Proyek genetic modified organism (GMO) sebagai salah satu kemajuan pengetahuan dan teknologi yang manusia capai umumnya dianggap sebagai ancaman, khususnya bagi bio-diversitas yang tersebar luas di alam. Anggapan tersebut muncul karena tumpang tindihnya properti alamiah[i] yang dipahami manusia.

Manusia selama ini memahami properti alamiah sebagai sesuatu dalam alam yang terlepas dari peran manusia. Upaya campur tangan manusia di alam dianggap sesuatu yang bernilai salah, karena tidak terakomodasi pada properti alamiah yang dimaksud. Akan tetapi, mengerdilkan posisi manusia dalam properti alamiah merupakan hal yang keliru, sebab pada konteksnya manusia adalah spesies yang turut serta, berada, dan berkembang dalam alam[ii]. Segala tindak-tanduk manusia berada dalam prinsip evolusi. Kemampuan manusia untuk melakukan cross-breeding dan intervensi genetik pada makhluk lain merupakan hasil yang didapat dari proses seleksi alamiah alam. Alam adalah arena yang dinamis. Segala makhluk serta hal lain di dalamnya bermain dalam pola tarik-ulur pada seleksi alam yang merupakan bagian dari proses evolusi[iii]. Populasi suatu makhluk mungkin menurun, menaik, atau bahkan menghilang penuh. Apakah dengan menurunnya, menaiknya, dan menghilang penuhnya populasi suatu makhluk adalah bernilai salah? Jika pertanyaan tersebut diterima, maka manusia adalah satu-satunya makhluk naif, yang menginginkan posisinya berada di luar alam dan bertindak sebagai hakim terhadap alam. Oleh sebabnya yang di luar alam, maka manusia seharusnya tidak terikat pada prinsip evolusi[iv], namun tentu anggapan ini keliru, sebab manusia tidak dapat menghindar dari kenyataan bahwa dirinya adalah bagian dari spesies, sehingga masih terikat pada prinsip evolusi[v].

Laku konservasi dan preservasi terhadap makhluk lain yang dilakukan manusia memiliki asumsi bahwa alam berada dalam status yang lemah, tidak berdaya, dan mudah rusak. Label status tersebut hanya berada dan mengikat pada manusia. Seakan-akan manusia adalah makhluk yang paling merusak di antara makhluk lainnya, dan pernyataan tersebut memberikan implikasi bahwa keadaan alam turut menentukan kualitas manusia[vi]. Pemahaman tersebut kelak membawa manusia pada pemahaman bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan alam melalui laku konservasi dan preservasi terhadap makhluk lain[vii]. Tentu pemahaman tersebut keliru, dan masih terjebak pada pengukuhan manusia sebagai makhluk naif yang berada di luar alam.

Tidak ada yang tidak alamiah…

Jika berkaca pada pandangan Darwinian[viii], tentu pemahaman tersebut harus digeser pada pemahaman biosentris, yang mana setiap makhluk hidup memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga diri secara individu maupun komunal dari ancaman kepunahan, dan alam tidak lebih dari sekadar arena kehidupan. Kesadaran yang dibangun oleh biosentris bahwa setiap makhluk hidup merupakan bagian dari komunitas besar alam. Bila salah satu rantai dalam komunitas alam tersebut terputus memiliki konsekuensi yang besar terhadap makhluk lain yang berada dalam di dalamnya. Pemahaman tersebut dapat dicerna secara sederhana dengan menyatakan bahwa manusia sebagai bagian dari makhluk hidup secara keseluruhan memiliki tanggung jawab untuk menjaga diri secara individu maupun komunal serta makhluk lain yang berada dalam rantai alam yang mereka tinggali, sebagai upaya untuk mencegah ancaman dari kepunahan atas berbagai variabel.

Setiap makhluk hidup yang berada dalam alam memiliki pertarungannya melawan ancaman kepunahan, sehingga perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh upaya menjawab perlawanan tersebut adalah konsekuensi yang wajar dalam alam. Kepunahan yang terjadi adalah konsekuensi atas pertarungan tersebut sebagaimana dalam prinsip survival of the fittest, sesederhana kegagalan dalam beradaptasi adalah kepunahan. Sama halnya dengan alam sebagai arena itu sendiri, yang terus mengalami perubahan. Melalui perubahan-perubahan tersebut tentu menandakan alam yang terus berproses dan tidak statis[ix], sehingga kehidupan yang ada dalam alam terus menuju keharmonian yang tidak berujung. Atas pemahaman tersebut, maka upaya untuk melindungi seluruh makhluk hidup tetap bertahan dari kepunahan melalui laku konservasi dan preservasi adalah hal yang absurd[x]. Ketika arena mengalami perubahan yang signifikan, konsekuensinya makhluk yang berada dalam arena tersebut terpaksa untuk melakukan banyak penyesuaian, dan meningkatkan variabel kepunahan. Akan tetapi, perlu kembali ditekankan bahwa kepunahan adalah hal yang wajar dalam alam, dan menolak kepunahan terhadap semua spesies berarti manusia berupaya melawan sistem alam sebagai arena dan mengabaikan prinsip evolusi sebagai hukum. Konsekuensi dari tindakan tersebut adalah manusia meyakini bahwa keberadaan alam sebagai sesuatu yang statis dan tidak berkembang, sebuah keharmonian yang tidak bergerak dan berpindah dari satu titik[xi].

Organisme-organisme hasil rekayasa genetik dalam kerangka evolusi, tentu bukan sesuatu yang melampaui alam. Oleh sebab, yang menentukan organisme itu bertahan atau tidaknya adalah alam, organisme tersebut masih berada dalam arena alam dan terikat oleh prinsip evolusi. Melalui adanya organisme-organisme hasil rekayasa genetik turut menambah bio-diversitas dalam arena alam, dan memungkinkan spesies lain untuk tetap berumur panjang dari kepunahan oleh ancaman rantai kehidupan lain yang telah punah. Setidaknya, upaya rekayasa genetik memungkinkan spesies lain untuk memperpanjang umur kehidupannya. Kekhawatiran bahwa manusia mampu melampaui arena alam merupakan sebuah khayal belaka. Kekhawatiran tersebut terbantahkan melalui fakta bahwa manusia sebagai spesies, yang mempunyai keterbatasan di hadapan alam. Alam merupakan arena yang memiliki potensi tidak terbatas, sama halnya dengan spesies yang tinggal di dalamnya, namun setiap spesies akan selalu terikat pada arena alam. Ketika spesies berhasil untuk beradaptasi terhadap arena yang ditinggali sekarang, di saat itu pula bentuk arena alam kembali berkembang dan menawarkan berbagai tantangan-tantangan baru yang spesies itu harus jawab kembali melalui pola adaptasi. Kemudian pada akhirnya, potensi dan perkembangan alam sebagai arena dan spesies tidak pernah berhenti, melainkan terus bergerak dalam fase yang spiral. Konsep the watcher tidak akan mungkin diterima, oleh sebab manusia tidak mungkin untuk berada di luar arena alam, kecuali bila dijawab dalam tesis keyakinan bahwa manusia adalah omnipotent-being atau sosok Tuhan yang memprakarsai semua ini.

Kehidupan Primitif Bukanlah Solusi…

Pada kasus GMO, upaya-upaya untuk menahan dan menolak GMO yang mayoritas disuarakan oleh pegiat ethics lingkungan dengan ungkapan “mereka” (manusia) yang peduli terhadap keberadaan lingkungan atas berbagai variabel ancaman[xii] sebagai bentuk tatanan moralitas baru. Konsep the watcher jelas diberlakukan pada posisi tersebut, mengandaikan segala tindakan yang bertentangan dengan upaya “menjaga alam” (biosafety) seperti halnya upaya-upaya mengenalkan hasil transgenik bernilai salah dan dianggap sebagai “perusak alam” (biovigilante). Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, di titik inilah kekeliruan para pegiat ethics lingkungan, adalah menganggap semua bentuk kemajuan sebagai kerusakan yang berujung pada krisis lingkungan, dan berupaya mempropagandakan kehidupan yang kembali pada bentuk primitif[xiii] melalui gerakan-gerakan yang disebut sebagai pro-lingkungan atau dirasa baik bagi lingkungan. Seakan-akan bentuk dan laku primitif adalah titik ekuilibrium yang sempurna[xiv].

Tidak ayal GMO sebagai salah satu bentuk kemajuan ditolak. Segala hal yang dianggap sebagai kerusakan yang telah terjadi berupaya untuk dikembali kepada titik ekuilibrium tersebut, seakan-akan bahwa segala kerusakan yang terjadi, kembali menjadi primitif adalah solusinya. Pada titik inilah sangat dirasakan ketidak-masuk-akalan para pegiat ethics lingkungan serta beragam propagandanya melalui banyak gerakan-gerakan besar yang tertuang dalam sebuah nonprofit organization (NGO). Tentu GMO pun hanya salah satu dari kemajuan yang ditolak, dan masih banyak sekali kemajuan-kemajuan pengetahuan dan teknologi yang mungkin sudah terang-terangan ditolak. Tidak ayal, secara pribadi, penulis menganggap para pegiat ethics lingkungan dan pegiat lingkungan tidak jauh berbeda dengan orang-orang berkeyakinan orthodox. Segala masalah, dapat dijawab dan terselesaikan melalui laku ibadah.

 

Catatan Akhir

[i] Lih. Andrew William Biro, “Denaturalizing Ecological Politics: ‘Alenation from Nature’ from Rousseau to Marcuse, Tesis Faculty of Graduate Studies, York University, hal. 7-9.

[ii] Lih. Charles J. Bicak, 1997, “The Application of Ecological Principles in Establishing an Environmental Ethic”, Jurnal The American Biology Teacher, Vol. 59 No. 4 (Apr.), hal. 201.

[iii] Lih. Ibid, hal, 201.

[iv] Lih. E. Ariwidodo, 1997, “Rekayasa Genetika (Riset DNA Rekombinan) Dalam Perspektif Filsafat Ilmu”, Skripsi Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, hal. 84.

[v] Spesies selalu menjadi subjek, meski ia aktif berproses di dalamnya, dan sebagai spesies tidak mungkin untuk untuk melarikan diri (dari arena alam) maupun mendobraknya. Lih. Hal. 6.

[vi] Lih. Charles J. Bicak, 1997, “The Application of Ecological Principles in Establishing an Environmental Ethic”, Jurnal The American Biology Teacher, Vol. 59 No. 4 (Apr.), hal, 202.

[vii] Lih. Thomas Pearson, 2009, “On the Trail of Living Modified Organisms: Environmentalism within and against Neoliberal Order”, Jurnal Cultural Anthropology, Vol. 24 No. 4 (Nov.), hal. 718-719.

[viii] Merujuk pada istilah Great Chain of Being. Lih. Andrew William Biro, “Denaturalizing Ecological Politics: ‘Alenation from Nature’ from Rousseau to Marcuse, Tesis Faculty of Graduate Studies, York University, hal. 12.

[ix] Lih. E. Ariwidodo, 1997, “Rekayasa Genetika (Riset DNA Rekombinan) Dalam Perspektif Filsafat Ilmu”, Skripsi Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, hal. 88.

[x] Lih. Charles J. Bicak, 1997, “The Application of Ecological Principles in Establishing an Environmental Ethic”, Jurnal The American Biology Teacher, Vol. 59 No. 4 (Apr.), hal, 205; Hal. 222.

[xi] Lih. E. Ariwidodo, 1997, “Rekayasa Genetika (Riset DNA Rekombinan) Dalam Perspektif Filsafat Ilmu”, Skripsi Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, hal. 39-41.

[xii] Dinyatakan dalam pemisalan semisal: pada tanaman terdapat potensi ancaman mematikan tanaman indukan, membuat hama menjadi resisten, ancaman mutasi pada spesies herbivora yang kelak berimbas pada spesies karnivora dan omnivora. Lih. Thomas Pearson, 2009, “On the Trail of Living Modified Organisms: Environmentalism within and against Neoliberal Order”, Jurnal Cultural Anthropology, Vol. 24 No. 4 (Nov.), hal. 735-737.

[xiii] Lih. Andrew William Biro, “Denaturalizing Ecological Politics: ‘Alenation from Nature’ from Rousseau to Marcuse, Tesis Faculty of Graduate Studies, York University, hal. 12.

[xiv] Lih. Ibid, hal. 17.

Spread the love
  • 13
    Shares
  • 13
    Shares