Keputusasaan atau harapan negatif tentang masa depan, menjadi salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar kepada seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri (suicidal ideation). Intensitas keinginan bunuh diri lebih besar disebabkan oleh keputusasaan dari pada depresi. Seseorang yang mengalami penderitaan ini, sering berada dalam dua dimensi: antara hidup dan mati. Semakin besar keputusasaan, semakin besar keinginan seseorang untuk bunuh diri.

Pada abad 21 ini, penyakit mental rupanya begitu populer di kalangan kaum milenial. Khususnya penyakit mental yang berakhir dengan tindakan bunuh diri. Seseorang yang memiliki ide bunuh diri, sering kali terjebak dalam ambang jurang antara keinginannya untuk hidup vis-a-vis keinginannya untuk mati. Dalam kasus seperti ini, ada kemungkinan bahwa stresor kehidupan menumpuk ke titik di mana seseorang merasa tidak tertahankan dan tidak dapat mentolerir tekanan yang menimpa dirinya, sehingga meningkatkan rasa putus asa.

Keputusasaan adalah perasaan akut yang melebihi penyakit depresi. Seseorang dalam keputusasaan sering kali merasakan harapan-harapan negatif yang stabil sepanjang hidupnya.  Perasaan semacam itu bersumber dari pengaruh subjektif individu dan mendasari sebagian besar perilaku bunuh diri. Ketika tekanan subyektif naik ke tingkat yang tidak bisa ditoleransi, individu menjadi putus asa karena merasa tidak bisa lagi menanggung derita yang dialaminya. Pada saat itulah perasaan-perasaan tertentu umumnya terlibat: keputusasaan, kecemasan, perasaan ditinggalkan, kesepian, egois, dan marah[1].

Secara empiris, keputusasaan bukan gagasan utama dalam memahami perilaku bunuh diri. Dalam model kognitif, skema bunuh diri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Banyak spekulasi mengenai tindakan bunuh diri, dan keputusasaan adalah salah satu faktor yang diyakini memberikan pengaruh besar. Selain itu, depresi dan pengalaman individu di masa lalunya juga menentukan apakah termasuk dalam skema bunuh diri.

Problem Kognitif

Psikiater Aaron Beck, salah satu terapis kognitif terkemuka, berpendapat bahwa seseorang yang mengalami depresi mungkin akan terfokus pada peristiwa-peristiwa negatif dan mengabaikan hal-hal positif[2]. Beck mencoba mempengaruhi pasiennya untuk mengubah pendapat mereka tentang diri sendiri dan cara mereka mengartikan peristiwa-peristiwa dalam hidup[3]. Tujuannya adalah untuk mengubah skema negatif mereka dan membuat mereka dapat memiliki harapan, bukannya keputusasaan[4].

Saya akan mencoba meninjau secara singkat model teori kognitif yang umum diterapkan di berbagai jenis gangguan jiwa atau gangguan emosional. Dengan skema yang diberikan tersebut, setidaknya kita akan mendapat gambaran bagaimana proses kerja kognisi pada individu dengan niatan bunuh diri dalam pikirannya.

Gambar 1.1 model teori kognitif umum.

Premis utama dalam teori kognitif adalah keadaan jiwa atau suasana hati yang tertekan disebabkan oleh penyimpangan dalam cara memahami berbagai pengalaman hidup[5]. Menurut teori ini, peristiwa buruk, misalnya seseorang yang kehilangan pekerjaan, tidak secara langsung menyebabkan pengalaman emosional negatif seperti depresi, kecemasan, kemarahan, dan keputusasaan. Sebaliknya, pengalaman emosional seseorang ditentukan oleh cara mereka dalam memandang, menafsirkan dan menilai situasi tersebut. Apabila reaksi emosional yang dikeluarkan adalah negatif, pada gilirannya, akan menjadi beban dan menyusahkan diri mereka sendiri. Kemudian hal itu berpotensi memperburuk suasana hati dan menjadi negatif: penyakit mental. Jika situasi ini dibiarkan terus-menerus, ia akan menciptakan perasaan kehilangan harapan-harapan hidup ke depan dan menjadi keputusasaan.

Antecedent : situasi kehilangan pekerjaan
Cognition : interpretasi negatif atas antecedent
Reaction : suasana hati menjadi buruk

Dalam kasus ini, anticedent tidak hanya berupa situasi yang sedang dialami. Bisa juga dari pengalaman yang pernah mereka alami sebelumnya. Misal seseorang yang kehilangan pekerjaan sebelumnya mengalami peningkatan emosional negatif ketika mengingat pimpinan kerjanya pernah berkata tentang kegagalannya mencapai target perusahaan dan menyebabkan dia kehilangan pekerjaannya.

Antecedent : peristiwa, ingatan-ingatan, sebuah pikiran tentang kehilangan pekerjaan
Cognition : gambaran, interpretasi, penilaian tentang pengalaman buruk yang pernah dialami
Reaction : fungsi fisiologi dan sensasi terganggu, perilaku mengarah ke negatif (penyakit mental)

Kasus berikutnya, seseorang yang pernah kehilangan pekerjaan, dan berpikir bahwa dirinya mungkin akan selalu gagal ke depannya dapat menimbulkan kognisi dan reaksi lanjutan setelahnya. Dengan kata lain, interpretasi berbeda atas kejadian yang sama dapat menghasilkan respons emosional, fisiologis dan perilaku yang sangat berbeda. Dan kondisi tersebut bisa mengarah ke perasaan tidak berharga, hilangnya harapan positif, keputusasaan, dan pada gilirannya berujung pada niatan bunuh diri. Sebaliknya, jika dia menganggap situasi tersebut sebagai makna bahwa kehidupannya akan menjadi lebih baik dengan meninggalkan pekerjaan tersebut, kemungkinan tidak akan mengalami reaksi emosional yang ekstrem dan negatif.

Skema negatif mengenai bunuh diri ini, dalam aspek keputusasaan, tidak serta merta berlaku secara umum. Seseorang dengan niatan bunuh diri, bisa juga terjadi karena telah memiliki kemampuan untuk melukai dirinya atau sudah terbiasa bersentuhan dengan rasa sakit dalam hidupnya. Sehingga orang-orang yang “terlatih atas rasa sakit”, lebih banyak memiliki pengalaman dengan cedera tubuh, kecelakaan, atau tato, ambang batas mereka untuk rasa sakit bisa jadi berada di luar batas. Artinya, orang-orang tersebut tidak lagi bermusuhan dengan rasa sakit. Pada gilirannya ketika kesakitan menghampiri tubuhnya, ia justru merasa senang dan lega.

Secara garis besar, teori kognitif umum merupakan proses mengidentifikasi makna, persepsi, interpretasi dan penilaian untuk mengevaluasi dengan sistematis sejauh mana seseorang secara objektif menandai situasi yang menimpa dirinya. Skema negatif dalam teori kognitif di atas terkait dengan skema gangguan kejiwaan yang mengandung informasi negatif tentang kegagalan, kehilangan dan berakhir dengan keputusasaan. Sehingga individu yang tertekan, secara kognitif lebih mementingkan pemrosesan informasi negatif. Dalam hal ini, skema kognitif negatif tidak selamanya aktif. Tergantung pada pengalaman seseorang dalam memproses informasi negatif atau positif atas situasi yang menimpa dirinya.

Paradigma kognitif dalam pembentukan awal skema negatif terhadap suatu gejala gangguan kejiwaan tertentu tidak terlalu dijelaskan secara detail. Akan tetapi, hal yang membedakan dalam paradigma kognitif adalah pikiran memiliki status kausal; pikiran dianggap menyebabkan fitur lainnya dari gangguan, seperti kesedihan[6]. Albert Bandura, teoris kognitif-behavior terkemuka, berargumentasi bahwa banyak terapi lainnya menghasilkan perbaikan dengan meningkatkan self-efficacy pada para klien, yaitu suatu keyakinan bahwa mereka dapat mencapai tujuan yang diinginkan[7]. Sehingga upaya terapi kognitif dianggap secara langsung dapat menghasilkan perbaikan emosi dan perilaku.

Suicidal Ideation dan Hilangnya Makna Hidup

Pada dasarnya, seseorang yang putus asa belum sepenuhnya menyerah pada dirinya sendiri, tetapi ia hampir melakukannya. Ibarat seseorang yang hampir tenggelam di tengah lautan lepas, dan siap mencoba apa saja untuk melarikan diri – ia berada di ambang jurang antara hidup dan mati. Dalam perilaku bunuh diri, seseorang yang terperangkap tanpa daya akan mengalami ketakutan yang terus menerus menghampirinya. Kondisi yang menyakitkan tersebut, sejauh seseorang dapat mengambil tindakan untuk menghindarinya maka bahaya atas perilaku negatif dapat dikuasai.

Dalam niatan bunuh diri, keputusasaan total bukanlah satu-satunya penyebab murni yang muncul dalam diri seseorang. Apabila itu mempengaruhi, hal tersebut adalah yang kompleks. Seseorang yang putus asa menganggap bahwa situasi yang menimpa dirinya sudah tidak dapat ditoleransi dan tidak memiliki jalan keluar di dunia ini[8]. Pengaruh yang tidak dapat ditoleransi tersebut mengganggu kemampuan kognitifnya – tidak dapat berpikir jernih[9]. Banyak upaya bunuh diri yang tidak lebih dari upaya sihir yang berakar dalam fantasi khayalan bahwa dalam kematian seseorang akan berada di tempat yang lebih baik[10].

Karena itu, keputusasaan sering menyebabkan seseorang mengalami ketidakberdayaan total. Apabila seseorang menilai tidak ada jalan keluar dan memutuskan untuk berhenti berharap, pada fase ini, ia telah kehilangan harapan dan menjadi sebab keputusasaan. Di titik inilah, seseorang tidak mampu mengatasi setiap situasi yang menimpa dirinya. Akibatnya, ia sering gagal memaknai setiap peristiwa dalam kehidupannya.

Apabila telah hilang makna tragedi dalam kehidupan seseorang, maka telah hilang makna nilai-nilai yang ada dalam dirinya. Hilangnya makna diri, menyebabkan hilangnya nilai dan martabat kemanusiaan seseorang. Pada fase ini, seseorang telah kehilangan kesadarannya sebagai manusia yang berharga. Kehilangan kesadaran terhadap keberadaan dirinya, membuat seseorang kehilangan sumber kualitas dirinya untuk memaknai antara “Aku”, “Dunia” dan “Dimensi-Nya”. Ia telah kehilangan kapasitas dirinya untuk menggambarkan simbol-simbol kehidupan sebagai titik pijak dalam menentukan dan menjalani hidup. Pada titik ini, makna hidup telah hilang dalam diri seseorang – yang kemudian ketika menghadapi  setiap masalah yang tidak bisa ditolerir, ia akan terdorong untuk melewati ambang pintu.

Kesadaran memaknai hidup adalah sebuah pengalaman berharga bagi seseorang. Terlebih jika karunia-karunia tersebut tercapai setelah seseorang berhasil melewati krisis-krisis batin dalam hidupnya – kecemasan, ketakutan, kegagalan dan keputusasaan sebagai akar penyakit pada diri manusia di abad 21 ini. Kita semua akan mencoba memahami secara singkat bagaimana penyakit mental sering menghampiri seseorang.

Gambar 1.2 skema pembatas antara zona nyaman dan bukan zona nyaman

Di dalam hidupnya, seseorang memiliki pilihan untuk memutuskan akan berada di zona nyaman atau bukan zona nyaman. Di antara kedua zona tersebut, terdapat dinding pembatas yang akan membuat seseorang banyak belajar dan mengalami hal-hal baru. Apabila seseorang berhasil melewati dinding pembatas tersebut, ia akan masuk ke dalam wilayah baru yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal. Wilayah di mana seseorang akan menemui banyak rintangan, melakukan kesalahan, ketegangan, kecemasan, dan ketakutan.

Untuk berani keluar dari zona nyaman dan menghilangkan stres karena pilihan-pilihan, kunci utamanya adalah seseorang harus siap melakukan hal-hal yang telah diputuskan. Dalam fase ini, akan selalu ada perjuangan dalam pikiran, dan hanya bisa tercapai jika seseorang siap melakukannya. Apabila seseorang mulai terbiasa dengan kegagalan, ketakutan, dan kecemasan dalam hidupnya, ia akan mudah mengatasi stresor yang menumpuk dalam pikirannya. Sehingga reaksi emosional yang tercipta akan stabil dan mudah untuk diarahkan ke hal-hal positif.

Sejatinya, pikiran seseorang memberikan kekuatan yang luar biasa dalam mempengaruhi perasaan dan perilakunya. Perasaan cukup seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang telah dicapai dalam hidup. Tetapi terletak pada interpretasi seseorang yang menganggap bahwa yang dilakukannya berarti dan keberadaan dirinya adalah berharga. Karena apa artinya jika telah melakukan banyak pencapaian tapi dirinya tetap merasa kosong?

Upaya menghilangkan pikiran negatif dan mengimbanginya dengan pikiran alternatif itu perlu. Jangan mudah menyerah pada diri sendiri ketika terjerembab dalam rasa sakit yang mendalam. Seseorang perlu melindungi dirinya dari informasi yang tidak berguna dan berlebihan. Fungsinya agar seseorang tetap waras! Pada titik ini, seseorang hanya perlu mengenal dirinya lebih baik – menerima setiap kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya.

Catatan Akhir


[1] Hendin et. al dalam John T. Maltsberger, 2018, Traumatic Subjective Experiences Invite Suicide:153, Springer, Switzerland

[2] Davison C. Gerald dkk, 2006, Psikologi Abnormal: 74, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta

[3] Ibid. Hal: 74

[4] Ibid. Hal: 74

[5] Beck dalam Davison Gerald C dkk, 2006, Psikologi Abnormal: 74, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta

[6] Davison Gerald C dkk, 2006, Psikologi Abnormal: 77, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta

[7] Ibid. Hal : 78

[8] John T. Maltsberger, 2018, Traumatic Subjective Experiences Invite Suicide:154, Springer, Switzerland

[9] Ibid. Hal : 154

[10] Ibid. Hal : 154

Sumber gambar: psychologytoday.com