“I want to go to Mars. Not just to visit, I want to live there. Because then I’d be living proof that life on Mars was possible. Proof that if we had to, mankind would make a fresh start. We’re in trouble, and it’s our fault. And we’re running out of time and Mother Nature doesn’t negotiate. We can’t give up, not now. Mars is a planet ripe and ready for life. Earth’s resources may be depleted, but there’s one resource we must never neglect, it’s the most valuable and it’s the one without limits, courage.”

― Nathaniel Shepard

Sinopsis

Film ini berkisah di suatu masa, di masa depan, manusia telah berhasil menemukan cara untuk tinggal dan menetap di Mars. Hingga dilakukanlah perjalanan, kelompok astronot pertama, yang dikhususkan sebagai first-trial di sana dengan kapal luar angkasa Magellan-61. Namun apa dikata, Sarah Elliot, pemimpin dari kelompok astronot tersebut ditemukan dalam keadaan hamil. Sampai waktu berlalu dan akhirnya Sarah Elliot beserta para awak lainnya berhasil mendarat di suatu kawasan settlement di Mars yang diberi nama East Texas. Tapi naas, Sarah harus menghembuskan nafas terakhirnya di saat melahirkan sang buah hati di Mars. Kematian Sarah didiagnosa sebagai bentuk tahap akhir dari pre-eklampsia, yakni eklampsia, yang umumnya menyerang di masa kehamilan. Namun berita kelahiran Sarah ini tidak turut diberitakan oleh Nathaniel kepada publik, ia khawatir, pemerintah dan organisasinya (Genesis NASA) dapat dikecam habis atas kelalaian dan tragedi yang menimpa Sarah.

Enam belas tahun kemudian, anak Sarah, yakni Gardner Elliot, tumbuh sebagai anak yang luar biasa, baik secara fisik maupun psikis. Setelah menerima barang peninggalan dari Ibunya, Gardner berkeinginan untuk kembali ke Bumi untuk dapat menemui sosok lelaki yang ada dalam peninggalan rekaman Ibunya. Di saat yang bersamaan Gardner juga memiliki kenalan via chatroom, Tulsa, seorang perempuan yang berada di Colorado. Gardner berjanji suatu saat ia akan pergi menemui si gadis dan mencari sosok lelaki yang diyakininya sebagai Ayah kandungnya Gardner.

Tentu untuk kembali ke Bumi bukan perkara yang mudah. Gardner didiagnosa mengidap ostegeneis imperfecta, atau tumbuh kembang genetis yang tidak sempurna, yang mengakibatkan segala pertumbuhan secara organ dalam dan rangka-tulang mengalami pembesaran dan pemuaian jika dibandingkan dengan manusia normal pada umumnya di Bumi. Sementara Kendra Wyndham yang bertindak sebagai sosok ibu pengganti bagi Gardner berupaya dan meminta Nathaniel serta Tom Chen untuk dapat membawa Gardner kembali ke Bumi. Namun Nathaniel menolaknya, sebab kembali ke Bumi adalah sesuatu yang berbahaya bagi Gardner, di mana ia memerlukan operasi besar yang bisa saja mengancam nyawanya. Setelah memertimbangkan dengan penuh akhirnya operasi besar itu dijalankan, Gardner melakukan operasi penanaman carbon nanotubes pada rangka-tulang untuk dapat memperkuat kepadatannya, sehingga Gardner dapat mulai beradaptasi dengan atmosfer dan gravitasi Bumi.

Meski telah dilakukan operasi besar rangka-tulang, Gardner masih belum dapat sepenuhnya beradaptasi dengan keadaan Bumi. Sebab perbedaan gravitasi Bumi mencapai 2⁄3 dari gravitasi Mars, sehingga selain tumbuh kembang rangka-tulang, Gardner juga mengalami perbedaan tumbuh kembang pada organ dalam, di mana organ jantungnya mengalami pembesaran. Secara biologis, besarnya jantung Gardner tidak mampu menyesuai dengan gravitasi Bumi yang notabene lebih rendah ketimbang gravitas Mars, dan menyebabkan pemompaan organ jantung terhambat. Sehingga langkah yang diperlukan adalah kemudian Nathaniel harus mencari pendonor untuk Gardner.

Di akhir cerita, akhirnya Gardner meski dengan bersusah payah, harus berjuang tanpa segera mendapatkan transplant jantung bertemu dengan sosok lelaki yang diyakini sebagai Ayahnya itu. Namun ternyata lelaki itu bukanlah Ayahnya, melainkan ia hanya kakak dari Sarah Elliot dan ayah kandungnya Gardner adalah Nathaniel sendiri. Persis menuju ending, Gardner diperlihatkan kembali ke Mars bersama ayahnya, Nathaniel, untuk menghabiskan masa hidupnya sebagai manusia Mars. Sedang Tulsa melakukan program pelatihan bersama NASA, di bawah bimbingan Kendra. Tulsa berharap suatu saat dapat menyusul Gardner di Mars.

“I wanted to go to Earth, not just to visit, but to live there. It turns out, people from Earth want exactly the same thing as people from Mars. And I should know, because I’m pretty I’m the only one so far. I don’t know which is better, but here’s what I do know, it’s good to be home.”

― Gardner Elliot

Diambil dari situs IMDb.

Analisis, Dilemma Etis.

Sebagaimana kita ketahui di awal, Nathaniel dalam pidatonya menyatakan bahwa Bumi saat itu dalam keadaan semakin parah. Tidak ada waktu banyak bagi manusia, sehingga manusia mulai mencari alternatif lain. Salah satunya adalah dengan media terraforming atau upaya pengerekayasaan planet lain sehingga menjadi seperti habitat alami manusia, yakni Bumi. Namun, yang menjadi titik tumpuan analisis di sini adalah bukan soal bisa atau tidaknya terraforming tersebut, melainkan persoalan jika memang dilakukan permasalahan apa saja yang nantinya akan timbul ke permukaan. Sebab pada film telah diperlihatkan bahwa manusia telah sukses melakukan kolonisasi di planet Mars.

Sebelum itu, perlu dijelaskan terlebih dulu, terraforming adalah proses perekayasaan planet lain, sehingga dapat menjadi seperti planet asal (origin), dan memungkinkan suatu makhluk (terrestrial life) hidup di sana. Dalam mencapai tujuannya, terraforming memerlukan bebagai macam proses modifikasi seperti cuaca, atmosfer, topologi, dan ekologi. Istilah ini berasal dari bahasa Latin, terra yang berarti tanah atau Bumi yang disandingkan bersama kata forming yang mengartikan pada suatu proses atau pembentukan.

Awalnya terraforming ini adalah cabang dari ilmu kebumian (geoengineering), yang dikhususkan untuk memperbaiki Bumi. Sebagaimana modifikasi melalui teknologi agrikultural, dan ini secara tidak langsung memercikkan semangat awal untuk membuat Bumi sesuai pada tujuan manusia. Namun terjadi banyak perdebatan dan sebagian ilmuan dunia merasa bahwa memperbaiki Bumi ini kembali ke asalnya memerlukan waktu yang lama dan mungkin dapat mengancam kelangsungan hidup manusia itu sendiri, krisis ekologi (ecological crisis) dan bencana maha dahsyat (catastrophic failure) misalnya. Sehingga yang dapat dilakukan adalah upaya merekayasa planet lain agar dapat ditinggali oleh sebagian manusia di Bumi.

Tentu tujuan awalnya adalah itu, namun kita tidak bisa memungkiri timbulnya tujuan lain yang justru bertentangan. Misal seperti proyek yang telah lama disusun oleh para ilmuan dunia adalah untuk mencoba membuat kolonisasi manusia di Mars. Dan ini digambarkan jelas pada film tersebut, di mana manusia telah berhasil membuat koloni di sana.

Dalam wacana upaya perekayasaan planet serta pengolonisasian tersebut, terjadi perdebatan yang serius antara antroposentris dan non-antroposentris. Masing-masing memiliki klaimnya sendiri. Antroposentris percaya bahwa segala nilai alamiah (natural value) berada di tangan manusia dan hanya untuk manusia. Sedang non-antroposentris mempercayai segala kehidupan dan semesta ini memiliki nilainya sendiri, dan ia terbebas dari segala nilai yang diberikan manusia. Namun pada tulisan ini saya tidak ingin membahas keduanya, melainkan hanya difokuskan pada klaim-klaim non-antroposentris, dan melaluinya saya berusaha untuk memberikan analisis dan kemungkinan masalah yang akan timbul nantinya.

Non-antroposentris yang mendasarkan pada segala kehidupan dan semesta ini memiliki nilainya sendiri. Sebagaimana ekosentrisme yang mengajarkan kepada makhluk hidup (living organism) untuk menghormati segala kehidupan yang ada dalam semesta raya ini, menyatakan ketidakberpihakannya pada wacana terraforming. Karena pada prosesnya terraforming adalah upaya destruktif. Sehingga mungkin saja dapat mengancam makhluk lokal (local creation) ataupun potensi keberadaannya dan bahkan merusak sektor ekologis serta keunikan pada setiap planet, baik secara morfologi dan komposisinya. Di mana dari segi komponen dan struktur setiap planet berbeda, dan tentu ia memiliki makhluk lokalnya sendiri. Makhluk lokal di sini diartikan sebagai kombinasi unsur-unsur kimiawi yang terbentuk akibat faktor alamiahnya, yang memungkinkan ia untuk mereplikasi dan mengatur molekulnya sendiri, dan hal tersebut dalam ilmu biologi dikategorikan sebagai definisi hidup.

Meski dalam kasus planet Mars ilmuan kita masih belum ditemukan adanya makhluk hidup seperti yang ada di Bumi (terrestrial being), baik dalam kategori makhluk yang dapat merasa (sentient) atau pun makhluk yang sadar (conscious). Dalam film The Space Between Us pun tidak terlalu dibahas mengenai penelitian tersebut. Namun dalam skala tertentu bisa saja sudah terdapat mikroorganisme yang hidup di sana. Maka dengan klaim dari non-antroposentris ini tentu mengancam potensi lahirnya organisme yang lebih kompleks. Perlu diketahui bahwa dalam sejarah Bumi, mikroorganisme memainkan peranan penting. Sebab melaluinya tumbuhan, hewan, dan manusia tidak akan pernah mewujud.

Masih pada kasus planet Mars, sebagaimana kita ketahui bahwa permukaan Mars yang ada pada saat ini merupakan produk hasil jangka panjang evolusi geologis. Permukaan Mars terlahir sebagai bentuk dari kreatifitas alam. Jika memang manusia melakukan terraforminguntuk meninggikan potensi makhluk lokal menjadi organisme kompleks, tentu ini tetap merusak keindahan alamiah (natural beauty) dan nilai alamiah (natural value) yang ada dalam planet Mars. Bagaimana pun juga, itu merupakan lingkungan artifaktual dan kita tidak bisa memungkiri bahwa keindahan yang diciptakan (human-created beauty) jelas akan selalu inferior ketimbang keindahan yang tercipta secara alamiah (nature-created beauty). Tentu, jika dimisalkan dengan Bumi, Bumi menjadi unik karena di selain secara struktur dan morfologinya, manusia, hewan, tumbuhan, serta segala komponen yang ada di dalamnya. Dengan itu lah kita dapat mengenal Bumi sebagai Bumi, bukan Mars atau yang lain.

Pun Bumi sebagai habitat alami manusia, tidak tercipta semata-mata untuk melayani manusia yang berposisi sebagai being di dalamnya. Bumi dan planet lain akan tetap ada meski tanpa makhluk hidup di dalamnya. Sehingga di sini seolah menyatakan bahwa segala proses yang terjadi pada alam bersifat independen dari campur tangan makhluk, dan alam adalah sesuatu yang otonom. Bahkan senyatanya justru manusialah yang bergantung kepada alam.

Implikasi lebih lanjutnya adalah sesuatu yang naïf jika manusia merasa superior pada sesuatu hal yang sebenarnya keberadaannya si manusia ini bergantung padanya. Tentu yang dimaksud di sini adalah alam, di mana ia menjadi sesuatu yang vital dalam kehidupan manusia. Bahkan manusia tidak memiliki hak untuk mengklaim planet lain ada semata-mata untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan manusia. Sebab tanpa manusia pun, Mars tetap ada. Keberadaannya independen dan terbebas dari manusia. Manusia mungkin saja suatu saat tereleminasi atau punah dari peradaban, namun alam ini akan terus bergerak yang mungkin menuju titik baru dan equilibrium yang berbeda.

Di luar dari pemasalahan yang berdasar pada klaim Non-antroposentris sendiri, ada beberapa permasalahan lain yang mungkin menarik untuk dilihat, yakni soal adaptasi manusia dan persoalan nilai. Jika di Bumi sendiri memiliki perputaran penuh itu 365 hari dan setiap harinya adalah 24 jam. Namun bagaimana dengan di Mars?

Tabel 2. (Didasarkan dari McKay, “The Physics, Biology, and Environmental Ethics of Making Mars Habitable”) Perbandingan antara planet Bumi dan planet Mars

Parameter Earth Mars
Surface Pressure 101.3 kPa 0.5–1 kPa
Average Temperature 15°C –60°C
Temperature Range –60°C to 500° C –145°C to 20° C
Composition 78% N2

21% O2

1% Ar

95% CO2

2.7% N2

1.6% Ar

Normalized Sunlight 1 0.43
UV Light .300 nm .190 nm
Surface Gravity 1 g 0.38 g
Rotation Rate 24 h 37 m 24 h
Obliquity 23.5° 25.2°
Orbital eccentricity 0.017 0.093
Year length 365.25 days 687 days

Berdasar dari tabel tersebut bahwa setahun di Mars mampu mencapai 687 hari di Bumi, sedang untuk seharinya lebih lama tiga puluh tujuh menit ketimbang Bumi. Jika memang manusia sudah mampu merekayasa planet lain untuk dapat tinggali, adalah hal yang mungkin untuk melakukan kolonisasi di Mars dan planet lainnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah mungkin manusia dapat menyesuaikan dengan gravitasi dan peputaran penuh planet tersebut?

Katakanlah manusia mampu beradaptasi dan berhasil melewati seleksi alam. Tentu dalam batas sepuluh hingga ratusan tahun, secara morfologis dan organ dalam manusia masih sama dan tergolong pada spesies yang sama. Namun dalam jangka waktu ribuan tahun, secara morfologis dan organ dalam manusia telah sepenuhnya beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Jika diuji secara DNA, tentu saja dapat menghasilkan fakta bahwa manusia di planet Bumi sebagai muasal dan manusia di planet Mars sebagai bentuk evolusi adalah spesies yang berbeda.

Pada film tersebut diperlihatkan bagaimana Gardner mengalami ketidaksempurnaan tumbuh kembang secara organ dalam dan rangka-tulang, yang didiagnosa sebagai ostegeneis imperfecta akibat gravitasi dan atmosfer Mars. Adapun indikasi yang diperlihatkan adalah keberadaan rangka-tulang yang rapuh, organ jantung yang besar, tinggi rangka-tulang di luar kewajaran manusia Bumi. Namun perbedaan organ jantung dan paru-paru ini dapat kita lihat jelas dalam dunia nyata. Orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan dan pantai adalah bukti nyata dalam skala kecil kasus manusia Mars dan manusia Bumi dalam film tersebut. Oleh sebab perbedaan gravitasi antara daerah pegunungan dan pantai, memaksa manusia yang tinggal di sana harus menyesuaikan dengannya. Dan hasil yang didapatkan adalah organ jantung dan paru-paru orang yang tinggal di daerah pegunungan mengalami pembesaran ketimbang orang-orang yang tinggal di daerah pantai. Karena daerah pegunungan memiliki gravitasi yang lebih tinggi, sehingga menyebabkan organ jantung dan paru-paru harus berusaha lebih cepat untuk dapat memompa dan mengalirkan darah keseluruh bagian tubuh.

Diambil dari situs IMDb.

Permasalahan yang timbul adalah bagaimana dengan posisi struktural manusia Bumi dan manusia Mars? Apakah mereka tetap setara, atau justru manusia Mars memiliki tingkat yang lebih tinggi dari manusia Bumi karena mampu beradaptasi? Mungkinkah perpecahan antara manusia Bumi dan manusia Mars terjadi? Selain daripada itu, ketika Bumi adalah habitat asli manusia, lalu manusia hidup bergantung atas keberadaannya, dan di sini dapat dikatakan bahwa manusia adalah bagian dari spesies Bumi. Apabila memang manusia telah berhasil menjadikan Mars zona layak huni dan mulai melakukan kolonialisasi di sana, secara otomatis manusia telah mengugurkan dirinya sendiri sebagai spesies Bumi. Hal ini jelas terjadi dalam film tersebut, di mana mulai kaburnya batas manusia sebagai spesies, dan berbenturnya ras manusia menjadi dua bagian, manusia Mars dan manusia Bumi. Meski hal ini belum sampai menimbulkan gesekkan perpecahan karena pada film ini yang ditunjukkan adalah prosesi awal kolonisasi manusia di Mars.

Dan, di Bumi manusia memiliki bagian dalam rantai kehidupan. Sebagaimana Bulan dan Matahari yang memiliki peranan dalam terbentuknya manusia dan segala makhluk hidup yang ada di Bumi sekarang ini. Sebab bagaimana pun juga, Mars adalah tempat yang baru, manusia tidak memiliki rantai kehidupan dengan planet tersebut. Sehingga bisa saja manusia tidak memberikan nilai terhadap Mars atau planet lainnya. Kemudian upaya untuk melakukan terraforming dan memperdayagunakan hasil alam planet lain demi kepentingan manusia bisa saja dilegalkan. Kelak ketika planet tersebut sudah rusak dan mati, manusia tidak memiliki rasa untuk memperbaikinya kembali.

Dalam upayanya untuk merekayasa suatu planet sampai menjadi dapat ditinggali oleh manusia, tentu tidak dipungkiri akan melibatkan berbagai macam cara yang destruktif atau merusak, seperti melelehkan gunung es yang ada di planet itu; menabrakannya dengan asteroid lain yang memiliki kandungan mineral yang diperlukan agar planet tersebut stabil; atau dengan menambang mineral dari planet lain yang memang kaya akan mineral yang dibutuhkan. Meski dalam film tersebut kita diperlihatkan bahwa dalam upaya pengolonisasian manusia di sana belum sampai pada tahap membuat Mars sebagai planet layak huni.

Kemudian, di Mars sendiri terdapat berbagai wilayah yang memiliki tempat uniknya sebagaimana di Bumi. Semisal Gargantuan Canyons Mars, tiga kali jauh lebih dalam Grand Canyons Bumi. Lalu ada gunung yang tingginya melebihi tinggi pegunungan apapun di Bumi dan panasnya berkali-kali lipat dibandingkan yang ada di Bumi. Tentu saja dengan merubah kontur dan struktur planet Mars, kita bisa merusak nilai alamiah yang ada di Mars. Sehingga wacana terraforming termasuk kolonisasi planet lain adalah suatu wacana yang berani, sebab dalam posisi itu manusia sebagai Homo Sapiens mulai memainkan peranannya di bidang penciptaan.

Kemudian, setelah pemaparan analisis dan kemungkinan permasalahan yang timbul atasnya perlu adanya upaya kembali peninjuan upaya terraforming ini. Mengingat pada keadaan sekarang, nyatanya, upaya terraforming telah berjalan hampir dua puluh tahun lamanya. Dan di tahap ini, para ilmuan dunia tengah melakukan penelitian tentang pembangunan hubatau bangunan layak huni bagi koloni planet di Mars. Kelak di tahun 2030, NASA menyatakan rencananya untuk melakukan uji coba pertama manusia tinggal di Mars.

Daftar Pustaka

French, Robert Heath. 2013. Enviromental Philosophy And The Ethics Of Terraforming Mars: Adding The Voices Of Enviromental Justice And Ecofeminism To The Ongoing Debate. TesisTexas: University of North Texas.

McKay, Christopher P dan Margarita M. Marinova. 2004. The Physics, Biology, and Environmental Ethics of Making Mars Habitable. Jurnal Astrobiology. Vol. 1 No. 1 Hal. 89-109.

Pak, Chris. 2016. Terraforming: Ecopolitical Transformations and Environmentalism in Science Fiction. Liverpool: Liverpool University Press.

Schwartz, James S.J.. 2013. On The Moral Permissibility Of Terraforming. Jurnal Ethic & The Environment. Vol. 18 No.2 Hal. 1-31.

Referensi Lain

Smithson, Darlow Productions and Handel Productions Inc. 2015. Humanity From Space. The Public Broadcasting Service (PBS). Boston.

Spread the love
  • 5
    Shares
  • 5
    Shares