Antinomi.org – Seorang pemikir besar tidak pernah begitu saja menerima beragam bentuk dogma maupun doxa dengan sederhana. Ia akan selalu memiliki gaya ataupun pemikiran sendiri entah ia dalam penerimaan atau penolakan. Seperti itulah yang tercermin dari seorang Bertrand Russell, pemikir analitik yang juga peduli dengan persoalan-persoalan kontinental seperti agama dan politik.
Dari sub judul yang tertera pada buku berjudul Russell on Religion, tentu sudah menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan sekumpulan tulisan Russell terkait dengan pandangannya tentang agama. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1999 oleh Routledge, dan sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Resist Book pada tahun 2008. Secara garis besar, buku berikut mendiskusikan seluruh pandangan dan posisi Russell mengenai agama, mulai dari pernyataan keyakinan pribadinya sampai keterkaitan agama dengan sains dan filsafat.
Yang menarik dari buku ini tentu adalah mengenai pernyataan tentang keyakinan pribadinya, seperti ‘Mengapa Saya bukan Seorang Kristian?’, juga pengakuan secara implisit tentang posisinya sebagai seorang agnostik, yakni salah satu paham dalam teologi yang menganggap bahwa tidak mungkin manusia dapat mengetahui kebenaran mengenai Tuhan dan kehidupan masa depan.
Berdasar pada pemahaman itulah kemudian Rusell membangun seluruh pandangannya mengenai agama. Russell tidak percaya dengan seluruh dogma agama selain perkara moralitas. Bahkan, menurut Russell, manusia tidak membutuhkan agama untuk hanya sekedar hidup dengan baik berdasarkan suatu tatanan moral. Agama, bagi Russell, tidak pernah menghapus kejahatan dari dunia manusia, melainkan ia hanya menyematkan kesucian dalam kejahatan-kejahatan tersebut, misalnya, pembunuhan, perzinahan dan sebagainya. Fungsi keberadaan agama selama ini hanya melabeli tindakan-tindakan itu dengan atribut ‘sakral’. Kita boleh berzina dengan berapapun wanita, asalkan terikat dalam suatu upacara ‘pernikahan’ yang disakralkan, tidak peduli apakah wanita itu terluka hatinya atau tidak. Kita juga diperbolehkan membunuh manusia sebanyak apapun atas nama agama dengan dalih ‘jihad’ atau apapun yang disebut dengan ‘perang membela agama’.
Tentu, posisi Russell dalam perdebatan mengenai agama tidak lepas dari posisi politisnya sebagai seorang aktivis. Ia sangat gencar mengkampanyekan kemanusiaan yang dalam beberapa kasus selalu bertentangan dengan doktrin-doktrin agama. Sebagaimana pernyataannya yang menyangkal keyakinan atau pandangan bahwa Tuhan menciptakan dunia ini dengan begitu sempurna nan indah. Bagi Russell, keindahan macam apa yang dapat dilihat dari dunia penuh tindak makan-memakan universal, binatang yang lebih kuat memakan binatang yang lemah, manusia yang lebih kuat menindas manusia yang lemah, keindahan macam apa itu?
Secara umum, buku ini sangat membantu kita, sebagai orang yang selalu mengaku religius, untuk kembali memikirkan cara kita beragama, karena terkadang kita abai terhadap hal-hal yang terlalu dekat dengan kita, sehingga kita tidak pernah tahu kecacatan-kecacatan yang kita miliki. Dan konsekuensi logisnya, kita selalu merasa benar, dan menolak apa saja yang mencoba menjatuhkan apa yang kita yakini.[]

Spread the love
  • 7
    Shares
  • 7
    Shares