Asumsikan bahwa manusia adalah bagian dari proses hidup yang mengandaikan vitalitas tertentu, dan hal itu merupakan nilai paling penting, jika bukan satu-satunya, yang menentukan tipe dari seorang manusia. Sementara, seandainya vitalitas melulu merupakan persoalan daya hidup dari suatu organisme, dengan demikian hanya ada dua penilaian yang sah untuk membedakan manusia satu dengan yang lain, yakni lemah atau kuat.

Tentu, daya hidup kemudian sangat erat kaitannya dengan perkara kesehatan dari seorang manusia sejauh ia merupakan suatu organisme. Seandainya kesehatan diartikan sebagai suatu kondisi fisiologis seseorang, maka dapat dikatakan bahwa manusia selalu berada dalam suatu kondisi tertentu yang tidak dapat dijustifikasi secara arbitrer dengan kerangka nalar yang biner. Karena kesehatan pada dasarnya merupakan nilai gradual di mana manusia memiliki ukurannya masing-masing yang bertalian erat dengan elan vital –nya.

Sekalipun banyak terdapat obat untuk mengatasi kondisi-kondisi tertentu dari kesehatan kita yang tidak kita inginkan, kita tetap tidak dapat menghianati seluruh proses fisiologis ini. Proses pengobatan itu sendiri justru menegaskan kondisi seseorang; semakin banyak obat yang ia butuhkan, semakin parah pula kondisi fisiologisnya. Dari kasus semacam itu, kita dapat menariknya lebih jauh ke dalam pertanyaan, “bukankah kemudian itu mengartikan bahwa kondisi fisiologis selalu menentukan suatu kebutuhan tersendiri yang harus dipenuhi, setidaknya untuk menahan rasa sakit atau harapan akan kesembuhan?”

Dalam hal inilah kita dihadapkan pada suatu proposisi yang pernah diajukan oleh Nietzsche bahwa jika filsafat merupakan cara seseorang memandang kehidupan, “bukankah filsafat kemudian hanyalah sebuah interpretasi dari tubuh dan kesalahpahaman atas tubuh!”

Nietzsche adalah pemikir yang pertamakali, dalam sejarah filsafat Barat, mencurigai adanya korelasi positif antara kondisi fisiologis seseorang dengan bagaimana cara ia berpikir. Dan kecurigaan terbesar ini menjadikan Nietzsche sebagai pemikir yang mau tidak mau harus diterima atau ditolak, tetapi tidak dapat diabaikan.

Epidemiologi: percobaan awal

 Seluruh proposisi Nietzsche tentang relasi filsafat dengan kesehatan dapat diterima sejauh kita berpijak pada satu kerangka ontologis bahwa manusia merupakan entitas yang tersusun dari materi sepenuhnya. Dengan asumsi yang demikian, maka mau tidak mau kita harus menerima proposisi Nietzsche bahwa seluruh pemikiran kita tidak lebih merupakan suatu interpretasi atas keberhasilan atau kegagalan proses fisiologis.

Dengan menariknya lebih jauh ke dalam pengamatan yang lebih luas, maka kita dihadapkan pada satu kemungkinan untuk menjelaskan bagaimana kemudian relasi kesehatan masyarakat dengan alam pikiran yang ada dalam masyarakat tersebut. Seberapa jauh keterkaitan antara kerangka pikir yang berkembang dalam masyarakat dengan kondisi patologis kejiwaan dalam masyarakat tersebut, sejauh kejiwaan dianggap sebagai proyeksi keadaan fisiologis. Dalam hal inilah kemudian epidemiologi menjadi penting untuk dipertimbangkan dan didefinisikan kembali sebagai epi-demio-logics, yakni studi tentang logika yang ada di [antara] masyarakat.

Logika adalah instrumen paling penting yang dimiliki manusia setelah naluri, atau bahkan dapat dikatakan bahwa logika adalah salah satu instrumen dari naluri itu sendiri. Mengingat bahwa logika hanyalah instrumen, maka ia tidak dapat kita semati nilai benar atau salah dalam setiap premisnya, kita hanya dapat menilai ketepatan pengambilan kesimpulan dari premis yang diajukan.

Dengan pengertian yang demikian, kajian mengenai keterkaitan alam pikir dan kesehatan dalam suatu masyarakat hanya mungkin dilakukan terhadap premis-premis yang diajukan sebagai data untuk mengambil kesimpulan, bukan terhadap proses untuk menjadi logis itu sendiri. Karena pada dasarnya semuanya dapat bernilai logis, bahkan Tuhan sebagai sesuatu yang seringkali dianggap paling tidak logis dari suatu keyakinan masyarakat, ia lahir dari penalaran yang sangat logis:

Premis 1: Semua yang ada (eksis) pasti ada yang meciptakan.

Premis 2: Alam semesta ini ada (eksis).

Kesimpulan: Alam semesta ini ada yang menciptakan.

Secara logika, kesimpulan semacam itu sahih. Akan tetapi, kita tidak akan berbicara tentang kesahihan suatu penalaran, melainkan dari mana premis-premis yang diajukan itu muncul sebagai premis yang dapat diterima sebagai kebenaran umum.

Endemisme: wabah dan tentang kuasa ide

Mengapa seseorang dapat meyakini suatu kebenaran umum tertentu, seperti sains, agama, atau ideologi? Foucault mungkin telah menjelaskan pertanyaan ini dengan meminjam ide kuasa Nietzschean untuk menelusuri bagaimana pengetahuan sebagai bentuk relasi kuasa itu menjadi kunci satu-satunya yang menuntun cara seseorang berpikir dan bertindak. Akan tetapi Foucault gagal dalam menjelaskan mengapa selalu ada anomali dalam suatu masyarakat yang lepas dari jeratan relasi kuasa.

Dalam Selfish Gene, Richard Dawkins telah menawarkan satu penjelasan bagaimana ide itu bisa berkembang dari satu manusia ke manusia lain. Dawkins menyebutnya meme, dan manusia tidak lain adalah kendaraan meme tersebut. Ide tentang kebenaran dalam pengertian Dawkins tidak lain adalah meme, yang dapat menyebar dari manusia satu ke manusia lain. Akan tetapi, yang tak terjelaskan dari Dawkins adalah tentang mengapa ada satu orang yang dapat menerima meme tersebut, dan ada yang tidak.

Dalam hal inilah epidemiologi berbicara tentang imunitas. Tidak hanya persoalan fisiologis saja, imunitas juga berlaku pada proses penalaran berpikir seseorang. Dalam beberapa kasus endemik yang ada, seseorang tidak akan lagi dapat tertular suatu penyakit yang pernah ia derita sebelumnya, karena sistem imunitas orang tersebut telah berkembang dan lebih kebal terhadap virus yang pernah menyerangnya. Begitupula dengan pemikiran, seseorang tidak lagi akan menerima suatu pemikiran jika sebelumnya ia pernah meyakininya, dan kemudian mampu lepas dari pemikiran tersebut. Itulah mengapa orang yang dari kecil sudah banyak menelan doktrin agama dari orang tua, saat ia dewasa lebih mudah lepas daripada orang yang dari kecil tidak mengenal agama, dan baru mengenalnya saat dewasa. Kasus yang demikian dapat kita lihat dalam perkembangan Islam konservatif saat ini yang sangat memegang kuat doktrin agama, karena ia baru mengenalnya. Akan tetapi, yang perlu diingat adalah bahwa semua itu hanyalah simtom saja. Ada begitu banyak proses psiko-fisiologis yang turut menentukan wabah pemikiran apa yang dapat menjangkiti seseorang.

Kegagalan Foucault mungkin terletak dalam sikap abainya terhadap ide Nietzsche tentang relasi antara psiko-fisiologis dengan pemikiran seseorang, yang dalam beberapa hal kemudian banyak diadopsi oleh psikoanalisis Freudian dan Lacanian. Akan tetapi, saya tidak akan berbicara tentang psikoanalisis di sini, melainkan lebih dari itu.

Saya akan berbicara tentang bagaimana lingkungan mempengaruhi model kesehatan seseorang dan juga bentuk interaksi sosial, dan bagaimana kemudian kesehatan dan interaksi sosial tersebut dapat mempengaruhi cara berpikir seseorang. Hal ini menjelaskan tentang mengapa dalam banyak kasus, beberapa kampung nelayan di pesisir pantai utara Jawa yang identik dengan kepadatan penduduk yang cukup signifikan, menciptakan suatu gaya berpikir yang jauh berbeda dengan beberapa kampung yang ada di daerah pegunungan. Kepadatan penduduk dan interaksi sosial yang berlebihan, membuat orang-orang pesisir identik dengan gengsi yang tinggi, dan seluruh gaya berpikirnya selalu dibawa ke arah pemenuhan gengsi tersebut. Dan gengsi tersebut berpengaruh besar terhadap segala keputusan hidup yang diambil seseorang dalam lingkup sosial tersebut. Kasus semacam ini, saya sebut dengan sosio-endemik, yakni suatu wabah yang muncul dari keniscayaan yang ada dalam suatu masyarakat dengan bentuk relasi tertutup.

Tentu saja, selalu ada pengecualian, dan saya menyebutnya sosio-outbreak. Pengecualian semacam ini biasanya terjadi karena ada pengaruh dari luar yang diterima oleh seseorang yang menjadikannya berpikir tidak semestinya orang berpikir dalam lingkungan sosialnya. Dan sosio-outbreak ini suatu saat berpotensi menjadi epidemi ketika ia menjadi kuat dan terus menular, tetapi ia bukan lagi merupakan endemik.

Wabah yang menyerang suatu masyarakat tentu kemudian mengartikan kondisi kesehatan dari masyarakat itu sendiri. Hal ini dapat menjelaskan mengapa viralitas suatu hal hanya terjadi di beberapa wilayah dan beberapa kelas masyarakat tertentu saja, karena selalu ada keterkaitan erat antara jenis viralitas dengan tipe seseorang yang merayakan euphoria dari viralitas tersebut; artinya, viralitas yang remeh dan konyol hanya akan dirayakan oleh orang yang remeh dan konyol juga.

Simpulan

Seluruh proposisi Nietzsche dapat kita tolak sejauh kita meyakini bahwa manusia tidaklah tersusun dari materi. Akan tetapi, keyakinan tentang adanya immaterialitas sangatlah rapuh karena konsep tersebut hanyalah merupakan penegasian dari apa yang ada sebelumnya, yakni materialitas itu sendiri. Negasi dari sesuatu tidak mengartikan bahwa entitas negasi tersebut eksis.

Mengingat bahwa yang kita ketahui hanyalah materi, dengan demikian, penerimaan atas seluruh proposisi Nietzsche adalah satu-satunya kemungkinan yang dapat dilakukan. Bahkan, dalam kerangka epidemiologis, pengandaian akan suatu immaterialitas sebagai pemenuhan akan kekurang-butuhan atas materialitas adalah simtom dari penyakit tertentu yang membutuhkan kesembuhan dengan segera.[]

Spread the love
  • 27
    Shares
  • 27
    Shares