegaskan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang berarti berada-disana-bersama (Mitdasein). Namun kebersamaan ini secara habis-habisan melarutkan kenyataan sendiri dalam cara berada ‘orang-orang lain’, sedemikian rupa sehingga perbedaan dan kekhasan orang-orang lain malah lenyap. Lih. F.B, Hardiman. Heidegger dan Mistik Keseharian (Jakarta: KPG, 2020), hlm. 73.

[7] D.G Adian. Irigaray’s Vaginasophia Luce Irigay. Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda, penerjemah Rahayu Hidayat (Jakarta: KPG dan Forum Jakarta Paris, 2005). DOI: https://doi.org/10.17510/24076899-00802012

[8] Pernyataan Descartes didasari lewat cara kerja “penyangsian metodis” yang artinya Meragukan segala sesuatu dalam hal ini dengan optimisme akan menemukan kebenaran, yang berbeda dengan skeptisisme yang menolak adanya yang disebut kebenaran. Lih. Bonar Hutapea. (2011). Menggeser Kesadaran Sebagai Pusat Manusia Yang Mutlak dan Otonom: Subjek Freudian Dalam Kritik Terhadap Filsafat Subjektivitas. Vol. 3, No. 2, 141–148

[9] TH Tjaya, Op.cit., hlm. 156