Saya rasa tidak ada orang yang tidak ingin menikah, memiliki istri/suami idaman, membangun rumah tangga yang selalu diimpikan menjadi keluarga paling bahagia di dunia, serta memiliki keturunan yang unggul dan dapat dibanggakan orang tua. Akan tetapi, sebegitu mudahkah hidup?

Sudah seharusnya kita cukup mafhum bahwa pernikahan tidaklah seindah foto-foto prewedding yang bertebaran di media sosial, tidak pula semanis senyum Raisa saat memamerkan buku pernikahannya. Terlepas dari banyaknya biaya yang harus kita bayarkan atas nama tradisi, ada begitu banyak kepahitan yang akan mengintai kita dibalik menawannya ranum pesta pernikahan.

Pernikahan, sejauh dipahami sebagai tradisi yang sampai saat ini dilestarikan oleh masyarakat yang [katanya] ‘beradab’, adalah sebuah jalan martir dari cinta yang harus dikorbankan. Hanya sedikit pasangan, yang mampu menjaga cinta mereka, agar tetap seperti yang seharusnya, sesaat setelah mereka menikah. Karena dalam pernikahan, cinta hanya berperan tidak lebih dari sepuluh persen, sementara sisanya adalah perkara kebutuhan; biologis, ekonomis, dan populis. Demikianlah kita kemudian dapat memaklumi besarnya jumlah angka perceraian, wajarnya poligami, dan banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Philistinisme: pernikahan sebagai tradisi

Sebagaimana telah menjadi bagian dari tradisi di setiap masyarakat komunal, pernikahan dalam hal ini tidak lebih dari sekedar mores [kebiasaan]. Artinya, orang memutuskan untuk menikah hanya didasari oleh suatu kebiasaan yang telah lestari di masyarakatnya. Sementara, seorang pengantin, sejauh ia sebagai seorang individu, tidak benar-benar memiliki alasan secara eksistensial tentang perkara mengapa ia harus menikah. Ia menikah, karena semua orang harus menikah.

Dalam bentuk pernikahan semacam inilah kemudian muncul beberapa norma yang harus dipenuhi manakala seseorang ingin menikah, mulai perkara lamaran, dekorasi pelaminan, sampai makanan yang harus disuguhkan untuk tamu undangan. Menghiraukan norma yang ada, berarti siap untuk menerima gunjingan tetangga.

Tidak ada yang penting dari pernikahan semacam ini, selain hanya perkara gengsi sosial yang harus dipenuhi. Bahkan dari beberapa tradisi yang ada, mereka memiliki harga yang harus ditebus seorang pria untuk dapat melamar seorang gadis [Sulawesi, Sumatra, dst]. Itulah mengapa pernikahan dalam masyarakat komunal tidak pernah dipahami lebih dari hanya perkara yang demikian, sehingga tuntutan materi menjadi sangat berarti, dan titik terparahnya pernikahan hanya menjadi salah satu bentuk budaya borjuis belaka; ajang sumbang-menyumbang dan jual beli keperawanan.

Dalam hal ini, lantas apa bedanya pernikahan dengan prostitusi? Bahkan terkadang, beberapa pelacur itu lebih mulia karena mereka menjual diri untuk menyambung hidup. Di perkara inilah Russell mengatakan bahwa agama tidak pernah menghapus kejahatan di muka bumi, melainkan hanya melabelinya dengan ‘kesucian’. Kita boleh berzina dengan berapapun wanita asal terikat dalam pernikahan; perkara poligami, perbudakan perempuan, adalah sah di mata agama. Sementara, kata ‘adil’ hanyalah pemanis belaka, jika bukan omong kosong.

Dengan demikian kita tidak seharusnya mempersalahkan orang-orang yang lebih memilih berhubungan intim di luar pernikahan. Kita tidak seharusnya menghukum [kadang sampai memaksa si perempuan untuk telanjang, begitu bangsatnya masyarakat kita!] orang yang tertangkap mesum di hotel, atau ruang-ruang privasi lainnya. Karena boleh jadi itu adalah konsekuensi dari norma-norma rumit yang kita ciptakan dalam ihwal pernikahan.

Meskipun begitu, norma dan tradisi yang demikian juga tidak dapat kita persalahkan sepenuhnya. Semua orang tua, saya rasa, menginginkan anak perempuannya dapat terjamin hidupnya kelak. Dengan asumsi demikian, kita kemudian dapat memaklumi mengapa beberapa tradisi mematok harga untuk seorang gadis jika hendak dipinang.

Kecemasan: pernikahan sebagai pelarian

Demikianlah memang, pernikahan bukan hanya perkara suka atau tidak suka, cinta atau tidak cinta. Seorang perempuan yang ingin segera dipersunting, bukan berarti ia benar-benar mencintai kita. Bahkan dalam banyak kasus, seorang wanita lebih memilih meninggalkan orang yang ia cintai demi laki-laki yang baru ia kenal, yang kemudian langsung melamarnya.

Tentu ini bukan perkara cinta lagi, melainkan perkara pemberian jaminan dan kepastian. Itulah mengapa Schopenhauer mengatakan bahwa cinta hanyalah kehendak untuk berkembangbiak. Sebagaimana pula ditegaskan Nietzsche kemudian bahwa rumus wanita hanya satu: ‘hamil!’

Akan tetapi, saya rasa, Schopenhauer dan Nietzsche tidak sepenuhnya benar. Terlepas dari naluri alamiah seorang wanita sebagai orang yang melahirkan keturunan, itu tidak mengartikan bahwa cinta sama sekali tidak ada. Saya masih percaya bahwa dalam beberapa kasus, cinta lebih mendominasi perasaan seorang wanita daripada naluri biologisnya. Akan tetapi, kecemasan [angst] dapat mengubah keputusan seorang wanita untuk memilih menikah dengan orang lain.

Di sinilah saya lebih setuju dengan Kierkegaard yang mengatakan bahwa kecemasan adalah esensi dari seluruh filsafat. Keputusan-keputusan kita lebih dideterminasi oleh kecemasan-kecemasan yang menghantui kita. Berbeda dengan ketakutan yang memiliki objek untuk ditakuti, kecemasan tidak pernah mengandaikan apapun. Kecemasan seringkali muncul akibat ketidaktahuan kita akan kemungkinan dari semua kemungkinan yang akan terjadi. Kita tidak pernah tahu kemungkinan apa yang akan terjadi dari pilihan-pilihan yang ada dihadapan kita, kemungkinan yang akan terjadi jika kita menikah dengan orang yang kita cintai, atau orang yang memiliki jaminan materi. Demikianlah mengapa Kierkegaard mengatakan:

“Marry, and you will regret it; don’t marry, you will also regret it; marry or don’t marry, you will regret it either way…” (Either/Or:38)

“Menikah, kamu akan menyesalinya; tidak menikah, kamu akan menyesalinya juga; menikah atau tidak menikah, kamu sama-sama akan menyesal…” (Either/Or:38)

Menurut Kierkegaard, kita akan selalu menyesal dengan keputusan apapun yang kita ambil. Dengan demikian, saya kira, tidak ada pijakan ontologis yang cukup adekuat untuk mengatakan bahwa kita harus mempertimbangkan baik-baik keputusan yang akan kita pilih. Karena boleh jadi, dengan pertimbangan yang berlebih, rasa penyesalan itu justru akan lebih besar.

Kesimpulan

Bercermin pada Kierkegaard, pada akhirnya, keputusan kita untuk menikah atau tidak, tidaklah begitu penting, meskipun kita harus memilih salah satu di antara itu. Setidaknya, kita sudah tahu bahwa apapun keputusan yang akan kita ambil, kita hanya akan menyesalinya. Namun, benarkah hidup kemudian hanyalah penantian akan sebuah penyesalan, dan dengan demikian kita tidak akan pernah benar-benar bahagia?

Saya kira tidak. Kata Nietzsche, kita masih bisa menikmati penyesalan itu dengan cara ‘mencintai nasib’ [amorfati]. Kita harus menerima apapun konsekuensi dari keputusan yang kita ambil, dan mengamininya sepenuh hati. Atau, setidaknya kita bisa memilih sesuatu yang benar-benar kita cintai, meskipun sepertinya tidak memberikan jaminan apapun untuk masa depan. Toh, pada akhirnya kita juga menyesal, mengapa kita harus menerima kepahitan dua kali?[]

Referensi

Kierkegaard, Soren. Either/or. Edited and translated by Howard V. Hong and Edna H. Hong, New Jersey: Princeton University Press, 1987.

Spread the love
  • 48
    Shares
  • 48
    Shares