NB: Tanggapan atas Tulisan Haedar Nashir berjudul ‘Agama Jadi Tersangka

Saya sebenarnya takut untuk menuliskan hal ini, apalagi mempublikasikannya kepada khalayak umum. Maklum saja, masyarakat tempat saya lahir dan dibesarkan, masih jauh dari kata berperadaban, sejauh kita mendefinisikan ‘beradab’ sebagai terberinya ruang untuk berpikir. Saya masih hidup dalam masyarakat yang ‘suka nggosip’, tapi tidak suka ‘digosipin’. Tapi, saya pikir, siapa sih yang mau repot-repot melaporkan saya dengan tuduhan penistaan, ‘wong’ saya tidak punya apa-apa, makan aja susah. Kalau ada yang melaporkan saya gara-gara tulisan ini, yasudah pak, mari tutup saja semua jurusan filsafat di perguruan tinggi Indonesia; sudah kerjaannya nggak jelas, bisanya cuma nyinyir sana-sini. Kita tidak butuh filsafat kan pak? Cuma buat makan aja masih rebutan, sok-sok mikirin Tuhan, mind-independent-world, moralitas, apalah-apalah. Baiklah pak, saya akan mulai serius!

Agama sebagai Moralitas

Benar, bahwa “secara normatif dan profetik agama dan umat beragama memang membawa misi Ilahi yang suci untuk membangun kehidupan serba bermoral dan rahmat bagi semesta alam, [lih. par. 8]” sebagaimana pula disampaikan dalam Islam, “innamaa bu’itstu liutammimaa makaarima al-akhlaaq (aku diutus untuk menyempurnakan akhlak).” Akan tetapi, pertanyaannya, apakah agama hanya persoalan akhlak, atau sebut saja, moralitas?

Richard Dawkins, seorang ilmuwan dan pegiat ateisme baru, dalam bukunya The God Delusion telah mengatakan bahwa seandainya agama hanya persoalan moralitas, kita tidak perlu beragama hanya untuk menjadi bermoral. Kata Dawkins, kita hanya perlu menggunakan akal kita dengan baik untuk sekedar menghargai satu sama lain, dan hidup berdampingan untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Dan hal itu telah terbukti dengan beberapa survei yang pernah ada, bahwa negara-negara paling damai justru negara yang tidak terlalu sibuk atau bahkan tidak peduli dengan agama [cek saja di google!].

Dalam hal inilah saya berani berpandangan bahwa asumsi “fungsi agama dan peran pemeluk agama tetap kuat sebagai penyebar misi damai, toleran, inklusif, dan segala kebajikan yang utama [lih. Par. 10]” sama sekali tidaklah bermakna, jika bukan malah salah besar. Bahkan, jika kita bersedia untuk memikirkan kembali sejarah yang selama ini kita baca sedari kecil [di LKS-LKS yang serampangan] sampai dewasa [di buku-bukunya Fred Donner, Patricia Crone, Michael Cook, dkk], kita akan menemukan bahwa kelahiran Islam, sama sekali tidak mengusung hal yang demikian. Justru, hadirnya Islam malah diawali dengan persoalan teologis, yakni upaya penyadaran oleh [Nabi] Muhammad atas orang-orang yang dianggap musyrik bahwa mereka menyembah Tuhan yang salah (baca saja surat-surat Makkiyyah! Hampir seluruh persoalan yang tercatat adalah persoalan teologis; Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Kafirun, dst).

Dalam hal apa kita dapat berasumsi bahwa kemunculan agama [Islam] adalah suatu bentuk upaya perbaikan moral? Saya pikir, asumsi semacam ini tidak lebih disebabkan oleh dongeng-dongeng menggelikan yang sejak kecil kita yakini tentang zaman ‘jahiliyah’, bahwa orang-orang sebelum datangnya Islam, mereka hidup dalam barbarisme, tidak beradab, mengubur anak perempuan, inilah-itulah. Jelas, asumsi semacam itu sangatlah tidak berdasar, karena Makkah sebelum Islam datang, sudah merupakan pusat perdagangan Internasional. Bagaimana mungkin mereka tidak beradab?

Seandainya benar bahwa sebelum Islam datang, orang-orang Arab itu hidup dalam kegelapan, sebut saja jahiliyah, saya hanya bisa berkata, “Ya, berarti Islam memanglah produk Impor dari Arab. Islam diturunkan untuk orang Arab, bukan untuk seluruh umat manusia.” Mengapa demikian? Jauh ratusan tahun sebelum lahirnya Islam, Yunani telah melahirkan filsuf-filsuf dengan pemikiran cemerlang (Phytagoras, Heraklitos, Parmenides, Sokrates, Plato, Aristotel), yang bahkan sampai saat ini, seluruh pemikiran filsafat masih banyak merujuk ke sana; mulai ide tentang Tuhan, etika, dan ilmu pengetahuan. Logikanya, jika tujuan utama hidup kita hanyalah untuk hidup bermasyarakat dengan lebih baik, jelas bahwa memilih filsafat Yunani sebagai pegangan hidup adalah pilihan yang paling masuk akal daripada memilih agama [Islam].

Persoalannya, menurut saya, keputusan kita untuk memilih beragama, bukan didasari oleh penalaran semacam itu. Kita beragama tidak hanya melulu perkara etis, melainkan lebih besar ruang yang kita berikan untuk permasalahan teologis.

Agama sebagai dogma teologis: mengapa agama salah?

Dua tahun lalu, di acara Nurcholis Madjid Memorial Lecture yang diselenggakan oleh CRCS UGM dan PUSAD Paramadina, saya pernah mengajukan pertanyaan kepada Prof. Chaiwat Satha-Anand, seorang Gurubesar dari Universitas Thammasat, Thailand. Begini: “Saya kira semua orang sudah paham bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, dan itu persoalan etis. Dengan demikian, tanpa harus membaca buku pun, orang tahu bahwa satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persoalan kekerasan agama adalah melalui pendekatan etis [tentu saja ini sifatnya hanya tautologis]. Akan tetapi, bukankah agama tidak selalu hanya perkara etis? Senyatanya, konflik antar agama yang terjadi selama ini, selalu merupakan perkara teologis, daripada etis. Pertanyaan saya, apakah agama itu untuk manusia, atau manusia untuk agama?” Beliau menjawab, “Sepertinya pertanyaan itu harus disegarkan kembali, bagaimana kita bisa memisahkan manusia dan agama?”

Sangat disayangkan, jawaban profesor tersebut tidak memuaskan bagi saya, entah beliau tidak paham dengan pertanyaan saya, atau memang tidak penting untuk dijawab.

Begini maksud pertanyaan saya, jika kita mengasumsikan bahwa agama itu untuk manusia, maka kita tidak dapat menghakimi pemahaman seseorang atas agama [bahkan pada mereka yang memilih untuk tidak beragama], sejauh ia tidak mengusik keberadaan orang lain dengan pemahamannya. Sebaliknya, jika manusia memang ada untuk agama, maka ada satu keharusan pada manusia untuk meyakini dan memeluk agama. Dan saya rasa, yang kedua merupakan jawaban yang lebih benar jika melihat keberagamaan saat ini.

Sebagaimana telah saya katakan, konflik agama yang sering terjadi justru selalu didasari persoalan teologis, bukan etis [singkirkan asumsi politis dsb. dalam hal ini, karena kita tidak membicarakan inti pokok masalah, melainkan cara suatu masalah itu dihadirkan]. Ada suatu keharusan mutlak dalam agama yang menuntut kita untuk meyakini sepenuh hati, yang dalam beberapa kasus, menuntut kita pula untuk membuang asumsi-asumsi etis. Misalnya, dalam agama [Islam khususnya], mengajarkan bahwa orang Nasrani dan Yahudi itu kafir, dan orang kafir harus diperangi. Ada pula ajaran, “orang yang mencaci maki Nabi harus dibunuh.” Masihkah kita dapat mengatakan bahwa agama hanya perkara etis?

Agar lebih jelas, begini saja: jika agama memang diturunkan oleh Tuhan demi kepentingan manusia agar dapat hidup dengan baik, saya kira, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang harus kita buang, yakni ayat-ayat tentang surga-neraka, dosa-pahala, azab dan siksa. Logikanya [kalo ada yang menyalahkan saya pakai logika, tolong carikan apa yang kita miliki selain hanya logika], hanya Tuhan tolol yang mewahyukan kitab suci agar manusia dapat hidup dengan baik, tetapi malah menakut-nakuti manusia dengan neraka, dosa, siksaan, dan azab [siapa yang nggak kalang-kabut ditakut-takuti seperti itu, wajarlah kalo perang sana-sini demi kebenaran]. Dalam hal inilah agama [terutama agama monoteis], sejauh merupakan dogma teologis, menurut saya patut dipersalahkan. Bagaimana kita bisa hidup toleran, jika dalam ajaran agama saja diajarkan untuk berperang (lih. Al-Baqarah:216)?

Melukis posisi: Bagaimana seharusnya?

Saya sepenuhnya sadar jawaban apa yang akan saya dapatkan dari mereka yang sangat giat belajar agama: “Makanya mas, belajar ilmu tafsir yang bener, belajar Ulumul Quran, Ulumul Hadits, jangan belajar filsafat! Sesat mikirmu!”

Menurut saya, pemahaman agama saya sudah lebih dari cukup. Kalo perkara tafsir, saya kira para penafsir dahulu juga bisa salah dan juga punya kepentingan secara sosial dan politis ketika menafsirkan Al-Quran maupun Hadits. Terlepas dari bagaimana bentuk tafsirnya, kenyataan yang tak dapat kita nafikan adalah, ada banyak ayat di Al-Qur’an yang lebih teologis daripada etis. Kalau hanya ingin menafsirkan ayat-ayat penuh polemik itu dengan bahasa halus penuh toleran, kita tidak butuh Al-Qur’an. Banyak orang-orang yang tidak paham Al-Qur’an tapi lebih toleran.

Seandainya kita memang benar-benar tidak dapat membuang doktrin-doktrin teologis yang sering memicu masalah, karena sama saja itu menistakan kesucian Al-Qur’an, saran saya: yasudah berhentilah berdakwah, buang semua ajaran yang mengharuskan berdakwah, evangelikalisme, dan semua upaya untuk mempengaruhi orang lain agar mengikuti kita dalam hal keyakinan beragama. Toleransi tidak akan pernah terwujud selama kita masih mengurusi keyakinan orang lain. Atau, marilah kita percaya pada Karl Popper yang mengatakan bahwa toleransi itu paradoks dalam dirinya sendiri, karena ketika kita mengatakan bahwa orang lain itu tidak toleran, dengan demikian kita juga sama-sama tidak toleran karena memaksa orang lain untuk toleran pada kita![]

 

Spread the love
  • 88
    Shares
  • 88
    Shares