Sang filsuf utilitarian, John Stuart Mill, bekerja untuk British East India Company selama 35 tahun. Jauh setelah kematian Mill, Gandhi memimpin India menuju kemerdekaan. Eugene Alper membayangkan pertemuan dua pemikir politik hebat ini. 

Sepertinya di sebuah taman antah berantah. Cuaca cerah dengan angin sepoi-sepoi. John Stuart Mill sedang duduk di sebuah bangku mengenakan pakaian Victoria-nya ketika Mohandas Gandhi melangkah menghampiri sambil menekan tongkatnya. Pertemuan ini terjadi pada tanggal 31 Januari 1948, sehari setelah pembunuhan Gandhi. Selendang putihnya masih belepotan cipratan merah.


Mill: Saya minta maaf terkait apa yang terjadi pada Anda, Tuan.

Gandhi: Ah, itu tidak sakit lagi. Sisi baiknya, saya kira, adalah bahwa rasa sakit itu sudah hilang. Namun, ternyata yang menyakitkan adalah ketika Anda berpikir Inggris adalah musuh Anda, Muslim adalah musuh Anda, peradaban Barat adalah musuh Anda, tidak lama kemudian seorang sesama Hindu menembak Anda! Belajarlah sampai mati dan teruslah belajar lebih banyak  lagi. Bolehkah saya duduk?

Mill: Tentu saja. [Gandhi duduk] Sejujurnya, peradaban Barat tidak pernah menjadi musuh Anda. Seorang dokter Barat bahkan mungkin telah menyelamatkan nyawa Anda kemarin.

Gandhi: Saya mengusirnya. Bukankah Socrates juga mengusir Crito?

Mill: Memang.

Gandhi: Saya juga melakukan hal yang sama. Ketika tiba saatnya untuk pergi, pergilah tanpa pisau bedah Inggris menjulur keluar dari dada. Selain itu, bagi seorang pemimpin spiritual, tidak buruk untuk menjadi martir. Itu akan meningkatkan CV saya juga.

Mill: Benar, Tuan, dan Anda rendah hati seperti biasanya. Socrates, pisau bedah, CV–mengapa Anda tidak menyukai peradaban yang menjadi bagian dari diri Anda?

Gandhi: Kanker juga bisa menjadi bagian dari diri Anda. Mohandas K. Gandhi siap melayani. Dan kepada siapa kesenangan ini harus saya bagikan…?

Mill: John Stuart Mill. Kesenangan itu milik saya.

Gandhi: Ah. Anda adalah salah satu dari orang-orang Victoria, memiliki keyakinan tak tergoyahkan akan kemajuan, peradaban Barat, serta menyelesaikan semua masalah manusia melalui teknologi.

Mill: Saya kira begitu. [Keheningan yang canggung terjadi]. Cuacanya bagus.

Gandhi: Memang. Saya dengar cuaca di sini memang selalu bagus.

Mill: Oh, tidak. Maka itu akan sama membosankannya seperti, mungkin … Los Angeles. Di sini Anda punya banyak pilihan. Anda bisa memilih gurun, hutan, gunung, pantai tropis, tundra beku, apa pun yang Anda suka. Saya lebih suka gerimis. Mengingatkan saya pada masa kecil.

Gandhi: Ha! Mungkin juga ada angin muson?

Mill: Belum pernah melihatnya, tetapi tidak akan bikin saya terkejut. Orang-orang di kantor saya tahu muson itu.

Gandhi: Masing-masing punya iklimnya sendiri. Saya menyebutnya kemajuan.

Mill: Jadi, Anda pikir kemajuan itu sangat mungkin?

Gandhi: Hanya setelah semuanya terjadi.

Mill: Saya selalu bertanya-tanya tentang pemuda-pemuda cerdas yang datang dari koloni-koloni di Afrika atau Asia untuk belajar di Eropa. Mereka mempelajari nilai-nilai, mereka menikmati kebebasan, mereka menyerap pendidikan, dan kemudian mereka kembali, mengenakan pakaian asli, mencela apa yang begitu lahapnya mereka serap, lalu menyatakan perang terhadapnya. Menyalahkan kerusakan yang dilakukannya sendiri dan kurangnya kemajuan di Eropa, seolah-olah seperti entah bagaimana caranya, Eropa menahan mereka. Dari mana semua ini datang, saya bertanya-tanya? Tetapi sekali lagi, siapa lagi yang bisa mereka salahkan? Siapa lagi yang bisa disalahkan seorang remaja atas ketidakdewasaan dan buta hurufnya, jika bukan ibu yang memberikan segalanya? Satu-satunya yang mungkin bisa disalahkan.

Gandhi: Seorang ibu yang kurang dewasa daripada anak-anaknya. Saya selalu bertanya-tanya dari mana datangnya patronase Eropa–atau haruskah saya katakan matronase?–yang mendominasi orang lain. Dari mana optimismenya muncul tentang masa depan yang cerah, tentang sejarah yang tersingkap ke arah suatu tujuan yang bersinar, dengan putra-putranya yang selalu berada di garis depan, memimpin yang lain? Mengapa ia begitu percaya diri?

Mill: Tapi ia tidak begitu. Saya setuju, Eropa kadang-kadang terlalu optimis tentang kemajuan manusia. Saya juga meragukannya. Optimisme ini akan menjadi karikatur yang menggambarkan budaya Barat, menjadi kebanggaan tanpa kritik terhadap apa yang tumbuh, atau entah bagaimana secara metodis memenuhi beberapa rencana besar kemajuan, atau pencapaian teknologi, atau penaklukan. Sampai baru-baru ini kami tidak tahu semua ini mungkin bakal terjadi. Kami tidak berencana untuk menciptakan peradaban yang kuat: semua itu terjadi begitu saja pada kami. Kami hanya ingin bertahan hidup, aman, mungkin juga makmur … Apakah keinginan ini sangat berbeda dari yang lain? Kami sekadar  menghadapi tantangan yang kami hadapi sebaik mungkin. Benar, pada akhirnya kami menyadari diri kami punya peralatan lebih baik, senjata lebih kuat, bangunan lebih tinggi, dan kapal yang lebih cepat. Tapi kami tidak merencanakannya. Bagi kami, hal itu sama mengejutkannya seperti apa yang Anda alami.

Gandhi: Apakah semua itu didapat setelah pemerintah Anda memerintah India selama sembilan puluh tahun?

Mill: Mudah bagi Anda untuk melihat semua yang kami simbolkan sebagai kejahatan: “Mereka harus disalahkan atas kesengsaraan kami!” Tapi itu jalan keluar paling simpel. Anda harus berterima kasih kepada kami, orang asing di tengah-tengah Anda, yang telah memberi Anda tujuan yang sesuai. Semua orang memang sengsara, dan kami juga, tapi kami tidak menyalahkan siapa pun. Begitulah wajah kerajaan kami, di mana matahari tidak pernah terbenam.

Gandhi: Saya sangat bersimpati.

Mill: Saya tahu, karena kami dalam posisi lebih buruk. Saat ini, Anda memiliki harapan setelah kami pergi, Anda akan lebih bahagia. Tapi itu ilusi, jadi nikmatilah selagi bisa. Tidak ada yang memerintah kami, jadi kami tidak punya ilusi, dan tidak ada harapan. Siapa yang sesungguhnya lebih baik?

Gandhi: Jiwa yang lemah.

Mill: Bagaimana jika semua itu disebut tanggung jawab? Ketika seorang pria tiba-tiba sadar dirinya sedang memerintah orang lain, apakah dia tidak bertanya pada dirinya sendiri apa tanggung jawabnya terhadap mereka? Apakah dia tidak perlu bertanya-tanya apa hal baik yang harus dilakukan? Jika dia tahu lebih banyak dari mereka, haruskah dia meninggalkan orang-orang ini ke jalan lama dan usang, atau haruskah ia mengajari mereka apa yang ia ketahui?

Gandhi: Pilihan yang sulit. Saya katakan begini: Tinggalkan kami sendiri!

Mill: Tetapi jika kita percaya bahwa perbaikan dalam urusan manusia adalah mungkin, dan bahwa bukan karena kebaikan kita, tetapi melalui serangkaian kecelakaan historis, dan kita telah menemukan cara untuk melakukan beberapa hal dengan lebih baik, bukankah tugas moral kita untuk berbagi dengan orang lain? Apakah Anda tidak memilih mengajar anak-anak Anda sehingga mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama? Apakah Anda tidak berniat meneruskan pengetahuan kepadanya?

Gandhi: Simpan beban pria kulit putih itu untuk dirimu sendiri. Kami bukan anak-anak Anda. Peradaban India lebih tua dan tidak ada yang bisa dipelajari dari Anda. Iman Anda pada kemajuan, Tuan–dalam beberapa perbaikan berkelanjutan dalam urusan manusia, dalam beberapa perkembangan evolusi–tidak lain adalah gagasan Yahudi-Kristen kuno tentang sejarah yang memiliki arah. Tidak lain adalah harapan Anda akan kembalinya Mesias, dan dibungkus dalam bahasa modern yang tidak religius. Darwin! Perkembangan spesies, teknologi, sifat manusia, dan masyarakat yang terus-menerus! Egenetika, sekadar rekayasa sosial! Iman Anda pada kemajuan hanyalah salah satu dari berbagai iman lain untuk masa depan yang lebih baik. Di India kami tidak punya ilusi-ilusi semacam itu. Kami tidak percaya bahwa umat manusia akan membaik dengan sendirinya dari generasi ke generasi. Kami menganggap sejarah sebagai siklus. Kita melihat masa lalu kita sebagai sebuah panduan.

Mill: Jadi iman kita naif karena bicara Zaman Keemasan yang tidak akan pernah terwujud, tetapi iman Anda bijak karena bicara Zaman Keemasan yang belum pernah terwujud? Setidaknya kita memiliki sesuatu yang nyata untuk  ditunjukkan. Dapatkah Anda menyangkal, Tuan, bahwa teknologi Barat telah membuat langkah besar untuk mengendalikan penyakit dan mengurangi kemiskinan?

Gandhi: Maksud Anda dengan melenyapkan planet ini dengan bom atom? Gagasan Anda tentang kemajuan itu dangkal. Anda melihat seorang pria menunggang kuda dan yang lain naik kereta, dan Anda menganggap kereta lebih maju. Tapi apa bedanya jika hal-hal paling mendasar tentang urusan manusia tetap tidak berubah? Kejahatan dunia yang nyata tidak bisa dihilangkan kecuali manusia mengubah sesuatu di dalam dirinya. Dan inilah yang kami tuju–bukan melompat ke atas sepeda untuk bergerak di dunia yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Kita melihat manusia bersatu dengan dunia di sekitarnya, dan hanya mungkin ketika ia ada perubahan di dalam dirinya, karena ia tidak dapat dipisahkan dari bagian dunia lain. Tapi di Barat orang tidak mengerti ini. Anda pikir manusia itu terpisah. Anda bangga dengan individualisme–yang menyatakan inilah saya, dan ini adalah dunia yang berbeda–seolah mikroskop tidak membuktikan hal yang sebaliknya. Lihatlah: di mana batas antara manusia dan dunianya? Di manakah garis keras yang tidak bisa dilewati oleh partikel-partikel kulit Anda? Di mana garis manusia berakhir dan dunia dimulai? Adalah mitos menyebut manusia terpisah dari dunia, dongeng Barat yang naif! Kecuali dalam hal ini tidak ada yang hidup bahagia selamanya.

Mill: Apa yang membuat manusia istimewa bukanlah partikel-partikel yang dikandungnya, tetapi kesadaran yang entah bagaimana terpisah dari kenyataan yang lain.

Gandhi: Tapi kesadaran itu salah. Kami datang dari debu, dan ke debulah kami kembali! Apa alasannya untuk percaya bahwa Anda terpisah dari kenyataan?

Mill: Saya tidak tahu. Mungkin karena tidak ada orang di luar saya yang dapat mengetahui pikiran saya? Atau mungkin karena saya dapat menggerakkan kaki, lengan, tangan, wajah, tubuh saya sendiri, tetapi tidak bisa menggerakkan apa pun di luar saya. Kesadaran inilah yang membuat manusia berbeda dari koleksi atom lainnya. Mungkin ia memang ingin mengendalikan lebih dari tubuhnya sendiri, mengontrol apa yang ada di luar dirinya, menekuknya sedikit untuk kebutuhannya, untuk membuatnya lebih berguna bagi dirinya sendiri. Saya tidak akan menyangkalnya. Tapi ini hanya karena kulit sensitifnya sangat rentan, sangat takut pada…

Gandhi: Ya, dia takut! Oh ya, dia ingin kontrol! Ya, dia ingin mendominasi alam karena ibu bumi takut sekali padanya! Dia ingin membengkokkannya sesuai keinginan, untuk meletakkannya di rak dan mendapatkan jawaban darinya. Terima kasih, Tuan Bacon, Monsieur Descartes, atas inspirasi menarik tapi salah yang Anda berikan kepada umat manusia! Betapa naifnya bagi makhluk fana untuk ingin melakukan sesuatu seperti itu. Betapa tugas yang sia-sia untuk mencoba mengendalikan alam tanpa mengetahui bagaimana mengendalikan diri sendiri, ketakutan Anda sendiri. Karena jika Anda tahu cara mengendalikan diri, Anda tidak perlu lagi membengkokkan alam, Anda akan berbaur dengannya. Anda akan tetap menjadi bagian dari dirinya, seperti yang selalu dimaksudkan untuk Anda, seperti pada hari Anda dilahirkan, begitu juga saat Anda dicabut. Apakah Anda pikir orang India tidak bisa mengendalikan alam jika kita mau? Apakah Anda pikir kami tidak dapat membuat mesin atau mikroskop? Kami membuat keputusan untuk tidak melakukannya. Nenek moyang kita tahu bahwa kebahagiaan manusia adalah keadaan mental, jadi mereka membatasi apa yang harus kita lakukan dengan tubuh kita. Mereka mencegah kami dari kemewahan, dan kami telah mengelola tanah dengan bajak yang telah ada ribuan tahun lalu. Kita hidup di gubuk yang sama dengan tempat tinggal kita sebelumnya; dan pendidikan kita tetap sama seperti di masa lalu.

Mill: Tapi bagaimana jika Anda melihat seseorang bermain-main dengan bajaknya dan dia memberitahu Anda bahwa ia punya ide bagaimana memperbaikinya? Apa yang akan Anda katakan?

Gandhi: Saya akan memberitahunya bahwa tidak perlu perbaikan. Nenek moyang kami berhasil dengan cukup baik, dan bajak baru tidak akan membuat siapa pun bahagia. Bajak baru akan membuatnya lebih bahagia untuk sementara waktu. Maka dia akan terbiasa dan menjadi sengsara lagi.

Mill: Tapi bukan itu intinya. Dia memiliki percikan kreativitas, mungkin yang paling manusiawi, dan Anda baru saja membunuhnya. Anda meniup cahaya berharga sekaligus rentan redup dalam jiwanya, sebuah wawasan.

Gandhi: Peradaban Anda telah memiliki banyak wawasan. Terus apa? Tentu saja wawasan menciptakan teknologi hebat. Namun, semakin mengesankan teknologi itu, membuat Anda semakin arogan, semakin percaya diri. Tapi apakah Anda lebih bahagia? Apakah senapan mesin membuat Anda lebih bahagia?

Mill: Tidak ada orang merasa lebih bahagia karena senapan mesin; tetapi tidak ada orang yang terkejut oleh hal itu. Menciptakan senjata yang lebih baik adalah soal biasa bagi umat manusia; tetapi menciptakan penisilin itu luar biasa. Apakah Anda tidak mengakui penisilin sebagai kemajuan?

Gandhi: Tapi ‘kemajuan’ Anda ini, bahkan semua yang Anda sebut peradaban, adalah efek dari perang, efek dari rasa takut. Semua kemajuan berasal dari sana. Inovasi Anda didorong oleh rasa takut akan disakiti atau diperbudak oleh musuh, atau yang dianggap musuh, atau musuh yang Anda buat dalam pikiran Anda sendiri. Seseorang ingin melindungi dirinya sendiri, dan karena takut ia membangun pagar. Jika dia tidak takut, apakah dia akan membangun pagar?

Mill: Mungkin tidak.

Gandhi: Tapi begitu dia tahu cara membangun pagar, dia menggunakan pengetahuan ini untuk tujuan lain, bukan? Sekarang dia membangun pagar untuk memusnahkan kuda liar; sekarang dia membangun pagar untuk mencegah ternak, babi, dan domba melarikan diri; sekarang dia membangun pagar untuk menutup tanahnya dari tetangganya. Bukankah pagar dibangun sebagai ukuran perlindungan pribadi? Ia dimulai dari rasa takut. Bukankah ketika dia membuat tongkat untuk melindungi dirinya sendiri, dia kemudian menggunakan tongkat itu untuk tujuan lain? Bukankah ia sekarang menggali tanah atau menjatuhkan buah dari ranting dengan tongkat itu? Alat Anda–yaitu peradaban Anda sendiri–merupakan perpanjangan dari upaya perang, dan tidak ada kemajuan jika bukan karena perang. Tetapi di India kita tidak ingin peradaban kita didorong oleh perang. Di India, kita harus belajar untuk tidak takut. Dan kita tidak perlu tongkat.

Mill: Tapi bagaimana Anda bisa menghindarinya? Orang Inggris dan India memiliki tubuh yang sama, jadi kita juga harus memiliki ketakutan yang sama. Apakah kulit Anda tidak sepeka kulit saya? Bagaimana orang India tidak membangun pagar dan membuat tongkat?

Gandhi: Cara kami melawan Inggris: dengan perlawanan pasif.

Mill: Anda, Tuan, mungkin cukup kuat untuk secara pasif melawan kekuatan yang menekan Anda. Tetapi apakah Anda akan secara pasif menentang seorang pembunuh yang mengejar anak Anda atau seorang pemerkosa yang mengejar istri Anda? Anda mungkin ingin menjadi suci; tetapi bisakah Anda menjadi suci ketika orang lain menderita karena kesucian Anda? Seberapa suci Anda jika kejahatan dilakukan di depan Anda dan Anda tidak melakukan apa pun?

Gandhi: Tetapi dengan bereaksi seperti yang Anda lakukan, si pembunuh dan pemerkosa telah menguasai Anda, Tuan. Anda ingin menjalani kehidupan yang baik; tapi yang terburuk di Bumi membuatmu bermain menurut aturan mereka. Yang jahat telah mengambil sandera yang baik! Mereka menjatuhkan Anda, Tuan–Anda yang menganggap diri Anda baik. Dengan hanya berada di dunia, mereka membuat Anda membangun pagar dan mengambil tongkat. Tapi apa perbedaan antara yang baik dan yang buruk jika keduanya memegang tongkat?

Mill: Mungkin bedanya adalah bahwa yang baik berpikir lebih keras? Mungkin mereka lebih banyak menggunakan penalaran? Mungkin sambil memegang tongkat mereka ragu-ragu? Mungkin mereka merenungkan bagaimana tidak menjadi buruk, bagaimana tidak melangkahi, bagaimana tidak kehilangan kemanusiaan mereka, bagaimana menggunakan tongkat hanya melawan yang buruk, dan hanya jika diperlukan?

Gandhi: Tapi kekerasan harus dihentikan oleh seseorang. Seseorang harus menjatuhkan tongkat terlebih dahulu. Dan siapa yang harus melakukan ini, jika bukan yang baik? Mereka telah belajar mengendalikan rasa takut mereka sendiri. Ya mereka yang baik! Atau apakah Anda menganggap konflik itu perlu? 

Mill: Saya tidak menganggapnya begitu. Tetapi saya tidak berhasil, saya menyadarinya. Apa yang bisa kita lakukan selain menghadapi semua ini dengan keberanian, kedewasaan, dan harapan? Tidak untuk tetap acuh tak acuh di hadapan kejahatan–tetapi juga tidak membungkuk ke levelnya. Apakah ada resep untuk melakukannya dengan baik? Saya tidak memilikinya. Apakah Anda punya? 

Gandhi: Saya pikir akan ada beberapa jawaban di sini. 

Mill: Menurut saya juga demikian.

Gandhi: Apakah Anda sudah bertanya ke kantor?

Mill: Mereka bilang tidak tahu. Tetapi Anda selalu dapat mengajukan komplain.

Gandhi: Anda bilang angin muson itu muncul di mana?

Mill: Tidak yakin. Sekali lagi, saya akan bertanya ke kantor. [Berdiri.] Harriet pasti bertanya-tanya di mana saya berada.

Gandhi: Dan aku harus mencari Kasturba. [Berdiri] Anda tahu bagaimana mereka biasanya mengatakan ini: istri bahagia, bahagia di akhirat. Selamat siang.

Mill: Selamat siang. [Masing-masing melangkah ke arah yang berbeda]

*Diterjemahkan dari Mill Meets Gandhi karya Eugener Alper di Philosophy Now edisi 133.

___________________

© Eugene Alper 2019

Eugene Alper mempelajari filsafat politik di Claremont Graduate University dan terima kasih kepada Dr Sharon Snowiss, Dr Maria Gracia Inglessis, dan Patrick Burge.

Spread the love