Seorang tenaga medis terikat dan berpegang pada kode etik[i] dan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Beberapa kewajiban yang dilekatkan pada seorang tenaga medis adalah hak atas informasi, hak untuk menolak treatment baik obat-obatan maupun tindakan serta konsekuensi dan dampak yang ditimbulkan dari putusan ini, hak atas privasi, hak atas kerahasiaan serta limitasi akses terhadap riwayat kesehatan yang terekam dalam institusi kesehatan, hak atas segala informasi bila obat-obatan dan tindakan yang akan diberikan merupakan bagian dari eksperimentasi-riset[ii], hak untuk memperoleh layanan kesehatan secara sungguh-sungguh. Tentu kode etik dan SOP tersebut dibentuk atas dasar kebaikan. Akan tetapi ada kalanya justru tindak kebaikan ini terhalang oleh berbenturan kebaikan lainnya, summum bonum atau kebaikan yang nilainya lebih tinggi[iii].

Pada salah satu kewajiban yang dipegang oleh tenaga medis, khususnya seorang dokter adalah kewajiban untuk memberikan informasi sebenar-benarnya[iv] terhadap pasien. Semua hal yang berkaitan dengan pemeriksaan, pengobatan, tindakan yang melibatkan pasien, harus terlebih dulu diberitahukan kepada sang pasien serta pilihan-pilihan yang dimungkinkan kepadanya juga konsekuensi-konsekuensi atas pilihan tersebut sejelas-sejelasnya. Informasi hasil pemeriksaan ini juga menyangkut persentase atau angka kehidupan yang pasien miliki atas penyakitnya dan pengobatan maupun tindakan yang akan dilakukan. Kewajiban untuk memberikan informasi secara benar dan jelas ini tentu diberikan sebagai tanda pengakuan dan penghormatan atas otonomi yang dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi hak atas informasi ini mulai terjadi di akhir-akhir ini saja, sebelumnya dunia medis belum mengenal adanya hak atas informasi. Semua tenaga medis, khususnya seorang dokter, sejak dahulu berpegang pada prinsip paternalisme[v], yakni semua putusan atas pasien merupakan putusan yang dianggap terbaik bagi seorang tenaga medis. Paternalisme seringkali dianggap sebagai upaya mengekang hak otonom seseorang. Akan tetapi argumentasi seperti itu tentu sangat sempit dan keliru untuk membantah sepenuhnya paternalisme.

Prinsip paternalisme ini bertahan lama, bahkan mungkin masih dipegang oleh tenaga-tenaga medis sampai saat ini, oleh karena didasarkan pada jangkar utilitarian. Dalam jangkar utilitarian tidak ada sesuatu tindakan baik atau pun salah, yang ada hanyalah nilai dari konsekuensi yang ditimbulkan dari tindakan tersebut berupa baik atau buruk. Sebagaimana dalam prinsip paternalisme, tindakan berbohong tidak dapat dikatakan salah, namun konsekuensi dari tindakan berbohong tersebut lah yang dapat dinilai bahwa itu baik atau buruk. Sehingga pertanyaan-pertanyaan seperti “haruskah dokter menjalankan kewajibannya untuk memberitahu kebenaran keadaan seorang penderita kanker pankreas dengan keadaan metastasis[vi] hati walau menyakitkan?”[vii], dapat tertolak dalam prinsip paternalisme ini. Oleh sebab itu, konsekuensi yang mungkin ditimbulkan dari kebenaran yang menyakitkan[viii] tersebut akan memperburuk keadaan sang pasien, terlebih bila pasien tersebut rentan pada depresi berat dan hilangnya semangat untuk melanjutkan hidup. Dengan demikian, tindakan yang diambil dalam prinsip paternalisme di sana adalah bentuk penahanan informasi[ix] seperti white lie dengan memfalsifikasi[x] diagnosa.

Terkadang yang perlu diingat adalah pekerjaan bukan sesuatu yang terbentuk secara singkat, tetapi ada dedikasi kehidupan di sana, oleh sebab itu bisa disebut sebagai life work. Jadi pengandaiannya adalah, seorang tukang perahu ketika membuat perahu itu sendiri, bukan merupakan hasil yang asal. Melainkan sebuah karya dari dedikasi kehidupannya yang dibuat sebaik mungkin, yang mana di dalamnya ada komitmen, rasa cinta, pengetahuan, keahlian, dan sebagainya. Semakin ditekuni, semakin dalam juga elemen-elemen itu terasah. Ketika pengandaian ini diterapkan pada tenaga medis, khususnya dalam melayani suffering, seharusnya, tenaga medis mampu melihat manusia secara utuh, khususnya perihal health. Terkadang makna health ini pun dipahami secara sempit, sebagai ketiadaan simtom penyakit yang mungkin terdeteksi. Jadi seakan-akan, bahwa manusia dianggap healthnya baik itu ketika tidak ditemukannya simtom atas suatu penyakit. Padahal kalau melihat suffering tadi, justru tidak terbatas pada sesuatu yang fisik, sehingga mental, emosional, dan spiritual juga saling berkelindan memengaruhi keadaan manusia itu sendiri. Dalam kasus pasien penderita kanker pankreas dengan keadaan metastasis[xi] hati tentu akan sangat membebani mental, emosional, dan mungkin spiritualnya.

Ketika melayani suffering ini, tenaga medis seharusnya juga menyadari betapa ketidakberdayaannya[xii] pasien yang datang pada mereka. Kemudian, sudah menjadi kewajiban bagi tenaga medis untuk tidak melakukanhal yang membahayakan dan melukai, karena pasien sendiri telah merasakan rasa sakit dan ketidakberdayaannya terhadap penyakit, disabilitas, atau bahkan dyingnya sendiri. Dalam narasi upaya memberitahu kebenaran yang menyakitkan juga masuk ke dalam upaya membahayakan dan melukai juga merebut hak otonom seseorang, yakni secara khusus terkait kebebasan dalam memaknai dan menjalani hidup, atas dasar argumentasi membuat pandangan hidup seseorang menjadi berubah. Perubahan tersebut diakibatkan oleh anggapan dan pemahaman bahwa seseorang tersebut menjalani hidup sebagai seorang penderita penyakit tertentu, sehingga ia tidak dapat menjalankan hidupnya secara maksimal[xiii]. Oleh sebab itu, rasa compassion seharusnya memainkan peran di sini, khususnya ketika seorang tenaga medis mampu mencegah tindakan-tindakan yang dapat membahayakan [xiv] dan bila hal itu berada dalam kekuasaannya; ketika seorang tenaga medis tidak mampu mencegah tindakan-tindakan yang dapat membahayakan, maka sudah menjadi kewajiban untuk membantu mengangkatnya[xv]; bila pun seorang tenaga medis sudah tidak mampu mengangkatnya, maka sudah menjadi kewajiban untuk menguranginya[xvi] dan memberikan rasa comfort baik secara fisik, mental, dan spiritual. Pada narasi white lie serta memfalsifikasi diagnosa menjadi justified, sebab hal tersebut masih berada dalam kekuasaannya untuk dapat mencegah atau setidaknya meminimalisir tindakan-tindakan yang dapat membahayakan sang pasien.

Selain itu, dalam konteks pasien juga telah menyerahkan dirinya kepada tenaga medis oleh sebab ketidakberdayaannya, dan meyakini bahwa tindakan yang dilakukan tenaga medis bisa bermanfaat bagi dirinya[xvii] dan tidak mungkin melukai atau menambah penderitaan yang telah dirasakan. Oleh sebab itu, lantas beban pertimbangan moral tenaga medis berada pada tanggung jawab akan ketaatan dan kesetiaan dalam melayani well-being[xviii] pasiennya. Dengan diserahkannya kepercayaan itu pula, pasien meyakini bahwa apa yang akan dilayani oleh sang tenaga medis itu semua demi well-beingnya. Pemberian kepercayaanini memungkinkan adanya ruang compromised[xix] terhadap tenaga medis, semisal perihal treatment seperti minum obat, tidak menggerakkan bagian tubuh tertentu, berpikir positif, tetap berdoa, dan sebagainya atas dasar untuk melindungi health sang pasien.

Pada skenario tersebut tentu ketika kepercayaannya telah dilimpahkan pada tenaga medis, maka seketika ruang compromised tersebut terbentuk, sehingga memungkinkan sang tenaga medis untuk melakukan tindakan-tindakan yang dirasa perlu untuk melayani pasien sebaik mungkin. Bila dengan mengungkapkan hal tertentu tersebut dapat merenggut kembali rasa kepercayaan yang telah dilimpahkan, semisal dalam kasus penderita kanker pankreas tadi adalah bentuk kebenaran yang menyakitkan, justru akan sangat membahayakan dan merugikan hubungan antara tenaga medis-pasien itu sendiri. Konsekuensinya yang mungkin terjadi adalah, pasien akan meninvoke hak untuk menolak pengobatan dan tindakan,bahkan right to die[xx] kepada tenaga medis. Jelas dalam frame ini, tenaga medis telah abai terhadap suffering yang dirasakan dan mungkin akan dirasakan oleh sang pasien. Karena faktanya tenaga medis telah melakukansesuatu yang membahayakan dan melukai, walau tidak secara fisik, namun tentu saja, pengertian health tidaklah terbatas pada fisik sebagaimana yang telah dipahami.

Lantas, di sini menimbulkan pertanyaan, apakah menjadi seorang tenaga medis berarti menjadi beku secara naluri dan nalar, bila hanya berpedoman pada kewajiban-mekanis layaknya sebuah mesin, tanpa memerhatikan aspek compassion, terlebih dalam upaya mengurangi suatu penderitaan dan melayani sebaik mungkinsekali pun keadaan itu  telah berada di luar kapasitas tenaga medis untuk mengobatinya[xxi]? Barangkali ada yang beranggapan bahwa seorang tenaga medis harus berlaku sesuai pada pedoman kode etik, sehingga tindakannya dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi, apakah lantas tindakan tersebut seketika menjadi justified?

Perlu untuk dipahami, bahwa kode etik bukan sesuatu yang terlahir begitu saja setelah adanya ilmu medis-klinis, melainkan kode etik sudah jauh hadir terlebih dulu sebelum adanya ilmu medis-klinis. Perandaiannya, sebagaimana info consent itu lahir bukan karena setiap manusia, termasuk tenaga medis, menghormati hak otonomi setiap manusia, namun karena setiap manusia memiliki rasa compassion dan honesty terhadap sesama manusia. Didorong oleh kesadaran compassion dan honesty tersebut, manusia dapat memproyeksikan apa yang diharapkan oleh manusia lain di keadaan tersebut. Oleh sebab itu, kode etik seharusnya dipandang hanya sebagai guidelines, bukan sesuatu yang mengikat secara buta[xxii], dan memungkinkan prinsip paternalisme masuk di sana.

Tentu bila kode etik dipahami sebagai sesuatu yang mengikat secara buta agar tindakannya dapat dipertanggungjawabkan, seorang tenaga medis lalai untuk melihat kemajemukan yang ada dalam life worknya, bahwa setiap kasus yang dihadapi tidaklah sama. Seakan-akan memberi arti bahwa bila dalam kasusserupa semisal dua penderita kanker hati berat ketika diberikan tindakan dan pengobatan yang sama sesuai pada kode etik seperti menghormati hak otonom dan pemberian info consent, maka akan memberikan hasil yang serupa. Dua penderita kanker hati berat tersebut, tentu saja memiliki keadaan health yang berbeda, keadaan finansial yang berbeda, keadaan keluarga yang berbeda, dan sebagainya. Atas dasar tersebut, tentu kemajemukan tidak dapat ditolak dan berbagai varian yang hadir tidak mungkin diabaikan.

Sebagai seorang tenaga medis seharusnya dapat berpikir dan bertindak secara kritis-mandiri, dan tidak dikontrol dan tunduk menjadi objek dari otoritas. Kritis-mandiri di sini perlu untuk dipahami sebagai upaya tidak mudah berpuas diri dan mengevaluasi secara moral, selalu berupaya untuk mengerti keadaan dan lingkungan yang dihadapkan, selalu mampu memproyeksikan apa yang akan dan mungkin terjadi atas tindakan-tindakannya, serta tidak terikat dalam suatu dikte khusus yang mengekang naluri dan nalarnya sebagai seorang tenaga medis. Hal yang diharapkan dari proses ini adalah terbentuknya ruang dialog dan way to listening antara pasien dan tenaga medis, sehingga kelak tindakan-tindakan yang dilakukannya merupakan hasil yang didapatkan secara utuh dari proses berpikir secara kritis-mandiri, dengan mengerti dan memahami keadaan dan lingkungan yang dimiliki oleh pasien. Sehingga pertanyaan yang muncul dalam setiap kasus menjadi bagaimana seorang tenaga medis menghadapi kompleksitas pasiennya, dan tentu saja jawabannya tidak bisa strict maupun biner.

Referensi

Buchanan, Allen, 1978, “Medical Paternalism” Dalam Jurnal Philosophy & Public Affairs, Vol. 7 No. 4 (Summer), hal. 370-390. Ratanakul, Pinit, 2004, Bioethics and Buddhism, Mahidol University, Bangkok


[i] Dipahami di Indonesia tertuang pada dan didasarkan pada Patient Bill of Rights.

[ii] Dimaksudkan sebagai bentuk uji coba atas temuan baru, atau sisa hasil dari diri seperti darah, liur, kulit, air seni, sekresi, dan sebagainya akan dijadikan bahan riset atas metode pengobatan tertentu dan temuan baru.

[iii] Dipahami dalam perandaian memberitahukan diagnosa penyakit berat kepada pasien dengan keadaan tertentu, seperti rentan depresi dan lainnya.

[iv] Dipahami sebagai truth-telling.

[v] Dipahami secara sederhana sebagai bentuk “dokter tahu yang terbaik”.

[vi] Dipahami sebagai fase telah menyebar atau menjalar.

[vii] Perandaian kasus: seorang perempuan berumur lima puluh tahun didiagnosa menderita kanker pankreas dengan keadaan metastasis hati. Suaminya meminta kepada dokter agar untuk tidak memberitahu keadaan sebenarnya kepada sang istri, dengan alasan sang istri rentan depresi. Lantas dokter tersebut menjelaskan kepada sang istri bahwa rasa sakit yang dideritanya adalah hasil dari operasi yang dilakukannya dua tahun silam dan memberi pengobatan paliatif. Namun, rasa sakit yang dideritanya semakin menjadi seiring dengan memparahnya kanker yang semakin meluas, dan sang istri mulai menolak pengobatannya. Dokter tersebut pun menyarankan untuk melakukan pengobatan agresif dan memberikan injeksi berkala untuk meredakan nyeri, namun konsekuensinya sang isteri akan mengalami penurunan kesadaran. Di posisi tersebut, sang anak meminta kepada sang dokter agar ibunya dapat diberitahu keadaan sebenarnya kepada ibunya. Namun keluarga lainnya menolak, karena dianggap dapat berdampak berat pada psikologis sang ibu bila diberitahu, dan menginginkan sang ibu pergi dalam keadaan tenang dalam penyakit yang tidak diketahuinya.

[viii] Dipahami sebagai cold-truth.

[ix] Dipahami sebagai withhold information.

[x] Dipahami sebagai misinforming.

[xi] Dipahami sebagai fase telah menyebar atau menjalar.

[xii] Dipahami sebagai vulnerable dan dimaksudkan meliputi rasa weak, helpless, dan dependent

[xiii] Dipahami sebagai bentuk menjalan hidup to the fullest.

[xiv] Dimaksudkan meliputi ill health dan death.

[xv] Dimaksudkan meliputi cure the disease atau restore to health.

[xvi] Dimaksudkan meliputi relieve the suffering and care as best we can those beyond our capacity to cure.

[xvii] Dipahami sebagai bentuk dari prinsip paternalisme.

[xviii] Dipahami sebagai bentuk keseluruhan health, baik secara fisik, emosional, dan spiritual.

[xix] Dimaksudkan terhadap otonomi-kedirian yang dimiliki.

[xx] Dimaksudkan atas dasar upaya membiarkan dirinya sendiri mati karena rasa ketidakberdayaan dan keputusasaan yang mendalam.

[xxi] Dimaksudkan terhadap kasus penderita kanker pankreas dengan keadaan metastasis hati.

[xxii] Dimasudkan sebagai strict to follow agar bernilai benar.

Spread the love