Sejarah Gereja Katolik adalah sejarah pengakuan dosa. Seolah-olah jika kita ingin jujur, pengakuan dan dosa memberi sinopsis bagi halaman-halaman tua perjalanan Sejarah Gereja Katolik selama beribu-ribu tahun. Apakah tanpa pengakuan dosa, Gereja Katolik tidak ada? Apakah tanpa air mata, dan keheningan, Gereja Katolik tidak dapat kokoh berdiri – sampai hari ini?

Tubuh Sakramen

Ave Maryam mengawali kisahnya dengan pengakuan dosa, dan mengakhirinya dengan pengakuan dosa yang menunda pretensi pemaknaan pada pengakuan dosa itu sendiri. Penundaan pemaknaan tersebut membentangkan lautan tanya, mengenai transendensi simbolis Sakramen Gereja, dan di sisi lain tentang imanensi kebertubuhan Pelayan Gereja – dalam persona Suster Maryam dan Romo Yosef. Dramaturgi penundaan pemaknaan pengakuan dosa tersebut dihadirkan dengan elemen undecideable – tidak dapat diputuskan status maknanya – diujung pergulatan batin Suster Maryam dan Romo Yosef. Dengan kata lain, kita tidak tahu, apakah Suster Maryam mengaku dosa pada Tuhan atau menyatakan cinta kepada Romo Yosef. Di satu sisi, kita tidak tahu apakah di balik bilik pengakuan dosa terdapat kehadiran struktur transendensi Tuhan dalam Alter Ego Pastor Yosef – dalam pengakuan dosa– atau imanensi kebertubuhan Pastor Yosef yang identik dengan kerapuhan insani yang lebih signifikan. Teks sudah selalu rapuh dalam dirinya, begitulah kebijaksanaan Derrida bergema.

Di scene akhir Ave Maryam, pengakuan dosa menjadi sakramen goyah yang mesti ditunda aksentuasi  pemaknaanya. Representasi Tuhan dalam tubuh sakramen Romo Yosef rapuh oleh cinta insani yang ia nikmati sebagai seorang pria per se. Di sisi lain, pengakuan dosa Suster Maryam dapat dibaca sebagai kehendak afirmatif atas faktisitas kebertubuhan perempuan yang terberi dalam dirinya, sekalipun sebagai seorang Biarawati Katolik. Lintasan pergulatan batin tersebut telah dipersiapkan dengan baik oleh Roby Ertanto – Sutradara Film Ave Maryam, melalui simbol erotisme yang menubuh di dalam diri Suster Maryam dan Romo Yosef. Dengan kata lain, instabilitas makna ada di dalam lokus yang simbolik di antara ketegangan ruang kosong transendensi/imanensi sakramen Gereja melalui modus erotisme simbolik.

Lanskap ruang kosong simbolik dapat diidentifikasi sebagai intensitas struktur virtual dalam skema pembedaan internal Gilles Deleuze. Di dalam strukturalisme Deleuzian, yang simbolik memiliki aksentuasi prioritas ontologis atas yang yang real dan yang imajiner. Berbeda dari yang real dan imanjiner, yang simbolik tidak dapat diartikan sebagai realitas pra-eksisten di mana ia dapat dirujuk dan ditunjuk, atau dengan konten imajiner atau konseptual yang dapat mengimplikasikannya, dan yang dapat memberinya signifikansi.[1] Yang simbolik berkaitan dengan kemendahuluan ontologis yang menyebabkan instabilitas struktur pemaknaan yang real dan yang imajiner. Dengan kata lain, Ave Maryam memberi akses reflektif untuk menjajaki ruang kosong simbolik dan pada gilirannya menggeser keseluruhan visi ortodoksi sakramen gereja pada tataran kenyataan dan imajinasi.

Figurasi bilik pengakuan dosa memberi ruang reflektif untuk menemukan tenunan dekonstrukstif teks di antara imaji transendensi ilahi dan imanensi kebertubuhan. Dengan kata lain, bilik pengakuan dosa secara simbolis dapat diidentifikasi sebagai Khöra di dalam teks Timaeus Platon yang merujuk pada genus ketiga di antara genus pertama indrawi dan genus kedua ide. Derrida menyimpulkan bahwa khôra bukan hanya sebuah ouverture/ruang terbuka antara intelligibel-sensibel, tempat pembedaan di mana étant (being) terpilah dari être (Be) sebagaimana dikatakan Heidegger, melainkan khôra adalah « autre de lautre » (selain dari yang lain).[2] Di antara tensi tersebut, Ave Maryam meleburkan transendensi dan imanensi ke dalam dilema yang mendahului batas kefanaan dan kesucian manusia, yakni Cinta.

Pada akhirnya, Ave Maryam adalah sebentuk koreksi sakramental atas pengakuan dosa yang ditulis St. Agustinus dari Hippo pada tahun 385 M. Di dalam Confessions, Agustinus menulis dengan sangat indah; “terlambat aku mencintai-Mu, Kecantikan yang Utama dan Abadi ; terlambat Aku mencintai-Mu”.[3]Dalam tarikan nafas yang sama, Agustinus sedang menyembunyikan seorang perempuan dalam hidupnya sebagai sebuah dosa masa lalu. Peremuan tanpa nama – di dalam pengakuan agustinus – di mana dari rahimnya,  Agustinus memperoleh seorang putra bernama Adeodatus.[4] Di dalam pengakuannya, Agustinus Menulis mengenai perempuan-tanpa-nama dalam hidupnya, sebagai berikut :

Sementara dosa ku kian berlipat. Seorang perempuan dengannya aku berbagi ranjang telah diambil dari sisi ku karena ia menghalangi pernikahan ku. Hati ku yang telah tertanam kuat padanya menjadi terluka dan terbelah, mengucurkan darah. Ia telah kembali ke Afrika dan bersumpah bahwa ia tidak akan pernah pergi dengan pria lain.[5]

Agustinus membunuh ingatan masa lalunya sebagai dosa dan kehidupan kristen sebagai kelahiran kembali. Sejarah hanya mengenal perempuan tanpa nama dalam hidup Agustinus sebagai Ibu dari Adeodatus. Di sisi lain, ia adalah kehidupan masa lalu Agustinus yang penuh dosa – menurut pengakuan Agustinus. Dengan kata lain, sinopsis cinta di masa muda Agustinus adalah nafsu dan oleh karena itu penuh dosa. Gestur pemikiran Agustinus tentu memperoleh insipirasi dari Ide Kebaikan Platon. Oleh karena itu, pemikiran Agustinus – di dalam Confesiones – menjadi begitu asketik berkaitan dengan nosi oposisi biner dan hirarki ide yang bersifat moralis. Tedensi tersebut mengindikasikan seluruh pengetahuan barat yang mengambil insipirasi dari Platon berbasis pada komitmen moral bukan epistemis. Tidak terkecuali Gereja Katolik yang diwariskan oleh St. Agustinus di dalam pengakuannya.

Tedensi nalar asketik agustinian tersebut dapat ditelusuri pada teks Politeia Platon berkaitan dengan konsep dimensi Jiwa. Melalui Platon, pengakuan dosa dapat diidentifikasi sebagai latihan rohani (askesis) yang menundukkan hasrat dan nafsu sebagai dosa. Suatu hal yang bertentangan dengan Ide Kebaikan, dalam hal ini Tuhan. Platon menulis di dalam Politeia, sebagai berikut :

“jangan pernah lupa membangunkan bagian rasionalmu sebelum kamu tertidur untuk memberinya makanan dengan pikiran-pikiran atau pencarian-pencarian akan hal-hal yang baik; dengan cara mengonsentrasikan diri, setelah (kamu) menjinakkan bagian nafsumu (epithumia) […] dan menenangkan hasratmu (thumos); setelah kamu menenangkan dua hal terakhir dan membangkitkan yang pertama – tempat di mana pemikiran hadir – pada saat itulah jiwa mencapai kebenaran”.[6]

Betapa naif jalan pikir salah satu orang kudus terbesar dalam sejarah gereja katolik!

Suster Maryam : “Bapa, Saya ingin mengaku dosa”

Pengakuan St. Agustinus dapat diidentifikasi sebagai salah satu buku auto-biografi yang ditulis di dalam zaman pra-modern namun memiliki suasana eksistensial  postmodern. Nilai sastra yang diemban bertahan ketika manusia kontemporer mencoba mencari suasana batin yang heterodoks, di lain pihak, diskursus filosofis yang diajukan memberi resonansi teoritis sampai di tulisan John D. Caputo. Namun terlepas dari pertimbangan tersebut, pengakuan Agustinus adalah sinematografi klasik tentang paradoks transendensi/imanensi di antara kesucian dan kehinaan, cinta dan nafsu,Tuhan dan Iblis. Lokus paradoks tersebut terletak pada situasi kebertubuhan Agustinus sebagai tanda yang mendahului setiap ketegangan di antara transendensi/imanensi.

Pengakuan Agustinus menandai kelahiran baru kepada Tuhan Kristiani dengan menafikkan setiap gejolak hasrat sebagai dosa. Dengan kata lain, pengakuan Agustinus meredam setiap modus insani ke dalam latihan rohani. Kelahiran kembali adalah kelahiran Roh yang mengatasi setiap keinginan daging. Dalam suasana agustinian inilah kehidupan biara yang disuguhkan Ave Maryam memperoleh tensi dilematisnya. Suasana agustinian tersebut diperkuat oleh minusnya dialog yang tertuang di dalam Film Ave Maryam dengan menonjolkan keheningan latihan rohani. Seakan-akan wajah Suster Maryam adalah sketsa dari pergulatan batin yang tidak dapat diucapkan ke dalam kata-kata. Latar dunia Agustinian diperkuat oleh dialog yang minus kata-kata namun memperkuat simbol ketegangan di antara kebertubuhan imanensi dan kaul transendensi sebagai biarawati dan biarawan.

Latar dunia agustinian memberi lanskap pengertian yang spesifik mengenai cinta. Sebuah cinta kristiani yang mengambil insipirasi dari Ide Kebaikan Platon. Dengan kata lain, Cinta Kristiani sudah selalu mengandaikan tedensi moral yang spesifik. Itulah mengapa, dengan mudah fenomena cinta diidentifikasi ke dalam standar moral baik dan buruk atau bahkan suci dan dosa, bukankah cinta tidak sesederhana (kateogoris) itu? Ave Maryam berhasil untuk menunjukkan ketakutan Dunia Agustinian Gereja Katolik mendekati cinta tanpa pertimbangan moral esoteris dengan intensitas keheningan simbolis yang kuat. Hannah Arendt di dalam “Love and St. Augustine” membantu untuk menguraikan tedensi moral esoteris tersebut, sebagai berikut :

Pencarian akan hal duniawi mengubah hakikat manusia. Pencarian tersebut mengubahnya ke dalam ada yang fana. Di dalam cupiditas, Manusia telah menentukan dirinya sebagai ada yang dapat binasa. Di dalam caritas, di mana obyeknya adalah keabadian, manusia mengubah dirinya kepada kekalan, yang tidak dapat binasa. Manusia dalam dirinya – esensinya, tidak dapat didefinisikan karena ia selalu memiliki keinginan untuk menjadi bagian dari suatu hal di luar dirinya yang kemudian mengubahnya dirinya.[7]

Kisah cinta Suster Maryam dan Romo Yosef tidak dapat diletakkan ke dalam skema struktur partisipasi Ide Kebaikan Platon yang terlembaga di dalam visi ortodoksi Gereja Katolik. Hal tersebut, berbasis pada elemen undecideable yang disuguhkan di dalam film Ave Maryam yang menunda setiap pretensi pemaknaan akhir mengenai Kesucian dan  Kehinaan.  Cinta Ave Maryam adalah bilik pengakuan dosa, ruang kosong di antara transendensi dan imanensi yang mendahului struktur realitas dan imajiner.

Film ini berakhir dengan penundaan. Perasaan aneh yang asing. Pemahaman umum mengenai sakralitas biara tentang hidup selibat (kemurnian) adalah sumber dari ketidakmengertian. Keganjilan ontologis yang menarik konsekuensi jauh pada ketidakpastian epistemis. Zizek memberikan identifikasi menarik pada suasana melankolis tersebut, ada realitas sejauh terdapat kesenjangan, retakan, di dalam bagian intinya, yakni untuk mengatakan bahwa terdapat, sebuah ekses traumatik, tubuh asing yang tidak dapat diintregrasikan kedalamnya.[8] Sungguh hidup seperti ini dan itu, tidak enak !

Sayang sekali,  saya memiliki ingatan yang semakin melemah untuk mencatat kembali dialog yang terjadi di dalam pengakuan dosa tersebut. Dengan semena-mena, saya mencoba melukiskan kembali penggalan dialog tersebut, sebagai penutup :

Suster Maryam : “Bapa, saya ingin mengaku dosa. Saya telah jatuh cinta pada seorang Pastor…yang telah mengisi kekosongan di dalam hidup saya selama ini.”

Pastor Yosef     : “Semoga Allah Mengasihani kita”

Amin.

 

Catatan Akhir

[1] Lih. Gilles Deleuze, How Do We Recognize Structuralism? dalam “Desert Islands and Other Texts”, terjemahan oleh Michael Taormina (New York : Semiotext(e), 2004), hlm. 173.

[2] Lih. Setyo Wibowo, Problem Pikiran/Bahasa dan Dunia: Khôra Makalah disampaikan pada Kelas Filsafat Cogito 16 September 2017, hlm. 26

[3] Lih. Augustine, Confessions Buku X, xxvii (38)

[4] Adeodatus memiliki arti “Pemberian Tuhan ( A Deo Datus), memang Augustinus di dalam Confession sangat bersyukur atas kepintaran yang dimiliki oleh putranya dalam usia yang begitu muda.

[5] Lih. Augustine, Buku VI , xv (25)

[6] Lih. Platon, Politeia 571d-572a

[7] Lih. Hannah Arendt, Love and Saint Augustine, (Chicago : The University of Chicago Press, 1996), hlm. 18

[8] Lih. Slavoj Zizek, The Parallax View (London: MIT Press, 2006), hlm. 242

Spread the love