Sejak masa pemilihan yang diikuti oleh Donald Trump, media Amerika telah berinvestasi pada sebuah gagasan bahwa lanskap informasi modern ditentukan oleh pergulatan besar antara kebenaran dan kepalsuan, fakta dan informasi yang salah, berita benar dan berita palsu. Dalam drama ini, ada musuh-musuh dari kebenaran, dan kemudian ada para ahli yang semakin terkepung oleh buzzer, kaum populis, dan influencer bayaran. Para ahli perlu merebut kembali kepercayaan publik—baik melalui pengecekan fakta yang lebih baik atau regulasi Facebook yang lebih baik.

Hal ini selalu memunculkan keraguan dan kerangka kerja yang mementingkan diri sendiri, tetapi di masa pandemi virus korona ini semua itu menjadi tidak berguna sama sekali. Bukan karena ia salah mendiagnosis Trump: pemimpin kami ini, memang benar, seorang yang sombong dan tidak jujur, sebuah sekop sampah yang tidak bisa dijadikan teladan dalam presidensi modern, seorang pria dengan kapasitas kecil untuk menangani, bahkan untuk kebenaran yang sedikit kurang nyaman. Tidak seorang pun yang mengharapkan penilaian krisis yang jujur dan realistis dari presiden model ini; setiap orang yang berakal harus mencari kebenaran di tempat lain.

Tetapi begitu Anda mencari di tempat lain, dengan cepat menjadi sangat jelas bahwa tidak ada kesatuan bangunan kebenaran yang dapat dipercaya. Satu-satunya tempat Anda dapat menemukannya adalah dalam fiksi, khususnya film yang menceritakan tentang wabah ini, film karya Steven Soderbergh “Contagion”—di mana organisasi kesehatan bertindak profesional, mengagumkan, gesit, berbasis bukti, dengan cukup banyak pembengkokan aturan di sana-sini untuk membuat lompatan yang diperlukan demi mendapatkan vaksin. Sementara itu, internet isinya mengerikan, diciptakan oleh para blogger jahat menjajakan obat dukun. Hanya institusi yang bisa dipercaya; “pengetahuan”, di luar itu hanya akan membawa Anda ke kuburan.

Namun itu hanya terjadi dalam film; dalam kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Dalam pandemi korona ini, sebagian besar institusi yang kami [baca: institusi Amerika] asosiasikan dengan ahli kesehatan masyarakat dan otoritas medis terpercaya telah gagal, bahkan lebih gagal daripada Trump.

Pelaku terburuk dalam pandemi adalah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang tidak memihak “fakta” dan “sains” di awal-awal pandemi ini: Organisasi itu mengikuti imperatif politiknya sendiri dan berpihak pada Tiongkok, menerima penilaian yang salah dan penuh propaganda serta mengabaikan bukti penting karena bukti itu berasal dari Taiwan dan bukannya Beijing.

Tidak terlalu korup tetapi tidak juga kurang dalam menciptakan petaka dilakukan juga Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) serta Badan Administrasi Makanan dan Obat-obatan [FDA: semacam BPOM di Amerika] yang melakukan berbagai seri malpraktik pada waktu-waktu krusial, bulan Maret, dengan mengacaukan, menunda, dan menghambat pengembangan tes yang diperlukan. Baik otoritas medis Amerika dan internasional berbohong kepada Anda semua (atau, jika Anda ingin lebih lembut, kepada diri mereka sendiri) tentang kemujaraban dari masker. Dan para ahli kesehatan masyarakat di Inggris dengan percaya diri menggulirkan rencana rumit yang seharusnya sedikit lebih pintar daripada sekedar lockdown sederhana—kecuali bahwa ternyata mereka telah melewatkan beberapa fakta dasar tentang virus ini.

Kegagalan dan kecerobohan tidaklah universal; banyak dari otoritas kesehatan publik telah membebaskan diri mereka untuk lebih baik daripada penasihat Boris Johnson atau orang-orang WHO. Tetapi tidak ada pola yang pasti yang dapat dipercaya yang membuat orang berani mengatakan bahwa ‘orang luar’ salah dan berbahaya serta ‘orang dalam’ bisa dipercaya dan benar, dan memang sampai pertengahan Maret Anda sekalian lebih mempercayai peringatan dari akun Twitter anonim daripada pernyataan resmi dari petugas kesehatan masyarakat.

Bagian ini mencerminkan dekadensi dan ketidakmampuan lembaga-lembaga Barat (lembaga-lembaga Lingkar Pasifik membuktikan diri mereka jauh lebih dapat dipercaya), tetapi sebagian dari ini bukanlah melulu kesalahan lembaga mana pun. Pandemi ini adalah keadaan dan tantangan yang baru, pandemi di dunia yang terglobalisasi, dan cara kelembagaan untuk memperoleh informasi dan menindaklanjutinya—pendekatan birokrasi terhadap sains dan kebijakan—tidak akan pernah sepadan dengan masalah yang ditimbulkan virus korona.

Hal ini tidak berarti Anda harus mengabaikan ahli dan hanya memilih postingan acak dari bualan Twitter seolah-olah itu adalah Alkitab. Tetapi di bawah kondisi kabut dan ketidakpastian, kerja-kerja epidemiologi seringkali akan mencapai kebenaran lebih cepat dari pada pejabat resmi pemerintahan. Jika suatu Media dengan bodohnya memposting hal yang salah mengenai pandemi, yang lain akan ikut membuat alasan yang meyakinkan untuk menutupi jauh sebelum CDC bisa melakukannya. Jika satu nonscientist menawarkan beberapa proyeksi yang meragukan, yang lain mungkin tergoda untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Dan jika barisan argumen yang digunakan ngawur—seperti yang saya temukan minggu lalu, bahwa argumen anti-lockdown dari partai sayap kanan itu ngawur—maka hanya bisa dinilai berdasarkan argumen itu sendiri, bukannya ditolak karena tidak memenuhi kualifikasi sesuai CDC.

Para pakar resmi, dalam kondisi seperti ini, paling bisa dipercaya sejauh nasihat mereka sesuai dengan akal sehat semua orang. Pendekatan yang mendesak bagi sebagian besar ahli saat ini, misalnya, bukanlah beberapa pendekatan ilmu pengetahuan rumit yang tinggi untuk manajemen penyakit, tetapi metode pra-modern yang paling mendasar dari pengendalian penyakit, seperti yang dilakukan di Florentines abad ke-15 yang juga dilakukan penduduk New York abad ke-21—tutup  semuanya, karantina orang sakit dan berharaplah yang terbaik.

Sementara semakin spesifik dan terperinci yang para ahli dapatkan, semakin tidak stabil dan kacau situasi yang membuat pernyataan mereka jadi meragukan. Maka dari itu merupakan langkah yang baik bahwa kami memodelkan busur pandemi, tetapi itu tidak berarti salah satu model dapat dipercaya lebih dari lainnya. Ada baiknya kita mencoba mencari tahu bagaimana penyakit ini menyebar, tetapi sejauh ini tidak ada klaim tentang seberapa besar kemungkinan Anda akan tertular (dari udara, permukaan atau lainnya) atau siapa yang paling berisiko (apakah dari faktor virus itu sendiri atau riwayat penyakit seseorang) dapat dianggap sama sekali definitif. Sangat baik bahwa kami menghimbau untuk social distancing, tetapi semua aturan yang kami terapkan hanyalah perhitungan kasar.

Dan Anda tidak seharusnya melebih-lebihkan pernyataan sains yang resmi dalam situasi yang membutuhkan eksperimen dan adaptasi serta sejumlah pertaruhan. Meski begitu, Anda tetap harus lebih mempercayai Anthony Fauci daripada Donald Trump dalam hal manfaat potensial dari hydroxychloroquine. Tetapi urgensi krisis mengharuskan eksperimen berjalan lebih cepat dari kesimpulan ahli dan laju kepastian birokrasi. Jadi, jika Anda seorang dokter di garis depan yang berusaha agar pasien Anda tidak perlu menggunakan ventilator, tingkat kehati-hatian Dr. Fauci tidak bisa Anda terapkan, dan Anda tidak boleh menunggu uji coba kontrol tersamar ganda untuk bereksperimen dengan obat-obatan tanpa label yang diklaim dokter Spanyol dan China dapat membantu pasien.

Logika yang sama berlaku untuk semua pembuat kebijakan, kepada semua pembuat kebijakan tidak akan pernah ada satu cetak biru yang memberitahu Anda bagaimana dan kapan harus membuka kembali kota atau komunitas. Setiap satu pembukaan kembali akan menjadi sebuah eksperimen uniknya sendiri, dengan variabel-variabel penentu seperti iklim, kepadatan, usia, dan genetika yang hampir mustahil untuk dimodelkan, dan saran dari para epidemiolog tidak akan lagi berarti. Gubernur dan walikota harus bertindak seperti ilmuwan sendiri, bertindak dan bertindak kembali, beradaptasi dan bereksperimen, dengan penasihat ahli di sisi mereka meski tidak ada jawaban pasti sampai percobaan dimulai.

Dan logika yang sama juga berlaku untuk individu. Kebanyakan orang Amerika yang terkena virus korona, pada saat ini, bahkan tidak akan mendapatkan tes, apalagi perawatan medis atau pengawasan. Bahkan orang-orang yang mendapatkan tes akan memiliki alasan kuat untuk meragukan hasil negatifnya. Yang berarti bahwa mereka harus membuat keputusan penting yang tak terhitung jumlahnya—tentang apa yang harus ditanyakan kepada dokter mereka, situs web medis apa yang bisa dipercaya, bagaimana cara merawat pasangan, anak-anak, atau orang tua mereka, apakah harus pergi bekerja, dan kapan harus kembali bekerja—dalam konteks ini di mana satu-satunya ukuran sampel yang relevan adalah satu, diri mereka sendiri, dan di mana tidak ada saran yang dapat dianggap pasti secara medis.

Sebagai masyarakat, perjuangan kita melawan virus korona menyerupai pengalaman orang sakit yang menderita penyakit yang tidak diketahui dan atau disalahpahami oleh ilmu kedokteran. Sebelum jatuh sakit, orang ini membayangkan dunia sains sebagai ruangan yang stabil, dibangun dengan baik dan cukup penerangan, dengan lantai kokoh di bawahnya. Namun sekarang ubin lantai telah terlepas, pasien telah jatuh, dan di ruang bawah tanah gelap gulita, memunculkan bentuk-bentuk aneh, hal-hal yang mungkin dapat Anda rasakan tetapi tidak memungkinkan Anda melihatnya.

Masih ada beberapa cahaya yang datang dari atas, dari dunia kepastian, dunia para ahli yang penting untuk dimanfaatkan, untuk melihat apa yang bisa dilihat dalam cahaya. Tetapi lubang cahaya itu tidak memenuhi seluruh ruang bawah tanah, dan apa yang mereka lakukan bisa menjadi parsial dan menyesatkan. Jadi jika Anda ingin menemukan jalan keluar dan mencapai kesehatan dan keselamatan, Anda harus siap untuk meraba-raba, tersandung, membuat cahaya sendiri, dan kadang-kadang bergerak dengan perasaan atau naluri untuk menerobos kegelapan.

____________________________

*Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Ross Douthat di The New York Times berjudul “In the Fog of Coronavirus, There Are No Experts”, 7 April 2020

**sumber gambar: videohive.net