Menyoal manusia, ada begitu banyak ide dan narasi yang menarik untuk diperbincangkan. Setidaknya ada dua narasi yang menurut saya cukup kuat dan banyak menjadi rujukan orang-orang ketika berbicara tentang manusia; sebut saja narasi religius dan narasi sains. Narasi religius berbicara tentang bagaimana hidup manusia sebenarnya sudah ditentukan bahkan sejak sebelum ia diciptakan. Dalam Islam misalnya, ia dapat menguasai bumi dan mengolah segala sesuatunya karena manusia telah ditakdirkan sebagai Khalifatullah Fil Ardh. Sehingga menurutnya, manusia menguasai bumi bukanlah sesuatu hal yang “mengejutkan” karena itu sudah merupakan skenario yang ditulis oleh Tuhan. Berbeda dengan narasi religius, sains menggambarkan narasinya dengan dasar-dasar ilmiah yang reliabel.

Evolusionisme dalam hal ini adalah narasi sains paling kuat yang masih bertahan sampai saat ini. Menurut teori ini, manusia dapat menguasai dunia dan dapat memposisikan diri pada puncak mata rantai makanan karena manusia (khususnya sapiens) adalah mahluk yang telah melewati berbagai proses seleksi alam dan ia dapat bertahan. Selain itu, ia dapat menempati posisi tersebut karena ia berevolusi lebih cepat ketimbang spesies yang lain. Dalam tulisan ini, Saya akan coba menguraikan alasan mengapa manusia saat ini bisa berada pada posisinya pada hari ini bukan dalam narasi religius, melainkan narasi sains.

Pada mulanya…

Katakanlah manusia adalah spesies yang kini ada pada mata rantai paling puncak di bumi. Bagaimana ia bisa ia mencapai posisi tersebut? Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut terjadi karena proses evolusi yang terjadi pada manusia lebih cepat ketimbang makhluk lain. Yuval Noah Harari, berpendapat hal tersebut terjadi karena beberapa faktor lain selain karena ia berevolusi lebih cepat ketimbang spesies lainnya. Pertama, manusia dapat meraih pencapaian tersebut karena manusia memiliki fleksibilitas untuk bekerja sama dalam kelompok yang secara individu lebih banyak dan karena manusia memiliki imajinasi. Manusia memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan manusia yang lain tanpa harus mengenal satu sama lain secara lebih jauh, yang diperlukan adalah para individu tersebut memiliki ketertarikan pada sebuah cita-cita atau cerita yang sama.

Saya akan berikan sebuah contoh, saat kita memiliki kecintaan pada sebuah klub sepak bola, dan kemudian kita menemukan seseorang atau sebuah kelompok yang memiliki rasa cinta yang sama pada klub sepak bola tersebut, kita akan dengan mudah untuk berbaur dengan individu atau kelompok terkait tanpa harus mengenal lebih jauh kepribadian dari individu atau kelompok lain tersebut. Saat klub sepak bola yang didukung dicurangi oleh klub lain, kita tak akan segan-segan untuk bergabung dengan individu/kelompok terkait untuk melawan individu/kelompok lain dengan alasan mempertahankan rasa bangga dan kecintaan pada klub yang kita banggakan.

Spesies lain, mungkin juga memiliki kemampuan untuk bekerja sama sebagai sebuah kelompok, yang membedakan adalah faktor fleksibilitas yang dimilikinya. Jika manusia dapat dengan mudah bekerja sama dengan manusia yang lain tanpa harus mengenal satu sama lain, spesies lain seperti Simpanse harus terlebih dahulu mengenal dekat Simpanse lainnya untuk dapat bekerja sama dan membentuk sebuah koloni. Jika manusia yang tidak saling mengenal dalam jumlah besar dikumpulkan pada suatu tempat, ia bakal dengan mudah membentuk sebuah koalisi untuk mencapai sebuah cita-cita atau tujuan yang sebelumnya telah disepakati. Keadaan tersebut akan jauh berbeda jika yang dikumpulkan adalah Simpanse yang tak mengenal atau belum pernah bertemu, hal yang paling mungkin terjadi adalah sebuah kekacauan. Hal itu terjadi sebab Simpanse tak memiliki kemampuan untuk bekerja sama secara fleksibel laiknya manusia.

Kedua, manusia adalah satu-satunya spesies yang memiliki imajinasi. Kita dapat bekerja sama dengan manusia lain karena kita memiliki imajinasi yang sama tentang sesuatu. Imajinasi tersebut, melahirkan cerita yang akhirnya dapat menyatukan banyak individu karena kumpulan idividu tersebut menilai, hanya dengan bersatu maka mereka dapat mencapai cita-cita dari imajinasi yang mereka rangkai. Selama kumpulan individu tersebut percaya pada cita-cita dari cerita imajinasi yang bersangkutan, selama itu pula kumpulan individu terkait akan taat dan tunduk pada aturan, norma serta nilai yang dianggap dapat mengantarkan kumpulan individu tersebut pada cita-cita yang telah diimajinasikan sebelumnya.

Perbedaan ini sangat terlihat jelas saat spesies lain hanya dapat berkomunikasi untuk menggambarkan kenyataan yang ia lihat. Berbeda dengan manusia, ia tidak hanya bertukar informasi tentang fakta, namun ia juga dapat menggunakan bahasa untuk merangkai sebuah cerita fiktif. Harari memberikan sebuah contoh, seorang manusia dapat mengatakan bahwa ada sebuah entitas yang sangat kuat dan melebihi kekuatan manusia, ia berkuasa atas segala sesuatu dan ia berada di singgasana langit. Jika mereka mengingkari apa yang dikatakan olehnya lewat orang yang ia pilih, maka mereka akan berakhir dalam hukuman dan siksaan. Jika mereka (manusia) percaya pada cerita tersebut, maka mereka (manusia) mesti mengikuti ajaran, aturan dan norma yang disampaikan oleh manusia terpilih yang membawa pesan entitas tersebut. Dengan begitu, maka mereka (manusia) dapat bekerja sama untuk berusaha menegakkan aturan yang sebelumnya diklaim sebagai aturan milik entitas terkait dan bekerja sama agar terhindar dari siksaannya kelak.

Fiksilah yang membantu kita hidup…

Fakta menarik dari semua ini adalah hanya manusia yang dapat melakukan hal ini. Ini semua karena manusia memiliki kemampuan untuk berimajinasi. Sebaliknya jika hal ini coba manusia terapkan pada spesies lain, manusia tak akan berhasil melakukannya. Manusia tak bisa memberi perintah pada seekor Simpanse untuk memberikan pisang yang ia miliki dengan berjanji jika ia memberikannya, maka ia akan mendapatkan sejuta pisang di kehidupan selanjutnya setelah ia mati karena ia telah menuruti perintahnya. Tidak akan ada Simpanse yang percaya pada apa yang manusia tersebut katakan sebab simpanse tidak memiliki kemampuan untuk berimajinasi yang membuat Simpanse meyakini cerita tersebut. Itulah mengapa manusia dapat menguasai Bumi, dan itu tidak lebih merupakan konsekuensi dari kemampuan manusia untuk dapat melakukan tindakan secara kolektif. Hanya manusia yang mau berkumpul hanya untuk membangun kuil-kuil suci, berperang untuk menyebarkan dan mempertahankan apa yang ia Imani karena ia mempercayai cerita yang sama tentang Tuhan, surga dan neraka.

Mekanisme tersebut mendasari setiap bentuk kerja sama manusia dalam skala yang massif. Hal ini juga tidak hanya terjadi pada ranah religi, Harari juga memberi contoh dalam bidang hukum. Menurutnya, kebanyakan sistem yang ada di dunia pada saat ini mendasarkannya pada HAM. Tatanan hukum dalam HAM, tak jauh berbeda dengan tatanan religi. Cerita tentang HAM dan Religi adalah sama-sama suatu hal yang sebenarnya hanyalah cerita/narasi yang manusia ciptakan sendiri.  Dua hal tersebut bukanlah realitas objektif. Cobalah bedah tubuh manusia, kita akan menemukan berbagai organ dalam seperti jantung, hati atau pun ginjal. Namun, kita tidak dapat menemukan HAM dalam tubuh manusia. Kita dapat menemukan HAM hanya dalam “cerita” yang manusia ciptakan dalam beberapa abad terakhir. Cerita tersebut mungkin dapat memberikan efek positif, namun tetap saja sesuatu tentang HAM, ia tetaplah hanya sebuah cerita fiktif yang manusia buat.

Dalam tatanan ekonomi, ada cerita tentang uang yang tersemat pada sebuah potongan kertas atau logam. Kita percaya, dengan membawa sepotong kertas atau sepotong logam yang memiliki sebuah tanda berupa angka, kita dapat mendapatkan apa saja termasuk makanan yang kita inginkan. Namun tetap saja, kita tak dapat memakan atau memanfaatkan uang tersebut secara langsung tanpa melakukan tindakan lanjutan karena bagaimana pun uang hanyalah sepotong kertas/logam. Uang menjadi berguna karena kita menyematkan nilai padanya. Sehingga nilai tersebutlah yang sebenarnya membuat kita dapat menukarkan kertas/logam tersebut untuk menjadi sepiring nasi atau buku. Cerita tentang uang, menurut Harari adalah salah satu cerita yang paling berhasil yang dibuat oleh manusia. Mengapa? Karena uang adalah satu-satunya konsep yang dipercaya oleh semua orang (setidaknya oleh semua masyarakat modern).

Tidak semua orang percaya pada agama, tidak semua orang percaya pada HAM, namun semua orang percaya pada uang dan dollar (lagi-lagi setidaknya oleh masyarakat modern). Contoh, mungkin para jihadis sangat membenci amerika dan zionisme, tapi mereka tidak mungkin membenci mata uang dollar karena mereka percaya uang dollar adalah salah satu hal yang dapat membantu untuk mewujudkan segala cita-cita yang mereka miliki. Disini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa manusia dapat menguasai dunia karena ia hidup dalam kenyataan ganda. Kita dapat mengatakan bahwa spesies lain hanya hidup dalam realitas objektif. Realitas mereka terdiri dari berbagai realitas objektif seperti sungai, pohon, harimau dll. Manusia juga hidup dalam kenyataan/realitas objektif. Mungkin realitas manusia juga terdiri dari berbagai hal yang sama dengan spesies lain, namun dalam beberapa abad terakhir, manusia menambahkan realitas lain di atas realitas objektif. Realitas lain tersebut adalah realitas fiktif atau imajinasi. Sebuah realitas yang didalamnya terdiri dari konsep dan sistem fiktif seperti HAM dan uang.

Pada akhirnya…

Fakta menarik dari kehidupan manusia beberapa abad terakhir ini adalah bagaimana realitas fiktif tersebut menjadi sangat kuat dan bahkan kepentingan yang dihasilkan realitas fiktif dapat mengalahkan kepentingan realitas objektif. Lihat saja bagaimana manusia merusak alam sebagai tempat tinggalnya demi jumlah saldo yang ada pada rekening bank yang mereka miliki. Sehingga pada saat ini, kekuatan terbesar di dunia adalah konsep-konsep yang dilahirkan dari realitas fiktif tersebut. Kelangsungan hidup realitas objektif seperti hutan, harimau dan monyet kini bergantung pada kelangsungan kebijakan yang lahir dari kebijakan konsep yang muncul dari realitas fiktif. Karena kemampuan akan bekerja secara kolektif dan berimajinasilah manusia pada akhirnya berada pada mata rantai makanan tertinggi di Bumi, atau bahkan tidak menutup kemungkinan juga semesta di luarnya. Tinggal menunggu waktu saja!

Spread the love
  • 12
    Shares
  • 12
    Shares