Salah satu pusat kebudayaan manusia selama ribuan terakhir ini adalah agama. Diakui ataupun tidak, agama telah menjadi salah satu kekuatan yang memajukan pencapaian manusia. Agama telah menjadi salah satu faktor utama bertahannya manusia sebagai makhluk hidup di Bumi. (selengkapnya baca di artikel saya tentang Sapiens dan Homo Deus).

Agama dapat diartikan sebagai sistem budaya masyarakat yang mengatur beberapa aspek kehidupan anggotanya terkait hal-hal yang bersifat adialami (supernatural). Aspek kehidupan tersebut antara lain misalnya kelakuan, moral, etika, cara beribadah, kewajiaban, hak-hak dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang adialami itu seperti wahyu, malaikat, dunia gaib seperti Surga dan Neraka, Tuhan dan lain-lain.

Oleh karena itu, setiap agama punya metode untuk menyampaikan peraturan tersebut kepada para anggotanya. Yang paling jelas adalah melalui kitab suci. Kitab suci adalah kumpulan tulisan yang dipercaya kebenarannya oleh pemeluk suatu agama tertentu yang berasal dari Tuhan. Karakteristik dari suatu kitab suci selain klaim kebenaran isinya adalah bahwa ia berdiri sendiri dalam artian kitab suci tersebut langsung berasal dari Tuhan sehingga pesan yang ada didalamnya diterima tanpa dipertanyakan dan tidak diragukan. Namun ada beberapa masalah yang mungkin bisa timbul dari pemahaman seperti ini.

Pertama, sifat dari Bahasa yang selalu berubah maknanya. Bahasa merupakan alat komunikasi antar anggota dalam suatu masyarakat. Dalam keterisolasian suatu masyarakat, dalam waktu tertentu makna dari kata maupun ungkapan dapat berubah. Kata „A“ lima puluh tahun yang lalu akan bermakna sedikit berbeda dengan kata „A“ sekarang. Belum juga pergeseran makna suatu kata dalam suatu pernyataan atau ekspresi. Juga hilang dan munculnya kata-kata baru dalam pembendaharaan suatu bahasa. Memahami dan memaknai kata-kata kitab suci yang telah ada ribuan tahun lalu tentu tidak mungkin bisa sama persis seperti makna dan maksud kata-kata tersebut ketika pertama kali dikonsepsikan.

Yang kedua adalah sifat dinamis dari bahasa. Bahasa selalu bersama dengan siapapun yang mengkomunikasikannya. Tidak mungkin selamanya suatu masyarakat sosial akan terisolasi. Cepat atau lambat suatu masyarakat akan bersinggungan dengan masyarakat lainnya baik melalui perniagaan, perang, penindasan dan lain-lain. Semakin seringnya interaksi ini pasti akan terjadi pertukaran Bahasa. Akan muncul kata-kata, ekspresi dan lain-lain yang berasal dari bahasa yang lain tadi, baik utuh maupun diadopsi dalam bahasa sendiri maupun bergabung dengan kata-kata dalam bahasa yang ada dan membentuk kata baru. Kata-kata adalah jejak dari peradaban. Dengan melacak akar kata dari suatu bahasa kita bisa menarik kesimpulan secara objektif dari mana kata tersebut dan sejak kapan proses perubahan kata tersebut terjadi. Begitu pula bahasa tulisan. Kemiripan pelafalan beberapa kata dalam beberapa dokumen tertulis kemungkinan besar menunjukkan proses evolusi kata yang berasal dari asal kata yang sama. Untuk bahasa yang dianggap menjadi standar dalam suatu kitab suci dan dianggap „tidak pernah berubah“ akan menyebabkan pensakralan teks kitab suci tersebut. Pensakralan ini juga akan meliputi pensakralan makna/tafsiran kitab suci tersebut yang pada giliriannya akan mensakralkan cara pelafalan tulisan dalam kitab suci tersebut. Padahal tidak menutup kemungkinan bahwa pelafalan kata pada kitab tersebut kemungkinan bersumber dari bahasa disekitar kitab suci tersebut pertama kali muncul. Dan setelah ribuan tahun, sesuai dengan alasan pertama tidak menutup kemungkinan makna asli kata tersebut akan berubah atau bergeser, bisa masih dalam rentang kemiripan bisa saja berlainan sama sekali. Hal ini tentu berbahaya sebab jika seandainya makna kata kitab suci tersebut berbeda dari yang awalnya dimaksudkan maka akan banyak orang mengikuti penafisran atau pemaknaan yang salah. Karena pensakralan kitab suci itu sendiri, jadi susah untuk memiliki rasa untuk mengkritik dan meneliti kembali kata-kata dalam kitab suci sesuai dengan latar belakang sosial budayanya ketika itu.

Yang ketiga adalah masalah dengan penerjemahan/alih bahasa. Hal ini terutama pada dokumen tertulis. Sebab ketika proses alih bahasa atau terjemahan dari satu bahasa ke bahasa lainnya pasti ada ketidakcocokan arti atau makna dikarenakan tidak adanya ungkapan yang tepat untuk menuliskan pernyataan yang sama dari bahasa asli ke bahasa yang diterjemahkan. Kemudian dokumen terjemahan ini lebih jauh diterjemahkan kepada bahasa lain dan seterusnya. Dari proses ini akan terjadi ketidakakuratan makna dibeberapa tempat pada dokumen terjemahan tersebut dari dokumen aslinya. Hal ini diperparah apabila dokumen terjemahan tersebut berbeda ratusan tahun dengan dokumen yang asli. Persis seperti kasus kitab suci.

Kembali menilik posisi kitab suci sebagai dokumen biasa yang bebas dari prasangka kesakralan dan kesucian, maka bisa saja salah satu atau lebih dari masalah di atas dapat terjadi. Bisa saja teks kitab suci mengalami perubahan makna untuk beberapa kata yang sama setelah sekian ratus tahun ditafsirkan dan disesuaikan dengan konteks kesejarahan yang ada. Bisa saja cara penulisan teks asli kitab tersebut mengalami perubahan. Semisal penambahan huruf atau tanda untuk mewakili bunyi yang pada awal tidak dapat diwakili. Jika penambahan atau pengurangan dan modifikasi cara menulis ini tidak didokumentasikan dengan seksama maka setelah beberapa waktu akan terjadi salah baca yang membawa petaka berupa salah tafsir dan salah arti. Hal ini akan diperparah apabila alasan kesakralan kitab suci itu mentup peluang berfikir kritis sehingga kesalahan ini dalam waktu yang lama diterima sebagai kebenaran dari Tuhan  dan tidak dipertanyakan lebih lanjut. Jika perubahan dari makna aslinya tidak terlalu jauh, masih dalam satu jalur dan positif tidak mengapa. Namun bagaimana jika perubahan tersebut jauh dari makna asli dan bersifat negatif? Maka tidak menutup kemungkinan kesalahan ini akan menyebabkan permasalahan di masa depan.

Selain itu, masalah juga bisa muncul ketika kitab suci hanya ditafsirkan dan dipelajari sebagai sistem tertutup dalam artian bahasa kitab suci tersebut dianalisis berdasarkan teknik dan perangkat yang ada dalam sistem agama tempat kitab suci tersebut berasal. Sebagai contoh semisal ditemukan suatu pernyataan yang “tidak lazim” baik sejcara tata bahasa teks kitab suci tersebut. Karena kitab suci memiliki posisi tertinggi dalam suatu agama sebagai wahyu Tuhan, maka tidak mungkin ada yang mencurigai ketidaklaziman tersebut bisa saja dihasilkan oleh tiga penyebab di atas. Akibatnya para penafsir akan mencari kedalam struktur agama itu sendiri bagaimana menafsirkan atau mengartikan dan menginterpretasikan ketaklaziman tersebut, bagaimana memberikan narasi yang “sesuai” demi kekonsistenan kata-kata Tuhan tadi.  Akibatnya adalah narasi yang cenderung tidak natural dan terkesan hanya sebagai upaya menjelaskan sesuatu yang tidak jelas.

Hal ini tentu saja sangat berbahaya sebab dikhawatirkan dengan tidak adanya usaha untuk membedah teks-teks kitab suci sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh ahli bahasa kepada dokumen non kitab suci akan menyebabkan distorsi sebagian atau beberapa bagian dari kitab suci tersebut yang tidak sesuai dengan konteks dan maksud awal kitab suci tersebut dihasilkan. Sudah saatnya kita melihat teks kitab suci melalui kacamata yang lebih kritis melalui sains sosial (ilmu bahasa) untuk memberikan pemahaman yang adil terhadap isinya. Mengingat kitab suci dijadikan panduan oleh milyaran orang di dunia, adalah hal yang wajib untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh dan komprehensif terhadap teks kitab suci. Sebab kata-kata dalam kitab suci diakui atau tidak memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan mereka yang membacanya.[]

 

Spread the love