Pada abad ke-19, Arthur Schopenhauer, filsuf asal Jerman, yang disebut sebagai filsuf pesimis,  juga rival Hegel, tertarik untuk menemukan dan menjelaskan apa-apa yang menjadi aspek signifikan bagi pengalaman manusia. Ketertarikannya tersebut mengenai kondisi pengalaman manusia yang universal, di antaranya tentang cinta, seks, penderitaan, kematian, makna kehidupan, penebusan (redemption). Selain itu, ia juga mengeksplorasi fenomena yang menurutnya dihindari filsuf lain seperti, warna-warna, kejeniusan, homoseksualitas, humor, kegilaan, metafisika musik, status moral atas hewan, mistisisme, dst.

Menurut David E. Cartwright (2010), para filsuf Barat menganggap pemikiran Schopenhauer sebagai pemikiran Timur. Tidak salah juga, sebab ia banyak dipengaruhi oleh Hinduisme, Buddhisme, selain pengaruh pemikiran Barat seperti Plato,  Spinoza, Berkeley, dan Kant.

Beberapa komentar lain juga disematkan padanya. Ia disebut sebagai filsuf yang pesimis, misantropis, misoginis, sinis, irrasional. Dari mana asal mula itu semua? Kita bisa melihat dalam karya-karyanya. Namun, menurut penulis, hal tersebut sesuai dengan semangat zamannya. Kita juga bisa menginterpretasi ulang soal itu.

Meski demikian, pemikiran Arthur Schopenhauer ini perlu kita baca kembali. Entah itu karya utamanya, The World as Will and Representation, esai-esai lainnya ataupun buku berjudul Tentang Pesimisme yang diterjemahkan oleh Khoiril Maqin dari judul Parerga and Paraliponema. Sebabnya adalah karena dalam situasi seperti saat ini yang tak menentu, segenap harapan dan optimisme tak bisa dijadikan pegangan. Membacanya tak akan sia-sia, walaupun kehidupan tak pernah memiliki arti dalam dirinya, ia membeberkan ke-tak-masuk-akal-an dunia modern, mewartakan pesimisme dan mengusik seseorang yang terlalu nyaman (hal, ii) dengan segala kemapanan yang ada.

Eksistensi dan Pesimisme

Bagi Arthur Schopenhauer dunia dan kehidupan ini dipenuhi oleh penderitaan—frustasi, kebosanan (tedium), kesengsaraan. Apabila menurut orang-orang suci setiap kelahiran adalah sebuah berkah, menurut Schopenhauer adalah lebih baik tidak pernah dilahirkan sama sekali, alasannya karena dunia ini adalah yang terburuk dari semua dunia yang mungkin.

Persoalan mengenai nilai kebahagiaan, kesuksesan dalam pendidikan, pekerjaan, percintaan, merupakan pemberian makna atas kehidupan, keinginan yang hendak dicapai dengan optimisme oleh sebagian manusia. Namun, dalam perspektif Schopenhauer, hal-hal di atas tidak luput dari penderitaan. Sebab penderitaan secara umum adalah aturan main (hal, 1).

Kebahagiaan dan kepuasan selalu menyiratkan kekurangan, bahwa hasrat harus terpenuhi, beberapa kesakitan juga mesti diakhiri (hal, 2). Di sinilah letak absurditas Schopenhauer, maksudnya kita tahu bahwa hidup adalah pengulangan seperti mandi, makan, bercakap-cakap, menyendiri, mencintai-dicintai, munculnya rasa puas, rasa bahagia. Akan tetapi sepanjang kehidupan, hal-hal di atas tak pernah terpenuhi, justru melahirkan sesuatu yang baru dikehendaki yang terus berulang dengan penderitaan menyertainya.

Dengan kata lain, sepanjang hidupnya, begitu kata Schopenhauer, usaha yang dilakukan, kekhawatiran, kerja keras merupakan cara kerja yang ada selama manusia hidup di dalam dunia dengan sifat ke-dunia-an.

Pesimisme baginya, dan justru bukan optimisme, itu tidak bisa dihilangkan dari eksistensi manusia, sejak manusia merupakan makhluk hidup, terdiri dari hal-hal yang materi, manusia harus berusaha keras sebelum kematian datang. Menurutnya orang yang secara sadar berusaha dengan keras untuk memenuhi keinginannya, pastilah menderita (Christopher Janaway, 2002).

Dari sini kita bisa melihat bahwa kepuasan, kebahagiaan adalah suatu hal yang negatif. Hanya dengan sikap asketis atau seni, dan musik, maka manusia bisa menghindari segala keinginan dunia. Ia menyatakan bahwa setiap kondisi kesejahteraan, setiap perasaan puas, ialah negatif dalam karakternya; artinya, terlebih dahulu harus merdeka dari rasa sakit yang justru merupakan elemen positif dari eksistensi. Karena itu, kebahagiaan dari segala kehidupan harus diukur, bukan oleh kegembiraan dan kesenangannya, tetapi oleh sejauh mana ia telah bebas dari penderitaan—dari kejahatan positif. (Hal, 7)

Selain itu ia juga menyatakan bahwa nafsu merupakan asal mula dari kepedulian, harapan, ketakutan. Tidak heran untuk meningkatkan kesenangan, manusia dengan sukarela menambah dan memaksakan kebutuhannya, padahal dalam keadaan semula kebutuhan itu tak jauh lebih sulit untuk dipenuhi oleh binatang. (Hal, 8)

Selanjutnya ia juga menyatakan apabila segalanya mudah dicapai begitu saja, adakah nilai baginya? Apa yang akan dilakukan manusia kemudian hari apabila segalanya tersedia di depan mata? Inilah yang ditekankan oleh Schopenhauer bahwa setiap keinginan yang dihasrati, dan ketika hasrat tersebut terpenuhi, maka hasrat tersebut menjadi hasrat yang lain, dengan penderitaan atau kesulitan, suatu hal tersebut memiliki arti.

Apabila segalanya tersedia di depan mata, tanpa usaha dan penderitaan, barangkali manusia akan merasa bosan, menciptakan perang karena bosan, pembantaian, pembunuhan (hal, 4). Adalah sebuah kebenaran, bahwa kebutuhan dan kebosanan merupakan dua kutub kehidupan manusia (hal, 10).

Barangkali begitulah adanya kehidupan manusia nanti, jika merujuk kepada kitab, di alam sana. Namun, ini semua bukanlah gagasan Schopenhauer, ia justru merujuk secara tidak langsung, bahwa di sinilah jika dunia adalah surga dengan kemewahan dan kemudahan.

Bagi sebagian orang, gangguan-gangguan, pertanyaan eksistensial, seperti ini harus diacuhkan, sebab tidak umum, tak ada harapan bagi manusia-manusia optimis. Apabila semua orang telah terbiasa mendengar, membaca, memahami, dan menerapkan pesimisme, seperti yang Schopenhauer katakan, mungkin kita akan lebih bijaksana mengatur harapan, berhenti mengutuk sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan.

Hingga pada suatu ketika akan terdengar ungkapan “bahwa segala sesuatu sudah sebagaimana mestinya”. Masing-masing dari tiap manusia harus membayar, menebus hukuman dengan cara yang khas, alasannya adalah karena saudara se-penderita-an yang sama dan dialami oleh sesama manusia. Sebab hanya itu yang kita punya, dan hanya di sini kita bisa lebih merasa arti hidup (hal, 23.

Dalam buku ini, kita akan dapati penjelasan lebih lanjut dari apa yang dimaksud dengan ‘penderitaan dunia’, utamanya di bab 1. Bahwa adalah sia-sia bagi manusia untuk memberikan arti kepada dunia, kehidupan nanti, hanya bagi dirinya dan sesama manusia sajalah eksistensinya berarti. Sebabnya adalah kita telah dan selalu berada dalam Ruang dan Waktu yang tak terbatas, sementara manusia itu terbatas, di situlah kesia-siaan mewujud. Menurutnya manusia hanya berada di kondisi yang aktual, saat ini, eksistensinya lebih berarti saat ini ketimbang beberapa taun ke belakang.

Bayangkan kondisi Anda saat ini, lihatlah diri Anda, seberapa sering kita mengatakan bahwa waktu begitu cepat berlalu, tak terasa bahwa misalnya Anda telah melalui waktu lebih dari 10 tahun, berdasarkan hitungan manusia dan dari awal Anda dilahirkan. Bukankah melihat ke tahun-tahun tersebut seperti baru kemarin? Hal ini menurut Schopenhauer bisa menjadi penuntun manusia dengan kepercayaan bahwa kebijaksanaan terbesar adalah menjadikan kenikmatan saat ini sebagai tujuan tertinggi; karena itulah satu-satunya realitas, yang lain hanyalah permainan pikiran (hal, 27)

Begitu juga dengan eksistensi kita akan lenyap begitu saja, dan orang yang mengenal diri kita akan mengenal dalam kondisi ketika ia juga eksis masa kini dengan membawa memori-memori yang melekat padanya. Dengan kata lain, seluruh fondasi yang menjadi keberadaan kita adalah masa kini—masa kini yang cepat-berlalu (hal, 29). Manusia tidak bisa menghendaki Kehendak, sebab Kehendak adalah penguasa dan manusia tak akan pernah bisa memuaskan Kehendak, hanya menyisakan penderitaan.

Penulis sepakat bahwa hidup hanya menghadirkan sebagai tugas, sebagaimana Schopenhauer nyatakan, hanya untuk bertahan hidup. Di dalam eksistensi tidak ada inti, nilai intrinsik dalam dirinya. Apabila kehidupan—yang merupakan intisari keberadaan kita—memiliki nilai intrinsik positif, pastilah tidak akan ada kebosanan; eksistensi akan memuaskan kita dengan sendirinya (hal, 31).

Seperti setetes air yang terlihat melalui mikroskop, setetes air yang penuh dengan infusoria; atau setitik keju penuh dengan tungau yang tidak terlihat dengan mata telanjang. Betapa kita tertawa ketika mereka begitu semangatnya, dan bergumul satu sama lain dalam ruang yang begitu sempit! … Hanya di dalam mikroskoplah hidup kita terlihat begitu besar. Padahal kehidupan adalah titik yang tidak dapat dibagi lagi, ditarik dan diperbesar oleh lensa mahakuat Ruang dan Waktu (hal, 33).

Dalam buku tersebut ada beberapa bab lain yang patut untuk dibaca dan direnungkan. Misalnya topik mengenai bunuh diri. Menurut Schopenhauer tak ada penganut Monoteisme, kecuali Yahudi yang menganggap bahwa bunuh diri adalah tindakan kejahatan. Ia menelusuri asal usul kecaman terhadap bunuh diri, yang menurutnya merupakan bagian dari para guru agama menyebarkan bahwa bunuh diri adalah kesalahan, sebuah tindakan pengecut dan kejahatan.

Diikuti dengan sebuah bab keabadian: sebuah dialog yang dibuka dengan pertanyaan sang tokoh, “akan jadi apa saya setelah kematian nanti?”, jawaban dari tokoh lainnya mengajak kita berpikir bahwa bagaimana mungkin kita bisa menjawab sesuatu yang melampaui, batas-batas pengalaman, dan belum pernah kita rasakan, dengan harapan bahwa bahasa yang ada saat ini bisa memberikan jawaban.

Kemudian bab tentang pengamatan-pengamatan psikologis yang terdiri dari beragam pengatmaan yang dideskripsikan olehnya dan sedikitnya menyinggung bahwa manusia merasa nyaman berada dalam sebuah harapan. Tidak lupa tentang pendidikan juga ia singgung. Menurutnya seorang intelek itu bukan berangkat dan hasil dari penanaman ide, pemberian pelajaran yang sama. Melainkan, hanya melalui pengalaman sendiri untuk belajar segala hal, melakukan pengamatan sendiri dan merupakan metode alami.

Bab berikutnya penilaian Schopenhaeur tentang perempuan, sudah disebutkan di awal bahwa ia merupakan filsuf yang misoginis dan penerjemah juga memberikan alasan sang filsuf tersebut bahwa ia menganggap perempuan lebih rendah, tak mampu menjadi jenius, dan tentu saja ia juga mengatakan bahwa laki-laki tak pernah puas dengan satu wanita. Pembaca tentu saja boleh melewati bab ini dan melanjutkan pembacaan ke bagian tentang kebisingan, yakni tentang hubungan antara kebisingan dengan para pemikir dalam sejarah Jerman ada Kant, Goethe, dan Lichtenberg. Kemudian ditutup oleh bab tentang beberapa parabel yang tak bisa dilewatkan, sebab di dalamnya termuat cerita rekaan dan mengajarkan moral sebagaimana parabel pada umumnya.

Daftar Pustaka:

Christopher Janaway,  Schopenhauer – A Very Short Introduction, (England: Oxford University Press, 2002)

David E. Cartwright, Schopenhauer: A Biography, (United Kingdom: Cambridge Universitt Press, 2010)