Ada dua hal yang begitu pokok dalam persoalan keberagamaan umat manusia saat ini: pertama, agama sebagai produk final; dan kedua, agama sebagai proses.

Dalam pengertian pertama, kita diandaikan untuk memahami bahwa agama merupakan sesuatu yang sudah final dan tak mungkin lagi kita tafsirkan dan kita perbaharui lagi apa yang sudah ada. Dalam posisi ini kita benar-benar menjadi makhluk instan yang siap pakai tanpa mempertanyakan apa, mengapa dan untuk apa. Kita hanya bisa sebatas meyakini hal itu dengan sepenuhnya keyakinan buta yang tak dapat lagi dikomunikasikan. Sedangkan pengertian kedua, kita diandaikan sebaliknya bahwa kita adalah makhluk yang dinamis, di mana kita merupakan makhluk yang berkesadaran dan memiliki kemampuan untuk berkembang dan selalu tumbuh secara jasmani maupun rohani.

Untuk sementara dalam hal ini, kita mungkin akan lebih menjadi berarti ketika kita memilih pengertian yang kedua. Di mana kita benar-benar menjadi manusia dan manusiawi. Kita menjadi makhluk yang memiliki kesadaran yang berkembang, bukan sebagai ciptaan yang benar-benar final yang telah ditanamkan memori sebagai input kesadaran yang kita miliki.

Agaknya di sinilah kita dapat melihat bagaimana teologi pembebasan memosisikan dirinya dalam dua pandangan besar manusia akan agama. Kita sebagai manusia adalah makhluk penafsir seperti yang banyak digaungkan semangatnya oleh Asghar Ali Engineer, seorang pemikir dari Pakistan yang mencoba memberi tafsiran baru tentang agama Islam yang harus selalu memahami kehidupannya sendiri sesuai dengan kapan dan di mana ia hidup saat itu. Sehingga pada akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa teologi pembebasan merupakan sebentuk penafsiran akan agama, di mana mereka menganggap bahwa agama harus selalu ditafsirkan mengikuti perkembangan manusia dalam peradabannya.

Engineer dan Teologi Pembebasan

Engineer mengatakan bahwa ciri utama dari teologi pembebasan adalah pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius terhadap problem bipolaritas spiritual-materiil kehidupan manusia dengan penyusunan kembali tatanan sosial sekarang ini menjadi tatanan yang tidak eksploitatif, adil, dan egaliter.[i]

Teologi pembebasan harus mendorong sikap kritis terhadap sesuatu yang sudah baku dan harus terus berusaha secara konstan untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru. Kehidupan dengan suatu kekayaan spiritual tidak dapat terwujud dalam ‘masyarakat satu dimensi’, yang menolak usaha apapun untuk keluar dan merealisasikan kemungkinan-kemungkinan baru guna menambah dimensi-dimensi baru.[ii]

Konsep kebebasan menurut Engineer adalah unsur dasar teologi pembebasan. Kebebasan untuk memilih dan kebebasan untuk keluar (transendensi diri) menuju kondisi kehidupan yang lebih baik dan juga untuk menghubungkan dirinya dengan kondisi yang berubah-rubah secara berarti. Teologi pembebasan memberikan manusia kebebasan ini untuk melampaui situasi kekiniannya dalam rangka mengaktualisasikan potensi-potensi kehidupan yang baru dalam kerangka kerja sejarah.[iii] Dari sinilah Engineer nantinya banyak mencoba merekonstruksi sejarah sebagai dasar dari pemahaman akan teologi pembebasannya.

Tujuan utama teologi pembebasan sebagaimana pandangan Engineer merupakan perjuangan dan kerja keras terus-menerus untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Berbeda dengan teologi status-quo, teologi pembebasan bukanlah untuk pelipur lara dan pembenaran atas penderitaan dan kesengsaraan dengan menganggapnya sebagai suatu kondisi kehidupan yang niscaya. Engineer menekankan kembali bahwa teologi pembebasan bukanlah teologi lipuran lara, dengan kata lain ia bukanlah pembela konsep ‘God of gaps’, yang ditugaskan untuk mengisi kekosongan, dan keterbatasan-keterbatasan temporer teknologi dengan hipotesis metafisisnya. Ia juga menolak konsep ‘God of Alibis’, yang dibangun dengan mengatakan bahwa kegagalan manusia karena adanya intervensi-intervensi supranatural. Teologi pembebasan tidak mencari Tuhan dalam keterbatasan kekuatan manusia atau dalam kegagalannya, tetapi pada inti manusia, dalam kreativitas dan kematangannya.[iv] Dalam hal ini, Engineer menekankan bahwa teologi pembebasan itu konsen pada nilai-nilai, bukan institusi.

Rekonstruksi Sejarah

Istilah teologi sendiri sebenarnya tidak dikenal dalam Islam, ia lebih dikenal sebagai ilmu al-kalam. Tentu saja ini bukan persoalan yang prinsipil, karena pada prinsipnya sama, ia adalah ilmu tentang ketuhanan, akan tetapi istilah ilmu al-kalam ini dimaksudkan bahwa Tuhan hanya dapat diketahui melalui kalam-Nya (kitab suci), meskipun pada perkembangannya ia terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Yunani dan Persia yang kemudian melahirkan beberapa aliran teologi; Asy’ariyah, Maturidiyah, Mu’tazilah, Isma’iliyah dan beberapa aliran yang memiliki corak dari pengaruh Yunani.

Tidak dapat dipungkiri memang bahwa pemikiran Yunani sangat berpengaruh dalam teologi Islam setelah periode ‘sahabat’.[v] Menurut Asghar Ali Engineer, periode yang memiliki signifikasi besar dalam sejarah Islam dengan pergerakan ‘teologi pembebasan’nya ialah periode Abbasiyah. Dalam hal ini Engineer mengajukan beberapa alasan: pertama, rezim Abbasiyah berdiri untuk menentang rezim Umayyah yang sudah dibenci oleh rakyat, terutama rakyat non-Arab. Hal ini terjadi karena kebijakan-kebijakannya yang eksploitatif dan menindas. Kedua, Abbasiyah meraih kekuasaan berkat dukungan orang-orang Persia yang mempunyai peradaban tinggi, Elit masyarakat Persia bersama-sama dengan orang-orang Abbasiyah dan kekuatan-kekuatan revolusioner lainnya turut berjuang melawan Umayyah.[vi]

Sebelumnya, pada periode Umayyah telah terjadi perdebatan teologi yang cukup hangat mengenai kebebasan. Di mana posisi Umayyah saat itu mendukung paham  predeterminasi (Jabbariyah) yang saya kira merupakan kepentingan politis Umayyah untuk mempertahankan rezimnya. Di sinilah gerakan perlawanan para pendukung pilihan bebas (Qadariyyah/ indeterminisme) menghebat pada saat itu. Dan posisi Abbasiyah saat itu adalah di pihak kaum Qadariyyah. Inilah mengapa Abbasiyah saat itu mendapat dukungan yang begitu besar untuk menggulingkan rezim Umayyah yang kebijakannya dianggap menindas rakyat. Tentu saya meyakini bahwa justifikasi semacam ini bukan dimaksudkan kepada Umayyah keseluruhan, melainkan pada masa-masa berakhirnya rezim Umayyah saat itu.

Di sinilah kita dapat sedikit memahami bentuk Teologi Pembebasan dalam Islam itu kemudian hadir dengan teologi rasional mereka (Mu’tazilah). Di mana aliran ini menekankan kebebasan (hurriyah) sebagai dasar pemikiran dan pandangan hidup mereka. Manusia dianggap sebagai agen-agen yang bebas, yang berhak menentukan arah kehidupan mereka sendiri. Ini juga berkaitan dengan unsur dasar Teologi Pembebasan, di mana kebebasan untuk memilih dan kebebasan untuk keluar (transendensi diri) menuju kondisi yang lebih baik merupakan pokok penting dalam semangat praksis pembebasan tersebut.[vii]

Banyaknya pertentangan dalam aliran-aliran itu sebenarnya merupakan perbedaan tafsiran atau interpretasi wahyu maupun sejarah. Di mana dalam hal ini, Ali Engineer menekankan bahwa pada masa kenabian Muhammad merupakan suatu peristiwa pembebasan masyarakat makkah dari ancaman kapitalisme yang dianggap berbahaya bagi nilai-nilai kesukuan yang ada. Yang seperti dikatakan Engineer bahwa kapitalisme ini mengandaikan kita untuk hidup individualis, memperkaya diri dan mengembangkan lembaga-lembaga kepemilikan pribadi tanpa peduli penderitaan anggota suku atau orang lain di sekitarnya.[viii]

Kontekstualisasi Wahyu

Dalam salah satu sub judul yang bertajuk ‘Metodologi Memahami Al-Qur’an’, Engineer mengatakan bahwa ada banyak penafsiran tentang al-Qur’an yang menunjukkan betapa pentingnya teks yang diwahyukan kepada Muhammad. Banyak sekali tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada umat muslim bahwa kitab suci mereka merupakan satu hal yang membuat mereka fanatik  dan telah menumpahkan darah dimana-mana.[ix] Disinilah Engineer mengandaikan bahwa al-Qur’an harus selalu ditafsirkan dan dipahami secara dinamis.

Engineer menganggap bahwa kita perlu meletakkan ayat-ayat normatif di atas ayat-ayat kontekstual. Beberapa ayat al-Qur’an menyatakan norma serta nilai-nilai walaupun  yang lainnya memperbolehkan praktik-praktik tertentu atau institusi-institusi dalam suatu konteks yang given. Dengan kata lain, ayat-ayat normatif lebih fundamental dari pada ayat-ayat kontekstual, ayat-ayat normatif aplikasinya lebih bersifat abadi.[x]

Menurut Engineer, ketika mengembangkan metodologi pemahaman yang memadai bagi al-Qur’an, ia selalu percaya bahwa Islam lebih dari sekedar perangkat kepercayaan atau ritual. Islam menyatakan revolusi sosial, mencipta manusia yang berperadaban berdasarkan pada asas persamaan, keadilan dan martabat manusia. Ada dimensi transenden dalam ajaran Islam yang tidak bisa diabaikan, tetapi penafsiran al-Qur’an yang telah kita warisi tenggelam pada nilai-nilai abad pertengahan.[xi]

Metodologi baru dalam memahami al-Qur’an menurut Engineer akan mampu menggoncangkan struktur ketidakadilan yang ada pada masyarakat kita saat ini. Ia akan mampu melebihi situasi sosial kita untuk memberi sebuah harapan baru dan membangun sebuah masa depan baru yang humanis. Penyimpangan apapun yang berasal dari pemahaman semenjak dulu atau abad pertengahan terhadap al-Qur’an ditafsirkan sebagai perintah Tuhan. Saat ini bagi kita, penafsiran-penafsiran lama terhadap al-Qur’an mempunyai sakralitas yang lebih besar dari pada al-Qur’an itu sendiri. Biarpun kebenaran ini menyingsing pada kita lebih cepat dari pada kelak.[xii]

Sebuah Refleksi dan Pertimbangan Awal

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa teologi pembebasan merupakan suatu interpretasi ideologi yang lebih ditekankan pada praksis. Yakni sebuah pergerakan perjuangan atas ketertindasan dengan mengacu pada dasar teologis agama yang telah ada. Akan tetapi kita menyadari bahwa upaya-upaya praksis semacam itu sangat sulit, bahkan sangat utopis. Maka dalam hal ini, kita hanya bisa mengandaikan bahwa semangat teologi pembebasan yang disuarakan Ali Engineer mungkin dapat berperan besar dalam tataran paradigma pemikiran sebuah masyarakat, khususnya Indonesia. Seperti persoalan penafsiran tentang ayat jihad misalnya, Engineer mengatakan bahwa semua ayat dalam Qur’an tidak menggunakan kata jihad dalam pengertian perang, tetapi dalam pengertian berjuang dengan kekayaan dan nyawanya.[xiii] Jihad tidak dibenarkan untuk tujuan agresif, melampaui batas, karena tindakan seperti itu merupakan egoisme individual. Sedangkan jihad yang dimaksud oleh Qur’an adalah suatu tindakan altruisme yang bersifat sosial.

Di sini dapat kita pahami bahwa upaya-upaya seperti ini adalah sulit untuk diwujudkan dalam bentuk praksis yang benar-benar nyata dalam kehidupan  bermasyarakat. Karena persoalan-persoalan seperti ini merupakan permasalahan cara pandang manusia terhadap kehidupannya.

Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Engineer bahwa Islam yang kita pahami adalah agama yang paling membebaskan di abad 21. Qur’an menerima kesadaran hak kebebasan dalam ayat: la ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam beragama).[xiv] Hal ini mengartikan pada kita bahwa sebenarnya kita tak membutuhkan apa yang dinamakan dengan teologi pembebasan, karena pada dasarnya agama merupakan pembebasan itu sendiri. Yang kita butuhkan saat ini mungkin hanyalah upaya pemahaman kembali, reinterpretasi ajaran-ajaran agama yang kita rasa sudah tak lagi relevan dengan pemahaman kita sebelumnya.

Setidaknya kita tidak pernah berhenti untuk belajar, dan tidak pernah berhenti untuk membaca; membaca apa saja. Karena sebagian besar dari kita (mungkin termasuk saya) adalah orang-orang yang malas membaca, tak memiliki seni untuk membaca dan mencerna. Barangkali kita perlu untuk menjadi ‘sapi’ yang selalu mengunyah makanannya dengan penuh penghayatan, karena kita terlalu sibuk dikejar oleh waktu, maka kita selalu tergesa untuk menelan apapun yang kita makan secara bulat-bulat, tanpa mengunyahnya. Pada akhirnya kita memang harus selalu belajar dan menerima perubahan. Karena tidak ada yang abadi dan sejati melainkan Tuhan, bukankah itu yang selama ini kita yakini?[][xv]

[i]  Lih. Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar & Insist:2007), p. 112.

[ii]  Lih. Ibid., p. 112-113

[iii]  Lih. Ibid., p. 115

[iv]  Lih. Ibid., p. 116-117

[v]  Sahabat disini dimaksudkan pada khulafaurrasyidin, yakni empat sahabat nabi yang menggantikan kekhalifahannya. Ia adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

[vi]  Lih. Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar & Insist:2007), p. 102.

[vii]  Lih. Ibid., p. 115

[viii]  Lih. Ibid., p. 6-7

[ix]  Lih. Engineer, Islam Masa Kini, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) p.21.

[x]  Lih. Ibid., p. 33

[xi]  Lih. Ibid., p. 33

[xii]  Lih. Ibid., p. 34

[xiii]  Lih. Engineer. Liberalisasi Teologi Islam, (Yogyakarta: Alenia, 2004), p. 103

[xiv]  Lih. Ibid., p. 35

[xv] Beberapa bagian dari tulisan ini pernah disampaikan oleh penulis dalam ‘Seminar Nasional Teologi Pembebasan’ di acara UGM Expo pada 21 November 2014.

Spread the love
  • 16
    Shares
  • 16
    Shares