Manusia ialah salah satu spesies penghuni bumi yang masih ada hingga saat ini, ia juga merupakan salah satu pembentuk peradaban atau bisa juga hasil dari peradaban yang berangsur dari kemunculannya, yang secara mandiri dari sejarah satwa, pada 7 juta SM. Dari sini mereka menciptakan pelbagai perubahan; kebiasaan dari pemburu-pengumbul ke menetap agrikultur; menciptakan perkakas batu, tongkat dan sejenisnya untuk bertahan hidup; menciptakan seni yang terukir di gua; menciptakan sistem penulisan dan pranata sosial-budaya-agama—hingga kemajuan saat ini.

Ada satu hal yang paling mendasar dari manusia, ialah hasrat ingin mengetahui dirinya sendiri dan sekitarnya. Pengetahuan akan diri inilah yang menjadi salah satu tujuan dari filsafat, oleh karena itulah Aristoteles mengatakan bahwa manusia ini merupakan hewan yang berpikir (Homo est animal rationale). Ia juga mengatakan bahwa hasrat untuk mengetahui membawa implikasi ke dalam bentuk pengetahuan dan perbedaan-perbedaan banyak hal.

Dalam sejarah dan juga budaya kita bisa menemukan bahwa pengetahuan tersebut berasal dari sesuatu yang ada di luar manusia. Karen Armstrong, di dalam bukunya Sejarah Tuhan, mengatakan bahwa manusia (Homo sapiens) ialah merupakan makhluk spiritual (Homo religiosus). Alasannya ialah karena manusia mulai menyembah dewa-dewa, yang anehnya ketika mereka mulai menyadari bahwa dirinya manusia (sejaka kapan tepatnya?), baru kemudian mereka menciptakan agama-agama yang juga berbarengan ketika mereka menciptakan karya seni. Ekspresi yang dilakukan oleh manusia-awal, menurut Karen Armstrong, tidak lain merupakan sebuah bentuk dari ketakjuban akan dunia yang penuh misteri sekaligus indah.

Pernyataan di atas diperkuat oleh  Wilhelm Schmidt dalam The Origin of the Idea of God. Schmidt mengatakan bahwa pada manusia-awal mereka telah menyembah satu tuhan (monoteis) sebelum mereka menyembah dewa-dewa (politeis). Sementara  Rudolf Otto mengatakan bahwa rasa tentang yang-gaib adalah dasar dari agama. Kekuatan yang-gaib ini pula yang dirasakan berbeda-beda oleh tiap pengikutnya. Selain itu, sejarah mencatat bahwa agama sebagaimana seni awal muncul merupakan sebuah ‘alat’ untuk menemukan makna kehidupan dan stabilitas sosial. Terlebih agama merupakan upaya dari manusia untuk menjawab hakikat dari realitas, mengontrol perilaku, dan memberikan perasaan aman serta daya imajinatif. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa monoteis, politeis, seni dan agama merupakan bentuk tertua dari ekspresi dari manusia-awal guna menjawab dan menjelaskan misteri, tragedi kehidupan.

Kalau kita sepakat dengan para pemikir di atas, jelas bahwa dalam kehidupan sehari-hari beragama, praktik keagamaan seharusnya tidak mengedepankan emosi, melainkan mengedepankan toleransi. Sebab agama di sana sebagai sarana, fungsi untuk memberikan jawaban-jawaban bagi para pemeluknya, dan yang terpenting ialah adanya kesamaan di dalam satu komunitas atau kelompok yang memiliki nilai-bersama tersebut. Setidaknya itulah yang menjadi ciri esensial agama yang dapat membawa kita pada pemahaman bahwa tiap-tiap komunitas agama memiliki ciri-ciri; keyakinan terhadap adanya yang-sakral dan yang-profan; ritual-peribadatan; dan komunitas penganut.

Di Indonesia, sikap berpaling kepada agama guna menjawab pelbagai masalah yang mereka hadapi, kerap terjadi dan bahkan tidak mungkin mereka bisa melepaskan sikap tidak bisa membedakan mana bagian yang nampak dan tak-tampak dari sebuah fenomena. Sebab keduanya selalu dicampur-adukkan dan batas di antaranya amat tipis. Walaupun kita tahu bahwa agama berupaya untuk menjawab permasalahan-permasalahan, namun, khususnya pengikut dari suatu agama, justru memberikan permasalahan baru. Sebenarnya tindakan seperti itu bisa diminimalkan kemungkinannya apabila kita mengenal ciri-ciri dari agama, fungsi agama, dan di dalam kehidupan manusia.

Agama dan Kemunculannya

Sejarah kemunculan agama-agama di dunia merupakan bentuk dari upaya pembebasan, kalau menurut paparan di atas kita bisa melihat bahwa kemunculan agama tidak lain merupakan bentuk ekspresi imajinatif manusia-awal di dalam kesehariannya, terutama agama Abrahamik. Kita bisa lihat figur dari Musa yang berupaya membebaskan masyarakat Yahudi pada saat itu dari cengkraman dan perbudakan Firaun. Kemudian Isa yang membawa misi untuk membebaskan dari kekangan raja romawi, dan Muhammad untuk menolong dan mengubah kondisi masyarakat (jahiliyyah) Mekah yang kemudian juga Madinah. Sementara bapak dari agama Samawi, yakni Ibrahim dilahirkan untuk memberi ‘harapan’ pembebasan dari ketertindasan yang terjadi pada saat itu oleh raja Namrud. Dari sini visi agama Abrahamik memiliki muatan kemanusiaan yang amat kuat, mengubah kondisi masyarakat yang tertindas, dan membawa dunia yang diidealkan. Sementara agama sebagai ekspresi imajinatif menekankan bentuk penghayatan dari yang tampak bahwa ada sesuatu di balik itu semua.

Namun, pada praktiknya, agama justru melahirkan banyaknya kekerasan, kekejaman, perang dan pembunuhan daripada ide yang hendak dibawanya sebagai misi pembebasan. Alasan utamanya ialah karena membawa ‘kebenaran’ satu-satunya untuk diterapkan di dunia saat-ini. Bukan hanya itu, kita tahu juga kekerasan tersebut berupa atas nama: “perang suci”, “membela Tuhan”, dan kelompoknya. Jarang kita mendengar, khususnya beberapa di Indonesia, para agama(wan) membela sisi kemanusiaan tanpa mementingkan mengenai yang-sama. Padahal kalau kita lihat kembali dimensi yang ada di dalam agama justru bukan hanya menyoal perihal dunia di-sana, akan tetapi ada juga dimensi di-sini, kini yang dekat dengan sisi kemanusiaan, tidak hanya soal ilahi.

Inilah yang menjadi salah satu, menurut Karen Armstrong, alasan mengapa agama tampak tidak relevan, khusunya di negara-negara maju. Alasannya ialah karena saat ini kita tidak memiliki rasa akan ke-sakral-an, sisi yang-gaib dari agama. Karena kultur dari negara maju itu mengedepankan kultur ilmiah, bukan seperti dunia (kuno) Timur Tengah, atau juga Indonesia, yang masih memiliki ‘kepekaan’ terhadap sesuatu yang “spiritual”, “gaib”, “suci” bagaikan kulit dan daging di dalam tubuh manusia. Tidak jarang bagi para pemeluk agama ini berpaling dan mengandalkan kesehariannya ke dalam agama sebagai pegangan, mengingat dunia yang ada selalu berubah dan beberapa pemeluk agama, ataupun sebagian orang selalu memiliki dunia yang-ideal daripada kenyataan itu sendiri dan kerap terjebak ke dalam bentuk masa lalu.

Dalam konteks Islam kita bisa melihat dunia yang-di-ideal-kan dalam keseharian, yang berarti segala fenomena harus diislamkan. Misalnya ekonomi Islam, perbankan Islam, negara Islam, bahkan sampai ke perumahan (syariah) Islam. Hal tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk kekecewaan terhadap suatu sistem, sebab tidak jarang sebagian kelompok di Indonesia mengedepankan masa kejayaan masa lalu Islam yang ada di seberang sana dan berharap untuk bisa direalisasikan. Pun sebentuk idealisasi tersebut tidak jarang datang dari instansi-instansi guna mempertahankan status-quo dari masyarakat untuk tetap mengikuti sistem yang ada dengan sedikit modifikasi berbalut agama.

Begitulah nasib agama dewasa ini, kehadirannya seperti obat yang jika diperlukan dan digunakan sesuai dosis yang pas maka ia akan baik-baik saja, sebaliknya jika dosis yang diberikan berlebihan, justru akan menimbulkan masalah lain. Kecenderungan seperti ini tidak lain merupakan konsekuensi dari doktrin yang menyebut bahwa di dalam agama sudah terkandung seluruhnya; tujuan hidup tiap manusia; moralitas; masa depan; ilmu-ilmu; bahkan sampai hal yang ditemukan secara baru, bakalan dianggap telah ada dan sudah tercatat di dalam agama.

Keberagaman dan Sifat Keterbukaan

Tidak ada yang lebih buruk daripada mereka yang mengukuhkan hari esok. Sekalipun ia telah diperhitungkan dengan kemungkinan yang bakal terjadi. Sebab hari esok adalah misteri. Oleh karena ia misteri maka sikap yang perlu kita utamakan adalah keterbukaan. Apabila sifat dari keterbukaan diterapkan ke dalam keberagamaan kita saat ini, menjauhi sifat ego-sentris dan kesamaan kelompoknya, maka akan sangat mungkin kekerasan antar penganut agama, khususnya yang mayoritas kepada yang minoritas, yang selama ini sering terjadi bakal berkurang, apalagi menyangkut persoalan ‘kebenaran. Sebab hal tersebut bakalan memungkinkan ada yang berani memonopoli ‘kebenaran’, alasannya ialah jelas bahwa secara ciri, fungsi dan definisi semuanya berada di tataran yang sama, tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lainnya.

Selain itu juga “perang” sejatinya ialah melawan musuh dari kebodohan, kemiskinan, ketidaksejahteraan. Tidak akan ada lagi diskriminasi terhadap yang-lain, amarah yang gampang tersulut. Dengan demikian agama dan pemeluknya mesti ditarik ke titik terjauh, ke dalam suatu bentuk yang belum terpikirkan. Sebab kita tahu bahwa nyatanya realitas sosial dan keagamaan kita masih menyimpan banyak masalah yang telah mengendap karena dibiarkan berangsur lamanya.

Charles Kimball, dalam bukunya Kala Agama Jadi Bencana, mencatat ada lima sebab mengapa agama bisa menjadi bencana. Pertama, apabila agama mengedepankan klaim kebanaran secara mutlak maka ia tidak menyisakan sedikit pun ruang kebenaran kepada kelompok agama lain. Pada saat itu juga agama berubah menjadi Tuhan yang selalu diagung-agungkan dan disembah. Dengan kata lain para pemeluk agama bukan lagi menyembah Tuhan melainkan agama.

Kedua, ketaatan buta kepada seorang pemimpin agama yang dianggap mempunyai otoritas. Ketiga, ketika pemeluk agama merindukan zaman ideal dan berusaha untuk merealisasikannya dengan negara agama. Keempat, apabila agama membiarkan terjadinya tujuan yang menghalalkan segala cara. Kita tahu hal ini akan menimbulkan adanya anggapan untuk membela agama, bahkan tega untuk membunuh atas nama kesucian agama. Akhirnya inilah yang akan menimbulkan kekerasan identitas, kekerasan terhadap yang-lain.

Kelima, ketika perang suci atas nama agama digaungkan, maka yang tersisa hanyalah korban-korban dari peperangan yang mengatasnamakan perang suci. Maka dari itu, yang diperlukan ialah membaca kembali literatur-literatur agama masing-masing dari kemunculannya sebagai bentuk penghayatan akan yang Ilahi, gaib, dan membebaskan idolisasi atas bentuk tafsiran tunggal yang berimplikasi kepada ketimpangan dan ketidakadilan secara sosial dan politik.

Penutup

Sudah semestinya tindakan keagamaan kita hari ini tidak bersifat eksklusif dan menafikan kehadiran dari para pemeluk agama lain. Sebab tindakan yang dibutuhkan di dalam masyarakat—meminjam ungkapan Habermas—pasca-sekular ini adalah sikap saling belajar untuk mengerti posisi partner diskusi. Dominasi mayoritas tidak boleh menjadi penindasan, terutama dominasi agama mayoritas tidak boleh mengabaikan peran pemeluk agama lain, sekalipun yang tidak beragama. Sebab dari situlah keakraban di antara para pemeluk agama di dalam negara bakal dipertemukan dengan tanpa adanya suatu pembatasan kebenaran.

Tidak ada jalan lain, kita harus keluar dari batasan-batasan yang didasarkan atas pembacaan-pembacaan yang telah dilakukan oleh pendahulu mengenai suatu nilai pada zamannya. Hanya dengan keluar dari eksklusivisme yang dapat menyelesaikan permasalahan kemanusiaan yang sesuai dengan zaman kita saat ini. Bukan berangkat dari masa kejayaan waktu lampau, melainkan berangkat dari kondisi kenyataan masyarakat dan dari situ pula agama harus tampil secara terbuka dan membiarkan dirinya berkomunikasi dengan agama-agama lain dan tidak menawarkan akhir-kebenaran untuk saat ini.

 

Daftar Pustaka

Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan, cet, ke-XVII (Bandung: Mizan, 2017)

Cassirer, Ernst, An Essay On Man: An Introduction to a Philosophy of Human Culture, (New York: Yale University Press, 1944)

Diamond, Jared, Guns, Germs & Steel: Bedil, Kuman, & Baja, cet, kelima (Jakarta: KPG: Kepustakaan Populer Gramedia, 2018)

Fasya, Teuku Kemal, dkk, Kata & Luka Kebudayaan: Isu-Isu Gerakan Kebudayaan & Pengetahuan Kontemporer, ( Medan: USU Press, 2006)

Spread the love