Sejarah mencatat bahwa rasisme itu merupakan hasil dari ekspresi grup dominan yang kemudian memunculkan ketidakadilan sosial. Sejak Perang Dunia II, rasisme dianggap sebagai anggapan yang tidak masuk akal (irrational) di mana kelompok lain lebih rendah (inferior) berdasarkan dari karakteristik biologis antar ras(biological-racial) yang sejatinya merupakan pseudosains. Selain itu, rasisme merupakan tatanan-sosial yang melanggengkan ketidakadilan bahwa kelompok lain yang tidak dominan tidak memiliki akses yang sama untuk mengontrol sumber daya material dan immaterial.

Sumber material ialah menyangkut mengenai pekerjaan, pendapatan, dan tempat tinggal. Sementara sumber immaterial menyangkut persoalan sama-rata (equal) mengenai pendidikan, pengetahuan,  akses informasi dalam hal komunikasi untuk bisa berjejaring dan suaranya bisa muncul di dalam debat, perbincangan yang ada di publik, seperti misalnya: media, politik, peradilan, edukasi, dan sektor kesejahteraan). Sebab, kenyataannya beberapa kelompok ini tidak terwakili di dalam diskursus publik.

Hall (1980) mengatakan bahwa rasisme itu dilihat dari sejarahnya ialah merupakan suatu bentukan sistem kapitalisme. Tindakan dari rasisme itu juga tidak akan lepas dari perbedaan ekonomi yang diterapkan secara sosial bagi para pekerja yang tidak diuntungkan oleh sistem kapitalisme. Oleh karenanya, Wilson mengidentifikasi bagaimana kapitalisme itu menyuburkan tindakan rasisme: mengeksploitasi kelompok tersubordinasi, kesenjangan dan ketidakadilan yang sangat ekstrem, memonopoli dan memprivatisasi kepemilikaan dari alat produksi, pertentangan antara pekerja dan pemilik, melanggengkan struktur hierarkis bagi pekerja.

Dengan kata lain, rasisme melanggengkan dan meneruskan eksploitasi manusia, ketidakadilan dan penindasan terus dipelihara, khususnya kesenjangan dan ketidakadilan berdasarkan perbedaan warna kulit atau asal-usul. Rasisme itu melampaui ideologi, sebab ia melibatkan praktik diskriminasi dan melibatkan institusi. Kita harus pahami rasisme bersinggungan dengan kebudayaan, psikologi-sosial, sosial-politik, dan sistem kapitalisme.

Oleh karenanya, kita bisa melihat baru-baru ini lontaran kata “monyet”, mengusir, kepada saudara kita orang Papua di Surabaya. Persis seperti ungkapan Belanda kepada kita sebagai kelompok lebih rendah (inlander) dan sebutan “monyet”—seperti kata Pram dalam novelnya Bumi Manusia bagi tokoh pribumi sebagai Minke/”Monkey”.  Padahal kalo kita lihat dalam buku Masa Kuasa Belanda di Papua, Hindia-Belanda itu justru datang ke daerah Manokwari pada Agustus 1930 untuk membuka lahan kolonisasi yang dikarenakan krisis ekonomi dunia dan menyelamatkan kemiskinan pada saat itu.

Selanjutnya kita akan melihat relasi antara kapitalisme dan rasisme yang begitu kompleks melalui artikel dari Haidar Khan yang berjudul On Capitalism and Racism. Menurut Khan, agar bisa memahami relasi-kontradiktif keduanya perlu untuk membedakan model standar borjuis mengenai kapitalisme dan sejarah perkembangan kapitalisme. Untuk membatasi pembahasan, Khan memberikan gambaran perdebatan yang ada mengenai kapitalisme—dalam hal model skenario dan sejarah kapitalisme—dan kontradiksi akut sepanjang sejarah kapitalisme menuju tindakan rasisme ke pelbagai bentuk.  Selain itu, untuk menganalisis rasisme, Khan membedakan dalam aspek biologis dan sosiologis bentuk-bentuk rasisme.

Rasisme dan Bentuk Kapitalisme

Teori klasik berasumsi bahwa negara mengatur peraturan permainan antara kepunyaan pribadi dan persaingan antar pribadi. Dalam bentuk neo-klasik, keuntungan pendapatan rata-rata itu dihasilkan melalui kompetisi antar individu untuk menyeimbangkan produksi yang diberikan oleh pasar dan permintaan. Bentuk model kompetitif seperti ini memberikan bebas masuk dan keluar, bahkan sekalipun informasi tidak sempurna dan merugikan, sumber daya secara efisien dapat dialokasikan melalui pasar. Dua teorema kesejahteraan (welfare) mengatakan bahwa alokasi mesti optimal dan melalui redistribusi, setiap alokasi optimal itu bisa mempertahankan keseimbangan kompetitif.

Dalam bentuk rasisme, seksisme, atau bentuk diskriminasi lainnya dapat timbul dari informasi  yang tidak tepat dan akan membebani perusahaan. Maka dari itu, dalam keseimbangan umum seperti diskriminasi perusahaan akan hilang. Dari sini sangat jelas, rasisme inkonsisten dalam keseimbangan (equilibrium) jangka panjang model ekonomi kapitalisme. Sementara para liberal, Keynesian abad 20 dan 21 begitu khawatir model pembatasan seperti itu. Maka Milton Friedman menyerahkan segalanya kepada kebebasan pasar sebagai upaya untuk mengeliminasi rasisme dan seksisme.

Namun, sejarah aktual kapitalisme di planet kita mengatakan hal yang berbeda. Teori alternatif dan model matematis yang berdasarkan keaktualan sejarah menampakkan nuansa yang berbeda dan menunjukkan kontradiksi inheren di dalam kapitalisme yang menyebabkan bentuk rasisme.

Pada saat yang sama, karena kapitalisme itu merupakan sistem yang dinamis—Marx dan Schumpeter memberikan pencerahan dari sederet para pemikir awal kapitalisme—mengatakan bahwa kapitalisme bukan sekadar teknologi, ekonomi, politik, dan perubahan sosial dari waktu ke waktu, tetapi juga perubahan ideologis. Dalam kaitannya dengan rasisme, hal ini mengartikan bahwa ideologi biologis rasisme yang lebih lama, tak peduli seberapa didiskreditkan secara saintifik, mereka bisa hadir-bersama di dalam perkembangan sosiologis dan sosio-biologis rasisme di dalam kompleksitas dari kapitalisme.

Gagasan mendalam lebih lanjut dari Marx ialah bahwa secara realistis kapitalisme akan menyebabkan krisis dari dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain, model ilmiah kapitalisme harus merengkuh tendensi kapitalisme untuk mengakumulasi modal secara perlahan untuk beberapa waktu dan kemudian menghadapi krisis akumulasi. Beberapa bisnis mengalami siklus yang berbeda dapat ditemukan dengan mempelajari keaktualan sejarah dari kapitalisme melalui penjelasan secara ilmiah hukum akumulasi modal (scientific laws of capital accumulation). Hal tersebut merupakan proyek ilmiah yang digagas oleh para ilmuwan sejak Marx guna mengkritik kebijakan ekonomi-politik.

Hubungan antara berbagai bentuk rasisme dan krisis kapitalisme memang tidak dibahas secara eksplisit oleh Marx.Meski begitu ia menyadari bibit rasisme Inggris terhadap orang-orang Irlandia (Irish) dan kebijakan-kebijakan politik yang menghambat gerakan kelas pekerja. Marx juga mendukung penghapusan antara Utara yang berada di perang saudara di Amerika Serikat. Sebab, menurutnya para pekerja kulit putih tidak akan bisa terbebas selama para pekerja kulit hitam masih terbelenggu.

Sejak Marx, kiranya tumbuh gerakan anti-rasis termasuk sosialis anti-rasis dan adanya kemajuan dalam memahami hubungan antara kapitalisme, imperialisme, dan rasisme dalam berbagai bentuknya. Seorang biolog, yang disebut sebagai rasisme saintifik, pada abad 19 Darwinisme dan pada abad 20 ialah mereka yang percaya dengan teori eugenik disebut sebagai pseudo-sains. Namun, kedua pandangan tersebut masih seringkali digunakan oleh mereka yang dogmatis.

Lebih berbahayanya lagi, pandangan seperti ini yakni yang mempecayai teori sosialnya berdasarkan Darwin dan eugenik, dibangkitkan kembali secara sengaja di waktu yang sudah kedaluwarsa oleh kelas yang berkuasa dan para intelektual yang melayani kapitalisme yang semakin hari krisisnya makin dalam.

Dari pemaparan singkat di atas, ialah pendukung Trump yang ada di Amerika Serikat dan para ekstremis kanan di Eropa bermunculan. Kapitalisme-imperialisme yang dikembangkan pada abad ke 19 di Eropa memunculkan sistem kapitalisme global hari ini (dengan kelemahan, kontradiksi secara internal dan runtuhnya blok sosialis) di mana ideologi yang melanggengkan rasisme semakin berubah bentuknya.

Secara singkat, gerakan anti-rasisme di dalam negara inti kapitalisme dan gerakan anti kolonial di negara bekas kolonialisme di wilayah periferi yang membawa ketegangan antara klaim Universal para liberal-kapitalisme untuk persamaan (equality), kebebasan untuk semua dengan kelompok tertentu yang mengalami penindasan.

Selain itu, ada juga yang menganggap bahwa kemampuan menguasai ilmu teknologi oleh “ras yang lebih rendah” itu mengabaikan teori biologi tentang ras. Dengan kata lain, tujuan utama dari “neo-rasisme” teori pada abad ke 20 akhir “mempercayai” pada asumsi budaya-sosiologi. Pandangan yang ada pada neo-rasisme ini mengasumsikan bahwa struktur yang ada tidak boleh berubah. Kalaupun berubah pasti secara amat lambat. Maka dari itu, klaim (inferior) kebudayaan untuk persamaan dalam hal apapun tampak tidak mungkin.

Pandangan di atas (neo-rasisme) begitu kaku dan sempit, ironisnya proses akumulasi modal (capital) begitu fleksibel. Selama ekspansi kapitalis, memukul mundur perjuangan-kelas yang menginginkan tiadanya anti-rasisme dan anti-seksisme, rasisme dan seksisme “mungkin” akan mundur perlahan. Sebab negara itu sendiri merupakan wilayah kontestasi yang ada di dalamnya.

Namun, itu semua merupakan sejarah setelah Perang Dunia II dan bentuk kapitalisme secara sosial-demokrasi sampai awal 1970-an. Kemajuan yang dilakukan oleh kelompok anti-rasisme dan anti-patriarkal meskipun dulunya dibatasi, kini bisa dipahami sebagai kemajuan dalam memahami hubungan antara kapitalisme dan rasisme.

Namun, dengan krisis lanjutan sejak 1970, strategi dari neoliberal dalam hal privatisasi dan menyerahkan segalanya kepada mekanisme pasar itu menggerogoti struktur sosial-demokrasi. Pada saat yang sama, kontradiksi internal blok sosialis membawa kepada bentuk terburuk perlakuan caci maki, penyiksaan yang dilakukan kapitalis. Ditambah lagi dengan perang wilayah imperialis di Timur Tengah dan tempat lainnya itu seperti gambaran rawan krisis dunia pada 1920-1930. Teori rasisme sosiologis lahir kembali bersamaan dengan biologi-sosial dan budaya-sosial beraneka ragam dikarenakan krisis kapitalisme global mengemuka di berbagai segi secara intensif sejak depresi global pada 2008.

Terakhir mengenai perbedaan, terutama anti-imigran rasis teori yang mulanya muncul di Prancis pasca-perang dengan masuknya orang Afrika Utara. Anti-imigran—sayangnya hari ini juga anti-pengungsi—retorika tersebut telah tersebar dari Prancis hingga Eropa lainnya dan juga Amerika Serikat. Namun, di Amerika Serikat, ada tradisi panjang rasisme dari penduduk pendatang yang bukan dari “suku asli” Utara Amerika, yakni mereka yang menjunjung tinggi bentuk supremasi kulit putih dan sikap chauvinisme. Anehnya, dalam memandang hal yang sempit pada abad ke 19, yakni Amerika Utara dan Eropa Barat memiliki kesamaan mengenai supremasi kulit putih  dan sikap chauvinisme dan melarang imigran dari Timur dan Eropa Selatan.

Pada 1923, tes IQ yang dilakukan di Amerika Serikat berhubungan dengan posisi pembatasan imigran yang bukan hanya orang yang non-kulit putih, tapi juga orang Timur dan Eropa Selatan. Teori terbaru dari Prancis secara eksklusif berdasarkan asumsi kultural dan superioritas dari “revolusi” institusi kapitalis liberal yang didirikan oleh revolusi Prancis bahwa imigran non-Eropa tidak akan mungkin memahami atau mengadopsinya sebagaimana mereka saat itu.

Kesimpulan

Sangat jelas bahwa revolusi borjuis—bagaimanapun ia inkonsisten dan kontradiksi pada dirinya—menandai kemajuan besar dalam hal gagasan dan lembaga politik demokrasi dan kewarganegaraan (citizenship). Prinsip Universal mereka kemudian didiskreditkan dengan analisis yang tidak memihak ketika menyoal mode produksi kapitalisme dan formasi sosial. Namun, klaim atas Hak Asasi Manusia dan kewarganegaraan tetap dilanjutkan dan dilembagakan secara global.

Hari ini, kita menghadapi krisis kapitalisme global dan imperialisme lebih dalam sejak diawali kemunculan pertamanya dalam sejarah kapitalisme. Tak dapat dipungkiri, berbagai bentuk teori dan praktik rasisme dan budaya patriarki semakin mengemuka. Oleh karena itu, membangun gerakan non-rasis, non-seksis, egalitarian dan berkelanjutan secara ekologis dalam masyarakat adalah satu-satunya jalan ke masa depan bagi mereka yang menginginkan dunia yang lebih baik di luar/melampaui kapitalisme.

———————————–

Diterjemahkan dari tulisan yang berjudul On Capitalism and Racism dan Racism, a Threat to Global Peace https://www.e-ir.info/2016/07/19/on-capitalism-and-racism/ dan https://www.gmu.edu/programs/icar/ijps/vol8_2/valk.htm

Spread the love