Mungkinkah membawa sains ke dalam filsafat? Jawabannya tentu saja bisa. Hal tersebut berkaitan dengan identitas personal.

Saat para filsuf dihadapkan pada pertanyaan tentang hal apa yang membangun sebuah identitas personal, mereka cenderung berpegang pada sebuah deskripsi ketimbang definisi. Bahkan ilmu sosial telah gagal untuk menjelaskan “identitas” semestinya. Kamus Inggris Oxford merujuk identitas sebagai suatu kesamaan seseorang atau benda di segala waktu maupun keadaan; sebuah kondisi atau kenyataan bahwa ia adalah seseorang atau suatu benda itu sendiri dan bukan yang lainnya. Sayangnya, filsafat terus mengelak ketidakmampuannya untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan “kesamaan” terhadap sesuatu yang berubah. Pada akhirnya, definisi yang tertera di kamus menjadi sesuatu yang belum mungkin diterapkan.

Salah satu persoalan dalam konsep identitas dapat dilacak kembali pada pertanyaan kuno mengenai sebuah kondisi ketika suatu hal tetap bertahan sebagai dirinya bersama waktu. Namun disadari konsep tersebut membawa kunci terhadap pemahaman bagaimana sains bisa memberi kontribusi dalam memecahkan dilema yang diajukan. Secara singkat paradoks tersebut akan dituangkan dalam pengandaian kapal Theseus dalam sebuah eksperimentasi.

Theseus, seorang pahlawan Yunani, tengah berlayar pulang kembali ke Athena, dan kini anggap kapal tersebut ditaruh pada museum dan menjadi tontonan umum. Disadari, kayu-kayu terus mengeropos seiring waktu, dan setiap tahunnya para tukang mengganti kayu demi kayu yang usang. Pada titik tertentu seluruh kayu pada kapal tersebut telah berganti sepenuhnya. Bila semua kayu, kulit kapal, dan rangka bersama dengan paku yang mengikatnya telah sepenuhnya berganti, bagaimana mungkin ia masih menjadi kapal yang sama? Bukankah ia menjadi tidak lebih dari sebuah tiruan?

Kita pun menyadari bahwa bagian sel dari tubuh kita berada pada ritme yang sama dengan perumpaan tersebut, yakni terus usang dan terganti. Kita pun dapat berganti (baik secara morfologis maupun komponen) dengan cara yang beragam pula; jadi apa yang menjamin kita masih sama bersama waktu? Dalam ketiadaan jawaban yang dianggap memadai, banyak para filsuf justru menolak jika kita memiliki esensi yang kekal dan menjadikan kita sebagai diri yang sama seutuhnya.

Oleh sebab ketiadaan yang dirasa memadai untuk menjelaskan tentang “identitas” dalam filsafat, maka konsep tersebut menjadi “hydra” (meminjam mitos Yunani dengan maksud yang sama yakni menjadi mitos belaka). Pada artikel “Beyond ‘Identity'” (Melampaui’Identitas’) yang diterbitkan pada jurnal Theory and Society edisi 29 tahun 2000. Rogers Brubaker, seorang profesor sosiologi, bersama dengan Frederic Cooper, seorang sejarawan, sepakat bahwa kata dapat dimengerti dalam beragam cara dan bentuk, tergantung pada “konteks kata tersebut digunakan dan tradisi teoretis di mana kata tersebut ditarik”. Bahkan, penggunaan tersebut “tidak hanya beragam (heterogeneous); namun saling menujuk tajam ke berbagai arah”. Bisa dikatakan menjadi sebuah kekacauan dan kekalutan.

Identitas Personal

Baru akhir-akhir ini sains dianggap tidak memberikan kontribusi positif terhadap perdebatan yang terjadi. Namun, pada April 2003, sebuah proyek genom manusia (Human Genome Project) pertama kalinya memberikan kita kemampuan untuk membaca cetak rancangan dari genetik manusia seutuhnya.

Setiap individu memiliki polesan  genetik yang unik satu sama lain, sebuah bentuk yang beragam dari genom manusia. Walau beberapa masih menjadi perdebatan perihal kemungkinan manusia kembar tidak memiliki DNA yang pasti serupa. Lebih jauh lagi, rangkaian dasar DNA kita tetap tidak berubah seiring dengan seluruh fase perkembangan, pertumbuhan, bahkan penurunan (degenerasi) dalam hidup kita. Rangkaian individu DNA sangat stabil walau elemen kimiawi terus berganti. Ia bahkan tidak terpengaruhi dan tergoyahkan oleh kerusakan DNA akibat suatu kecelakaan. Rangkaian tersebut tidak bergantung pada kemampuan kognitif maupun kesadaran. Penderita alzheimer yang mengalami kemungkinan hilangnya ingatan, memiliki dasar genetik yang sama sejak ia masih bayi dan tanpa kesadaran yang belum penuh  atau bahkan saat ia dewasa dan berada di puncak kematangannya. DNA kita masih sama seperti pertama kali diri kita tercipta dan berakhirnya hembusan napas.

Secara singkat, rangkaian DNA kita sangat unik, terukur, dan sebuah deskripsi objektif atau rencana dari polesan fisik individu terdalam. Dengan begitu, identitas personal seperti yang didefinisikan oleh kamus sebagai “suatu kesamaan seseorang atau benda di segala waktu maupun keadaan; sebuah kondisi atau kenyataan bahwa ia seseorang atau suatu benda itu sendiri dan bukan yang lainnya” terungkapkan pada pola DNA kita. Kini kita bisa mengatakan bagaimana mungkin dan mengapa diri kita adalah satu dan makhluk yang sama sepanjang umur dari kehidupan ini berjalan. Melalui DNA, tidak ada lagi kesangsian untuk mengukuhkan identitas personal dalam kedirian kita dengan tubuh yang terus berubah, dan kesukaran untuk memastikan apakah tubuh pada satu waktu itu tetap sama dengan tubuh di waktu yang lain dapat terjawab dengan melihat genom. Keberadaan substansi yang kekal, serta pola genom yang mendasarinya, dapat dipastikan secara empiris walau semua telah berganti bersama waktu. Sehingga dengan memahami DNA manusia, sangat dimungkinkan untuk memindahkan ide kita tentang identitas personal dari sesuatu yang subjektif berdasar dari deskripsi social science, menjadi sesuatu yang objektif berdasar pada natural science. Dengan begitu sebuah pergantian besar paradigma dapat terjadi.

Identitas Kelompok

Pergantian tersebut memberi arti pada identitas personal yang merupakan sebuah produk dari reproduksi seksual yang melahirkan rangkaian DNA yang baru dan unik. Dengan kata lain, identitas individu mewujud akibat dari pejantan dan betina  yang pada akhirnya menjadi fondasi bagi spesies manusia.

Dalam istilah biologi, sebuah spesies secara umum dianggap sebagai kumpulan organisme yang mampu bertukar gen, atau dengan kata lain mampu berkawin silang untuk memperoleh keturunan yang subur, sehingga kemampuan untuk bereproduksi dengan sejenisnya (hetero bukan homo maksudnya) menjadi hal tetap penting dalam menentukan diri kita sebagai bagian dari manusia. Oleh sebab itu, identitas kelompok (komunal) menjadi sebuah manifestasi melalui “trinitas” dalam proses reproduksi, yakni ketika dua identitas personal yang berlainan jenis reproduksi secara pembawaan biologis  mampu melahirkan identitas personal baru. Dengan begitu, jenis reproduksi pembawaan biologis manusia menentukan identitas kelompok (biner: selalu antara pejantan dan betina maksudnya). Lantas, DNA yang beproses  dalam reproduksi manusia menjadi satu dan secara bersamaan menjadi faktor yang menentukan identitas personal kita dan melahirkan identitas kelompok. Hal tersebut merupakan hubungan yang organik di antara keduanya (pejantan dan betina).Sebuah ikatan bersama tidak mungkin terwujud tanpa keberadaan keduanya.

Jadi, kini kita telah memiliki ringkasan, ukuran, dan langkah objektif untuk mendefinisikan identitas personal dan identitas kelompok, atau mungkin keduanya. Dengan begitu, definisi ini dapat diterapkan ke disiplin lain.

Sebagian Implikasinya

Bila “identitas” ini terbatasi pada tujuan dari pendefinisiannya (definisi objektifnya), maka akan membebaskan filsafat dan ilmu sosial dari kebutuhannya, atau bahkan menerima hal tersebut sebagai sebuah pemahaman dari proses kognitif seperti ingatan terus-menerus, bentuk kehadiran, dan/atau perilaku manusia. Implikasi ini tentu saja sangat positif.

Tentu saja, konsekuensi dari kemampuan kita untuk mendefinisikan identitas secara objektif meningkat pesat. Gen kita tentu tidak lah saling berkaitan semestinya bila diukur dengan alat klasifikasi manusia, seperti ras, etnis, budaya, atau bangsa. Pemutusan (disosiasi) antara struktur genetik dasar kita dengan pemahaman sempit kita (dan kerap kali keliru) tentang perbedaan manusia, mempertanyakan kembali seluruh persediaan alat yang kerap kita gunakan untuk mengklasifikasikan kemanusiaan. “Kesamaan” yang mendefinisikan spesies manusia yakni kemampuan untuk berkembang biak adalah sesuatu yang selalu sama di setiap klasifikasi terhadap manusia yang mungkin dirancang dan setiap himpunan manusia yang dibentuk dalam rancangan tersebut dapat ditembus melalui proses perkawinan. Sehingga kesatuan antar keluarga manusia didasarkan pada kemampuan kita untuk mencampurkan penolakan atas maksud dasar pembagian.[i]

Semisal sitem klasifikasi kita sekarang ini dicurigai, maka menjadi penting untuk mengubahnya demi mengklasifikasikan kemanusiaan melalui satu aspek yang justru memberikan pemahaman paling mendasar (fundamental) tentang siapa kita sebenarnya: yakni DNA kita sendiri. Bila genetik manusia menjadi sebuah penggolong (pengklasifikasi) yang baru, maka perbedaan kelompok hanya menjadi persoalan taraf ketimbang esensi. Meskipun terkadang sangat membantu dalam memelajari perilaku manusia, sistem pengklasifikasian ini tidak berfungsi sebagai pembentuk identitas lainnya.

Pada “Beyond ‘Identity'”, Brubaker dan Cooper tidak yakin bahwa kata “identitas” yang dipahami luas sekarang itu masih diperlukan. Mereka mengira pemahaman kata tersebut sudah terlalu aus, dengan menyatakan bahwa “Krisis ‘identitas’ yang diakibatkan oleh krisis overproduksi dan penurunan (devaluasi) makna yang terus-menerus menunjukan ketiada-hentian (tidak berujung dan tidak ada habisnya)”. Sehingga mereka mencoba untuk mengganti pemahaman kata “identitas” tersebut dengan upaya memisahkan “pertautan makna yang begitu tebal menumpuk di sekitar istilah tersebut dan membingkainya ulang ke dalam istilah yang padat yang jumlahnya lebih sedikit”. Di saat ‘identitas’ akan ditaruh ke tempat sampah, di waktu yang tepat sains datang dan memungutnya serta meletakkan maknanya kembali!

Kini para akedemisi dihadapkan pada tantangan yakni tetap mempertahankan pendekatan identitas yang sudah buntu atau berusaha memisahkan istilah tersebut dari apapun yang tidak berkaitan dengan definisi ilmiahnya pada taraf personal maupun komunal (kelompok).

Rintangan utama dalam menerima skenario ini adalah mungkin rasa berat hati dalam dunia akademis untuk melakukan sebuah perubahan besar menuju arah tersebut. Namun, tentu sebuah sikap kolektif semacam itu sangat konyol. Demi memperkaya pengetahuan manusia, dunia akademis harus mampu terus memeriksa kembali dan kritis terhadap metode dan pendekatan yang mereka miliki. Akan tetapi, mungkin ada sebuah perasaan saat semua proses tersebut terlalu jauh untuk melakukan perubahan menyeluruh, khususnya dalam berpikir yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan krisis identitas manusia.

*Diterjemahkan dari DNA & The Identity Crisis  karya Raymond M. Keogh[ii] di Philosophy Now edisi 133.

Catatan Akhir


[i] Jadi mau kulit putih, mau kulit hitam, atau apalah, kawin itu sesuatu yang sama, dan setiap dari mereka punya tujuan yang sama untuk kawin dan memperoleh keturunan; (maksudnya kek orang bule kawin sama orang indo gitu). Proses perkawinan tersebut dapat terjadi oleh sebab penolakan terhadap dasar pembagian tertentu yang menjadi batas (semisal warna kulit dan lainnya)

[ii] Raymond M. Keogh, direktur dari Our Own Identity, merupakan seorang pensiunan peneliti yang ahli dalam bidang silvikultur kayu keras tropis selama kurang lebih tiga puluh tahun. Akhir-akhir ini beliau baru saja menyelesaikan buku tentang definisi baru dari identitas.

Spread the love