Sejarah adalah selalu tentang sumber. Sebagian besar kita telah meyakini sepenuhnya bahwa sejarah Islam yang kita pahami selama ini berasal dari sumber yang sangat terpercaya. Akan tetapi, kita lupa bahwa akses sumber sejarah kita tentang asal-usul Islam hanya sampai pada kisaran dua abad setelah wafatnya Muhammad. Jelas itu sangat bermasalah. Di sinilah kemudian teori skeptis tentang asal-usul Islam muncul dalam rangka mempertanyakan kembali sumber-sumber yang digunakan dalam narasi Islam tradisional.

Pada tahun 1977, Patricia Crone dan Micahel A. Cook telah mengawali perdebatan serius perihal teori kemunculan Islam melalui buku Hagarism: The Making of the Islamic World. Dalam buku tersebut, Crone dan Cook mengatakan bahwa Islam sebenarnya lahir dari tradisi mesianik Yahudi dalam rangka penaklukan Palestina (Crone dan Cook, 1977: 6). Inilah mengapa kemudian Crone dan Cook menyandingkan kisah kenabian Muhammad dengan Musa yang membawa pengikutnya keluar dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan (Crone dan Cook, 1977: 8). Dengan demikian kisah tentang hijrah yang diriwayatkan oleh sumber-sumber tradisional dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M, sebenarnya adalah perpindahan dari Arab menuju tanah yang dijanjikan seperti halnya kisah eksodus Musa, yakni menuju Palestina (Crone dan Cook, 1977: 9).

Pada masa perpindahan tersebut, menurut Crone dan Cook, Islam masih merupakan gerakan keagamaan monoteistik yang ajaran-ajarannya tidak lain merupakan ajaran-ajaran agama Yahudi dengan nama Hagarism/Hajarisme yang dinisbatkan pada nama Hagar/Hajar sebagai istri Ibrahim yang membu- ahkan putra Ismail, yang kemudian diyakini sebagai rantai silsilah bangsa Arab untuk sampai pada Ibrahim. Dalam penguatan argumentasi, Crone menyandingkan beberapa istilah untuk dipahami secara genealogis sebagai bukti keterkaitan antara Magaritai, Mahgre, Mahgraye, Hagar, hijra, muhâjirûn (Crone dan Cook, 1977: 9). Setelah perpindahan ke Palestina inilah, menurut Crone dan Cook, Islam baru mulai terbentuk semenjak memutuskan tali keterkaitan dengan tradisi mesianik Yahudi, dan memilih untuk membangun komunitas sendiri (Crone dan Cook, 1977: 10).

Tentu sudah ada banyak sarjana, termasuk di antaranya para revisionis sendiri, yang mengkritik teori Crone dan Cook tersebut. Sebagian juga menolak mentah-mentah apa yang dikemukakan oleh Crone dan Cook tentang kemunculan Islam, dan menganggap teori tersebut tidak lebih merupakan akrobat intelektual. Demikian pula, John Wansbrough, sebagai dosen Crone sendiri, juga mengkritik bahwa penggunaan sumber-sumber berbahasa Suryani yang ditulis oleh non Muslim adalah tidak reliabel (Sirry, 2015: 91-93).

Dalam perdebatan teori tersebut, ada yang menarik dari posisi yang ditawarkan oleh Mun’im Sirry dalam menyikapi temuan Crone dan Cook. Mun’im Sirry secara saksama, beranggapan bahwa kesimpulan Crone dan Cook merupakan konsekuensi logis dari pendekatan yang digunakan. Dalam pengantar, Crone dan Cook sebenarnya juga telah mengatakan bahwa apa yang dikemukakan dalam buku Hagarism tersebut tidak lebih merupakan sudut pandang baru yang mengandaikan pertanyaan, “bagaimana seandainya Islam dipandang dari literatur-literatur di luar tradisi Islam sendiri?” (Crone dan Cook, 1977: vii). Dalam pengandaian inilah, Crone dan Cook menafikan seluruh sumber-sumber Muslim kemudian mengantarkan pada kesimpulan teoritis semacam itu (Sirry, 2015: 92).

Pendekatan lain yang tidak kalah radikal dari Crone dan Cook juga dilakukan oleh Nevo yang berusaha untuk merekonstruksi sejarah Islam dengan hanya menggunakan data-data arkeologis. Sebelum proyek besar tersebut selesai, Nevo meninggal terlebih dahulu pada tahun 1992, dan proyek tersebut kemudian dilanjutkan oleh Judith Koren. Inti dari teori Nevo dan Koren adalah pada penaklukan Islam yang dikenal dalam narasi tradisional sebagai penaklukan atas Byzantium, menurut Nevo dan Koren, Byzantium sebenarnya telah terlebih dahulu meninggalkan wilayah kekuasaannya di bagian timur, termasuk Suriah, sebelum orang-orang Arab datang. Nevo dan Koren berpendapat bahwa tidak ada indikasi apapun yang menunjukkan bahwa orang-orang Arab yang datang tersebut memiliki agama yang berbeda dengan penduduk Suriah. Dari tulisan prasasti yang ditemukan di Negev, orang-orang Arab merupakan penganut pagan, bukan Muslim. Selanjutnya, Nevo dan Koren mengatakan bahwa justru di Suriah lah orang-orang Arab mengenal tradisi monoteisme dari agama Kristen dan Yahudi (Sirry, 2015: 95).

Dalam hal penyatuan bangsa-bangsa Arab, Nevo dan Koren beranggap- an bahwa bukan Muhammad yang melakukan itu, melainkan Muawiyah yang berhasil mengonsolidasikan kekuatan Arab di bawah kepemimpinannya, meskipun tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa Islam saat itu sudah muncul sebagai identitas keagamaan. Baru pada masa kepemimpinan Abd al-Malik ibn Marwan (687-705 M), nama Muhammad muncul sebagai sebagai sifat dari Na- bi (yang terpuji) yang diimpikan, bukan sebagai nama orang (proper name). Dengan demikian Muhammad dalam teori Nevo dan Koren tidak lebih merupakan figur fiktif (Sirry, 2015: 95). Pertanyaan besar yang diajukan oleh para pengkritik Nevo dan Koren adalah bagaimana mungkin kekaisaran Byzantium meninggalkan daerah kekuasaannya begitu saja? Penjelasan tentang alasan ter- sebut, memang luput dari narasi yang diberikan oleh Nevo dan Koren.

Teori selanjutnya datang dari kalangan sarjana Jerman yang membentuk lembaga bernama Inarah: Institut zur Erforschung der frühen Islamgeschichte und der Koran (Inarah: Lembaga Riset Sejarah Islam Awal dan al-Qur’an), yang kemudian untuk mempermudah, disebut Mun’im Sirry dengan mazhab Inarah (Sirry, 2015: 94). Sebagian besar perdebatan Islam awal dalam mazhab ini terangkum dalam buku yang berjudul Die dunklen Anfänge: Neue Forschungen Zur Entstehung un Frühen Geschichte Des Islam (2005) yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi The Hidden Origins of Islam: New Research into Its Early Hisroty (2010) (Sirry, 2015: 98).

Baca juga: Asal-usul Islam: Sejarah dan Kebenaran

Dalam buku yang sebenarnya merupakan kumpulan tulisan tersebut, menurut Mun’im Sirry (2015: 99), argumen utama yang digunakan adalah perihal tidak adanya konfirmasi dari sumber-sumber di luar tradisi Islam, terutama yang ditulis para penulis Kristen dalam bahasa Suryani, bahwa ada agama yang dibawa oleh orang-orang Arab sebelum awal abad kesembilan. Secara singkat, dikatakan oleh Mun’im Sirry (2015: 98), teori kemunculan Islam dalam mazhab Inarah lebih merujuk pada bentuk Kristen tertentu di Suriah sebagai cikal-bakal terbentuknya Islam. Kelompok Kristen tersebut dapat dilacak jauh ke sejarah awal perdebatan doktrin Kristen tentang Trinitas yang dirumuskan pada Konsili Pertama di Necea pada 325 M. Menurut mazhab Inarah sebagaimana dijelaskan kembali oleh Mun’im Sirry (2015: 98-99), orang-orang yang tidak sependapat dengan doktrin Trinitas tersebut secara bertahap memisahkan diri dari Gereja Bizantium, dan membentuk komunitas sendiri sebagai kelompok Kristen Arab yang berlawanan dengan paham resmi Gereja.

Selanjutnya, mengenai temuan koin Arab di bagian timur Mesopotamia yang berasal dari tahun 660 M dengan huruf m-h-m-d (dapat dibaca Muhammad), mazhab Inarah berasumsi bahwa kata tersebut bukanlah merujuk pada figur manusia, melainkan mengarah pada sifat Yesus ’yang terpuji’ (arti dari nama Muhammad). Asumsi yang demikian tidak lebih didasarkan pada gambar salib yang juga terdapat dalam koin yang ditemukan tersebut, sehingga mengartikan bahwa kata Muhammad merupakan kata yang merujuk pada keyakinan Kristen. Lebih dari itu, kalimat ’Muhammad Rasulullah’ yang terdapat dalam prasasti kubah Shakhrah di Yerusalem dapat dipahami sebagai bentuk keyakinan Kristen non-Trinitarian, dengan mengartikan kalimat tersebut menjadi ’Utusan Allah (Yesus) yang sangat terpuji’ (Sirry, 2015: 99).

syria-686-87
A coin from Syria 686-87 (from “Did Muhammad Exist?” by Robert Spencer). https://thehistoryofbyzantium.com/2014/12/04/sale-episode-on-the-origins-of-islam/

Perdebatan tentang nama Muhammad juga terjadi dalam penerjemahan dari Song of Solomon 5:16: “Hikko Mamtakkim Dhekhullo Muhammadim, Zeedodi Vezer’i Benoq Yerussalam” (Mulutnya adalah kelembutan itu sendiri; ia adalah [muhammad/yang terpuji]. Dia adalah kekasihku, dia adalah temanku hai putri Yerusalem). Orang-orang Islam dengan teguh menafsirkan kata muhammad di situ sebagai nama (person), sementara orang-orang Nasrani menerjemahkan muhammad sebagai ‘yang terpuji’. Terlepas dari ketepatan penerjemahan kata m-h-m-d dalam Lagu Solomon tersebut, jelas bahwa sangat lemah untuk mengatakan bahwa Injil sudah meramalkan kedatangan Muhammad hanya berdasarkan satu baris lagu saja. Toh, senyatanya lagu-lagu tersebut bukanlah firman Tuhan, melainkan pujian-pujian yang ditulis oleh Solomon untuk memuji ‘cintanya’, besar kemungkinan kata ganti Dia (His) dalam lagu tersebut merujuk pada Tuhan, bukan pada manusia, apalagi manusia bernama Muhammad, yang belum lahir pada masa penulisan lagu tersebut.

Dengan demikian, dapat disimpulkan dari teori mazhab Inarah bahwa Islam pada mulanya adalah kelompok Kristen anti-Trinitas (yang menolak Yesus sebagai anak Tuhan) yang keluar dari doktrin resmi Gereja, dan Muhammad tidak lebih merupakan predikat bagi Yesus yang kemudian secara bertahap berubah menjadi figur manusia dengan biografi yang cukup lengkap.

Referensi

Crone, Patricia dan Michael A. Cook. Hagarism: The Making of the Islamic World. New York: Cambridge University Press, 1977.

Sirry, Mun’im. Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis. Bandung: Mizan, 2015.