Jika saya mengatakan bahwa masyarakat [dunia] ini baik-baik saja – dalam sudut pandang pribadi [ tentang bunuh diri ] – sepertinya saya berbohong terhadap diri sendiri. Memang kata ‘baik’ dapat diidentikan dengan tampilan luar yang tampak oleh panca indra. Tegur sapa (jika tidak terpaksa), tolong menolong (kebetulan ada keperluan), bersatu (bertepatan dengan kepemilikan kepentingan yang sama) adalah sedikit contoh dari ratusan bahkan ribuan keadaan masyarakat yang tampak dari luar.

Namun, apakah tampilan-tampilan yang tampak dari luar tersebut benar-benar wakilan dari keadaan sesungguhnya? Bisa ya, tetapi jawaban tidak mungkin paling banyak akan kita temui terutama di lingkungan yang serba ‘sakit’ ini. Salah satu indikator dari “sakit” [kronis] masyarakat adalah ‘penghakiman’ dari kasus bunuh diri. Masyarakat begitu benci pada korban bunuh diri atas berbagai macam alasan yang disematkan padanya. Atas nama pribadi, etik masyarakat dan moral bahkan atas nama agama dan kepercayaan. Sungguh miris, karena kita sendiri tidak tahu seberapa besar beban yang diderita oleh mereka yang berani melakukan itu semua.

Jumlah Kasus Bunuh Diri

Berdasarkan data dari WHO 2016, kasus bunuh diri di Indonesia telah mencapai 3,7 per 100.000 penduduk atau terdapat satu penduduk yang melakukan bunuh diri dari [sekitar] 27.000 penduduk. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan ke 8 di atas Filipina dan Malaysia. Dari semua kasus tersebut, depresi merupakan faktor yang mendominasi terjadinya bunuh diri.[1] Data ini sesungguhnya sangat memprihatinkan. Mengapa tidak, Indonesia yang terkenal dengan ramah tamah masyarakatnya, religius kelompok-kelompok masyarakatnya, gemah ripah loh jinawi buminya, ternyata tidak menjamin ketenangan masyarakatnya hingga mengakibatkan tingginya angka kasus bunuh diri di negeri tercinta ini. Sederhananya, andaikan bunuh diri itu diakibatkan karena depresi akibat, mungkin, terlilit hutang, putus sekolah, kemiskinan, dan faktor lain, seharusnya tidak akan terjadi jika melihat Indonesia semacam itu. Tetapi itulah realita, kemudahan dan keramahan justru kadang menyisakan duka mendalam di sekitarnya.

Menanggapi besarnya jumlah kasus bunuh diri di Indonesia mungkin kita dapat mangambil sebuah contoh suatu daerah. Kita ambil saja di Daerah Istimewa Yogyakarta (mengingat penulis sementara ini tinggal di Yogyakarta). Di DIY kasus bunuh diri sering disebabkan karena depresi yang diderita oleh korban. Sebagai sebuah provinsi yang terkenal dengan banyaknya kaum intelektual di dalamnya, ini seharusnya menjadi pukulan telak mengapa hal ini bisa terjadi. Salah satu kasus yakni yang dapat kita temui di kabupaten Gunungkidul. Di kabupaten yang letaknya cukup ditempuh dengan waktu 1-2 jam saja dari pusat kota Yogya ini, ditemukan fakta bahwa usia produktif yakni 25-50 tahun telah banyak melakukan bunuh diri.[2] Bagaimana dengan daerah Anda?

Bunuh diri
Sepuluh negara yang penduduknya paling banyak melakukan bunuh diri; Guyana, Japan, South Korea, Sri Lanka, Lithuania, Suriname, Mozambique, Tanzania, Nepal, dan Kazakhstan. Sumber: https://www.wonderslist.com/wp-content/uploads/2016/03/suicide-in-Nepal.jpg

Apa itu Bunuh Diri?

Bunuh diri adalah tindakan menghabisi nyawa dengan berbagai metode dan cara oleh dirinya sendiri, paling sering sebagai akibat depresi atau penyakit [jiwa] lainnya. Selain depresi sebagai faktor utama bunuh diri, terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan munculnya pikiran untuk bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan bunuh diri sebenarnya. Faktor-faktor tersebut meliputi; penyalahgunaan obat, penahanan, riwayat keluarga, keamanan kerja yang buruk atau rendahnya tingkat kepuasan kerja, saksi atas pelecehan yang terus menerus, menghadapi kondisi medis tertentu, dan korban intimidasi serta masih banyak lagi asalan untuk dapat melakukan tindakan berani tersebut.

Bunuh diri
Sumber: http://www.mobieg.co.za/wp-content/uploads/2014/04/suicide.jpg

Mengapa sampai Bunuh Diri?

Ketika kita mendengar kejadian bunuh diri, [secara umum] sontak kita akan mengatakan umpatan ‘gila’, ‘bodoh’, ‘terlaknat’, ‘kerak neraka’, atau apalah yang itu dialamatkan pada pelaku bunuh diri. Parahnya, banyak orang membawa-bawa agama untuk menghakimi si korban bunuh diri.

Layakkah mereka [korban bunuh diri] kita caci maki dengan ungkapan satire semacam itu? Mari kita sedikit bersabar untuk setidaknya berpikir sederhana sebelum menghakimi mereka dengan sumpah serapah tersebut.

Berdasarkan beragam motivasi seorang yang melakukan bunuh diri, dapat secara umum dikatakan bahwa depresi adalah faktor utamanya. Ya depresi, yang disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang untuk menghadapi segala macam masalah “super rumit” yang mereka miliki. Dari titik ini, kebanyakan orang berhenti, dan memutuskan untuk segera membuat keputusan terhadap dirinya sendiri. Tetapi tunggu dulu. Coba kita ajukan beberapa pertanyaan berikut. Siapakah yang membuat seorang tidak mampu menghadapi keadaan depresi? Siapakah pula yang membuat mereka mengalami depresi tersebut? Dan sudahkah kita mencoba memahami dan [apalagi] mebantu memecahkan permasalahan penyebab mereka depresi?

Pertanyaan, siapakah yang membuat seorang tidak mampu menghadapi keadaan depresi? adalah pencarian sebab terakhir seorang memutuskan untuk bunuh diri. Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban, “korban sendirilah yang tidak mampu menghadapi keadaan depresi”. Jawaban itu menjadi benar jika kita beranggapan bahwa setiap individu memiliki dan mampu berkehendak atas apapun yang terjadi padanya di dunia ini.

Tetapi apakah demikian adanya? Bukankah kita sendiri tidak mampu untuk mengetahui kejadian satu detik setelah detik sebelumnya. Perhatikan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali mengikuti hukum alam yang telah tersusun sedemikian rupa. Adanya gravitasi, tata letak dan ruang alam semesta, kelahiran dan kematian mahluk, dan apapun itu yang ada di alam semesta ini. Maka tidaklah mungkin seorang mampu memutuskan kehendak untuk melakukan bunuh diri oleh dirinya sendiri. Lalu siapa yang membuat munculnya ketidakmampuan tersebut? Jika kita tidak mau membebankan masalah ini pada Sang Pencipta, boleh lah kita katakan Alam lah yang membuat seorang tidak sanggup dalam keadaan depresi. Dan Alam harusnya yang bertanggungjawab atas depresi yang diderita setiap individu.

Kita seharusnya menyadari bahwa setiap manusia lahir ke dunia tanpa mampu memilih kapan, di mana, oleh siapa, dari keluarga seperti apa, lingkungan yang bagaimana, sakit atau dalam keadaan sehatkah, dan berbagai keadaan lain yang tidak mampu kita pilih. Manusia benar-benar lemah dan tidak ada daya untuk dapat melawan kehendak Alam untuk melahirkannya ke dunia ini. Kita hanya seperti rumput liar di pekarangan yang jika tidak segera [dipaksa] mati oleh pemilik pekarangan maka akan mati karena musim kemarau yang panjang. Rumput yang tidak mampu berbuat apa-apa melainkan hanya menunggu kematian saja.

Semua ini berawal dari kejadian yang dinamakan kelahiran. Kelahiran, sebagai titik awal, dapat kita jadikan standar [kemungkinan] bentuk kehidupan di kemudian hari. Dalam perjalanan menuju remaja, dewasa, tua, dan mati, setiap individu seolah hanya mengikuti kehendak Alam. Lahir normal sampai mati normal, lahir kaya mati kaya, lahir miskin mati miskin, atau sebaliknya lahir sehat mati sakit dan sebagainya. Tidak ada yang mampu mengendalikan kehendak Alam.

Dengan keadaan demikian, maka wajarlah jika saya katakan bahwa Alam lah yang membuat seorang tidak mampu dalam keadaan depresi dan akhirnya memilih [obat mujarab] yakni bunuh diri.

Tetapi mungkin kita dapat berlaku bijak dengan mengatakan bahwa bukan salah siapa-siapa terkait hal tersebut. Bunuh diri atau bertahan dalam keadaan sakit, bukanlah suatu kesalahan, pun juga bukan suatu hal yang buruk ketika memilih salah satunya. Bunuh diri hanya merupakan sebuah kejadian alamiah yang tentu bagian dari yang seharusnya semesta ini berperilaku. Tidak ada paksaan dan tidak pula dipaksakan. Karena tidak ada satupun [secara sadar] orang ingin berada dalam keadaan depresi atau dalam kesedihan. Setiap individu menginginkan kebahagiaan dan ketenangan dalam menunggu ajalnya. Tetapi apalah daya, individu bukanlah pembuat kehendak, dan bunuh diri bukanlah sesuatu yang sebenarnya menjadi kehendaknya.

Jika yang membuat seorang tidak mampu menghadapi kedaan depresi katakanlah bukan ‘Alam’, lalu Siapakah pula yang membuat mereka mengalami depresi tersebut?

Tidak adil rasanya jika semua masalah dibebankan atas nama Alam. Jadi untuk pertanyaan tersebut, akan lebih baik jika kita membebankannya kepada sebut saja keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan daerah, masyarakat negara, dan bisa jadi masyarakan dunia. Apa maksudnya?

Perhatikan bahwa awal mula terdajinya depresi seseorang adalah dari lingkungan terdekatnya. Seorang anak, misalnya, akan mengalami depresi manakala kehidupan rumah tangga orang tuanya yang berantakan dengan berbagai macam masalah yang ada. Balada KDRT, ekonomi lemah, perceraian, dan masalah-masalah rumah tangga lain akan menyisakan sebagain besar anak-anak di dalam rumah tangga tersebut mengalami depresi [meski ringan].

Jika hanya sampai di dalam rumah tangga saja, itu mungkin akan dapat teratasi [ditahan] oleh si anak. Terlebih jika keluarga besar lain, dapat mengayomi , membantu, mengasihi, dan memberi kenyamanan serta suri tauladan yang baik bagi korban pertikaian kedua orang tua mereka. Tetapi jika tidak, apa jadinya? Depresi yang diterima anak akan semakin parah. Ketika sebuah keluarga yang mengalami masalah ‘broken home’ berserta anak-anak mereka ada di dalamnya, seringkali yang terjadi adalah keluarga besar yang cenderung menyalahkan keluarga tersebut. Ntah menyalahkan kepala rumah tangga (bapak) yang tidak bertanggungjawab atau menyalahkan ibu yang tidak ‘becus’ mengurus rumah tangga. Sampai-sampai masalah ‘karma’ karena tidak mengikuti ucapan keluarga besar saat mereka akan menikah. Sikap ini akan berimbas pada anak-anak yang tidak tahu menahu masalah orang-orang dewasa tersebut. Anak menjadi minder, tidak memiliki keberanian untuk berekspresi, bahkan untuk sekedar bercerita pun mereka menjadi takut. Maka depresi ‘ringan’ yang mereka terima menjadi lebih berat lagi. Jadi, siapa yang membuat anak-anak tersebut depresi? Anda dapat menyimpulkannya sendiri.

Lebih jauh, kita lihat masyarakat di sekitar kehidupan rumah tangga tersebut. Baik itu masyarakat umum maupun masyarakat akademik tempat seorang individu menempuh pendidikan formal. Jika keluarga besar saja menyelahkan adanya ‘broken home’ yang sedang terjadi, misalnya, apalagi masyarakat. Jadi mari kita lihat bagian ini dari sudut pandanag yang lain yakni pola kehidupan di masyarakat.

Di masyarakat umum, tampilan kemegahan dengan semua kemudahan sering kali lebih ditonjolkan daripada empati kepada masyarakat lain yang sesungguhnya lebih membutuhkan – termasuk saya bisa jadi. Sementara di sisi lain, upaya untuk keluar dari jerat kebodohan dan kemiskinan yang melanda individu pembawa sifat depresi hanya mampu melihat semuanya dengan penuh penyesalan dan dendam. Beruntung jika si individu kemudian mampu menghadapi keadaan semacam itu dan menyadari bahwa itu semua adalah dagelan ‘ilusi’. Sehingga ketika melihatnya, individu tersebut bukannya sedih tetapi justru tertawa terpingkal-pingkal dengan segala lelucon yang ada di depan matanya.

Tetapi kita seharusnya sadar bahwa tidak semua individu mampu bertahan dan mengambil kesimpulan semacam itu. Kecenderungan untuk minder yang menyertai depresi bawaan akan membawa mereka ke arah yang lebih rumit. Dan inilah salah satu awal petaka, ‘sepertinya saya sudah tidak mampu menghadapi dunia yang semacam ini’. Itu kalimat paling santun untuk menyatakan kegundahan hati, untuk memutuskan segera meninggalkan dunia ini atau bertahan dengan segala siksaan yang diberikan oleh masyarakat. Lalu apakah kita masih mampu mengatakan bahwa yang membuat anak-anak semacam ini depresi adalah dirinya sendiri?

Dari semua permasalahan tersebut, sikap hedonis, materalis, individualis, dan kapitalis yang menjangkiti baik masyarakat kecil hingga global cenderung memperbesar masalah ini. Oleh karena itu, wajar saja seorang anak yang membawa bibit depresi dari lingkungan kecilnya akan benar-benar depresi ketika remaja atau saat dewasa. Sehingga wajar juga, ketika terdapat para remaja  atau dewasa yang melakukan bunuh diri dengan keadaan semacam itu yang tidak mampu dia tanggung.

Bisa jadi remaja depresi ini lolos dari keinginan bunuh diri dengan berbagai kesibukan positif yang ia dapatkan. Tetapi, dapat kita lihat remaja yang mulai mengenal (menyukai) lawan jenis akan kembali menghadapi masalah yang tidak kalah mengerikan dari ketika mereka menghadapi lingkungan sebelumnya. Sikap hura-hura dan oportunis dari hampir setiap remaja menjadikan remaja dengan bibit depresi akan semakin tertekan. Tuntutan pasangan masing-masing untuk mampu menyesuaikan gaya hidup mereka adalah satu dari penyebab meningkatnya depresi yang ia terima. Belum lagi tuntutan keluarga dan handai taulan ketika hendak ingin membina rumah tangga, yang menuntut ini dan itu menambah beban berat pada remaja. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga yang kemudian mengakhiri hidup mereka menjelang atau setelah acara pernikahan berlangsung. Atau setidaknya mereka mengalami keretakan rumah tangga yang berakibat pada KDRT hingga pembunuhan atas pasangannya. Jadi siapa yang membuat remaja atau pasangan remaja menderita depresi berat? Lagi-lagi, Anda dapat menyimpulkannya sendiri.

Bukan hanya itu saja, jika selamat dari jerat kematian dari dalam keadaan tersebut, depresi belum tentu bisa hilang. Lagi-lagi pola kehidupan masyarakat yang menggila dan tuntutan rumah tangga yang tinggi, menjadikan tidak sedikit seorang kepala rumah tangga atau ibu rumah tangga memberanikan diri untuk meminum [obat mujarab] yang bernama bunuh diri. Sekali lagi, apakah ini salah mereka yang bunuh diri?

Dari semua alasan yang telah diuraikan di atas, tetap saja akan menyisakan suatu bagian yang memberikan celah untuk mengatakan bahwa ada [mungkin banyak] tindakan bunuh diri adalah tindakan konyol yang dilakukan oleh individu dengan alasan yang bisa jadi sangat tidak bermutu. Tetapi, apakah dengan demikian kita patut untuk melakukan satire pada mereka? Bagi saya, tidak. Apapun tindakan mereka tidak perlulah kita katakan mereka sebagai sesuatu yang rendah dibandingkan yang lain. Karena jika mau lebih jeli dan lebih membumi tentu kita akan temukan bahwa tidak ada satupun individu di dunia ini yang mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya, sesederhana apapun itu.

Langkah terbaik adalah memberikan masukan, motivasi, arahan, bahkan jika memang mampu kita bantu menyelesaikan masalah tersebut. Atau setidaknya mengikutkan mereka pada kesibukan dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sains, agama atau keyakinan. Mungkin itu lebih baik daripada selalu mengutuki pelaku bunuh diri sebagai orang yang paling hina dina setelah mereka melakukannya. Kepedulian pada lingkungan sekitar, pada sanak saudara, pada kerabat dekat maupun jauh, atau bahkan pada orang yang sama sekali tidak kita kenal. Jika tidak mau membantu atau bertindak, diam lah. Karena diam adalah tindakan paling bijak atas segala yang diperbuat oleh siapapun itu.

Simpulan

Mengatakan ungkapan satire seketika tanpa melihat sampai ke akar masalah, pada mereka korban bunuh diri adalah kebodohan fatal. Karena bisa jadi mereka adalah korban ‘pembunuhan’ terkeji yang pernah dilakukan umat manusia. Tanpa bisa membalas tanpa bisa memberontak dan bahkan tanpa bisa meminta orang lain untuk membantu membunuhnya secara langsung. Bunuh diri, mungkin suatu hal yang hina jika alasannya adalah alasan konyol, tetapi bisa jadi itu tindakan paling mulia dari seseorang karena setidaknya menyelamatkan para ‘bajingan’ yang menghendaki kematiannya.

Jika bunuh diri dianggap sebagai kejahatan (tindakan bodoh), hanya pengecut yang bisa mendorong korban untuk melakukannya.

Referensi:

http://krjogja.com/web/news/read/27875/Bunuh_Diri_di_Indonesia_Peringkat_Delapan_di_Asia_Tenggara [1]

http://regional.kompas.com/read/2017/07/10/14440781/tren.kasus.bunuh.diri.di.gunungkidul.bergeser.ke.usia.produktif [2]

Spread the love
  • 9
    Shares
  • 9
    Shares